
Sandi yang hanya menatap lurus kedepan dia sebenarnya tahu betul apa yang dirasakan Robin saat ini. Karena Sandi pernah mengalami hal yang sama terhadap binatang peliharaannya yang merupakan seekor anjing, anjing sangat pintar, patuh dan cerdik bernama Oing.
Kondisi yang membuat Sandi menelantarkan Oing. Sibuk mengurus perusahaan orang tuanya yang kala itu orang tua Sandi sakit dan juga Sandi disibukkan belajar yang diharuskan menyelesaikan pendidikan lebih awal. Akhirnya Oing tidak terlalu diperhatikan hanya diberi makan dan minum itupun jika ada kesempatan. Binatang sama halnya dengan manusia. Ketika sudah tidak dipedulikan dia akan merasakan sakit andaikan binatang pun bisa bicara sama seperti manusia. Suatu saat Sandi pulang dari kesibukkannya menemukan Oing disudut gudang belakang yang berada diluar ruangan. Keadaan Oing cukup miris seluruh badan basah kuyup, kurus dan kotor.
💫💫💫
Didalam mobil Yashbi...
Doni membuka pembicaraan.
"Yash, apa kau tidak mejanggal dengan kejadian akhir-akhir ini?" tanya Doni menoleh kearah Yashbi yang menyadarkan kepalanya kejok mobil melipatkan kedua tangannya dan mata terpejam.
"euuumphh..."
Yashbi sedang berpikir memang akhir-akhir ini cukup banyak kejadian yang diluar nalar. Seperti hilangnya Clara yang tiba-tiba, melakukan pengobatan untuk ayah Ashana yang tadinya dengan persyaratan harus menikahi anaknya yaitu Ashana agar Yashbi bisa hidup normal tapi seiring berjalannya waktu umur Yashbi kian berkurang (salah satu kelebihan lainnya Yashbi mengetahui sisa umurnya sendiri), kian hari Yashbi memiliki perasaan yang tumbuh terhadap Ashana, sebagian investor menghilang tanpa jejak sehingga meeting-meeting pun berakhir gagal, munculnya makhluk-makhluk peradaban akhir jaman makhluk berbentuk ular, asap hitam, burung Cendrawasih dan terakhir penunggu rumah milik ayah dan ibu Ashana.
"apa kau sedang tidur? dalam situasi seperti ini kau masih bisa tertidur? hah" ucap kesal Doni.
"paman, biarkan dia istirahat. Dia pasti kelelahan dengan banyaknya kejadian hari ini" ucap Ashana lembut membuat Yashbi tersenyum sangat tipis, tidak terlihat.
"baiklah, baiklah. Seharusnya dia mengatasi kondisi seperti ini. Dia kan lebih memahami dan mengerti" ucap kali Doni.
Yashbi dengan sengaja menyandarkan kepalanya kebahu Ashana.
Duuug
Ashana menoleh dan tercium aroma wangi dari rambut Yashbi meski saat itu kepala Yashbi berkeringat.
Anzel memperhatikan mereka dari spion depan dan tersenyum.
"semoga saja laki-laki dingin sepertinya akan segera berubah" batin Anzel.
Anzel teringat saat pertama kali dibawa kerumah ibunya Yashbi bersama Yashbi. Yashbi yang selalu memerintah dan arogan Anzel hanya menuruti semua perintahnya tapi tidak cukup sampai disitu Anzel memperhatikan setiap detail gerak gerik Yashbi dan ternyata Yashbi sangat takut dengan laut. Karena Yashbi tahu betul sebenarnya apa yang ada dilaut dan Anzel tahu itu.
Laut yang memiliki banyak makhluk lebih kejam dan jahat dari daratan. Hanya bisa dilihat Yashbi dan Anzel. Pernah suatu ketika Yashbi dan Anzel diajak bermain oleh ibu Yashbi bermain menggunakan kapal pesiar milik keluarga Dzon tapi saat berada ditengah laut padahal cuaca sangat cerah tiba-tiba badai datang menenggelamkan kapal pesiar yang begitu besarnya hanya dalam satu kali sapuan. Ternyata ada satu makhluk dengan bentuk manusia memiliki sayap yang sangat besar, memenuhi laut itu dia marah karena larangan keluarga Dzon adalah memasuki lautan. Yashbi akhirnya meminta maaf dengan cara makhluk itu menghisap darah Yashbi dari betis Yashbi. Dari kejadian itu Yashbi koma selama tiga bulan.
Kembali saat ini...
Anzel tiba-tiba menginjak rem mobil. Melihat mobil milik Merisa berada tidak jauh darinya. Diikuti mobil Sandi.
__ADS_1
Yashbi membuka mata.
"ada apa?" ucap ketus Yashbi.
"itu tuan, ada mobil milik nona Merisa tapi kemana pemiliknya? ini kan jalanan yang jarang bahkan orang gunakan" ucap jelas Anzel.
Yashbi beranjak menggertakan jemari tangannya.
"turun dan periksa"
Anzel pun menurutinya. Tapi tidak menemukan Merisa.
"tuan, aku tidak menemukan nona Merisa" ucap Anzel menghampiri jendela kaca Yashbi yang terbuka setengah.
Di dalam mobil milik Sandi Robin baru menyadari jika mobil yang terparkir adalah mobil milik Merisa dan dia bergegas turun mendekati mobil itu.
Anzel pun mendekati Robin.
"baru saja aku memeriksanya tapi aku tidak menemukannya"
Robin mengerti ucapan Anzel. Dia memeriksa seluruh mobil dan memang tidak ada tanda-tanda keberadaan Merisa. Robin teringat ucapan Clara yang telah melenyapkan Merisa.
Teriak Robin yang hilang kendali. Menjatuhkan tubuhnya kepermukaan tanah sembari memegang dadanya.
Ashana yang berada diluar mobil sedari tadi memperhatikan mereka segera menghampiri Robin berusaha menenangkannya.
Ashana berjongkok didekat Robin dan menghapus air matanya.
"paman, kau haru mengatakan apa yang sudah ketahui semuanya dengan begitu kau akan tahu pasti dia masih hidup atau sudah mati" gumam Ashana yang hanya bisa terdengar oleh Robin.
Ashana tersenyum lebar.
"bangunlah. Aku tahu kau pasti mengerti dengan ucapanku barusan" ucap Ashana membantu Robin terbangun.
"kau... siapa kau?" tanya Robin.
"aku tidak bisa menjawabnya karena aku pun tidak tahu siapa diriku ini" ucap Ashana.
"apa ucapanmu barusan kau tahu jika dia masih hidup?"
__ADS_1
"kau bisa mengetahuinya saat kau sudah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan"
Mereka pun kembali kedalam mobil masing-masing.
"kau keluar tanpa ijin dariku?" tanya dingin Yashbi.
"maaf, aku tidak akan mengulanginya" ucap lembut Ashana menatap Yashbi yang menatap keluar.
"tuan..."
"ingat kalian ini bukan lagi pasangan muda mudi. Kau sudah memiliki seorang anak. Jadi berhentilah mempermasalahkan hal kecil"
"diam..." bentak Yashbi.
Anzel pun merasa jika tuannya ini berperilaku seperti anak kecil.
"tuan, apa kita bawa mobilnya kerumah?"
"hah.... apa kau bilang? memangnya rumahku penampungan mobil butut. Kau sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, Anzel. Kenapa kau masih saja bertanya"
"ya... aku sudah melakukannya" jawab lemas Anzel.
Anzel sudah mengambil rekaman dalam mobil Merisa.
"cepat jalankan mobilnya. Memangnya kau berniat kita berada disini lebih lama? hah" ucap ketus Yashbi.
Sebenarnya Yashbi kesal dengan sikap Ashana yang peduli terhadap Robin.
Ashana merasakan ada keanehan dalam dirinya mengingat apa yang dia ucapkan barusan terhadap Robin.
"apa yang kukatakan? kau ini bersikap seolah tahu semuanya. Dasar bodoh, bodoh, bodoh" gumam Ashana yang terdengar Yashbi.
Yashbi merasa jika Ashana mengatakan hal itu untuk dirinya.
"ingat. Saat tiba dirumah aku akan memberikanmu hukuman" ucap Yashbi melipatkan kedua tangannya didada dan menyilangkan kakinya.
Sementara didalam mobil Sandi.
Berkali-kali Robin menyeka air matanya. Sandi berusaha menenangkannya dengan menyetel seseorang membacakan puisi dalam bahasa berbeda-beda.
__ADS_1
Jaka merasa jika Sandi, tuan mudanya ini memang aneh dan nyentrik. Masa iya menenangkan seorang orang tua dengan menyetel seseorang membacakan puisi dalam bahasa berbeda. Jaka menggelengkan kepalanya.