Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 54


__ADS_3

Ashana kembali pokus apa yang dia inginkan saat ini. Tapi dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak ada sesuatu yang diinginkan. Hanya ada satu hal yang terlintas dibenaknya. Dia segera menulisnya dan melipat kertas itu menindih dengan pena.


"hanya ini yang aku inginkan. Uang? memang aku butuh uang. Siapa sih yang tidak membutuhkan uang. Orang kaya sekalipun masih membutuhkannya. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Sekolah di luar negri..." ucap Ashana mengenal nafas.


"sepertinya tidak. Aku sadar aku tidak cukup pantas untuk bersekolah ke luar negri. Ah, sudahlah. Semakin memikirkannya semakin pusing kepalaku" ucap Ashana beranjak dari duduk karena perutnya merasa lapar.


"aku kan sudah menyelesaikannya berarti aku boleh dong kelar dari ruangan ini"


Sebelum keluar Ashana berjalan menyusuri setiap sudut ruangan. Tiada hentinya memuji ruangan kerja milik Yashbi.


"dia laki-laki macam apa? seiring berjalannya waktu semakin aku tidak mengerti tentangnya" ucap Ashana yang tidak sengaja menyenggol sebuah patung berbentuk kepala kuda hitam. Dan terbukalah sebuah ruangan (sebuah pintu terbuka sedikit karena tersenggol).


Ashana sangat penasaran ruangan apa yang ada di dalam itu. Dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Membuka pintu perlahan.


"ruangan apa ini?" gumam Ashana mengedarkan pandangannya.


Terlihat seperangkat baju wanita milik Clara di sebuah patung wanita.


"baju wanita. Baju siapa? mungkin..." ucap Ashana menyentuh baju itu.


Perlahan baju itu menggambarkan sebuah puzzle yang tata letaknya acak-acakan.


Ashana membulatkan kedua matanya sempurna.


"ini..."


"apa yang kau lakukan?" ucap seseorang dengan khas suara baritonnya. Ya, dia Yashbi yang berada di ambang pintu dengan menyilangkan kedua tangannya.


Yashbi menyeret Ashana keluar dari ruangan itu. Hingga Ashana meringis kesakitan karena tangan Yashbi memegang erat lengannya.


" a... aku tidak sengaja" ucap Ashana terbata


Yashbi sangat marah karena ruangan itu hanya dia yang boleh memasukinya. Dia menyeret Ashana di lorong berpapasan dengan sopir menuju sebuah ruangan lain.


Tiba di sebuah ruangan Yashbi menghempaskan Ashana.


Bruuug


Ashana terjatuh ke lantai dingin. Ruangan berdebu karena sudah cukup lama tidak ada yang menempatinya.


Di waktu yang bersamaan, Merisa dan Anuya.


Merisa dengan wajah yang cemberut memajukan bibirnya dan kesal ketara sekali.


"sebaiknya kita pergi" ucap ketus Ashana.


"ke mana? padahal tubuhku lelah butuh istirahat. Tempat ini cukup nyaman. Jadi biarkan aku memejamkan sebentar saja" ucap Anuya yang terlentang di sofa panjang.


Merisa melirik Anuya dengan tatapan tajam.


"kau tidak tahu malu"ucap Merisa menghela nafas kasar.

__ADS_1


" sudahlah. Terserahmu saja. Jangan salahkan aku jika laki-laki itu berbuat kasar padamu "


" hei, hei. Apa kau mengkhawatirkanku? kau tenang saja aku juga seorang laki-laki tidak mungkin hanya dengan ancaman semacam itu"ucap Anuya yang terlentang santai di sofa panjang kedua tangan di belakang kepalanya.


Yashbi menuruni anak tangga melihat mereka masih berada di tempatnya.


"kalian belum pergi juga" ucap Yashbi dingin


Merisa dengan kedua mata membulat kusangking takut melihat Yashbi. Dia tahu sikap Yashbi akan seperti apa.


"ka... kami akan pergi sekarang"


"kau saja sendiri. Aku masih mau berada di sini" ucap Anuya memejamkan matanya.


Yashbi memegang ke dua belah pinggangnya. Merasa sangat kesal.


"ta... tapi Yashbi bolehkah aku meminta pertolonganmu?sebelum pergi. Aku janji jika kau mau menolongku aku pasti akan segera pergi dari sini" ucap Merisa memohon.


"apa kau benar-benar tidak tahu malu, Merisa?" ucap Yashbi dingin menahan emosinya.


Merisa berpikir sejenak. Dia tidak mungkin pergi dengan mobil dalam kondisi saat ini. Apalagi dia akan berkumpul bersama teman-temannya. Apa kata mereka jika Merisa membawa mobil rusak.


Merisa diam mematung seolah tuli dan menutup matanya.


"apa yang kau inginkan?"


Merisa seketika mendongakkan wajahnya.


"katakan!!" bentak Yashbi


"mobil... bolehkah aku meminjam salah satu mobilmu? kau tahu kan saat tadi masuk kondisi mobil ku seperti apa"


Yashbi tersenyum simpul.


"aku sudah tahu sebelum kau mengatakannya padaku" ucap Yashbi melemparkan sebuah kunci mobil


"dan sebentar lagi dalam hitungan detik ayahmu tersayang akan mengemis padaku. Beberapa waktu ke depan aku akan memenuhi semua yang kalian inginkan"


"tapi... ada tapinya. Kalian akan tahu setelahnya"


"aku seorang baik hati, bukan?"


Dari arah pintu terlihat seseorang mendatangi rumah Yashbi dengan nafas tersenggal-senggal. Ya dia Robin dengan wajah lelahnya. Robin menatap ke arah Anuya dan sontak kaget. Pandangan mereka saling bertemu.


Yashbi hanya tersenyum simpul.


" apa yang kuucapkan menjadi kenyataan. Ayah tersayangmu sudah berada di depan mataku" ucap Yashbi tersenyum licik.


"sebelum kau pergi sebaiknya melihat terlebih dahulu apa yang akan ayahmu katakan dan lakukan"


Merisa memegang erat kunci mobil. Anuya beranjak dari tidurnya.

__ADS_1


"suasana seperti ini sangat menarik untuk ditonton" ucap Anuya.


Yashbi menoleh ke arah Anuya dengan pandangan tidak suka.


Yashbi melangkahkan kaki mendekati Robin.


"kau membutuhkanku lagi. Ah...tidak. Lebih tepatnya uangku"


"katakan berapa yang kau inginkan" ucap Yashbi duduk di sofa singel dengan menopang kakinya.


Deugh


"ya kau pasti sudah mengetahuinya sebelum aku mengatakannya" ucap Robin berusaha santai.


"kau tahu, tuan Robin. Seseorang yang sudah berada dalam pandanganku tidak akan bisa pergi ke manapun. Hanya dalam sekali lihat kalian tidak akan bisa bergerak sebebas yang kalian inginkan. Mungkin kau..." ucap Yashbi terjeda dan melihat ke arah Anuya.


Anuya menelan salivanya mendengar ucapan dari Yashbi. Aura sangat kuat mengelilingi tubuh Yashbi. Aura itu keluar karena Yashbi menahan cukup lama amarahnya terutama Robin.


" dan kau (Anuya) bersekongkol dengannya untuk mencelakai anakku"ucap Yashbi dingin wajah datar menatap mereka bertiga bergantian.


" dan payah sekali kau menerima sejumlah uang demi mengorbankan satu nyawa anak manusia"


Saat pertama kali Yashbi melihat Anuya dia menelusuri dalam-dalam manik matanya dan mengetahui siapa Anuya ini.


"seharusnya anakku tidak perlu menolongmu saat itu. Membiarkanmu mati alangkah lebih baik"


Sebelumnya, Anuya yang berada di tengah hutan dan Morina bersama teman sekelasnya sedang mengadakan pembelajaran outdoor di alam terbuka. Anuya sedang bertapa di bawah air terjun tiba-tiba arus sungai meluap dan membuatnya hanyut. Morina yang sedang menyusuri tepi sungai tidak sengaja melihat Anuya dan bergegas menolongnya.


"dia mengetahui secepat ini" batin Robin


Yashbi menyambar tas yang berada tidak jauh dari Anuya dan mengeluarkan isi tas itu dan ternyata sejumlah uang.


"kalian berniat membunuh anakku dengan uangku sendiri"


"hah.... jangan bercanda!!!" bentak Yashbi hingga suaranya menggelegar.


Yashbi sudah habis kesabarannya. Dia memang sangat menyayangi anaknya, Morina. Jadi tidak mungkin membiarkan orang lain menyentuhnya seujung jaripun.


Di tengah-tengah suasana memanas sopir menghampiri Yashbi dan berbisik.


"bawa mereka masuk. Biar aku pertemuan mereka"


Penculik yang menculik Morina dan juga pemuda yang berusaha mendekati Morina di bawa masuk ke tengah-tengah mereka. Robin betapa terkejutnya dia. Keringat dingin memenuhi tubuhnya.


"sebaiknya aku pergi. Aku tidak perlu melihat lebih jauh lagi karena aku tidak terlibat apapun dengan kalian" ucap Merisa membalikkan badannya.


"kau... kau memang wanita tidak malu, Merisa"


"diam! dan lihat semua hingga akhir. Kau tenang saja akan tiba giliranmu"


Yashbi semakin marah karena mengusik anaknya, Morina. Tadinya dia tidak akan berbuat hingga sejauh ini dan masih bersenang hati menuruti semua keinginan Robin perihal "uang". Ya uang bukan masalah besar baginya namun, jika seseorang berani menyentuh anaknya dia tidak akan berpikir dua kali.

__ADS_1


__ADS_2