
Di ruang tengah, Salfa yang menunggu Yashbi bertujuan untuk mengobati kedua tangannya yang melepuh akibat memegang makhluk yang berwujud semut itu.
Langkah kaki Yashbi masuk ke dalam ruangan tengah.
"ada apa?jangan bicara omong kosong aku akan segera pergi ayahmu sudah pulih tinggal menunggu waktu untuk sadarkan diri. Kira-kira sekitar dua sampai tiga jam dia akan terbangun" ucap ketus Yashbi
Salfa tidak menggubris dan menarik lengan kekar Yashbi.
"jangan banyak bicara aku akan mengobati luka ditanganmu" ucap Salfa mendudukkan Yashbi di sofa panjang
"sudah kubilang aku baik-baik saja. Kau kerasa kepala sekali" ucap Yashbi yang enggan menatap Salfa
Salfa membuka kotak p3k dan mengobati luka ditangan Yashbi dengan cekatan dan terampil.
Setelah selesai mengobati.
"Ashana. Kau menikahi wanita muda karena tujuan tertentu. Kau memang laki-laki kejam dan tidak berperasaan" ucap Salfa beranjak dari kursi menyimpan kotak p3k ke dalam laci
"bukan urusanmu" ucap Yashbi dingin
"lap keringatmu" ucap Salfa menyodorkan sekotak tisu
"aku menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Dia terjatuh dari ketinggian tepat saat di sekolah. Kenapa dia malam-malam berada di sekolah? kau pasti melakukan sesuatu padanya hingga tidak betah di rumah? benar begitu?" ucap Salfa nyerocos dan mengatakan sedikit kebohongan. Meski tahu Yashbi akan tahu kebohongannya dia tetap mengatakannya
"kau selalu ingin mengetahui urusan orang lain. Kau pasti melihat pundaknya, kan?" tanya Yashbi kesal
Dengan melihat pundak seseorang Salfa akan tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupan seseorang itu.
"tidak, aku tidak melakukan itu. Saat melihat wanita muda itu ditolong di atas udara oleh seorang laki-laki yang kukenal saat itu juga kuyakin jika mereka saling mengenal dan memiliki hubungan serius" ucap Salfa mengambil minuman di dalam lemari es mini lalu memberikan minuman dalam kaleng pada Yashbi
"jadi kau melihat wujud lain diriku?" tanya Yashbi membuka minuman kaleng
"euumphh... aku melihatnya jelas. Dia lebih tampan darimu pastinya. Kau penasaran, bukan? ingin sekali melihat dirimu sendiri dalam wujud lain. Kuberitahu kau satu hal dia, lebih tampan, manis dan lebih berperasaan dibanding dirimu" ucap Salfa, meledek
"aku ingin tahu. Selama hidup aku belum pernah melihatnya" ucap Yashbi
"kau tidak mungkin melihatnya. Bukankah itu sudah jelas. Hanya orang yang memiliki ikatan tertentu denganmu yang dapat melihatnya langsung. Itupun jika dalam keadaan tertentu" ucap Salfa
"kenapa ayahmu bisa ketindih makhluk itu? apa dia melakukan sesuatu?" tanya Yashbi serius
Setiap Yashbi mengobati pasiennya dia akan mengetahui kenapa si pasien bisa seperti itu.
Saat ini Yashbi hanya ingin tahu seberapa jujur temannya ini.
"ayah... dia" ucap Salfa terhenti
"aku tidak akan memaksamu untuk mnegatakannya" ucap Yashbi beranjak berdiri
"ayah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat olehnya" ucap Salfa menghela nafas kasar
"apa maksudmu?" tanya Yashbi
"dia melihat kekasihmu saat berkunjung ke kediaman Robin. Tapi hanya sekilas" ucap Salfa
__ADS_1
"berarti dia ada di rumahnya?" ucap Yashbi mengerutkan dahi, mengusap kasar wajahnya
"entahlah. Setelah pulang, ayah mendadak tidak bisa bergerak satu inci pun. Aku melakukan pengobatan di seluruh kota ini tapi tidak membuahkan hasil dan anehnya hasil medis menyatakan baik-baik saja. Setiap jam sepuluh malam ayah pasti meraung kesakitan saat aku lihat tidak ada apapun atau luka sedikitpun ditubuhnya bahkan dokter yang datang mengatakan tidak ada penyakit apapun. Tapi suatu hari, saat memasang tv di kamarnya aku melihat makhluk itu. Setiap hari aku merawatnya belum pernah sekalipun makhluk itu menampakkan dirinya. Aku hanya bisa melihatnya di layar cctv"
"saat itu pikiranku kacau karena aku tidak memiliki kontak milikmu akhirnya aku menghubungi Doni melalui sosial media. Kau masih mencarinya? meski sudah menikah? apa ini tidak keterlaluan? kau melibatkan wanita muda hanya untuk menemukan seorang wanita yang tiba-tiba menghilang? "ucap Salfa yang cerewet
" aku harus pergi. Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu"ucap Yashbi melangkahkan kakinya keluar dari rumah Salfa
"besok aku mengundang kalian makan siang di rumahku. Harus datang jangan menolak" ucap Salfa tegas
Yashbi di dalam mobil bersama sopir.
"rumah sakit"
"baik. S... siapa yang sakit, tuan? tanya sopir
Yashbi tidak menjawab hanya terdiam. Sopir sudah tahu jika Yashbi sedang lelah karena pekerjaannya.
" makanlah ini, tuan. Ini makanan yang anda peringatkan untuk selalu saya bawa dan menawarkannya pada anda ketika anda terlihat lelah"
"akan aku naikkan gajimu" ucap Yashbi mengambil makanan yang disodorkan sopir itu
Makanan berasa jahe dan manis.
.
.
.
"kau menemaniku" ucap Ashana tersenyum tipis dan berusaha bangun
Spontan Indra pun terbangun mengucek matanya.
"kau sudah bangun, Ash? bagaimana lukamu? apa ada yang sakit? aku akan panggilkan dokter. Tunggu jangan ke mana-mana" ucap indra yang membantu Ashana untuk turun dari ranjang
"kau pulang saja. Ini sudah pagi. Istirahatlah" ucap Ashana
"jangan khawatirkan aku. Aku akan menunggumu sampai kau pulang ke rumah" ucap Indra yang khawatir dengan keadaan Ashana
"siapa yang mengijinkanmu untuk menemaninya?" ucap Yashbi yang langsung masuk ke dalam ruangan
"pulanglah!"ucap Yashbi dengan suara baritonnya
" kau sudah baik-baik saja jadi kita akan pulang sekarang "ucap Yashbi menarik tangan Ashana yang di perban karena genggaman Yashbi yang kuat membuat Ashana menahan sakit
Ashana menoleh ke arah Indra dan mengisyaratkan terima kasih dan Indra hanya tersenyum kecut.
Yashbi mendorong tubuh Ashana ke dalam mobil. Di perjalanan pulang mereka hanya terdiam tidak ada pembicaraan.
"anda baik-baik saja?" tanya sopir
Ashana celingak celinguk kebingungan.
__ADS_1
"dia bertanya padamu" ucap Yashbi ketus
"ah... iya aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku" ucap Ashana dengan tersenyum
"kenapa tadi siang kau tidak mengucapkan hal serupa" ucap Yashbi
Yashbi ingin ucapan terima kasih keluar dari mulut Ashana saat memberikan kartu pelajar yang tertinggal tadi siang.
Ashana lagi, lagi tidak peka. Dia bingung dengan pikirannya sendiri.
Krrruuuuuuuukkk
Suara perut Ashana dan Yashbi. Mereka saling menatap satu sama lain. Si sopir mengetahui jika mereka sedang merasakan lapar.
"aku tidak akan meminta ijin dari anda terlebih dahulu, tuan. Sebagai bentuk perhatian biarkan kali ini saya membawa kalian ke tempat makan yang masih buka dijamin sekarang. Saya jamin makanannya cukup enak dan bersih" ucap sopir melihat tuannya di spion depan
Ashana merasa ada hal ganjil dia menatap tajam ke arah Yashbi.
"kenapa kau menatapku?"
"kau ini sebenarnya siapa? apa kau hantu, makhluk dari pintu lain atau makhluk yang bangkit dari kuburan?"
"kau tahu, tuan perasaan seseorang saat harus berada di tengah-tengah orang asing?" lirih Ashana
"aku... aku tidak mengenalmu sama sekali tidak mengenalmu. Jadi kumohon hentikan pernikahan ini. Sebaiknya kau pergi saja. Ah tidak, seharusnya aku saja yang pergi" ucap Ashana berusaha membuka pintu mobil namun tidak terbuka
Pikiran Ashana sangat kacau dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Pernikahan dengan orang yang tidak kenal sama sekali dan munculnya makhluk-makhluk aneh di hadapannya.
Ashana terus berusaha membuka pintu mobil yang masih melaju.
"hentikan. Percuma saja kau tidak akan bisa membukanya" ucap Yashbi
"biarkan aku pergi" ucap Ashana
"siapa yang mengijinkanmu pergi?" tanya Yashbi dengan wajah datarnya
"aku tidak ingin membuang waktuku hidup dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal. Beberapa hari denganmu kehidupanku berubah total. Hal-hal aneh terus saja terjadi di sekitarku"lirih Ashana menoleh ke arah Yashbi
Mata mereka saling bertemu.
" hentikan mobilnya" ucap Yashbi tegas
Sopir menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"keluarlah. Aku ingin bicara berdua" ucap Yashbi
Sopir pun keluar tanpa bicara sepatah katapun.
"biarkan aku keluar dan pergi. Aku tidak ingin dekat denganmu" ucap Ashana yang berontak saat Yashbi memeluk tubuhnya
"kau baik-baik saja. Kuyakin itu"
"hah, yakin? jangan bercanda, tuan. Aku melihat kau dalam wujud lain dan terbang di udara"
__ADS_1
Deugh
"dia melihatnya. Tidak mungkin. Aku saja belum...jadi yang dikatakan Salfa benar adanya" batin Yashbi