Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 102


__ADS_3

Seketika rumah milik ayah dan ibu Ashana hancur dan muncul lah seekor makhluk tinggi besar berwarna putih. Tinggi hampir menyentuh langit.



Hanya gambaran untuk wujud makhluk sebagai penunggu rumah milik ayah dan ibu Ashana.


Ashana menatap nanar kearah rumah yang hancur begitu juga Doni, Anzel, Sandi dan Jaka yang tidak jauh keberadaannya dari posisi mereka.


Mereka serempak mengatakan "Yashbi..."


Saat Ashana akan berlari kearah rumah untuk memastikan kondisi Yashbi Doni dengan sigap menahannya.


"dia... dia berada disana" lirih Ashana sembari berontak agar Doni melepaskannya.


"kau tenanglah dulu, Ash. Apa kau tidak lihat makhluk yang saat ini ada didepan kita saat ini" benak Doni.


Ashana seketika terdiam. Dan menatap kearah makhluk yang saat ini ada didepan mereka.


"tapi... tapi dia..." ucap lirih kembali Ashana terduduk diatas permukaan air mata mulai mengalir dari kedua matanya membanjiri kedua pipinya. Kedua tangannya meremat tanah.


"dia pasti baik-baik saja, Ashana" ucap Doni menatap lurus kearah makhluk itu.


"lihat. Makhluk itu sedari tadi hanya terdiam. Berarti ada seseorang yang sedang berusaha menahan pergerakannya"


"aku tahu. Dia tidak akan mati semudah itu. Ini sudah sering terjadi dikehidupannya" ucap jelas Doni.


Ditempat Anzel, Sandi dan Jaka.


"ada apa lagi ini?" protes Sandi.


"apa kau tidak bisa lihat ada makhluk sangat besar didepan kita" ketus Anzel.


Sandi dan Jaka terlihat bingung karena memang mereka tidak melihat apapun terkecuali rumah yang hancur.


"katakan dengan jelas. Sebenarnya ada apa?" tanya Jaka.


Anzel menemukan ide cemerlang.


"kalian tidak bisa melihatnya, bukan?"


"sebenarnya aku bisa membantu kalian agar melihat makhluk yang saat ini ada didepan kita. Tapi..."

__ADS_1


Sandi dan Jaka menatap Anzel dengan tatapan serius.


Dalam hati Anzel berusaha agar tidak tertawa melihat reaksi bodoh mereka berdua.


"kalian harus memberiku sejumlah uang yang sudah ditentukan"


Sandi membalikkan badannya karena kesal mendengar ucapan Anzel yang hanya menginginkan uang.


"apa ini salah satu bisnis tuanmu?pantas saja dia menjadi orang kaya nomor satu dikota ini. Cukup menjanjikan bisnis yang dia kerjakan" sindir Sandi.


"tuan salah besar. Ini adalah bisnis milikku dan tuan Yashbi pun sama sekali tidak mengetahuinya. Baiklah jika kalian tidak menginginkannya aku tidak akan memaksa. Hanya saja..."


Sandi membalikkan badan kembali kearah Anzel.


"hanya saja kalian saat ini memiliki harapan hidup sangat tipis. Mengingat makhluk yang saat ini ada didepan kita sangat menyukai manusia yang tidak bisa melihat wujudnya. Dan aku beritahu satu hal makhluk itu senang memakan manusia yang tidak bisa melihat wujudnya. Pertama dimakan olehnya" ucap pelan Anzel.


Anzel mengingat sebentar lagi adalah ulang tahun Ashana. Padahal sebenarnya tidak tahu kapan Ashana terlahir. Hanya saja Anzel menandai sebuah tanggal dimana tanggal tersebut dijadikan lahirnya Ashana.


Sandi dan Jaka mendengar hal itu seketika tubuhnya panas dingin, gemetar.


"berapa yang kau inginkan?" tanya Sandi.


"kau memeras kami" celetuk kesal Jaka dengan wajah merah padam. Mengingat menerima gaji selama bekerja dengan Sandi dia belum pernah mendapatkan jumlah sebanyak itu kecuali Sandi mendapatkan tender besar. Jaka pasti akan mendapatkan bonus diluar gajinya.


"tidak, tidak perlu. Kami tidak akan melakukannya" kembali ucap Jaka mendapatkan tatapan tajam dari tuannya, Sandi.


"anda bisa mengirimnya kenomor ini tuan" ucap Anzel memperlihatkan nomor atas nama dirinya sendiri. Anzel tersenyum licik.


Sandi mengirim sejumlah uang kenomor tersebut.


"aku akan memotong gajimu setiap bulan, Jaka. Satu miliar berarti selama sepuluh bulan kau hanya menerima seperempat gajimu" ucap tegas Sandi seketika membuat pandangan Jaka kosong. Berusaha mencerna ucapan Sandi.


Ya, Anzel bisa membuka mata bathin seseorang. Fungsi mata bathin adalah agar dapat melihat makhluk tak kasat mata. Dan untuk membukanya sama halnya dengan Yashbi saat mengobati pasiennya, menguras tenaga.


Anzel mengambil kertas kecil atau memo dari dalam saku jas. Melukai jarinya, mengeluarkan darah dan dibubuhkan kekertas itu hingga dipenuhi darah miliknya.


"simpan kertas ini ditelapak kalian masing-masing"


Mereka pun menurut. Menyimpan kertas yang dipenuhi darah diatas telapak tangan.


"pejamkan mata kalian mulai sekarang. Jika kertas ini menghilang berarti kalian silahkan membuka mata"

__ADS_1


"saat kertas ini menghilang akan terasa sesuatu masuk kedalam tubuh kalian. Seperti minum minuman yang dingin saat kehausan. Mengalir dari tenggorokan, dada hingga perut"


Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan mereka di balik pepohonan.


Di rumah Salfa, Salfa bersama ayah dan ibunya tengah makan bersama dimeja makan. Terjadi pembicaraan diantara mereka.


Tiga tahun Sang ibu yang meninggalkan Salfa dan suami begitu saja hanya untuk karirnya tiba-tiba datang kembali dalam kehidupan mereka beberapa hari ini.


Ayah terlihat sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Raut wajah yang selalu ditekuk dan belum pernah menyapa sejak kembalinya sang istri.


Ya, status mereka diambang perceraian. Ibu sendirilah yang melakukannya dia, sudah mengajukan gugatan cerai.


"ayo makan ayam ini, Sal. Ibu sengaja membuatnya untukmu. Kau pasti menyukainya" ucap ibu lembut menyendokkan ayam fillet dengan saus lada hitam.


Salfa hanya terdiam memandangi bergantian ayah dan ibunya.


"apa kalian tidak ingin bicara satu sama lain? hah"


"padahal seharusnya banyak sekali pembicaraan yang harus kalian bicarakan. Ayah bicaralah padanya apa yang kau inginkan darinya dan juga ibu... kau harus bicara jujur mulai saat ini. Jika memang benar-benar kembali lagi seperti dulu" ucap Salfa yang jenuh melihat tingkah orang tuanya. Memang sih sang ayah jarang sekali bicara jika bukan hal penting.


Semenjak diobati dan disembuhkan oleh Yashbi ayah, berjanji akan bicara jujur pada Salfa dan istrinya. Tapi, hingga sekarang belum dia lakukan.


Hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar diruang makan.


Salfa sebenarnya sudah tahu apa yang akan kedua orang tuanya katakan.


Ibunya yang beralasan pergi demi karir padahal sebenarnya dia menjadi simpanan salah satu pengusaha ternama kota yaitu Zerad. Zerad yang hilang entah kemana yang membuat ibu kembali.


Ayahnya melakukan sewenang-wenang dengan jabatannya. Beberapa karyawan wanita dijadikan nafsu Pelampiasan semenjak ibu Salfa meninggalkan rumah.


Salfa tidak mendesak mereka untuk berkata jujur secepatnya karena ada sebab akibat yang akan ditanggung kedua orang tuanya. Yaitu adanya makhluk akibat perbuatan mereka bersemayam ditubuh mereka jika berkata jujur makhluk tersebut akan mengambil alih tubuh si pemilik dan ini disebut hukum alam semesta. Salfa tahu hal ini karena dia dapat melihat perjalanan hidup seseorang melalui pundaknya.


Saat ayahnya tengkurap sakit sebelum diobati Yashbi, Salfa melihat pundak sang ayah dan tahu apa yang telah dia lakukan. Begitu juga ibunya dia, melihat melalui pundaknya saat mereka tidur bersama beberapa hari lalu.


Salfa hanya mengacak-ngacak makanan dipiring miliknya dengan tatapan bingung.


Salfa beranjak dari duduknya.


"mau kemana Salfa?" ucap kedua orang tuanya serempak.


"aku ingin pergi keluar mencari udara segar" ucap Salfa dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


__ADS_2