Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 114


__ADS_3

Anzel terlihat panik. Jika api itu terus menyala bisa-bisa bangunan rumah ikut terbakar.


Anzel berpikir keras untuk memadamkan api itu.


Tangan Robin yang berlumuran darah memegang pergelangan kaki Anzel, Anzel pun menoleh kearahnya.


Telapak tangan Robin memperlihatkan batu merah berukuran lumayan besar. Anzel tahu betul apa maksud Robin memperlihatkan batu itu.


Robin menulis diatas permukaan lantai dengan menggunakan darah yang ada dijari jemari tangannya. Menuliskan sebuah mantra.


Bersamaan, Anzel mengucapkan mantra itu sembari memegang batu merah, memejamkan matanya terlintas bayangan seseorang. Dan seketika membuka matanya.


Dihadapan Anzel berdiri seorang laki-laki yaitu Zeys. Zeys tersenyum tipis kearahnya.


"jangan, jangan mendekat. Api itu sangat bahaya" ucap Anzel memperingati Zeys.


Batu Merah itu berubah wujud menjadi mekar layaknya sebuah bunga lalu mengeluarkan hujan berwarna merah ke arah api dan dua ular itu.


"manusia sekarang memang tergolong pintar dan cerdas" gumam Zeys.


Padahal dahulu Zeys jika menginginkan benda yang dikhususkan untuk melawan makhluk dan hal lainnya diharuskan mencari dari tempat satu ke tempat lainnya hingga memakan waktu banyak. Tapi, melihat apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini Zeys berpendapat jika manusia adalah makhluk yang pintar dan cerdas.


"tapi..." ucap Zeys melangkah mendekati kedua ular itu. Kedua ular itu tertunduk.


Zeys berdiri dibangunan rumah, mansion milik Yashbi menghadap ke arah Clara.


"kau... jadi kau pemilik, tuan dari ular-ular ini" ucap Clara yang terlihat kaget dan heran. Karena teringat sesuatu tentang Zeys.


"jangan secepat ini kau mengingatku" ucap Zeys seraya menatap tajam kedua ular itu. Kedua ular itu menjadi sebuah mahkota dikepala Zeys.


Deugh


"Clara Brone..."


"apa kau sudah puas bermain-mainnya?"


"aku tahu jika kau sudah mengingatku maka kau yang berada disana akan terbangun"


Clara yang berada di dunianya, yang masih terbaring membuka matanya. Para pengikutnya menyadarinya jika tuannya sudah terbangun mereka serempak menghentikan aktifitasnya yang sedari awal terus menerus menyembah Clara.


Zeys dan Clara memiliki masa lalu yang sempat mereka lalui bersama. (kita skip dulu cerita mereka).


"kau... kau jadi selama ini..." ucap Clara terbata dengan mata berkaca-kaca menatap Zeys.


"jika kau ingin bicara denganku kembalilah ketempatmu" ucap Zeys menghilang.


Clara terlihat bingung.


Ashana dan Doni yang terlempar cukup jauh berada ditengah jalan yang sepi.


Saat ini Ashana mulai merasakan sekujur tubuhnya merasakan sakit begitu juga Doni. Mereka beranjak sembari meringis kesakitan.


"kita terlempar cukup jauh" ucap Doni mengedarkan pandangannya. Ashana berjalan kaki didepannya.

__ADS_1


"Ashana..." panggil Doni.


"ada apa?" tanya Ashana seraya menoleh.


"apa kau tidak ingin mengatakan siapa kau ini sebenarnya?"


"aku akan mengatakannya tapi bukan sekarang"


"aku ingin memastikan suatu hal. Jika itu sudah tidak mengangguku lagi aku akan mengatakannya dan pergi"


Mendengar ucapan Doni tertegun dan menghentikan langkahnya.


.


.


.


Di dunia milik Zeys dia, menemui seorang wanita seperti hantu(transparan). Wanita yang sangat cantik dengan rambut sebahu.


"kau akan segera menghilang. Kau ingat kan apa saat terakhirmu yang ingin kau lakukan"


Wanita itu hanya tersenyum lebar.


.


.


.


"apa kau mengenal seorang laki-laki yang bernama Anuya?" tanya Robin terbata.


Deugh


"apa kalian bersaudara?" tanya kembali Robin.


"saat melihat pertama kalian aku berpendapat jika kalian ini bersaudara" ucap Robin teringat saat pertama kali membandingkan Anuya dan Anzel ketika Yashbi menembak mereka. Saat itu pula Anzel menyadari jika itu Anuya tapi Anzel tidak menegurnya mengingat perlakuan terakhir Anuya terhadap dirinya dan Ashana.


"Anuya yang telah membantuku lolos dari anakku, Clara"


" kau masih menganggapnya seorang anak setelah yang dia lakukan padamu" ucap Anzel kesal.


"aku ingin memperlihatkan wujud aslinya. Sebelum itu aku harus mencari adikku terlebih dulu" ucap Anzel keceplosan membuat Robin mengerutkan Alisnya.


.


.


.


Morina melangkahkan kakinya mendatangi ruang kerja Yashbi dan Yashbi masih tertidur pulas disofa panjang. Karena Morina kerasukkan makhluk penunggu rumah milik ayah dan ibu Ashana kekuatannya meningkat pesat hingga Yashbi membuka matanya, beranjak merasakan kekuatan darinya.


Rambut Morina memanjang menyusuri lantai mendekati keberadaan Yashbi yang masih terduduk disofa panjang.

__ADS_1


"kenapa makhluk ini ada dirumahku?" gumam Yashbi. Pandangan mereka bertemu.


Deugh


Yashbi kaget saat matanya melihat jelas jika Morina telah kerasukkan makhluk itu.


"Morina..." ucap Yashbi dengan nada berat dan beranjak berdiri. Menginjak rambut makhluk itu yang tadinya ingin melilit tubuhnya namun dengan sekuat tenaga Yashbi melepaskan lilitan rambut itu.


"t....to.....to....long" ucap Morina terbata.


Terlihat jelas mata Morina seolah meminta tolong dan merasa kesakitan.


Yashbi bergegas melangkah kearah Morina namun, langkahnya terhenti kala rambut makhluk selalu saja menghalanginya.


Saat makhluk dengan kekuatan yang besar masuk kedalam tubuh manusia maka akan keduanya akan mati. Terkecuali, ada seseorang yang dapat membantunya dengan cara memberikan energi kehidupannya atau sebagian umurnya dengan sukarela.


Sementara, Yashbi tahu jika dirinya tidak mungkin bisa menolong anaknya. Karena umur yang dimiliki Yashbi tinggal sedikit lagi. Hanya Yashbi yang mengetahuinya.


Morina menjerit hingga rambut miliknya memenuhi ruangan dan berubah menjadi keras.


Deugh


"tidak mungkin..." ucap Yashbi.


Rambut makhluk itu mengeras karena perubahan kekuatan menjadi sangat kuat dari sebelumnya.


Yashbi merapalkan mantra dan mengedarkan pandangan mencari sang cendrawasih yang disimpan didalam bola kristal namun, tidak ada. Terlihat raut wajah Yashbi cemas dan khawatir.


"dimana benda itu?" lirih Yashbi.


Rambut makhluk itu terus menerus memenuhi ruangan hingga terasa sesak baik Morina ataupun Yashbi. Sekujur tubuh penuh luka diakibatkan rambut itu yang semakin tajam dan keras.


"bebaskan aku, bebaskan aku" terdengar jelas ditelinga Yashbi.


"bebaskan aku... ini sakit... sakit sekali. Aku tidak ingin melukai anak kecil ini...bebaskan aku... bebaskan aku"


Yashbi semakin melangkah mendekat kearah Morina.


"apa yang harus kulakukan? katakan"


Yashbi yang melangkahkan kaki dengan gontai karena Sekujur tubuhnya merasakan perih. Rambut makhluk itu terus menerus menyayat tubuh Yashbi karena semakin mendekatinya.


"berikan aku energi kehidupan manusia. Aku menginginkannya"


Dari luar mansion Ashana melihat kearah ruang kerja Yashbi dan dia segera berlari untuk segera memasukinya.


Kenapa Ashana jadi peka dan peduli terhadap hal seperti ini?.


Sebagian besar dalam tubuh Ashana tersimpan kekuatan bintang yang disebut Canis Major. Kekuatan ini yang terbagi antara Ashana dan Clara. Kakuatan ini berfungsi sebagaimana orang yang menggunakannya. Jika untuk hal baik maka kekuatan ini akan semakin kuat begitu juga sebaliknya.


Apa kekuatan Canis Major ini ada pemiliknya?.


Tentu saja. Yaitu alam semesta.

__ADS_1


Saat ini yang memiliki sebagian besar kekuatan Canis Major adalah Ashana.


Saat ini Ashana dikendalikan oleh Canis Major dan masih dalam keadaan sadar.


__ADS_2