Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 67


__ADS_3

Di rumah Yashbi, di ruangan kerja Yashbi. Yashbi yang tadinya tertidur di ruangan rahasia miliknya di mana adanya patung yang mirip sekali dengan Clara. Sekarang Yashbi tertidur di ruang kerjanya tepatnya di sofa panjang dengan memeluk patung yang mirip sekali Clara berkali-kali menyebutkan nama Clara.


"Clara..."


Sesuai jadwal yang sudah ditetapkan di Man tadi Ashana sudah membacanya di gulungan kertas. Ya, kelebihan Ashana adalah dapat menghafal walau sekali membaca.


Ashana memasuki ruang kerja Yashbi dan memergoki Yashbi menyebut nama Clara berkali-kali.


Deugh


Ashana tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah ada beberapa hari lalu terhadap laki-laki yang saat ini ada di hadapannya yaitu Yashbi, suaminya. Meski pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Yashbi bukan keinginannya sendiri tapi Ashana sudah bertekad ingin menjadi istri yang baik. Salah satunya manut apa yang dikatakan Yashbi.


Ashana menata minuman dan makanan di atas meja di samping Yashbi tertidur di atas sofa panjang.


"saat tertidur lelap seperti ini pun kau tidak pernah memanggilku, pak tua. Memang benar apa yang kuharapkan dari pernikahan mainan ini. Tapi di hari kemarin-kemarin perasaan yang tidak sama sekali aku harapakan muncul begitu saja. Jika saatnya tiba kau wajib sekali menyalahkanku "gumam Ashana memandang Yashbi yang tertidur memeluk patung yang mirip Clara.


" kau lebih rela berpelukan dengan patung ini"ucap Ashana sedikit kesal dan beranjak melangkah namun terhenti kala tangan Yashbi memegang lengannya.


"Clara... jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin lagi wanita yang kucintai pergi meninggalkanku untuk ketiga kalinya. Clara... kumohon" gumam Yashbi mata yang masih terpejam memeluk erat patung yang mirip Clara.


Perlahan Ashana melepaskan tangan Yashbi yang memegang lengannya.


"a... aku bukan Clara" lirih Ashana dan beranjak pergi dari ruangan kerja Yashbi.


Ashana membawa napan yang berisikan minuman dan makanan yang sama dengan yang dia sajikan tadi untuk Yashbi dan menuju kamar Morina saat di depan pintu yang cukup besar dia mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


Tidak ada sahutan. Ashana memberanikan diri untuk masuk.


Merasa pintu kamarnya terbuka Morina segera menoleh dan melihat Ashana. Tatapannya seketika berubah tajam.


"berani sekali kau memasuki kamarku"bentak Morina


Kusangking kaget Ashana terperanjat hampir saja napan itu terjatuh untung saja Ashana dapat menyeimbangkan tubuhnya.


" apa kau tuli? kenapa kau berani masuk ke dalam kamarku? hah"bentak sekali lagi Morina melangkah menghampiri Ashana.

__ADS_1


" ma... maaf"hanya kata ini yang bisa diucapkan Ashana. Betapa takutnya Ashana saat melihat kliatan cahaya di mata Morina yang tajam.


"lalu, apa ini?" tanya Morina mengendus makanan dan minuman yang di atas napan itu.


Hoek


Hoek


Hoek


"kau membuat makanan dan minuman sampah ini dan diberikan untukku. Yang benar saja!" bentak kembali Morina membalikan badannya.


"buang saja makanan dan minuman itu. Aku tidak menyukainya, cepat!!!"


"tapi ini sehat loh untuk tubuhmu. Yang aku tahu anak seusiamu membutuhkan makanan dan minuman seperti ini agar tidak cepat gemuk"kilah Ashana memegang napan dengan tangan gemetar.


Secpat kilat tangan Morina meraih piring berisikan makanan di atas napan yang di pegang Ashana dan melemparkannya ke arah Ashana. Piring itu melesat dan mengenai pelipis kiri Ashana.


"ingat kau di sini belum satu hari bekerja dan kau bersikap seolah-olah sudah mengetahui semuanya. Jangan so cakep. Menjijikkan" ucap Morina menatap nyalang ke arah Ashana.


"keluar!"


Ashana masih diam mematung dengan tubuh gemetar. Masih mencerna apa yang sudah dilakukan Morina terhadapnya.


Ashana buru-buru dari kamar itu dan berlari mencari tempat aman baginya. Di lorong dia bertabrakan dengan Anzel. Ya, Anzel baru saja selesai menghadiri meeting berniat ke ruang kerja Yashbi.


Braagg


Napan dan gelas berisi air rempah-rempah itu pecah di atas permukaan lantai.


Praaang


"maaf, maaf saya tidak sengaja" ucap Ashana panik menunduk dan memungut pecahan gelas.


"Ashana..." ucap Anzel menyamakan posisi dengan Ashana dan tatapannya terpaku ke luka tiap sisi pelipisnya yang terlihat masih baru.


"kau terluka? apa yang terjadi? siapa yang melukaimu?" tanya Anzel terdengar jelas khawatir.


"tidak, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" ucap Ashana terbata. Masih memungut pecahan gelas yang pecah.


"ikut denganku. Aku akan mengobatimu" ucap Anzel memegang lengan Ashana.

__ADS_1


Tanpa sengaja jari Ashana mengenai pecahan beling dan mengeluarkan darah segar.


"jangan membantah. Aku akan mengobatimu. Jangan berpikir macam-macam tentangku. Aku hanya tidak suka orang disekitarku terluka padahal aku bisa memberikan bantuan untuk mereka" ucap tegas Anzel yang hanya dijawab anggukkan dari Ashana.


Di halaman belakang tepat di tanaman rempah-rempah dan bunga Bleeding Heart yang membentang cukup luas.


"bunga ini..." ucap Ashana saat Anzel membawanya duduk di bangku panjang. Dan mereka duduk bersampingan.


Anzel mengeluarkan plester dari dalam sakunya. Plester dengan gambar bintang.


Wajah Ashana terlihat jelas kaget.


"anda membawa plester imut ini... di dalam saku?" tanya Ashana dengan wajah polosnya.


Sekilas ingatan Ashana muncul saat dia di wahana permainan bersama dua orang laki-laki sebayanya namun tidak terlihat jelas wajah ke dua anak laki-laki itu.


Anzel memasang an plester itu di kedua belah sisi pelipis Ashana dan juga jari yang terkena pecahan gelas tadi.


Terlihat Anzel tersenyum hangat pada Ashana. Senyum yang tidak pernah dia perlihatkan sekalipun terhadap Yashbi meski mereka sudah hidup bersama lebih lama di banding bersama Ashana.


Terbersit satu keyakinan dalam hati Anzel jika Ashana adalah adiknya yang selama ini dia cari. Ketika melihat reaksi Ashana saat Anzel mengeluarkan plester bintang itu.


"apa kau menyukai bintang?" tanya Anzel menatap ke arah langit malam di sertai beberapa bintang yang saling berjauhan.


"bintang?" ucap Ashana mengerutkan dahinya.


"euumphh..."


"entahlah. Aku tidak bisa bilang menyukainya ataupun tidak menyukainya" ucap Ashana yang ikut serta menatap langit malam yang disertai beberapa bintang saling berjauhan.


"kenapa? padahal jelas sekali bintang itu sangat indah. Dia bisa bersinar terang meskipun kegelapan menyelimutinya" jelas Anzel.


" aku juga tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Semakin melihatnya lebih jelas semakin jelas pula aku tidak bisa membendung air mataku yang akan keluar. Aku seperti melupakan sesuatu tapi entah itu apa" ucap Ashana yang menundukkan kepalanya.


Anzel semakin yakin jika Ashana adalah adiknya. Dia menepuk pundak Ashana.


"melupakan bukan berarti hilang. Bisa saja benda yang kau lupakan berada di sekitaranmu saat ini" ucap Anzel sambil tersenyum hangat.


Di waktu bersamaan saat Ashana terluka mengeluarkan darah segar dari jari yang memungut pecahan gelas saat itu pula Yashbi terbangun mencium bau darah Ashana yang menurutnya wangi dan menenangkan.


"darah ini...apa dia terluka?" gumam Yashbi membuka matanya yang masih memeluk patung yang mirip Clara.

__ADS_1


Yashbi bisa mencium bau darah Ashana yang menurutnya wangi.


__ADS_2