Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 33


__ADS_3

Ashana yang terlihat bingung hanya menatap kosong ke arah warga yang saling membicarakan dirinya dan ibunya.


"tidak mungkin sih ibunya punya uang untuk sebuah pesta anaknya selama ini dia kan hidup tidak jelas. Suaminya entah tahu di mana" celetuk salah satu orang warga


"atau jangan-jangan dia juga simpanan seorang om-om kaya"


"sudahlah ngapain juga ngurusin hidup mereka"


"benar sebaiknya kita pergi saja"


Sebagian warga meninggalkan tempat.


"buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya"


"kehidupan keluarga yang tidak jelas. Bisa saja kan benar adanya soalnya setiap kali ditanya suaminya mana si ibu Ashana itu tidak pernah menjawab hanya senyam senyum saja"


Ashana melangkah mundur perlahan.


"apa yang mereka tahu tentangku? tentang keluargaku? jangan bersikap seolah-olah mengetahui semuanya. Kalian hanya orang luar" batin Ashana yang masih menatap ke arah punggung mereka yang perlahan mulai meninggalkan halaman rumah


"kami akan melakukan pesta pernikahan tepat sebulan lagi. Jadi kalian tunggu saja. Pasti akan jamuan yang cukup mewah dan mengesankan" ucap Yashbi dengan enteng memegang tangan Ashana yang masih terbalut perban


Yashbi menyadari jika Ashana merasa tertekan dengan ucapan warga.


Lani mendengar hal itu semakin kesal dan benci pada Ashana.


.


.


.


Di ruang tv, Ashana dan Yashbi tengah bicara satu sama lain sembari menunggu makanan datang. Mereka duduk di sofa panjang.


"kenapa kau hanya diam saja? kenapa tidak melawan apa yang mereka katakan. Kau mampu dan bisa mengatakan tidak. Katakan saja apa yang ingin kau katakan jika sama sekali tidak merasa melakukan hal tersebut"cerocos Yashbi kesal karena Ashana yang terdiam dan mendengar ucapan warga


"lemah sekali. Aku tidak menyukai wanita sepertimu yang tidak bisa mengatakan dan melakukan apapun" ucap kembali Yashbi


Ashana memandangi tangan yang terbalut perban.


"apa selama hidupmu ini hanya menerima dan menyaksikan apa yang mereka inginkan?" ucap Yashbi dengan pandangan tajam ke arah Ashana


Ashana tertunduk sama sekali tidak berani memandang kembali ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"hentikan"ucap Ashana kesal karena Yashbi terus saja bicara


" apa kamu bilang?"


" aku bilang hentikan. Ucapanmu membuat kepalaku sakit "ucap Ashana menahan bendungan air mata di kantung matanya


" kau sadar seharusnya kau mengatakan hal itu pada mereka bukan ditujukan saat di sini bersamaku"ucap Yashbi semakin kesal dengan sikap Ashana


"dengan sikapmu seperti ini aku jadi harus mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan, Ashana" ucap Yashbi santai wajah datar


"a... apa maksudmu?" tanya Ashana heran


"kau tidak dengar aku mengatakan pada mereka akan mengadakan pesta satu bulan lagi agar mereka percaya dengan pernikahan ini. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa menghentikan mereka. Tadinya kau tahu aku sama sekali tidak berniat mengadakan pesta untuk pernikahan ini" ucap Yashbi yang tidak sadar melukai hati Ashana


Deugh


"aku tidak memintamu untuk mengadakan pesta itu. Apa kau pernah mengatakannya?" ucap Ashana menahan emosi yang tertumpuk di dadanya


"yang aku pernah katakan padamu tinggalkan saja pernikahan konyol ini. Lagipula ini bukanlah kehidupan sebuah pernikahan. Sepertinya benar apa yang mereka katakan jika yang kita lakukan saat ini adalah kumpul kebo. Mereka bisa mengatakan hal itu karena tidak tahu jelas masalahnya seperti apa"ucap Ashana yang tak kalah santai


"aku ingatkan. Dari awal aku tidak setuju dengan pernikahan seperti ini" ucap Ashana segera beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar. Sudah tidak mampu menahan bendungan air mata di kantung matanya.


"hei, aku belum selesai bicara"


"ternyata hanya aku saja yang merasakan perasaan seperti ini"


"aku benci hanya dengan mendengar suaranya"


"tapi di satu sisi perasaanku perlahan tumbuh begitu saja"


Ashana merasa kekecewaan terhadap Indra dulu karena tidak menjaga dan menghancurkan kepercayaannya selama lima tahun. Bertemu dengan Yashbi yang memiliki sikap berubah-ubah bisa lembut, kasar, dingin dan hangat membuatnya kewalahan. Dan perasaan itu mulai tumbuh saat Yashbi membelanya di depan Lani (saat Lani pertama kali berkunjung ke rumah Ashana).


Ashana berusaha menekan perasaannya agar tidak semakin tumbuh. Membandingkan setiap sikap Yashbi padanya dan juga alasan Yashbi menikahinya karena mencari kekasihnya.


Tanpa Ashana sadari, sosok wujud lain dari Yashbi berada di sampingnya duduk di tepi ranjang menatap punggung Ashana yang terus saja membenamkan wajahnya ke bantal.


Beberapa saat, Ashana menyadari ada hembusan nafas yang menembus kulit lengannya dia segera bangkit benar saja, wujud lain dari Yashbi menatap ke arahnya dengan senyuman hangat. Ya, senyuman yang tidak pernah Ashana dapatkan dari laki-laki di bumi ini.


"kau melihatku menangis dan menikmatinya. Kau menyukai saat aku sedang menangis dan menyedihkan seperti ini?" ucap Ashana kesal menyeka air mata yang membasahi pipinya


Tangan wujug lain dari Yashbi itu ikut pula menyeka air mata Ashana di pipi sebelah lain. Seketika wajah Ashana tersipu.


" kau tidak bisa bicara? setiap diajak bicara olehku kau hanya tersenyum "ucap Ashana bangkit dari kasur tapi lengannya dipegang oleh wujud lain Yashbi

__ADS_1


" ada apa? aku ingin pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku "ucap ketus Ashana


Wujud lain dari Yashbi itu menyodorkan air dalam mangkuk yang terbuat dari kayu mengisyaratkan untuk Ashana menggunakan air itu.


Tanpa rasa malu dan canggung Ashana mencuci mukanya di hadapannya. Saat air itu mengenai wajahnya seketika wajah lebih segar dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Lagi, lagi wujud lain dari Yashbi hanya tersenyum hangat.


Wajah Ashana yang tampak basah diseka oleh tangan wujud lain dari Yashbi.


"kenapa kau selalu baik padaku? setiap aku merasa sendiri kau selalu ada untukku,kenapa? aku tahu kau bukan manusia" ucap Ashana melihat bagian lengan wujud lain Yashbi itu transparan seperti bagian puzle yang hilang


Lagi, lagi dia hanya tersenyum hangat membuat Ashana jengah tapi masih berusaha menahannya.


Di ruang tv, Yashbi tampak termenung berpikir keterlaluan apa yang diucapkan terhadap Ashana.


"apa aku sudah keterlaluan? dia kan masih anak kecil jadi mana mungkin bisa berpikir sama halnya denganku" ucap Yashbi beranjak dari kursi menuju kamar menyusul Ashana


Di dalam kamar, Ashana terlihat kesal karena wujud lain dari Yashbi selalu mengekorinya.


"kau duduk dulu di sini. Aku sedang mencari sesuatu" ucap Ashana kesal


"kalau kau bisa membantuku aku akan mengijinkanmu untuk mengikutiku. Namun, hanya ingin menghalangi sebaiknya diam saja" ucap Ashana ketus tanpa melihat ke arahnya


Di anak tangga, langkah kaki Yashbi terhenti karena mendengar Ashana seperti tengah bicara dengan seseorang.


"siapa?" batin Yashbi


Ashana keluar dari menuruni anak tangga saat bertemu Yashbi dia berpura-pura tidak melihatnya, mengabaikannya. Begitu pula wujud lain dari Yashbi yang mengekorinya.


"tu... tunggu. Kau mau ke mana?" tanya Yashbi


"gudang" jawab singkat Ashana


Ashana sedang mencari buku yang sering kali dia baca saat masih kecil dulu. Tiba di gudang yang jarang sekali di pakai terlihat beberapa sarang laba-laba dan debu yang tebal. Mereka bertiga masuk ke dalam gudang itu.


Ashana mengedarkan pandangannya. Yashbi menutup hidung dan mulutnya.


"kau sedang mencari sesuatu? aku akan membantumu" ucap Yashbi berharap Ashana bersikap seperti sebelumnya


Ashana mencari dari kotak barang yang satu ke yang lainnya tapi tidak menemukannya. Wujud lain dari Yashbi berdiri di dekat kotak yang berukuran cukup besar dari yang lainnya.


"hanya box itu yang belum kucari" ucap Ashana melangkah ke box di mana wujud lain Yashbi berdiri


Benar saja setelah beberapa saat mencari buku yang dimaksud Ashana ada di dalam box itu. Buku yang sudah lusuh di dalam buku itu ada sebuah gambar yang sama persis dengan wujud lain dari Yashbi dengan beberapa ekor binatang mengelilinginya.

__ADS_1


Ashana membulatkan mata sempurna sesekali menatap gambar dan wujud lain dari Yashbi itu.


__ADS_2