
"kau ke gudang kotor ini hanya untuk mencari buku jelek ini" ucap Yashbi datar
Ashana memicingkan matanya dan melangkah keluar meninggalkan Yashbi. Dan wujud lain dari masih tetap mengekori Ashana.
Drrttt
Drrttt
Ponsel milik Yashbi menandakan panggilan masuk dan itu dari Avril. Avril memberitahukan jika Morina di culik seketika Yashbi syok tanpa berpikir lagi dia masuk kembali ke dalam rumah mengambil jaket di dalam kamar dan bergegas menuju keberadaan sopir pribadinya.
Di dalam mobil, sepanjang jalan Yashbi menggerutu melihat puluhan pesan yang dikirim Avril memberitahukan keadaan putrinya yang diculik.
"jalan Jingga blok Q"
"baik, tuan"
Sopir memperhatikan gerak gerik tuannya yang terlihat tidak seperti biasanya memberanikan diri untuk bertanya.
"maaf tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya sopir sedikit cemas karena takut dimarahi oleh tuannya
"anakku diculik" ucap Yashbi datar
"ba... bagaimana bisa?" ucap sopir terbata kusangking kaget
"tentu saja bisa. Yang menculik anakku kupastikan akan menyesal" ucap Yashbi dengan tatapan tajam
Yashbi mengetahui keberadaan si penculik itu karena melihat video cctv di cafe milik Avril yang dikirim oleh Avril sendiri.
Saat tiba di markas penculik itu, Yashbi menyuruh si sopir untuk berpura-pura menjadi ayah dari Morina.
Si sopir dengan langkah berat masuk ke dalam markas terlihat orang-orang yang menyeramkan layaknya preman dengan tato di tubuhnya. Si sopir jelas terlihat ketakutan.
"jangan takut. Aku hanya ingin mendengar apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu padamu aku pastikan kau pulang dalam keadaan layak, pak tua" ucap Yashbi
Karena memasang alat pendengar si sopir bisa komunikasi langsung dengan tuannya.
"ba.. baik"
"wah, wah pak tua... Apa kau orang tua anak perempuan ini?" tanya salah satu preman yang menjambak rambut Morina
Yashbi yang melihat pemandangan itu di layar hpnya untuk sementara hanya mengepalkan tangan. Melihat keadaan mulut Morina yang tertutup lakban dan kaki tangannya terikat serta bajunya yang kotor.
__ADS_1
"kau tahu tempat ini. Sepertinya kau orang yang cukup cerdas" ucap salah satu preman lagi
"apa yang kau inginkan? intinya saja. Pasti aku akan memberikannya" ucap si sopir yang seketika terlihat dan terdengar berwibawa
"memangnya apa yang kau punya? bagaimana jika aku menginginkan semua yang ada didirimu" ucap kembali si preman
"apa maksudmu? jangan berbelit. Waktuku tidak banyak jadi sebaiknya katakan intinya saja" ucap si sopir
"aku menginginkan uang. Ya, uang. Kau tahu kan manusia di bumi ini sangat mementingkan uang daripada hal lainnya"
"berapa total yang kau inginkan?"
"tujuh ratus miliar"
"a... apa!!!" ucap sopir kaget
Yashbi mendengar total uang yang diminta seketika tersenyum simpul dan keluar dari mobil.
"Robin... kau selalu saja ingin bermain denganku" ucap Yashbi melangkahkan kakinya menuju keberadaan mereka
"jika kau sanggup aku akan membebaskan anak ingusan ini" ucap salah satu preman yang menendang kaki Morina
"saat ini aku ingin sekali membunuh kalian" ucap Yashbi dengan suara baritonnya
"a... anda bagaimana bisa datang ke sini tanpa memberitahu kami?" para preman panik dan tidak berani menatap ke arah Yashbi
"seharusnya anda memberitahu kami jika akan datang ke tempat ini"
"apa aku tidak boleh datang sesuka hatiku untuk datang ke tempat milikku sendiri" ucap Yashbi melangkah mendekati putrinya membukanya lakban dan ikatannya
"pah...papah"lirih Morina yang ketakutan dan lemas karena seharian tidak diberi makan ataupun minum
Para preman kaget dengan ucapan yang keluar dari mulut Morina.
Yashbi segera memangku Morina.
"siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan hal menjijikan ini?" ucap tegas Yashbi memandang tajam para preman
"katakan!!!" teriak Yashbi
"Ro... robin, tuan" celetuk salah satu preman
__ADS_1
Yashbi menghela nafas kasar. Sudah menduganya karena memang perusahan Robin sedang membutuhkan dana untuk menutupi kerugiannya sekitar 1,4T dan hal ini diketahui Yashbi.
"kalian ingin mati di tempat ini? aku tidak akan melarangnya sama sekali"
Para preman tahu apa yang akan dilakukan Yashbi.
Yashbi menekan salah satu tombol di bangunan itu seketika bangunan itu hancur seperti di bom. Para preman dan sopir berhamburan keluar.
"kenapa kalian keluar? takut mati? hah"
"saat ini aku tidak ingin melihat kalian pergi sejauh mungkin sebelum aku melakukan sesuatu hal pada kalian"
Yashbi memasukkan Morina ke dalam mobil dan membaringkannya.
Para preman tampak lesu bagaimana tidak tempat satu-satunya berteduh dihancurkan begitu saja oleh pemiliknya.
Sebelumnya, para preman itu sempat di bantu Yashbi. Saat itu Yashbi sekolah menengah pertama melihat para preman itu diperlakukan tidak baik oleh seseorang yang tidak lain adalah ayahnya Robin. Mereka dijadikan budak di perusahaan yang saat ini tengah dipimpin Robin. Bekerja siang malam tanpa ampun. Jika ada yang keluar tanpa ijin darinya (ayah Robin) besoknya akan hilang begitu saja tanpa ada kabar.
Preman itu diselematkan oleh Yashbi. Ayah Robin yang tiba-tiba sakit tanpa sebab dan melakukan pengobatan ke mana-mana tapi tidak membuahkan hasil.
Saat di pesta yang dikhususkan untuk para pengusaha, Robin yang mendorong kursi roda untuk ayahnya dari arah lain terlihat Yashbi yang melangkahkan kaki menghampiri mereka dengan membawa segelas wine.
"paman, apa paman tidak merasa berat membawa hewan sebesar itu?" celetuk Yashbi
"paman, jika tidak dilepaskan hewan itu akan membuat paman mati untuk tiga jam kedepan. Dan paman hanya memiliki waktu tiga jam lagi untuk hidup"
"aku bisa membantumu tapi ada syaratnya" tawar Yashbi
Mendengar hal itu Robin sangat senang di sisi lain tidak sama sekali karena perangai Yashbi yang sombong untuk anak seumurannya.
"bagaimana? jika setuju ikut denganku sekarang" ucap Yashbi membelakangi dan menoleh ke arah mereka
Robin dan ayahnya terpaksa mengikuti Yashbi dalam hati mereka siapa tahu saja apa yang diucapkan Yashbi benar adanya. Sudah rahasia umum jika semua tamu mengetahui latar belakang keluarga Yashbi sebagai keturunan paranoid dan cenayang.
Di ruangan yang cukup luas dan melompong tidak ada satu benda apapun kecuali tiga manusia itu.
"tumpahkan wine ini dari atas kepala ayahmu" ucap Yashbi tegas, memerintah dan menyodorkan sebotol wine yang dipegang bersama satu gelas wine
Kedua bola mata Robin dan ayahnya melotot sempurna.
"apa kau berniat mempermalukan ayahku? seharusnya aku tidak perlu mengikuti keinginan bocah tengik sepertimu" ucap Robin, marah dan mendorong kursi mengarah pintu
__ADS_1
"apa kau perlu bukti? bisa saja aku membuktikannya sekarang juga. Kau tahu bukan apa yang kupegang akan berfungsi dan berguna tergantung niat yang kuucapkan dan kuinginkan" ucap Yashbi santai memainkan wine dalam gelas