Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Menerka-nerka


__ADS_3

Pagi hari,


Mereka tidak bisa kembali tidur khususnya Ashana yang masih syok atas kejadian pagi tadi. Yashbi membawakan minuman dan makanan ke dalam kamar.


"ada apa? kau masih tidak enak badan?" tanya Yashbi yang berpura-pura tidak tahu atas kejadian tadi pagi pasalnya dia tidak ingin orang lain mengetahui pekerjaannya


Yashbi menaruh napan di atas nakas.


"aku sudah membawakannya sebaiknya kau memakannya" Yahsbi menatap tajam, Ashana yang memandang ke arah luar jendela seolah-olah tidak memperdulikan keberadaan Yahsbi


Karena sedikit khawatir Yashbi mengambil sepotong kue dipiring dan mengarahkan ke mulut Ashana.


"aaaa" ucap Yashbi


Ashana menoleh tepat dihadapannya tangan Yashbi sudah siap memasukan kue ke mulutnya untuk sesaat Ashana melihat pada Yashbi dan menerima suapan itu.


"ada apa denganmu? ceritakan padaku bagaimana pun juga aku ini suamimu" tegas Yashbi


"ular..." lirih Ashana memeluk tubuhnya sendiri, gemetar


"ular itu melilit tubuhku seperti mau mati. Ya ukurannya sangat besar. A.... aku takut, Yash" ucap Ashana ketara sangat ketakutan hingga matanya berkaca-kaca


Yashbi mendengar ucapan Ashana sejenak menundukkan kepalanya tampak berpikir.


"bagaimana bisa makhluk itu menampakkan dirinya pada Ashana?" batin Yashbi merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan yang baru berjalan beberapa jam lalu


"halusinasi itu hanya halusinasimu sebaiknya kau istirahat saja. Makan dan minum yang kubawa barusan untuk dihabiskan" ucap Yashbi


Saat badan Yashbi berbalik lengannya merasa ada yang memegangnya. Yashbi pun menoleh.


"jangan pergi. Temani aku" ucap memohon Ashana


Ya, telapak tangan Ashana terasa dingin sekali wajah pucat pasi. Yashbi tidak bisa menolaknya karena merasa bersalah bagaimana pun juga Ashana seperti ini karenanya, karena pekerjaannya.


"ok aku tidak akan ke mana-mana. Sebagai gantinya habiskan yang kubawa tadi" ucap Yahsbi


Ashana mengangguk dan menghabiskannya.


"hei, apa ular itu akan mendatangiku lagi?" tanya Ashana


"tidak. Sudah kukatakan itu hanya halusinasimu saja. Ular besar yang kau maksud itu hidup beberapa juta tahun lalu bagaimana bisa ada di jaman sekarang ini? euumphh" ucap Yashbi


"di sekolah kau pasti sudah diajarkan tepatnya di mata pelajaran sejarah" ucap Yashbi, pandangan mereka saling bertemu


"aku punya permintaan. Apa kau akan mengabulkannya?" tanya Ashana


"jangan hal ribet dan menyusahkan" jawab Yashbi sedikit ketus


"aku ingin bersandar dipunggungmu" ucap Ashana


Ya, Ashana merasa menemukan sedikit kenyamanan didiri Yahsbi. Dengan bersandar dibalik punggung Yashbi dia merasa sedikit aman seolah-olah bersembunyi dari ular itu.


"euumphh lakukanlah" Yashbi membalikkan badannya dan kepala Ashana menempel dipunggung lebar itu. Punggung yang selebar samudera Pasifik.


Dua puluh menit berlalu...


"sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Yashbi


"aku harus pergi ada urusan yang harus kuselesaikan" ucap Yahsbi dingin


Ashana kusangking nyaman setelah mendengar ucapan Yashbi segera menjauh.


"pergi ke mana?" tanya Ashana

__ADS_1


"bukan urusanmu" jawab Yashbi sambil mengambil pakaian kotornya


"aku akan mencuci pakaianmu"


"tidak perlu"


"itu sudah tugasku aku kan..."


Ucapan Ashana terpotong


"ya kau memang istriku tapi saat ini sebaiknya kau jangan melakukan apapun termasuk dengan baju-bajuku" ucap Yashbi yang pergi keluar kamar begitu saja


Di ruang tv dia bertemu ibu yang sudah berdandan cantik dengan makeup tebal. Yashbi melihatnya mengerutkan keningnya heran dengan ibu mertuanya itu.


"nak Yash, apa ibu sudah terlihat cantik? tanya ibu tanpa ada rasa malu sedikitpun


" euumphh"Yashbi berusaha menahan tawanya


"baguslah aku akan menemui calon suami kedua ibu" ibu senyum lebar terlihat sangat senang sekali sambil membereskan barang-barang ke dalam tas miliknya


Ibu berjalan melewati Yashbi begitu saja yang masih berdiri di dekat pintu ruang tv.


"ibu sebaiknya jangan terlalu lama di luar cuaca sedang buruk" ucap Yashbi yang spontan memberhentikan langkah kaki ibu


"kau seharusnya memperhatikan dirimu sendiri jangan pulang pagi di cuaca seperti ini" ucap ibu


Yahsbi menggelengkan kepalanya menyaksikan kelakuan ibu mertuanya yang memasuki puber kedua.


"lebih kalem anaknya dibandingkan ibunya, hah" ucap Yashbi sambil melangkah keluar rumah


Di dalam kamar mandi Ashana tengah mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya.


"aku harus melupakannya, jangan diingat-ingat terus" Ashana berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama


"tadi aku dengar ibu pergi keluar. Aku ingin sekali keluar di sini membuatku sumpek selalu mengingat kejadian malam"


Ashana beranjak dari kasur memakai jaket berbahan tidak terlalu tebal.


"hari ini aku akan memasak untuknya"


Ashana pergi ke dapur memastikan bahan makanan yang tersedia namun tidak ada apapun hanya ada tiga butir telur di dalam lemari es dan air putih


"apa cukup dengan uang segini? harusnya bisa membeli lauk dan sayuran"


Uang yang dipegang Ashana dikumpulkan dari saku celana satu hingga saku baju seragamnya beserta dompet kecil miliknya. Dia berniat memasak untuk Yashbi. Membayangkan Yashbi pulang kerja dan memakan masakannya membuat senyum-senyum sendiri.


"aku harus bisa berdamai dengan keadaan jika tidak pasti diriku sendiri yang merasa tersakiti"


Sampai di sebuah warung sayur dia bergegas memasukan lauk dan sayur bayam ke dalam kantong kresek. Terdengar warga di sekitar melihat sinis ke arahnya. Ashana memperhatikan penampilannya merasa tidak ada yang aneh. Terdengar bisik-bisik warga,


"kemungkinan dia hamil duluan makannya nikah cepet-cepet"


"iya aku dengar dilakukan pagi hari"


"pantas saja ditinggal bapaknya ternyata anaknya hanya bikin malu"


"biasanya anak perempuan itu duplikat ibunya jangan-jangan dia meniru kelakuan ibunya"


Ucapan warga tersebut terdengar panas sekali di telinga Ashana.


"cepat sekali berita tentang pernikahanku menyebar" batin Ashana


Tidak heran sih jika warga langsung mengetahuinya mengingat ibunya selalu bergosip dengan ibu-ibu tetangga rumahnya.

__ADS_1


Ashana selesai belanja dia menebar senyum seolah-olah tidak mendengar apapun dari mulut warga sekitar.


"kenapa mereka mengetahuinya? apa ibu yang menceritakannya? tapi tadi ibu pergi mana mungkin sempat bercerita" batin Ashana


Sesampainya di rumah dia segera bergegas ke dapur dan berkutat dengan alat masak. Sudah bertahun-tahun dia hidup dibilang mandiri ibunya yang acuh dan tidak peduli membuat Ashana berpikir lebih dewasa dari umurnya.


"semoga saja dia menyukainya walaupun masakanmu tidak terlalu enak setidaknya bisa menahan lapar walau sebentar" Ashana tersenyum manis sambil mengiris bawang


Ketukan pintu membuat Ashana menghentikan kegiatan memasaknya. Dia melangkah menuju arah pintu saat di buka wajahnya seketika kaget matanya melotot sempurna.


"k...kau siapa?" tanya Ashana melihat orang di depannya dia seorang wanita cantik tubuh tinggi langsing dan rambut sebahu berwarna hitam


Wanita itu mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"namaku Lani"


Ashana menyambut uluran tangan itu.


"Ashana"


"anda siapa? dan mencari siapa?" tanya Ashana yang masih tidak mengetahui siapa wanita di depannya saat ini


"aku tetangga tepat sebelah rumahmu maksud kedatanganku aku hanya ingin berkenalan dengan tetangga sekitar rumahku" Lani tersenyum manis


"oh pantas saja aku baru melihatmu. Kalau begitu silahkan masuk. Maaf berantakan aku sedang memasak" ucap Ashana


"silahkan duduk"


"aku ingin melihatmu memasak kebetulan aku sedang belajar memasak masakan Indonesia" ucap Lani


"memangnya selama ini kau tinggal di mana?" tanya Ashana merasa heran dilihat dari manapun dia wanita Indonesia hanya saja memiliki postur tubuh tinggi jika dibandingkan wanita Indonesia lainnya


"aku kuliah di Jepang sudah sebelas tahun tinggal di sana untuk menyelesaikan kuliahku kusangking betah aku memutuskan sedikit lebih lama tinggal di negeri sakura itu" cerita Lani seperti sudah mengenal dekat dengan Ashana


"beruntung sekali" Ashana bicara pelan


"apa yang kau katakan barusan aku tidak begitu mendengarnya" ucap Lani


Lani duduk di kursi meja makan memperhatikan cara memasak Ashana yang masih terbilang amatir. Dalam hatinya dia tertawa puas. Untuk mengusir rasa sepi sesekali Lani bercerita kehidupannya di Jepang. Mendengar cerita dari mulut Lani membuat Ashana minder bagaimana tidak dia saja berhenti sekolah hanya untuk menikahi seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.


Ashana kerap termenung dengan perjalanan hidupnya yang bisa membuatnya sedih sekaligus tertawa.


Di kantor, ruangan Yashbi...


Dia tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita bernama Merisa. Merisa adalah kakak dari kekasihnya Yashbi yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


"Yash, aku mohon carilah dia. Apa kau tidak khawatir dia tidak ada kabar sudah dua bulan kami sekeluarga bingung mau meminta tolong siapa" Merisa tertunduk sesekali menglap air mata yang turun kepipinya


Yashbi bersandar dikursi kepimilikannya sambil menghela nafas kasar dan mengetuk-getuk meja dengan jarinya.


Yashbi merasa putus asa harus mencari kemana lagi wanita itu. Nomor ponselnya yang sering dihubungi tidak aktif dan tidak bisa dilacak keberadaannya. Khawatir pasti sangat khawatir namun dirinya lebih dikuasai rasa kesal dan kecewa yang tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Merisa, kau tahu aku sudah menikah jadi stop melibatkanku dengan keluargamu termasuk dia" geram Yashbi


Deug


"m... menikah? apa maksudmu?" Merisa mendongak menatap Yashbi penuh tanda tanya


"aku sudah menikah semalam jadi aku tidak ingin terlibat apapun lagi dengan keluargamu" tegas Yashbi


"bagaimana bisa, Yash? kau bukannya mencintainya melebihi apapun. Bagaimana bisa kau menikah secepat ini? apa kau sama sekali tidak memikirkan keadaan adikku saat ini? bisa saja dia dalam keadaan tidak baik bahkan bisa saja diculik atau..." ucapan Merisa terpotong saat Yashbi berdiri menghampirinya


" sudah kukatakan berhenti ya berhenti. Jangan pura-pura tuli. Bisa saja aku membuatmu tuli sungguhan "ucap Yashbi penuh penekanan

__ADS_1


__ADS_2