
Anzel yang berada ditempat Anuya. Terlihat sebuah bangunan rumah yang ditindih seekor makhluk.
Anzel tahu siapa pemilik makhluk itu. Dia adalah Zerad.
Anzel cukup tahu banyak tentang Zerad yang kerap kali mencari ilmu hitam keberbagai wilayah. Salah satunya pada Yashbi. Zerad merasa jika hal itu wajar. Zerad meminta rapalan mantra yang dapat membuatnya menjadikan kuat. Dengan begitu hidupnya sempurna memiliki kekayaan dan kekuatan. Ya, selama ini baik Zerad dan Floir sama-sama memiliki rasa dengki dan iri teramat sangat pada Yashbi. Yashbi yang memiliki kekayaan sekaligus kekuatan yang manusia biasa jarang memilikinya.
Makhluk itu hasil dari ilmu hitam yang selama ini Zerad kumpulkan.
"bagaimana aku menghadapinya?" gumam Anzel cemas.
Tiba-tiba, bangunan rumah itu sedikit bergerak begitu juga makhluk itu. Terlihat seseorang keluar tepat dibawah bangunan rumah itu dengan telanjang dada. Ya, dia adalah Anuya. Wujud Anuya saat ini sangat berbeda.
Tepat diatas puncak makhluk tadi Floir dan Zerad berdiri. Floir tertawa lepas.
"bagus, bagus. Kau memang murid baik dan penurut"
"ahh... indah sekali wujudmu sekarang ini. Jika aku tubuhku masih muda dan mampu menampung kekuatan yang ada pada dirimu mungkin saat ini tubuhku menjadi sepertimu"
Pandangan Floir tertuju pada Anzel yang berdiri jauh dibawahnya.
"ada seekor semut. Aku tidak menyukainya. Aku akan melenyapkannya"
"kau berisik sekali. Cepat selesaikan tugasmu. Mulutku sudah pegal sedari tadi merapalkan mantra"
Ya, sejak dari kemunculan Anuya Zerad merapalkan mantra cukup banyak hingga harus mengulanginya berkali-kali agar makhluk (makhluk yang berasal dari ilmu hitam) tetap berada dalam wujudnya jika tidak makhluk itu akan menghilang.
"kau tahanlah sedikit lebih lama. Kau perhatikan anak yang berada dibawah sana. Dia adalah orang yang selalu mematuhi Yashbi. Jadi, ini kesempatan kita untuk menghabisinya"
Anzel merapalkan mantra tanpa sepengetahuan mereka akar pohon yang berada dibawah tanah berbentuk seperti serat dengan jumlah banyak mengikat bangunan rumah dan makhluk itu.
*hingga saat ini tidak ada yang tahu seperti apa kekuatan yang Anzel miliki*
*akar pohon atau serat inti bumi dapat menyerap/melenyapkan seluruh kekuatan baik sihir hitam ataupun kekuatan lainnya*
Dengan mata yang Anzel miliki dia melihat intens kearah dua orang yang berada diatas.
Anzel tersenyum simpul. Dia berlari menaiki bangunan rumah, makhluk itu untuk mendekati dua orang itu untuk melancarkan serangannya.
Zerad merasa heran jika makhluk yang dia kendalikan tidak bereaksi.
Anzel berada dihadapan Zerad.
"tuan Zerad... aku tidak menyangka kita bertemu dikondisi seperti ini"
Zerad memperhatikan Anzel.
"kau... kau anak... itu" ucap Anzel heran.
Anuya berteriak hingga tanah bergetar angin berhembus kencang mengguncang semua yang berada disekitarnya.
Floir terus merapalkan mantra dan disadari oleh Anzel.
"sialan... kau pak tua" ucap Anzel dengan nada tinggi.
Mantra yang dirapalkan Floir berpengaruh pada tubuh Anuya.
__ADS_1
"diam kau, bocah. Ini urusanku dengannya. Sebentar lagi aku bisa menggunakan tubuh anak itu" ucap Floir yang terdengar mengejek.
Deugh
"jangan-jangan..."
"seorang anak laki-laki yang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dari anak lainnya"
Anzel memutar otaknya. Dia teringat pertama kali Floir mendatangi kota sebelah dimana saat itu Floir menunjukan kekuatan miliknya dan Anuya sangat tertarik untuk belajar darinya.
Anuya meminta persetujuan Anzel dan Anuya agar dirinya diizinkan untuk mengikuti Floir tapi mereka tidak mengizikannya.
"aku bekerja sama dengan temanmu itu seolah-olah dia diculik olehku tapi pada nyatanya dia..."
"tuan Floir, apa kau selama ini menyelidiki kami?"
Ya, saat itu Anzel merasa sering melihat makhluk dengan berbagai bentuk. Hanya Anzel yang menyadarinya.
Floir hanya smirk.
"kau tahu aku hidup hingga saat ini karena sudah memakai tubuh manusia untuk kesekian kalinya. Saat melihat anak itu jiwaku tidak berhenti untuk berontak. Agar segera menempatinya"
Waktu semakin cepat berlalu ...
Sebelum menyusul Yashbi Ashana terlebih dahulu menemui Morina. Perasaan Ashana tidak karuan dia sangat khawatir pada Morina.
Saat ini ikatan batin Yashbi, Morina dan Ashana mulai terikat satu sama lain.
Saat masuk kedalam kamar Morina. Ashana mengedarkan pandangannya masuk begitu saja karena tidak ada sahutan. Ashana teringat satu ruangan yang ada didalam kamar itu dan benar saja Morina berada disana.
Morina seolah tahu kedatangan Ashana dia bertanya tanpa menoleh kearah Ashana.
"untuk makanannya aku sudah memakannya. Rasanya enak" ucap menoleh dengan tersenyum.
Ashana yang melihat senyuman Morina tanpa sadar dia mendekati Morina dan memeluknya.
"Morina.... Morina..." lirih Ashana.
Ya, Ashana saat ini adalah Karmellita sepenuhnya dengan wujud wanita lain. Dengan kata lain dalam tubuh Ashana bersemayam jiwa/ruh Karmellita.
Morina tersentak dan segera melepaskan pelukan Ashana.
"apa yang kau lakukan?"
Mata Ashana melihat layar televisi yang menyala terlihat dalam video itu terlihat dirinya bersama Yashbi hingga dirinya sampai mengandung buah cinta mereka.
"ma...maaf. Tadi masuk aku tidak melihatmu dan saat melihatmu disini aku meresa lega bagaimana pun kau tanggung jawabku karena tuan Yashbi mempercayakanmu padaku" ucap Ashana terbata dengan menahan tangan yang gemetar.
Ashana ingin sekali mengusap air mata Morina. Ya, Morina memang masih menangis.
Morina meminta Ashana untuk menemaninya dengan senang hati Ashana pun menurutinya.
Mereka menonton video itu berulang kali. Ashana menahan sesak didadanya. Morina menangis tanpa bersuara dan sesekali terdengar mengatakan ibu dengan nada lirih.
"ibu... ibu..." lirih Morina.
Beberapa saat kemudian... Morina menyenderkan kepalanya kebahu Ashana tak selang berapa lama kepalanya mulai turun kepangkuan Ashana.
"kenapa saat dekat dengannya hatiku merasa tenang dan nyaman" batin Morina.
__ADS_1
Dan Morina tertidur dipangkuan Ashana.
Ashana membelai lembut kepalanya, pipinya dan mencium wajah Morina. Tanpa dia sadari seseorang memperhatikannya.
.
.
.
Yashbi mendatangi Robin di halaman belakang rumah.
Terlihat Robin terikat oleh akar pohon dari kaki hingga betis.
"dia melakukan tugasnya"
Perlahan Robin menoleh kearah suara yang terdengar dari belakang tubuhnya.
"Robin sepertinya kau masih menyembunyikan sesuatu dariku?" ucap sinis Yashbi.
"kau memberitahukanku tentang Clara siapa sebenarnya. Sebelum kau memberitahu wanita sebenarnya aku sudah mengetahuinya"
Deugh
"aku membuat cermin itu bukan tanpa alasan. Cermin yang bisa menunjukan semua yang bersangkutan dengan hidupku tanpa terkecuali"
Tadinya Yashbi membuat cermin itu untuk membantu pekerjaannya membantu manusia lainnya tapi cermin itu belum sepenuhnya sempurna.
Terlihat Robin tersenyum tipis.
"katakan siapa dirimu sebenarnya?" bisik Yashbi tepat disebelah Robin dengan sedikit mencodongkan tubuhnya.
"jika tidak aku akan melenyapkanmu saat ini juga"
Perlahan perban ditubuh Robin lepas.
Yashbi melangkah mundur beberapa langkah.
Seluruh perban terlepas. Wujud yang berada dalam perban itu terlihat jelas.
"si... siapa kau?" tanya Yashbi yang tidak mengenali laki-laki yang berdiri dihadapannya saat ini.
Laki-laki dengan perawakan lebih tinggi dan besar daripada Yashbi. Terlihat senyum tipis diwajahnya.
Di waktu yang bersamaan, Clara yang berada di Satan's World terbangun, bangkit. Zeys yang masih berada bersamanya sontak kaget. Karena tidak semua ruh/jiwa dan kekuatan Canis Major dia berikan untuk Clara.
"ini..."
Deugh
Seluruh dunia, dunia Satan's World, dunia yang dibuat Zeys dan dunia manusia berhenti berputar.
Clara yang berada di Yaebud, merasakan tubuhnya sudah sebagian besar hancur. Dengan kekuatan yang tersisa dia segera membuka permukaan tanah untuk memasuki tubuh Karmellita (berganti tubuh).
*Macan hitam dan Bills masih bertarung tanpa henti*
Siapakah laki-laki yang saat ini bersama Yashbi?.
Apa yang akan terjadi pada Anuya? apa Anzel berhasil menolongnya?.
__ADS_1