
Di rumah Silfa...
Silfa terkejut saat melihat Avril yang berada ditembok.
"a... apa kau yang telah melakukannya?" tanya Silfa terbata.
Avril hanya tersenyum tipis. Melangkah mendekati Silfa dengan tatapan berbeda dari sebelumnya.
Silfa ketakutan saat tatapan mereka bertemu.
"k... kenapa kau melakukan ini?" tanya kembali Silfa dengan tubuh yang terasa lemas.
"apa kau tahu atau pura-pura tidak mengetahuinya?" tanya Avril dengan nada dingin dan menekan.
"aku benar-benar tidak tahu apa hubungan kalian" ucap Silfa sekilas melirik kedua orang tuanya yang sedang ditangani Anuya.
"aku hidup sendiri sejak dulu. Dan kedua orang tuaku tidak menginginkanku karena kemampuanku yang mengalir dalam tubuhku"
Silfa berusaha keras menelan salivanya.
"aku berjuang untuk hidup dengan mengandalkan kemampuanku tapi... ayahmu yang kau sayangi itu melakukan hal yang membuatku merasa jijik hingga aku matipun aku masih akan tetap merasakan hal itu"
Ayah Silfa suatu waktu sempat mendatangi Avril dan mengusirnya dengan kasar hingga memukuli tubuh Avril. Ayah Silfa yang tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan Avrl yang menjadi cenayang.
"bukankah ini juga pernah terjadi pada teman dekatmu, tuan Yashbi"
Ya, ayah Silfa tidak menyukai Yashbi setelah mengetahui pekerjaan Yashbi sebenarnya.
"lalu, untuk ibumu dia datang beberapa kali ke tempatku bersama teman lelakinya tapi dia tidak ingin membayar apa yang dia sudah beli. Bayangkan ibumu melakukan itu dalam waktu cukup lama"
"t... tapi kau tidak berhak melakukan sejauh ini" ucap Silfa dengan bibir bergetar.
"ini caraku. Aku berhak melakukan apapun terhadap orang yang mengusikku"
"tenang saja kedua orang tuamu tidak mati. Dia hanya tertidur untuk waktu cukup lama. Mungkin jika ada keajaiban mereka akan bangun" ucap Avril dengan menutup wajahnya dan tertawa.
Anuya yang sedang berusaha mengobati kedua orang tua Silfa. Dia beberapa kali merapalkan mantranya tapi tidak bereaksi apapun.
"kau tidak akan mungkin bisa melakukannya. Kecuali melakukan Ruil"
Ruil yang hanya bisa dilakukan Yashbi.
__ADS_1
Anuya teringat saat Floir mengajarinya tentang Ruil. Ruil bisa dilakukan dengan menukar nyawa seseorang dan memiliki energi atau kekuatan sangat besar.
Anuya pun teringat jika dalam dirinya masih ada sebuah kekuatan yang bersemayam.
"kau tidak akan mungkin bisa melakukannya" ucap Avril yang bisa menebak jalan pikiran Anuya.
"apa kau rela kehilangan nyawamu hanya demi dua orang ini?"
Avril berbisik ketelinga Anuya. Seketika bola mata Anuya membulat sempurna.
"kau tenang saja mereka akan bertahan hingga tiga hari" ucapan Avril terdengar oleh Silfa yang berada didekat kedua orang tuanya
Anuya melirik kearah Silfa. Pandangan mereka saling beradu.
_________
Avril dan Anuya berada di Yaebud. Tepat di tempat persembahan dan pemujaan untuk Clara. Anuya terlihat antusias.
"apa kau tahu aku beberapa kali datang ke tempat ini tapi tidak lama. Hanya untuk melihat - lihat saja dan memastikan sesuatu"
"apa kedua orang tua itu sudah mati?"
"kau sudah mengetahuinya jadi aku tidak perlu menjawabnya" ucap ketus Anuya.
" mereka berakhir mati seperti itu karena mereka terlalu mempercayaiku. Bodoh, bukan?"
Anuya yang merapalkan mantra untuk membuka permukaan tanah sesaat terdiam mendengarkan ucapan Avril.
"apa kau memanfaatkan mereka untuk memenuhi keinginanmu? keinginanmu dan keinginan mereka memiliki tujuan sama yaitu untuk mendapatkan benda dibawah ini"
"kau cukup pintar membaca situasi. Benar sekali. Dengan tidak adanya mereka aku bisa memilikinya seutuhnya"
Anuya menghela nafas kasar.
"apa kau juga memanfaatkanku? sebenarnya kau sudah menyelidikiku dari jauh-jauh hari"
"aku tidak menyelidikimu. Mereka datang padaku dan meminta saran dariku bagaimana caranya menghabisimu karena menurut mereka kau itu penghalang tujuan mereka"
Deugh
Avril mendekatkan wajahnya pada Anuya sambil tersenyum simpul. Membuat Anuya ingin sekali menamparnya saat itu juga karena raut wajah Avril jelas sekali meledeknya.
__ADS_1
"harusnya kau berterima kasih padaku. Karena tidak jadi menghabisimu. Eh, eh apa kau mengetahuinya siapa yang telah membunuh mereka? mereka kan bisa dibilang cukup kuat untuk ukuran manusia biasa. Apa Yashbi yang melakukannya?"
"bukan Yashbi tapi Anzel yang melakukannya"
Mendengar itu Avril cukup terkejut. Bagaimana tidak seorang yang selalu mengikuti Yashbi kemanapun pergi ternyata kuat dan dapat menghabisi dua orang kuat sekaligus.
"Anzel? dia kan tidak memiliki keahlian apapun yang kutahu dia hanya pengikut setia Yashbi. Dan juga dia sangat lemah"
"dia seorang Dewa Bumi" celetuk Anuya yang merasa bosan mendengar ocehan Avril.
Avril menahan tawanya tapi akhirnya tertawa terbahak juga.
"apa kau tidak memiliki pokus yang baik. Cepat lakukan. Jangan bicara omong kosong"
"dia memang seorang Dewa Bumi" ucap Anuya meyakinkan.
Anuya menceritakan apa yang telah terjadi dan apa yang dia dengar. Bagaimana pun Anzel tetap temannya saat mereka masih di kota sebelah. Banyak kenangan yang tersimpan dimemori tentang dirinya, Anzel dan Ashana.
Saat bertemu Ashana Anuya memang tidak mengenalinya karena memang sudah lama tidak bertemu sejak kejadian itu (kejadian Anuya pura-pura diculik Floir).
Berbeda dengan pertemuan Anzel dan Ashana. Anzel yang awal tahu keberadaan Ashana dia hanya menatapnya dari kejauhan. Tapi tidak berlangsung lama karena terlalu sibuk mengikuti kegiatan Yashbi. Anzel yang memang ingin tahu sampai mana Yashbi akan melupakan dirinya. Lupa tidak memohon dan berharap pada dirinya.
"dengan memiliki benda ini tidak lama lagi aku menjadi seorang yang disegani meski orang itu memiliki banyak uang sekalipun"
___________
Di tempat Yashbi, Ashana, Zeys dan Clara.
"saat pertempuran kita jika salah satu dari menjadi pemenang maka pemenang itu berhak menghancurkan dunia yang kita miliki" ucap Zeys.
Deugh
"kau... kau jangan bercanda!" bentak Yashbi.
"apa ini rencanamu sejak awal?" tanya Ashana.
Mendengar ucapan Ashana Yashbi mengerutkan dahinya heran.
"maksudmu... maksudmu kau tahu sesuatu? atau mungkin kau juga terlibat sejak awal?" tanya Yashbi menatap Ashana dengan tatapan penuh selidik.
"apa kau lupa. Jika perempuan ini... jalan kehidupannya sudah kuatur sejak dia aku bangkitkan kembali dengan tujuan untuk menampung sementara kekuatan dari Canis Major"
__ADS_1
"menampung kekuatan dan menjadikannya alat. hah" ucap Yashbi yang merasa semakin bingung. Terlihat Yashbi tersenyum getir membuat Ashana semakin besar ingin memberi tahukan siapa dirinya sebenarnya.