Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 51


__ADS_3

Perusahaan milik Robin, tengah diadakan demo oleh seluruh karyawannya karena sudah dua bulan mereka belum menerima upah.


Robin yang berada dalam mobilnya, melihat ke arah para karyawannya yang berada di halaman perusahaan.


"s.... Sial!" ucap Robin berkali-kali memukul kemudinya.


"jika seperti ini aku mau tidak mau menggunakan kesempatan terakhir" ucap Robin kembali merogoh cek kosong yang tempo hari Yashbi berikan.


Kembali ke tempat Yashbi, Ashana, Sandi dan Deri.


Mereka terkejut melihat layar tv cukup besar menampilkan keadaan demo tadi di perusahaan milik Robin.


Yashbi tersenyum simpul.


"apa yang akan kau lakukan, Robin?" gumam Yashbi yang masih bisa terdengar oleh Ashana dan Sandi


"Robin?" ucap Sandi mengerutkan dahinya


"ya, perusahaan itu milik Robin si tua bangka itu" geram Yashbi


"apa kau menaruh dendam padanya? terlihat jelas dari nada bicaramu" ucap kembali Sandi memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


Ashana memperhatikan pembicaraan mereka yang tidak mengerti baginya. Dan kembali pokus menghabiskan nasi goreng di depannya.


"tentu saja. Karena sudah memperalat kekasihku untuk memeras hartaku. Dan bodohnya aku masih saja mencintai anaknya hingga detik ini" ucap Yashbi hilang kendali.


Sandi menatap Ashana dengan perasaan iba dan menyudahi makannya.


Ashana terhenti hatinya seperti diremas dan dihujam ribuan jarum. Namun, dia berusaha tersadar kembali jika pernikahan ini hanya lelucon dan permainan yang mau tidak mau dia ikuti.


"beruntung sekali wanita itu dicintai lelaki sepertimu yang masih setia menunggunya. Jujur saja aku merasa iri" celetuk Ashana menaruh peralatan makan secara kasar dan meminum jus jeruk dalam sekali teguk hingga habis.


"kau mengajakku untuk ke rumahmu, kan. Ayo sekarang kita pergi" ucap Ashana beranjak dari tempat duduknya.


Sandi menahan lengan Ashana. Dan berdiri mensejajarkan posisi.


"jika kau merasa tidak bahagia dengannya datanglah padaku" bisik Sandi ke telinga Ashana yang seketika wajahnya memerah.


Yashbi tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Sandi. Terlihat jelas Yashbi merasa cemburu kala melihat wajah mereka saling berdekatan.


"aku akan mengantarmu ke kamar. Aku harus menghadiri meeting sebentar lagi" ucap Yashbi yang tidak digubris Ashana.

__ADS_1


Ashana berjalan meninggalkan mereka.


"tuan Yashbi Dzon. Kuharap kau menjaga istrimu dengan baik. Jika tidak aku akan mengambilnya bila perlu secara paksa" ucap Sandi penuh penekanan dna meninggalkan Yashbi yang masih berdiri mematung.


"hiiiss seharusnya aku bisa mengontrol ucapanku. Ah, sudahlah. Biarkan saja lagi pula dia sudah mengetahuinya" ucap Yashbi mengusap wajah kasar.


Tiba-tiba, suasana menjadi ramai dan berisik. Beberapa tamu mengalami seperti kerasukan, bersikap tidak kendali. Mengacak-acak makanan, menaiki meja berperilaku layaknya monyet bahkan salah satu pengunjung yang kerasukan menyandera seorang anak berumur delapan tahun.


Ashana yang mendengar suara berisik dari arah rooptop dia membalikan badan dan kembali ke rooptop. Pandangannya tertuju ke anak kecil yang sedang di sandera seseorang dengan perawakan tinggi besar dengan wajah beringas. Menurut pandangan Ashana tamu yang sedang kerasukan terlihat makhluk lain yang memiliki wujud kera hitam, beruang yang sedang menyandera anak kecil itu dan satu lagi babi hutan yang mengacak-acak setiap makanan.


Sandi dan Deri berjalan mundur merasa heran dengan kejadian yang ada di depan mata mereka karena baru kali ini mereka melihatnya.


Dengan merapalkan mantra langkah santai Yashbi menghampiri seorang tamu yang mengacak-acak makanan. Tangan Yashbi memegang pundak tamu dan menatapnya tajam. Beberapa saat, tamu itu tergolek lemas dan pingsan. Mata Yashbi memancarkan warna kuning emas.


Tamu yang dirasuki kera tiba-tiba menyerang ke arah Yashbi dan memukul tepat di punggungnya. Yashbi hilang keseimbangan tapi Ashana dengan sigap menahan tubuh Yashbi. Pandangan mereka saling bertemu.


"kau... kau kenapa ada di sini?" tanya Yashbi.


Ashana melepaskan tangan yang menahan tubuh Yashbi dan Yashbi jatuh ke lantai.


"sial! apa kau sengaja?hah" ucap kesal Yashbi.


"tubuhmu berat" jawab Ashana berkata jujur.


"berikan video apa yang terjadi di sini hari ini" ucap Sandi memerintah Deri.


"ba... baik, tuan"ucap Deri.


Sandi dan begitu juga Deri terpaku memandang Yashbi apa yang sedang dilakukannya. Perlahan mereka mendekati keberadaan Yashbi dengan pikiran masing-masing. Apa orang yang mereka cari adalah Yashbi?. Ya, Sandi mendapat informasi jika yang dapat menyembuhkan ayahnya adalah seseorang dengan ciri-ciri mata bercahaya emas.


"aku menemukannya tanpa harus susah payah" gumam Sandi.


Kembali ke anak kecil yang di sandera oleh seorang tamu yang kerasukkan oleh beruang. Satu tangan si tamu berada di leher anak itu. Kukunya melukai lehernya hingga mengeluarkan darah. Ashana melihatnya tanpa berpikir panjang dia mendekati berpikir dapat menolongnya. Seorang ibu-ibu berteriak histeris yakin si ibu dari anak itu. Bersamaan dengan Ashana ibu itu mendekati berharap anaknya di lepaskan.


Yashbi yang tengah mengejar-ngejar si tamu yang kerasukkan kera hitam dari meja ke meja.


"sialan! kau membuatku lelah. Aku tidak ingin terus-terusan mengejarmu. Sial!" ucap Yashbi yang sangat kesal karena badannya berkeringat cukup banyak. Ya, Yashbi memang tidak menyukai saat tubuhnya mengeluarkan keringat karena mempengaruhi penampilannya.


Yashbi membawa beberapa botol air mineral yang tidak jauh darinya, di mana Sandi dan Deri berdiri.


"kau menikmati acara yang ada di depan matamu saat ini, tuan Sandi. Aku kau membantuku. Aku merasa kesal jika terlalu banyak orang yang menonton" ucap Yashbi menghela nafas kasar

__ADS_1


"membantumu? apa yang kau inginkan" ucap Sandi heran


"tamu lainnya hanya menghalangi pekerjaanku. Kau seharusnya mengerti apa yang kukatakan. Tapi karena, kau pemula jadi suruh tamu yang ada di sini pergi keluar. Aku tidak suka tatapan mereka seolah-olah pekerjaanku ini adalah pertunjukkan" ucap Yashbi membuka beberapa tutup botol yang masih tersegel.


"baiklah, aku mengerti. Tapi aku membantumu tidak dengan cuma-cuma, tuan Yashbi Dzon" ucap Sandi sambil memberi isyarat terhadap Deri. Dan Deri hanya mengangguk kecil meninggalkan tuannya.


Yashbi melukai lengannya dengan garpu darah segar keluar dari lengannya itu hingga menetes ke lantai. Sandi melihat hal itu cukup terkejut membulatkan matanya.


"apa yang akan dia lakukan?" batin Sandi


"aku akan membiarkanmu melihatnya. Jadi, nikmatilah"


Sandi mengerutkan dahinya.


Si tamu yang kerasukkan kera hitam itu beraksi menatap lapar ke arah Yashbi. Dan lagi, terjadi aksi saling kejar mengejar. Namun, kali ini si tamu yang kerasukkan kera lah yang mengejar Yashbi karena bau darah milik Yashbi memancingnya.


Beberapa orang keamanan, pelayan hotel dan juga Deri mengarahkan para tamu untuk segera keluar. Ada beberapa tamu yang ingin tinggal hanya sekedar menyaksikan apa yang akan dilakukan Yashbi.


*para tamu tertarik apa yang akan dilakukan Yashbi saat mereka melihat tangan Yashbi menyentuh si tamu yang kerasukkan oleh babi hutan *


Ibu dari anak itu terlihat panik dia, tidak ingin meninggalkan anaknya yang dalam bahaya.


"tolong, lepaskan anakku" ucap si ibu melangkah perlahan.


Si tamu yang kerasukkan beruang itu semakin menancapkan kukunya di leher anak itu hingga terluka dan mengeluarkan darah.


"i... ibu" lirih anak itu meringis kesakitan.


Ashana berusaha mencari cara untuk bisa menolongnya.


"ijinkan aku yang melakukannya" ucap Ashana memegang pundak ibu anak itu.


"t... tapi"


"tenang saja. Anakmu akan baik-baik saja" ucap Ashana agar si ibu merasa sedikit tenang padahal dia bicara dalam hatinya apa yang bisa dia lakukan di situasi yang baru pertama kali dia hadapi seperti sekarang ini.


Ashana melangkah perlahan dengan langkah gemetar. Wujud lain dari Yashbi tiba-tiba saja berada di sampingnya dan mengulurkan tangannya. Ashana tersenyum manis begitu pula wujud lain dari Yashbi membalas senyuman Ashana.


Si tamu yang kerasukkan beruang itu perlahan melangkah mundur dan melepaskan tangan yang sedari tadi berada di leher anak itu. Anak itu terlihat lemah dan akan terjatuh tapi dengan sigap Ashana menangkap tubuhnya.


Wujud lain dari Yashbi seketika berada di belakang si tamu yang kerasukkan beruang itu. Entah apa yang dia bisikkan seketika si tamu itu tersadar tapi langsung pingsan.

__ADS_1


Wujud lain dari Yashbi melihat telapak tangannya yang mengeluarkan gumpalan asap merah.


__ADS_2