
Zeys mendatangkan makhluk yang memiliki wujud lain dari Sidero. Helis terkejut. Wujud lain dari Sidero berbentuk cukup mengerikan bentuk dengan Sidero sendiri tapi kepala yang dipenuhi ulat mulut penuh darah dan tidak memiliki kedua mata. Helis spontan melangkah mundur.
Kembali ke saat ini...
Di dalam mobil Merisa bersama Anuya.
Merisa terus saja menggerutu sepanjang perjalanan memegangi pipinya yang terasa panas dan sudut bibir berdarah. Dia melajukan mobil dengan cepat sehingga Anuya berpegangan erat pada hand grip.
"hentikan!"seru Anuya
" diam kau! "
" kau tidak tahu, kan perasaanku saat ini seperti apa? jadi sebaiknya jangan mengatakan satu patah katapun atau aku akan menabrakan mobil dan kita mati bersama"
Seketika tawa Merisa pecah.
"mati, mati. Aku belum boleh mati sebelum membunuhnya. Aku bertahan hidup hingga saat ini hanya untuk bisa membunuhnya" ucap Merisa yang disertai tawanya yang menyeramkan
Laju mobil berbelok-belok kanan kiri. Membuat jantung Anuya rasanya mau copot.
"aku harus melakukan sesuatu sebelum nyawaku melayang" batin Anuya yang tampak berpikir
Anuya membayangkan wajah Yashbi.
*Anuya mengetahui wajah Yashbi saat melihat poto Morina dan mengetahui jika Yashbi ayahnya*
*Anuya mengetahui Merisa menyukai Yashbi saat menenangkan (merapalkan mantra) Merisa bertindak seperti orang gila berguling-guling di tanah basah bersama ibunya, Nelly*
Seketika wajah Anuya terlihat seolah-olah Yashbi sungguhan di mata Merisa dan menginjak rem mobil.
"Yashbi..." ucap Merisa mengerutkan dahinya
"kau ada di mobilku?"
"apa yang kau lakukan?" ucap Merisa mengedarkan pandangan
"apa kau mulai memikirkanku? jika memang benar aku sangat senang sekali" ucap Merisa terlihat jelas senyum lebar
Merisa meraih tangan Anuya dan menempelkan di pipinya.
"tadi ayahku menamparku dan dia lakukan sebanyak dua kali. Aku teringat apa yang kau katakan saat itu" lirih Anuya mata berkaca-kaca
Ya, Yashbi pernah mengatakan pada Merisa kalimat yang membuatnya teringat hingga saat ini "wanita menangis bukan karena lemah, namun karena telah lelah berpura-pura tersenyum meski hatinya terluka"
"aku tidak akan menangis. Kau menyukai wanita seperti itu, bukan? aku akan selalu melakukannya untukmu"
"Yashbi, kau sudah menikahi wanita lain. Apa kau merasa bahagia? jika memang iya, apa dia sama sepertinya (Clara)? aku tidak ingin peduli kau menikah dengan siapapun. Namun, saat aku membutuhkanmu bisakah kau datang menghampiriku walau hanya persekian detik itu sudah cukup untukku"
"kau benar-benar mencintai laki-laki itu" batin Anuya
__ADS_1
"oh ya, Clara dia, sudah tahu jika kau sudah menikah suatu saat kalian akan bertemu lagi. Sebelum itu terjadi apa aku boleh melakukan sesuatu untuk adikku tersayang" ucap Merisa tersenyum simpul
Tangan Anuya yang satu lagi memegang puncak kepala Merisa guna melupakan kejadian tersebut.
Dan Anuya kembali ke wajah Anuya semula. Pandangan mereka saling bertemu.
"ada apa denganmu?" tanya ketus Merisa
"jangan katakan kau menyukaiku? hah"
Anuya tersenyum lebar.
"kalau memang iya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Anuya enteng
"aish... tidak, itu tidak bisa. Jangan kau lakukan" ucap Merisa melajukan kembali mobilnya. Merasa heran kenapa mobilnya tiba-tiba berhenti dan terbayang saling pandang tadi membuat wajahnya memerah begitu juga Anuya yang melihat keluar kaca mobil
Mereka sampai di sebuah mesin atm. Merisa turun dari mobil dan mengambil uang nominal. Beberapa saat kemudian dia kembali ke mobil dan menyerahkan uang tersebut pada Anuya.
"apa yang kau lakukan sehingga ayahku membayarmu cukup banyak? sebaiknya kau jangan meminta bayaran dengan jumlah sebanyak itu. Kami bukan keluarga kaya lagi. Kau mengerti?" ucap tegas Merisa yang terlihat lucu di mata Anuya
"kau tidak memiliki tabungan atau apa gitu agar mudah untuk melakukan pembayaran?" ucap Merisa melajukan kembali mobilnya
"kau wanita cerewet sangat cerewet yang pernah kutemui"
Mendengar hal itu Merisa langsung terdiam. Berwajah masam. Perasaan aneh timbul di dadanya. Perasaan yang belum pernah rasakan saat dekat atau teringat Yashbi.
Merisa mengambil jalan jalur lain menuju rumah Yashbi. Berharap Yashbi sudah berada di rumahnya.
"diamlah. Aku ingin berkunjung ke rumah seseorang" ucap Merisa ketus
Anuya merasa ada makhluk yang mengikutinya. Ya, benar saja saat menoleh ke belakang dia melihat makhluk berbentuk katak menjulurkan lidahnya seperti melihat mangsa. Mata Anuya melihat sejumlah uang dalam tas yang berada di pangkuannya.
"sial!"
"apa??? bilang sekali lagi? kau memarahiku?" ucap kesal Merisa
"jika tidak mau ikut denganku. Baiklah... aku akan menurunkanmu di sini"
Anuya hanya terdiam berpikir keras. Dia tahu jika Merisa tidak dapat melihat makhluk itu.
"bisa tidak kau berkendara lebih cepat lagi?" ucap protes Anuya
"hah... tadi kau bilang aku harus menjalankan sedikit lebih pelan sekarang kau meminta untuk mempercepatnya. Apa maumu? aneh sekali" cerocos Merisa
"lakukan saja . Kau hanya perlu mendengar upacanku hanya untuk saat ini, ok" ucap tegas Anuya dengan wajah serius
Merisa melihat mimik wajah Anuya berbeda dari sebelumnya. Lebih dingin dan tatapan tajam. Membuat Merisa terpesona namun dia segera menyadarkan dirinya menggelengkan kepalanya.
"lebih cepat lagi" ucap Anuya menaikkan nada suaranya
__ADS_1
"kau tahu sekitar tempat ini yang memiliki banyak sekali air. Terserah saja apapun tempat itu. Antarkan aku ke sana. Lajukan mobilmu sangat cepat lagi, ok" ucap Anuya yang berkali-kali melihat ke belakang
Merisa pun melihat ke arah belakang melalui belakang tapi tidak apapun. Namun, tiba-tiba setiap kaca jendela mobilnya pecah hingga melukainya
Merisa membulatkan mata sempurna kusangking kaget dan berteriak.
"ada apa ini? bisa kau jelaskan? hah" ucap Merisa dengan nafas terengah-engah
"tenanglah,ok. Nanti akan aku jelaskan. Lebih baik kau antarkan aku ke tempat yang memiliki banyak sekali air. Terserah tempat apa itu"
Makhluk yang berwujud katak itu terus mengekori mobil yang mereka tumpangi.
Merisa menerobos sebuah hutan yang di mana hutan itu di beri peringatan untuk di larang memasukinya.
"kau... kau melanggar" ucap Anuya heran dan bingung karena menerobos hutan itu dia pikir pasti akan ada masalah lain lagi
Terlihat sungai dan air terjun. Tanpa berpikir lagi Anuya ke dalam sungai itu dengan membawa tas yang berisikan uang.
"apa yang dia lakukan?" ucap Merisa menaikkan stau alisnya
Bersamaan dengan itu makhluk berwujud katak terhenti di pinggiran sungai mencari keberadaan Anuya. Menjulurkan, memasukkan lidahnya ke dalam sungai dengan cepat.
Merisa turun dari mobil melihat cipakkan air dari lidah katak itu.
"hujan?" ucap Merisa menatap langit namun sama sekali tidak hujan
Merisa dan katak itu berdiri sejajar di pinggir sungai.
"apa dia mati?"
Di dasar sungai, Anuya mengambil segepok uang itu dan membawanya ke atas permukaan. Menyebarkan ke permukaan sungai. Benar saja, katak itu terpancing masuk ke sungai dan memakan uang itu secepat kilat. Uang yang sudah dirapalkan mantra oleh Anuya.
Beberapa saat kemudian, katak itu meledak dan menghilang.
Anuya mengambil sisa uang yang dia simpan di dasar sungai dan kembali ke permukaan menghampiri Merisa yang terlihat kebingungan.
"kau... apa yang sudah kau lakukan?" tanya Merisa heran
"mobil milikmu benda canggih, bukan? kau bisa melihatnya dari kamera yang berada di mobilmu. Perhatikan setiap detiknya jangan sampai terlewatkan" ucap Anuya dengan kondisi basah kuyup
"tadi kau mengatakan akan pergi ke tempat seseorang? cepat kita pergi saja" ucap Anuya yang masuk ke dalam mobil
Baju Anuya yang basah membentuk jelas tubuhnya hingga membuat pipi Merisa memerah.
"cepat. Kenapa kau berdiri di situ?"
Merisa masih terpaku di tempat berdirinya semula.
"ah... ya baiklah" ucap Merisa terbata
__ADS_1
Makhluk yang berbentuk katak tadi adalah makhluk yang sangat menyukai uang. Dia tidak akan membunuh manusia. Hanya saja Anuya tidak akan mungkin menyerahkan uang begitu saja. Dan yang di takuti katak itu adalah air yang jumlah banyak. Saat tubuhnya masuk ke dalam air dengan jumlah banyak pertahanan dirinya akan semakin lemah.