Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 109


__ADS_3

Mereka berjalan dilorong...


Anzel merangkul Ashana tanpa ragu dan diikuti Doni dan Robin.


"tuan Robin, apa anda yang menyuruh nona Clara datang ke rumah ini?" tanya Doni.


Robin hanya terdiam. Terlihat jelas wajahnya penuh kecemasan dan kekhawatiran. Dia tidak memperhitungkan jika Clara bisa saja mendatangi Yashbi tanpa sepengetahuannya. Lalu, perihal tentang Clara bagaimana dia menjelaskannya dengan apa yang terjadi antara Clara dan dirinya. Clara yang begitu kejam melenyapkan Nelly sang istri tepat didepan matanya. Robin mengepalkan tangannya.


"sebagai seorang ayah seharusnya anda bisa menghentikan sikap buruk anak anda yang datang dan pergi sesuka hati" ucap ketus Doni yang memandangi punggung Ashana.


"Anzel antarkan kamu ketempat yang cukup untuk bicara" ucap Doni.


Anzel tidak merespon namun mendengar apa yang diucapkan Doni.


"tuan Robin, seharusnya kau tahu posisimu saat dengan apa yang telah terjadi" ucap Anzel yang mengingatkan kejadian sebelumnya dimana Robin ditembak oleh Yashbi.


*Yashbi sengaja menembak Robin, Merisa, Anuya dan yang lainnya agar mengetahui mereka saat bicara berbohong atau tidak*


Keringat sebiji jagung membasahi dahi Robin.


Ashana masih memegang pipinya yang terasa sakit yang tidak kunjung hilang.


Langkah mereka terhenti kala melihat Morina keluar dari kamar dengan wajah pucat.


"apa kau sakit?" tanya Ashana segera menghampirinya.


Morina hanya terdiam. Memberikan tatapan tajam yang tidak pernah dilihat oleh siapapun termasuk Anzel yang sering kali bertemu dengannya dirumah itu.


Anzel menengahi mereka karena merasa aneh dengan tingkah Morina.


"apa nona membutuhkan sesuatu? aku akan mengambilnya segera untukmu" ucap lembut Anzel yang memang perkataan Anzel selalu seperti itu terhadap Morina.


Jari jemari Morina bergerak sedikit demi sedikit.


Anzel memicingkan matanya.


Morina bergegas masuk kembali kedalam kamar dan menutup pintu dengan keras.


"apa dia baik-baik saja?" tanya Ashana khawatir.


"ada makhluk yang merasuki tubuhnya" celetuk Robin.


Ya, Robin jelas mengetahuinya karena dia sebelumnya pernah melakukan hal sama. Namun, Robin melakukannya melalui sebuah media yaitu photo Morina (kejadian diruangan milik Robin yang membakar photo Morina).


"sebaiknya kita pergi keruangan yang dimaksud oleh Doni" ucap Robin dengan menatap lurus.


.


.


.

__ADS_1


Anzel membawa mereka kesebuah ruangan yang jarang ditempati bahkan Yashbi sendiri sekalipun. Karena ruangan itu hanya digunakan oleh ibu Yashbi, Rahayu. Itupun beberapa kali ditempati olehnya.


Hanya terdapat satu sofa singel. Ruangan itu dipenuhi lukisan abstrak namun ada satu lukisan yang mirip dengan gambar yang dibuat Ashana.


Ashana sesaat mematung memandangi lukisan itu.


Doni dan Robin berebut untuk duduk disofa singel itu. Mereka terlihat seperti anak kecil yang berebut mainan. Anzel yang memperhatikan mereka hanya menghela nafas kasar.


Mengingat lengan Doni yang masih terasa sakit begitu juga tubuh Robin yang sudah tidak lagi muda dan luka bakar membuat mereka tidak berani melawan ketika Anzel duduk santai disofa singel itu.


Anzel menatap tajam kearah mereka.


"dengar, apa kalian lupa umur?" ucap Anzel dengan nada datar. Dia terlihat lebih seram dari Yashbi.


"tuan Doni, anda memang dekat dengan tuan Yashbi tapi hubungan kalian tidak sedekah denganku. Itu benar sekali"


"lalu, anda.... tuan Robin seharusnya anda lebih tahu diri jangan berbuat seenaknya diruangan ini. Apa karena kau sudah terlampau tua lupa jika saat ini anda berada dimana?"


Anzel berucap dengan menatap tajam kearah mereka berdua. Entah apa yang Anzel miliki mereka terdiam mematung.


Ashana melangkah menghampiri mereka setelah merasa puas dengan menatap lukisan milik ibu Yashbi.


" lukisan itu dibuat oleh ibu. Ya, ibu dari tuan Yashbi" ucapan Anzel begitu lembut dan tatapan pada Ashana terlihat teddub berbeda sekali saat menatap Robin dan Doni.


"tuan Robin, aku harap kau tidak lupa apa maksud tujuan u hingga berani mendatangi tuan Yashbi"


"aku akan mengatakan padanya semuanya apa yang kulihat dengan mataku sendiri. Bukan mengatakannya pada kalian. Aku sama sekali tidak ada urusan dengan kalian"


Ashana memicingkan matanya.


"apa ini hanya kebetulan?" gumam Ashana yang masih bisa terdengar oleh Anzel dan Doni.


"ada apa Ashana?" serempak mereka bertanya.


"paman, bisakah memperlihatkan lengan anda pada kami?" tanya Ashana menghampiri Robin berjalan beberapa langkah.


Robin mengulurkan lengannya dan mengangkat satu alisnya.


Ashana memegang lengan Robin. Benar saja terlihat gambar puzzle yang sama persis dengan baju yang dikenakkan patung yang mirip Clara.


" apa perempuan itu yang melakukan ini?" celetuk Ashana menatap Robin yang terlihat cemas dan penuh kekhawatiran


"apa benar perempuan itu yang melakukan hal ini pada paman?" tanya sekali lagi Ashana.


Robin memejamkan kedua matanya mengambil nafas dalam-dalam.


.


.


.

__ADS_1


Ditempat kebersamaan Yashbi dan Clara mereka berada di ruang kerja Yashbi.


Mereka duduk disofa panjang saling berpelukkan. Yashbi seketika melupakan keberadaan Ashana.


Setiap Clara berucap akan berpengaruh terhadap kesadaran Yashbi seolah terhipnotis.


"kemana saja kau selama ini?" tanya lirih Yashbi. Mengecup puncak kepala Clara.


Clara tersenyum manis.


"ada sesuatu yang harus aku lakukan"


Yashbi memicingkan matanya.


"ayah, ibu dan kak Merisa pun tidak aku beritahu jadi kau jangan khawatir. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan"


"apa kau sudah selesai?


" tentu saja. Maka dari itu aku mendatangimu"


Yashbi semakin erat memeluk Clara.


"penghuni rumah ini menjadi ramai" ucap Clara.


"ya, aku menyewa seorang pelayan...." ucap Yashbi terhenti.


"ayahmu, apa kau tahu sesuatu terjadi adanya? tubuhnya menghitam"


"entahlah akupun tidak tahu. Saat pulang ayah tidak berada dirumah"


"pas tadi aku melihatnya aku cukup kaget dengan kondisinya. Setelah ini aku akan menemuinya"


"kau pasti akan meninggalkanku lagi" rajuk Yashbi.


"tidak. Aku hanya ingin menemui orang tuaku. Apa hanya dengan hal itu saja kau marah?"


"tidak. Aku tahu kau menyayangi mereka"


"aku sudah tahu jika aku bukan anak mereka"


Mata mereka saling beradu.


"kau sudah mengetahuinya?" lirih Yashbi.


Clara hanya mengangguk kecil.


"bagaimana perasaanmu? apa kau sedih?" tanya Yashbi.


Sama halnya dengan Ashana, Clara pura-pura tidak mengetahui siapa dirinya dan dia menganggap jika Robin dan Nelly kedua orang tuanya. Padahal dia hanya ingin merasakan memiliki sebuah keluarga dari ikatan manusia. Manusia yang memiliki banyak uang.


Yashbi yang sudah tidak sabar ingin segera mencium Clara namun dihentikan oleh Clara sendiri.

__ADS_1


Clara memiliki rencana sendiri. Dia akan bersikap seperti manusia pada umumnya. Menikah dengan Yashbi memiliki katurunan darinya.


__ADS_2