
Setelah kepergian keluarga kekasihnya Yashbi, menenggak kembali minuman yang diambil dari lemari pendingin di ruangan kerjanya. Kepalanya semakin berat dan pemandangannya mulai kabur. Sekilas dipandangannya terlihat bayangan Ashana.
Melangkah dengan sempoyongan dia berjalan menuju kursi miliknya dan bersandar dengan nafas terengah-engah. Perasaan kesal dan rindu melanda dada Yashbi. Bagaimana tidak kekasihnya itu sudah menghilang selama dua bulan. Hubungan mereka terjalin cukup lama. Berharap pernikahannya saat ini dapat memancingnya dari persembunyiannya namun, kenyataannya nihil.
Seseorang mengetuk pintu ruangan tanpa diperintahkan masuk dia terus melangkah masuk ke ruangan.
"tuan, Clara..."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Yahsbi segera mendongak dan menatap serius ke arah seseorang yang masuk dan tengah berdiri di hadapan meja kerjanya.
"apa kau menemukannya?" tanya Yashbi penuh harap dan serius
"kami sempat bertemu di tengah pasar distrik CCC tapi begitu mengejarnya kami kehilangan jejak" ucap seseorang itu dengan menundukkan kepalanya
"arggh" Yahsbi memegang antara kedua alisnya
"kenapa kau masih berdiri di sini? cari bantuan ke tim lain dan beri mereka sejelas mungkin jangan terlewatkan sedikitpun" ucap Yashbi yang beranjak dari kursi dengan langkah sempoyongan
Seseorang itu menawarkan bantuan tapi Yashbi menolak karena sudah ada sopir yang akan mengantarnya.
__ADS_1
"lakukan saja apa yang kuperintahkan dan secepat mungkin untuk segera membuahkan hasil yang kuinginkan"
.
.
.
Yashbi berjalan seorang diri dengan sempoyongan memegang jasnya, membuka kancing kemejanya dan wajah yang kusut. Dia tidak ingin diantar oleh sopirnya memutuskan untuk berjalan kaki di malam hari. Lagi, lagi wajah Lan yang polos terlintas dipandangannya.
"hah, kenapa aku melihat anak kecil itu. Apa jangan-jangan dia mulai menyukaiku karena sedikit bersikap manis padanya. Dasar anak labil dirayu sedikit saja sudah banyak berharap" ucap Yahsbi
.
.
.
Di rumah Ashana , di ruang tv
__ADS_1
Ashana mondar mandir khawatir dengan ibunya yang tidak kunjung pulang. Berkali-kali menghubunginya namun tidak ada jawaban, tidak tersambung.
"ibu kau pergi ke mana?"lirih Lan menghela nafas kasar
Ini baru kali pertama ibunya pergi dari rumah.
" apa ibu tidak nyaman dengan kehadiran menantu di rumah ini? "gumam Lan
Sementara ibu Lan yang tengah berada di sebuah rumah jauh dari kota. Dia sedang duduk kayu di teras sendiri sambil memegang cangkir berisikan teh hangat kebetulan cuaca cukup dingin. Rumah yang ditinggali bersama suaminya dulu terlihat lebih bagus karena direnovasi beberapa bagian.
" apa keputusanku sudah benar? seharusnya sih begitu. Menikahkan dia dengan orang berada meskipun statusnya duda beranak setidaknya dia tidak akan hidup susah. Aku tidak ingin putriku satu-satunya hidup susah seperti kita"
Sebelumnya, Ashana dan kedua orang tuanya sudah hidup susah dan kesulitan sebelum dan sesudah ada Lan lahir. Kedua orang tua Ashana ingin anaknya hidup lebih baik daripada mereka setelah menikah. Saat itu, ayah sedang sakit tidak mampu untuk berobat ke dokter. Ibu Lan yang sudah dekat sedari dulu dengan Doni meminta bantuan padanya untuk membawa kakaknya yang tidak lain ayah Lan untuk berobat. Setelah sampai di rumah mereka, Doni memberitahukan jika penyakit ayah Lan bukan pengobatan yang bisa dilakukan oleh medis melainkan "cenayang, paranoid atau lainnya". Karena ingin kesembuhan suami ibu percaya begitu saja. Dini menghubungi temannya yang tidak lain adalah Yahsbi. Dia segera mengobati ayah Lan dan menjelaskan jika ayah harus mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hati dan pikirannya agar bisa sembuh.
Percaya ga sih kalau datangnya suatu penyakit itu dari dalam hati dan pikiran kita sendiri? kalau aku sih percaya.
Ayah mengeluarkan isi hati dan pikirannya pada ibu dan benar saja ayah beberapa bulan sembuh tapi dia meninggal.
Ashana melanjutkan sekolahnya di sebuah kota karena mendapatkan beasiswa. Ini kesempatan besar untuk merubah kehidupannya. Dia pindah ke sebuah rumah di kota yang saat ini ditempati Ashana dengan harga murah karena rumah itu rumah kosong yang cukup lama tidak di tempati siapapun. Untuk dua tahun belajar dan tinggal di kota seorang diri mengalir begitu saja tanpa ada hambatan meskipun ada dia bisa menyelesaikannya sendiri. Namun, keadaan berubah setelah ibunya memutuskan untuk ikut dan tinggal bersamanya semuanya berubah drastis. Meskipun tidak nyaman Ashana tidak bisa menolak atau mengusirnya bagaimanapun dia ingin ada ibunya berada disampingnya.
__ADS_1
Kehidupan kota yang berbanding terbalik dengan kehidupan ibunya dulu membuat ibu lupa diri. Dia berpenampilan tidak sesuai dengan umurnya bahkan menjadi bahan pembicaraan warga lain tidak dihiraukannya.