
Doni dan ibu Lan berada di rumah asal kediaman Lan dan orang tuanya yang jauh dari kota. Mereka duduk di teras dengan dua cangkir kopi di atas meja serta makanan ringan lainnya. Udara yang segar meskipun hari sudah siang membuat obrolan mereka panjang ngalor ngidul.
"Don, sepertinya aku sudah keterlaluan dan bukan ibu baik untuk anakku satu-satunya" keluh ibu dengan mata berkaca-kaca
"jangan berpendapat seperti itu. Aku yakin pernikahan mereka akan baik-baik saja. Aku yakin keponakanku akan bisa meluluhkan laki-laki tua itu" ucap Doni dengan percaya diri
"perjanjian ini apa bisa dibatalkan saja?"lirih ibu
" perjanjian ini sudah berjalan tidak mungkin dihentikan jika dihentikan akan ada korban salah satu dari mereka atau mungkin keduanya "ucap Doni
" aku sudah bertindak egois. Untuk menyembuhkan suamiku anakku harus menjadi korban pernikahan yang tidak diharapkannya sama sekali"ucap ibu, mengusap air matanya yang terjatuh dipipinya
Sebelumnya, ayah Lan yang menderita sakit tidak kunjung sembuh padahal kondisi tubuh yang sehat tidak mampu membuatnya menggerakan tubuhnya untuk dua tahun belakangan ini. Awal mula ibu melakukan pengecekan secara medis hasil keseluruhan bagus dan normal. Doni yang mendatangi kediaman kakaknya yang tidak lain ayah Lan mencoba untuk mengobatinya secara batiniah tapi tidak membuahkan hasil. Hingga Doni meminta bantuan Yashbi dan tentu saja Yashbi mampu mengobatinya karena ilmu yang dimilikinya lebih tinggi dari Doni tapi dengan syarat Lan harus menikah dengannya. Ini dinamakan pertukaran atau Ruil. Tanpa membicarakan dahulu ibu Ashana langsung menyetujuinya. Saat itu Ashana berada di kota untuk meneruskan pendidikannya yang mendapatkan beasiswa dan tinggal di rumah sekarang ini. Sebelumnya rumah itu adalah rumah kosong, terbengkalai.
Memang benar ayah Ashana kembali pulih namun tidak lama karena takdir berkata lain. Ayah meninggal.
Kembali kesaat ini...
"jangan khawatir aku akan menjaga Ashana seperti anakku sendiri. Memang sudah seharusnya aku memperlakukan seperti itu karena aku sebagai pengganti ayahnya" ucap Doni yang meminum minuman dalam cangkir
"jika laki-laki itu macam-macam dengan putriku aku sendiri yang akan turun tangan. Kau sebagai sahabatnya jangan pernah menghalangi" tegas ibu
Ibu mana yang tidak khawatir melihat putrinya menikah dengan laki-laki yang bukan pilihannya karena keegoisan untuk menyembuhkan laki-laki yang dicintainya. Meskipun sebagai ibu angkat yang telah mengasuh dan merawatnya sedari kecil.
"lakukan saja peranmu sebagai seorang ibu yang baik" ucap Doni yang menatap lurus ke depan
"sebaik apapun aku tidak akan pernah bisa menebus kesalahanku pada anak semata wayangku" lirih ibu
"saat ini Ashana baik-baik saja. Aku sarankan kau hubungi saja dia agar dia tidak khawatir denganmu" ucap Doni
"apa yang harus kukatakan padanya? aku sudah kehilangan kata-kata" ucap ibu yang mengusap air matanya
"dia anak baik dan pintar. Tidak akan mungkin membencimu apalagi seseorang yang sudah mengasuh dan merawatnya" ucap Doni
"baiklah, aku akan menghubunginya. Don, tolong jaga dia baik-baik selama aku masih tinggal di sini" ucap ibu dengan mata mengisyaratkan memohon
"tentu" ucap Doni beranjak dari kursi dan meninggalkan ibu di rumah sepi itu
Ibu Ashana memang melarang Ashana berhubungan dengan Indra selama lima tahun ini karena Indra sering kepergok bersama wanita lain dan mabuk-mabuk an di sebuah club malam. Ibu Lan semakin merasa bersalah terhadap Ashana dengan pernikahan yang terjadi terhadap anak semata wayangnya yang beralasan untuk menyembuhkan sang ayah. Tentu saja Ashana tidak tahu akan hal ini hingga sekarang. Yang dia tahu ibunya memaksa menikahi Yashbi karena masalah uang. Tidak bisa dipungkiri setelah ayah meninggal kondisi ekonomi mereka semakin hari semakin memburuk. Ashana belajar cukup keras agar tidak membebani ibunya untuk membiayai sekolahnya. Usaha tidak mengkhianati hasil Ashana mendapatkan beasiswa sebagai salah satu siswa berprestasi. Namun, di tengah jalan dia harus berhenti sekolah karena diharuskan menikah.
Di meja makan, Yashbi menatap tabletnya ditemani dengan sepiring kecil mangga yang sudah dikupas.
Dia melihat layar tablet yang di mana menginformasikan tentang Ashana.
"sepertinya aku terlalu kejam dan sadis. Demi menikah denganku karena suatu alasan dia harus berhenti sekolah yang di mana dia sebentar lagi dia akan lulus" ucap Yashbi menggelengkan kepalanya
"aku benar-benar laki-laki kejam. Bagaimana jika menimpa anakku? hah... tidak, tidak ini tidak akan aku biarkan" ucap Yashbi memasukkan potongan mangga ke dalam mulutnya
Yahsbi menghubungi ibu Ashana untuk memberitahukan agar mengijinkan Ashana kembali sekolah.
"ah ya nak, Yashbi sebelumnya juga ibu berpikir seperti itu. Kalau sudah tahu begini ibu jadi tidak ragu untuk menghubungi anak ibu, Ashana"
.
.
.
Drrttt
Drrttt
Di kamar Ashana yang masih terlelap tidur seketika bangun dan mengambil ponsel di dekat bantalnya
"ibu" ucap Ashana wajah heran sekaligus senang
__ADS_1
Seharian kemarin Ashana berusaha menghubungi ibunya tapi tidak tersambung mengingat saat ini ibu tinggal yang jauh dari kota. Dan sekarang posisi ibu yang sedang menghubungi Ashana berada di dekat tower.
"halo"
"bagaimana pernikahanmu?" tanya ibu tanpa basa basi
"baik-baik saja. Ibu kenapa tidak pulang?" tanya Ashana yang memang sangat mengkhawatirkan ibunya
"bukan urusanmu. Tentu saja ibu sedang bersama suami baru. Kau bersenang-senang dengan suamimu begitu juga aku" ucap ibu ketus
Ashana sontak kaget dan terdiam mencerna kalimat yang diucapkan ibunya.
"ibu, ini permintaanku mungkin yang terakhir kali. Apa aku setelah menuruti pernikahan ini hubungan kita bisa diperbaiki bagaimana pun aku anakmu dan kau ibuku. Aku ingin sekali menjalani hubungan denganmu layaknya seorang anak dan ibu pada umumnya"lirih Ashana penuh harapan
Bagaimana pun Ashana sangat menginginkan hubungan dengan ibunya membaik di mana saat sebelum Indra memasuki kehidupan mereka.
Mendengar ucapan anaknya ibu, termenung dan semakin merasa bersalah dan tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Mengorbankan anak semata wayang hanya untuk keegoisannya. Ya menyembuhkan penyakit suami yang sangat dicintainya.
"jangan berharap, Ashana. Aku membencimu sangat amat membencimu. Aku tidak akan lama-lama bicara denganmu, intinya kau selesaikan saja sekolahmu. Dan ijin dahulu dengan suamimu" ucap ibu ketus, dingin
Ibu mematikan sambungan telpon sepihak.
Ashana menatap layar hp dengan tatapan berkaca-kaca dan akhirnya air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Di sisi lain merasa senang karena dapat kembali sekolah tapi satu sisi lain merasa tidak senang karena pernikahannya dengan laki-laki yang tidak dikenalnya dan juga berharap setelah menuruti pernikahan itu hubungannya dengan sang ibu membaik namun harapan hanyalah harapan.
Ashana menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan pikirannya yang semakin berat. Setelah selesai ritual mandi dia lupa membawa handuk berpikir di rumah seorang diri (tidak tahu jika Yashbi tidak pergi bekerja) Ashana keluar kamar mandi berniat mengambil handuk namun saat membuka pintu mereka serempak berteriak "aaarrrrrrrrrggggghh"
Ashana membanting pintu kamar mandi dan bersandar didaun pintu dengan nafas terengah-engah.
"kenapa dia ada di sini? apa sengaja?" batin Ashana, memegang dadanya dengan sebelah tangannya
Yashbi yang melihat pemandangan itu tersenyum licik.
"kenapa kau keluar dengan keadaan seperti itu? sengaja menggodaku?" ucap Yashbi
"hah, menggodamu? jangan harap aku akan melakukan hal tersebut. Oh apa mungkin kau menginginkannya? kenapa kau tidak segera menemukan kekasih anda? agar bisa melepas rindu satu sama lain" ucap Ashana kesal
"kau cemburu?" tanya Yashbi yang ingin melihat reaksi Ashana
Ashana yang masih bersandar didaun pintu seketika wajahnya merah merona.
"cemburu? tidak mungkin lagipula kita tidak ada hubungan apapun. Jangan halu deh" ucap Ashana
"jangan bicara lagi. Tolong, ambilkan handuk di lemairku" ucap Ashana ketus
Ashana mengeluarkan satu tangan di pintu berharap Yahsbi memberikan handuknya. Memang Yashbi memberikan handuknya tepat ke tangan Ashana.
Ashana menutup kembali pintu kamar mandi dengan keras. Menggerutu di depan cermin membalutkan handuk ke tubuhnya. Tapi karena pintu tidak terkunci (kunci rusak) Yashbi masuk dan menatap ke arah Ashana dari belakang. Spontan Ashana membalik badannya dan melangkah mundur.
"keluar!!" ucap Ashana nada tinggi
"kita suami istri jadi tidak masalah dengan posisi seperti ini" ucap Yashbi datar
"suami istri? apa anda lupa pernikahan ini hanya main-main. Ya, aku memiliki alasan menikahi laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali begitu juga anda memiliki alasan lainnya. Jadi..." ucapan Ashana terhenti karena Yashbi melangkah maju ke arahnya
"jadi? jadi apa?" ucap Yashbi yang menahan tawa melihat wajah panik Ashana
"awas! aku mau keluar" ucap Ashana ketus
"kamar mandi ini sempit untuk kita berdua" ucap Yashbi
Ashana mendorong tubuh Yashbi.
"minggir!" ucap Ashana nada galak
Yashbi sengaja memberi ruang untuk Ashana keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Setelah Ashana keluar dari kamar mandi dia bergegas membawa baju dan menuju kamar ibunya untuk memakaikan bajunya.
"sial! kenapa dia tidak bekerja? aku malas untuk bertanya padanya. Melihat wajahnya saja aku benci" ucap Ashana yang terus menggerutu
Yashbi yang berada di kamar Ashana, dia senyam senyum sendiri membayangkan wajah Ashana yang merah merona karena berhasil digodanya.
.
.
.
.
.
.
Yashbi yang berada di ruang tv sedang menonton sebuah acara berita.
"aku akan segera menangkapnya. Setidaknya mengurangi sampah masyarakat" ucap Yashbi yang menyeruput kopi hitam
Ashana yang sudah berpakaian sekolahnya menghampiri Yashbi.
"ada apa? kau mau ke sekolah saat sudah siang seperti ini?" tanya Yahsbi yang tidak berani memandang Ashana yang terlihat sangat imut dan gemas dimatanya
"apa kau mengijinkanku? ah... seharusnya aku tidak perlu meminta ijin padamu mengingat pernikahan ini hanya mainan" ucap Ashana yang segera membalikan badannya
"apa menurutmu seperti itu tentang pernikahan ini? apa menurutmu pernikahan normal dan resmi harus mengadakan sebuah pesta besar dan mengundang para tamu?" ucap Yashbi santai
Ashana mengerutkan dahinya.
"hah... apa yang anda bicarakan? tentang ini bicarakan saja nanti saat kekasih anda sudah ditemukan" ucap Ashana yang segera pergi menuju bupet sepatu
Yashbi menyusul Ashana dari belakang dengan langkah panjangnya.
"apa kau tidak diajarkan sopan santun? saat orang lebih tua darimu belum selesai bicara seharusnya kau mendengarkannya dengan baik" ucap Yashbi kesal mempethatikan sikap Ashana yang tidak berubah
Ashana beranjak setelah memakai sepatunya.
"apa yang ingin kau bicarakan? cepat aku harus menyusul pelajaran yang sudah tertinggal" ucap Ashana
Pandangan mereka saling bertemu. Yashbi merasa ada hal aneh dalam dirinya yang lebih menyukai sikap dan sifat Ashana yang tidak terkena rapalan miliknya. Sikap dan sifat Ashana apa adanya.
"tidak, pergi saja sana" ucap Yashbi yang membalikkan badannya
Ashana keluar dari pintu rumah dengan perasaan senang karena bisa menuntaskan pendidikannya. Sepanjang perjalanan dia berpikir kenapa ibunya berubah pikiran yang tadinya harus berhenti sekolah dan menikahi laki-laki itu tapi sekarang...
"sudahlah, aku tidak ingin berpikir terlalu keras. Sekarang aku harus pokus mendapatkan nilai terbaik agar bisa melanjutkan kuliah di universitas yang kuinginkan" gumam Ashana
Perjalanan menuju sekolah harus melewati pusat belanja kota itu. Di salah satu tempat penjualan ikan laut seseorang memanggil namanya.
"Ashana, Ashana" ucap seseorang itu
Ketika Ashana melihat ke arah suara itu ternyata suara itu berasal dari Lani teman masa kecil Yashbi.
Lani dengan tangannya mengisyaratkan Ashana untuk mendekatinya tanpa pikir lagi Ashana menurutinya.
"ada apa?" tanya Ashana yang merasa iba karena Lani waktu itu sempat menceritakan penyakitnya
"aku sedang memilih ikan laut ini. Apa ada yang kau sukai? salah satunya" tanya Lani yang memegang lobster
"kau pergi ke sekolah siang seperti ini? memangnya kau pemilik sekolah di mana kau sekolah saat ini?" tanya kembali Lani yang sedikit menyindir
Ashana tersenyum tipis mendengar ucapan Lani.
__ADS_1
"sebaiknya kau pergi karena sekolahku itu memiliki jam tertentu yang hanya ditujukan untukku. Ya, untukku karena aku murid yang cukup berprestasi. Bukannya murid berprestasi akan diperlakukan istimewa?" ucap Ashana