Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 80


__ADS_3

Yashbi menuju dapur untuk mengambil air minum merasa tenggorokannya kering. Dia membuka lemari pendingin dan melihat beberapa tanaman herbal yang di petik oleh Ashana tempo hari.


Yashbi tersenyum tipis.


Saat tangan Yashbi akan mengambil botol minuman tiba-tiba tubuhnya dipeluk seseorang dari arah belakang.


Grap


Lani memeluk Yashbi.


"kau..." ucap Yashbi kesal.


"biarkan seperti ini. Aku merindukanmu, Yash..." lirih Lani.


"merindukanku?"


Yashbi membalikan badannya dan mereka saling berhadapan.


"dengar, Lani. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu"


Deugh


"jangan karena kau memberimu ijin tinggal di rumahku kau bisa seenaknya. Asal kau tahu..."


"aku tahu jika kau dalang pemboman rumah itu" bistik Yashbi.


"tenang saja aku tidak akan melaporkanmu pada siapapun karena aku sendiri yang akan mengurusmu"


"bukankah kau ingin kita selalu berdekatan seperti ini?"


Yashbi mencondongkan tubuhnya membuat nafas mereka beradu.


Yashbi melangkah meninggalkan Lani yang terdiam mematung di tempatnya.


Di lorong, dari arah berlawanan Morina berjalan bergegas ke arah Yashbi dengan membawa sebuah amlop putih.


" ada apa? kenapa cara berjalanmu seperti itu?" ucap Yashbi mengerutkan dahinya.


"papah membawa orang asing lagi?" tanya Morina.


"apa maksudmu?"


Sebelumnya, Morina masuk ke ruang kerja Yashbi dan melihat Doni duduk di sofa membelakangi. Morina menyangka jika Doni adalah pencuri dengan sigap Morina memukul kepala Doni dengan hiasan yang berada di balik pintu.


Morina menghela nafas kasar.


" aku memukul laki-laki itu dan saat ini dia pingsan"


"bagus kali ini aku mendukungmu" ucap Yashbi merangkul bahu Morina.


Morina menatap heran Yashbi.


"ada apa lagi?" tanya Yashbi.

__ADS_1


"apa benar kalian tidak ada hubungan apapun? tapi dia mengatakan jika kalian sebelumnya pernah menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih" tanya Morina penuh selidik.


Yashbi memegang diantara kedua alisnya.


"jangan dengarkan laki-laki itu. Kau hanya perlu mendengarkanku saja" tegas Yashbi.


"baiklah... ini ada undangan orang tua murid. Tiga hari lahi akan diadakan perlombaan mata pelajaran sesuai kelas masing-masing"


Yashbi membuka amplop itu.


"kelasku kebagian untuk mengikuti lomba mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial"


"apa kau memerlukan guru pembimbing? kalau begitu aku mendatangkannya"


"tidak perlu. Bagaimana jika pelayan baru itu saja yang mengajariku?" tanya Morina dengan tersenyum simpul. Morina meyakini jika Ashana tidak mungkin mampu. Jadi saat perwakilan dari kelasnya menerima kekalahan dia akan dengan leluasa menyalahkan Ashana.


" tapi dia harus bekerja, Morina" Yashbi dengan nada sedikit kesal.


"kau tidak perlu khawatir. Apa kau lupa? jika rumah ini tidak akan mungkin berdebu sedikitpun"


Ya, Yashbi sebelum membangun rumah ini dia memasang suatu alat agar debu tidak betah lama-lama berada di dalam rumahnya.


"untuk makanan seperti biasanya kita akan mendatangkan koki kepercayaan kita sesuai jam makan kita"


"ah... kau benar"


"kau sudah melupakannya, paha karena belakangan ini kau tinggal di luar sana tanpa memperdulikanku" ucap Morina merajuk.


" maaf, maaf... merasa terabaikan karena sikapku belakangan ini tapi percayalah aku sama sekali tidak memiliki niatan seperti itu " ucap Yashbi seraya mengecup puncak rambut Morina. Dan di balik tembok Lani melihat mereka membuatnya terbakar cemburu.


" sepertinya aku harus menyingkirkan anaknya terlebih dulu" batin Lani dengan senyum simpul.


.


.


.


Yashbi masuk ke ruangan kerjanya mendapati Doni berdiri di dekat jendela menatap keluar.


Yashbi mencengkram erat sebuah benda dan tangan Doni yang membusuk merasakan kesakitan.


"a... apa yang kau lakukan?" tanya Doni meringis mangan sakit.


"harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau katakan pada Morina?hah" tanya Yashbi geram.


Doni hanya cengengesan seraya menggaruk kepala belakang yang sama sekali tidak gatal.


"sialan" ucap Yashbi melempar bantal sofa ke arah wajah Doni.


Doni menghampiri Yashbi.


"sejak pertama kali aku datang ke ruang kerja ini hawanya terasa berbeda. Lebih menenangkan dibanding sebelumnya"

__ADS_1


Yashbi tidak menggubris dia duduk di kursi kebesarannya.


"apa terjadi sesuatu? kau membawa Ashana ke rumah ini?"


Yashbi menatap Doni dengan tatapan dingin.


"aku melihat puzzle yang ada dibaju patung itu. Bukankah sebelumnya tidak pernah muncul? aku hanya menebak ya jika Ashana pernah masuk ke ruangan ini atau berada di rumah ini"


"sebenarnya apa yang kau ketahui tentang gadis kecil itu?" tanya Yashbi menopang wajahnya diatas meja dengan sebelah tangannya.


"aku akan mengatakannya padamu tapi kau harus berjanji padaku jangan menyebarkannya pada siapapun" ucap Doni dengan tatapan memohon dan penuh yakin.


"bagaimana agar kau mempercayaiku?" tanya Yashbi


"apa perlu melakukan hal itu?" tanya kembali Yashbi melemparkan buku kosong serta pena.


"ini... apa kau serius kita akan melakukannya?" tanya Doni cemas dan ragu.


"lakukanlah. Jika kau menginginkannya. Asal kau ceritakan tentang gadis kecil itu yang sama sekali belum kuketahui"


*buku kosong dan pena itu adalah benda sihir ghaib yang setiap penulisnya menuliskan sesuatu tentang perjanjian akan terikat satu sama lain. Jika salah satu dari mereka melanggar. Maka keduanya akan merasakan kesulitan bernafas bahkan memuntahkan darah dalam jumlah banyak*


Doni menulis di atas kertas itu menggunakan pena *Perjanjian antara Doni dan Yashbi*


Lalu, Yashbi memasukkan ke dalam sebuah gelas berukuran sedang berisi air dan menuangkan ke gelas lainnya. Dan memberikan pada Doni. Mereka meminumnya bersamaan.


"posisi kita saat ini sama-sama tidak beruntung. Jika aku ataupun kau yang melanggar kita akan mengalami hal yang sama"


Doni menelan salivanya. Dia menceritakan tentang Ashana saat masih baru temukan di teras rumah kakaknya. Yang tadinya kakak ipar tidak menyukai anak kecil tapi saat melihat Ashana sikapnya berubah drastis seolah-olah Ashana adalah anak kandungnya sendiri dan tidak ada kebencian yang tersirat.


Sebelumnya, rumah tangga kakak Doni dibilang tidak harmonis memang tidak harmonis setiap hari hanya diisi dengan pertikaian pasangan suami istri itu. Namun, setelah kedatangan Ashana semua berubah total. Rumah tangga kakaknya itu menjadi keluarga impian.


"apa dia memiliki energi positif hanya hitungan manusia yang memilikinya?" tanya Yashbi terlihat berpikir keras.


"entahlah" jawab singkat Doni.


Doni melanjutkan ceritanya seputar kehidupan kakaknya dan juga Ashana.


Suatu hari, Doni harus mengobati seorang pasien dan membawa Ashana yang saat itu masih berumur dua belas tahun. Mereka tiba di kediaman pasien itu. Hal tidak terduga terjadi pasien tersebut pulih kembali hanya karena Ashana dan Doni baru menginjakan kaki beberapa langkah di dalam di kediaman pasien itu.


Yashbi membulatkan kedua matanya sempurna.


"bisa saja rumah ini secara tidak langsung kedatangan Ashana membersihkannya dari energi negatif dan energi tidak baik" jelas Doni.


"jika memang benar yang kau katakan. Berarti ada energi lain yang berlawanan dengannya?" tanya Yashbi heran dan bingung melanda pikirannya saat ini.


"bisa saja terjadi. Tapi kita tidak tahu siapa dia" imbuh Doni.


Yashbi mengambil minuman kemasan kaleng di mini bar.


Doni mengambil patung yang mirip sekali dengan Clara.


"apa yang kau lakukan? sialan!" ucap Yashbi kesal seraya melempar minuman kaleng itu ke arah Doni. Namun, Doni karena refleks menangkisnya dengan patung itu. Hingga bagian lengan patung itu terputus.

__ADS_1


Dan apa yang terjadi saat bagian lengan patung mirip Clara terputus?


__ADS_2