Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 103


__ADS_3

Di dalam mobil, Salfa mengemudikan mobil dengan pikiran berkecamuk takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada kedua orang tuanya.


"aku masih ada waktu. Dilihat saat itu ayah dan ibu tidak akan bicara selama tiga puluh lima jam kedepan"


"aku harus menemuinya"


Salfa berniat menemui Yashbi kerumahnya.


Kondisi jalanan cukup sepi karena sebelumnya terjadi hujan cukup deras.


Karena cuaca cukup dingin Salfa mampir ke sebuah Cafe milik Avril. Mereka saling kenal satu sama lain.


Triiing


Suara pintu Cafe jika ada pengunjung yang masuk dan keluar.


Avril yang posisinya berada dimeja bar segera menoleh.


Mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Salfa..."


"halo Avril"


"hampir tiga bulan kau tidak datang ketempatku" keluh Avril.


"kau tahu ayahku sedang tidak dalam kondisi sehat jadi mau tidak mau aku harus menjaganya hingga pulih"


"bagaimana dengan ibumu?" tanya Avril dengan tangan yang lincah meracik minuman kesukaan Salfa.


Deugh


"dia sudah kembali. Beberapa hari lalu" ucap Salfa dengan senyum kecut.


"kenapa reaksimu seperti itu? kau tidak senang dia kembali?" tanya heran Avril.


"tidak. Bukan seperti itu"


"lalu?"


"entahlah Avril. Kadang aku berpikir mereka sebaiknya tidak perlu bertemu lagi. Tapi disamping itu aku ingin sekali keluargaku kembali utuh"


"apa karena yang mereka lakukan hal yang sama selama ini?" ucap Avril menatap lekat Salfa.


"aku cukup tahu apa yang mereka lakukan, Salfa. Dan yang bisa membantu mereka hanya tuan Yashbi" ucap kembali Avril dengan senyum lebar.


Salfa merasa heran perihal Avril membicarakan Yashbi. Biasanya jika Avril membicarakan Yashbi dia akan berwajah datar dan wajah cemberut. Setiap kedatangan Yashbi ke Cafe miliknya selalu membuat masalah. Misalkan, membooking seenaknya dan mengusir pengunjung lainnya, bicara kemana-mana jika sedang mabuk itupun dalam jangka waktu lama jika Avril tertidur atau tidak memperhatikannya maka Yashbi akan memarahinya padahal Yashbi dalam kondisi mabuk saat itu.

__ADS_1


"tumben sekali kau membicarakan laki-laki itu dengan ekspresi jelek seperti itu?"


Ha ha ha


"kau tahu. Tempat ini Cafe ini sudah menjadi hak milikku sepenuhnya. Mutlak tidak akan bisa ada orang yang mengganggu gugat"


"pasti ulah laki-laki itu, kan. Mana mungkin tidak ada campur tangan darinya. Aku bisa menebaknya dari ucapanmu barusan"


Avril hanya tersenyum malu.


"kembali kemasalahmu. Ceritakan apa yang sedang terjadi?"


Salfa menceritakan semua pada Avril dan Avril pun mengerti menganggukkan kepalanya.


"sebaiknya kau segera temui tuan. Setahuku dia sedang tidak berada dirumahnya. Melainkan ditempat ini" ucap Avril menyodorkan kertas yang sudah bertuliskan alamat rumah Ashana.


"tempat apa ini?" tanya Salfa dengan menaikkan satu alisnya.


"itu alamat istri barunya"


"hei, hei kau tahu istri baru tuan. Dia masih muda dan cantik. Wanita semudah dan secantik itu kenapa menikah dengan tuan? aku berpikir keras hingga saat ini"


Plak


Salfa memukul kepala Avril.


"tempo hari ada beberapa orang pengawal berkunjung ketempat ini. Aku tahu mereka pengawal tuan. Dan mereka dari awal hingga akhir membicarakan istri baru tuan mereka dan memperlihatkan poto istrinya itu dari ponsel mereka masing-masing"


"karena rasa penasaranku yang tinggi dan tidak bisa dibendung lagi akhirnya aku mengintip layar ponsel mereka. Dan benar saja dia muda dan cantik meski tanpa riasan make up"


"apa kau sudah selesai ceritanya?" tanya Salfa kesal.


"Salfa... aku punya pilihan lain selain menemui tuan. Apa kau tidak berpikir jika kedatanganmu bisa mengganggu mereka?"


Salfa mengerutkan dahinya.


"sebaiknya kau jangan menemui tuan. Jadi temuilah orang ini. Orang ini sama memiliki kemampuan dengan tuan" ucap Avril memperlihatkan poto Anuya.


"di distrik JJ laki-laki ini sangat terkenal dengan kemampuannya. Hanya dengan bicara dengannya orang yang tadinya gila jadi pulih kembali. Luar biasa, bukan?"


Distrik JJ sangat dekat dengan kota sebelah, Yaebud. Tempat penyembahan dan pemujaan.


"tempat ini kan sangat dekat dengan tempat terlarang itu. Tempat yang hanya orang-orang tertentu yang bisa memasukinya"


"apa kau ada poto laki-laki ini dari arah belakang?"


"aku akan mencarinya dahulu. Poto itupun aku mendapatkannya susah payah karena laki-laki itu pandai sekali menghindari kamera cctv"

__ADS_1


"aku kira kau sudah tidak memperdulikan kasus ini. Kasus dimana seluruh keluargamu menghilang tanpa jejak. Dan salah satu keluargamu meninggalkan sedikit petunjuk yang mengarah ke tempat itu (Yaebud)"


Sebelumnya, keluarga Avril adalah keluarga yang setara dengan keluarga Yashbi. Avril yang tidak pernah dipublikasikan jadi tidak ada orang yang mengetahuinya kecuali Salfa. Salfa adalah pengunjung pertama Cafe yang selama ini Avril kelola.


" kau harus bekerja sama dengan pihak-pihak tertentu. Mengingat tempat itu berada dikota sebelah"


"aku sudah tidak memiliki uang, Salfa. Untuk memenuhi kehidupanku saja aku masih harus bekerja ditempat lain. Jika mengandalkan Cafe ini sama sekali tidak bisa" keluh Avril dengan wajah lesunya.


"untung saja tuan membeli tempat ini jadi aku tidak terlalu pusing untuk membayar uang sewa"


Salfa mengambil black card dari dompetnya dan memberikannya pada Avril.


"pakailah uangku. Kau gunakan dengan baik. Tapi ingat ada satu permintaan yang harus kau penuhi untukku" ucap Salfa mengerlingkan matanya.


"ah... kau baik sekali, Salfa. Aku tidak tahu malaikat apa yang bersemayam dalam tubuhmu padahal kau sendiri sedang dalam masalah antara kedua orang tuamu. Tapi kau masih sempat membantuku"


Salfa bisa mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang dengan melihat pundak orang tersebut. Berbeda dengan Yashbi yang hanya bisa melihat beberapa saat lalu dan selanjutnya kehidupan seseorang hanya dengan menatap matanya.


💫💫💫


Kembali ketempat Ashana, Yashbi, Anzel, Sandi, Doni dan Jaka.


Tepat dari permukaan tanah sejajar dengan makhluk itu muncul cahaya perlahan semakin membesar dan terjadi ledakkkan.


Dwaarr


Ternyata sedari tadi Yashbi sengaja berada dibawah makhluk itu dengan mengumpulkan tenaga untuk menembak dengan kekuatan besar kearah makhluk itu. Dan benar saja makhluk itu terluka cukup besar akibat tembakan Yashbi barusan.


Ashana sumiringah melihat Yashbi baik-baik saja.


Yashbi mundur beberapa langkah sembari mengarahkan pistol kearah makhluk itu.


"penganggu. Seharusnya kalian jangan mengganggu jam istirahatku jika tidak aku akan menghabisimu tanpa ampun sedikit pun"


Yashbi menarik nafas dalam-dalam bersamaan dengan mengeluarkan nafas dari hidung dan mulut saat itu juga tembakan skala besar terjadi.


Dwarrr


Makhluk itu tidak bisa bergerak sedikitpun karena Yashbi mengikat keempat makhluk itu dengan akar pohon yang sudah dimantrai.


Yashbi tersenyum simpul.


Bersamaan dengan itu, kertas yang berlumur darah Anzel yang berada ditelapak tangan Sandi dan Jaka menghilang. Mereka pun bisa melihat makhluk itu. Dan Yashbi yang sedang bertarung dengan makhluk itu.


Sandi membulatkan kedua matanya sempurna.


"ini..."

__ADS_1


__ADS_2