Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 58


__ADS_3

Ashana menawarkan diri pada sopir untuk membantunya mencukur jenggot dan wajahnya. Awalnya sopir itu menolak namun Ashana sangat keras kepala dan akhirnya menerima tawaran Ashana untuk membantunya. Sebenarnya dia bisa melakukannya tanpa harus menerima bantuan Ashana. Tapi terlihat jelas ketulusan Ashana dari dua manik matanya dan ucapan yang keluar dari mulutnya selalu lemah lembut dan sangat nyaman di dengar.


Sopir itu membawa Ashana ke ruangan di mana ruangan itu seperti sebuah salon ternama. Lengkap dengan perlengkapannya.


Ruangan yang selalu dipakai saat ada acara-acara besar dan menyewa tenaga ahli. Ahli penata rambut, pakaian dan make up.


"ini... ini baru pertama kalinya aku melihat salon semewah ini" ucap Ashana yang lagi, lagi terpukau dengan apa yang dimiliki oleh Yashbi.


"yang aku tahu salon itu memiliki ruangan sempit dan banyak potongan rambut di mana-mana"


"apa yang anda maksud salon ada di tempat anda dulu?" tanya sopir


Ashana terlihat murung menatap lantai. Sopir menyadari jika ucapannya barusan salah.


"apa kau merindukan rumahmu?" tanya kembali si sopir


"entahlah. Terakhir hubunganku dengan ibu masih belum cukup baik dan hingga saat ini aku belum tahu pasti di mana ibu berada. Ingin sekali aku pergi mencarinya tapi kondisiku tidak memungkinkan. Mengingat uang yang kumiliki saat ini jauh sekali dari kata cukup "ucap Ashana dengan senyum kecut.


" lalu apa yang akan kau lakukan? "


" yang aku bisa lakukan hanya menghubunginya. Tapi lagi-lagi ibu tidak menjawab panggilanku"


"tidak menjawab? berarti tersambung"


Ashana menganggukkan kepalanya.


"aku hanya ingin menanyakan keberadaannya dan bagaimana kondisinya saat ini"


Wajah Ashana terlihat sedih sesekali menghela nafas dan bercermin melihat dirinya sendiri di pantulan cermin.


"setelah ayah meninggal sikapnya jauh berbeda. Entah apa yang membuatnya hingga seperti itu. Padahal dulu dia wanita lembut dan penyayang. Dan aku berangan-angan ingin menjadi sepertinya kelak aku menjadi seorang ibu dari anak-anakku"


Ashana segera mengambil peralatan untuk membersihkan janggut dan bulu-bulu yang tumbuh di wajah sopir itu. Pertama dia membalurkan krim di sekitar dagu, mulut dan pelipis.


Ashana melakukannya dengan hati-hati dan penuh kelembutan membuat sopir merasa nyaman.


"ibumu memiliki alasan berbuat seperti itu. Jadi kau harus lebih dewasa lagi menyikapinya. Tiga bulan lagi kau akan lulus sekolah menengah atas seharusnya pikiran dan sikapmu lebih dewasa dari sebelumnya. Apalagi saat suatu masalah datang menghampiri"


Ashana terdiam sesaat mendengar ucapan sopir itu.

__ADS_1


"kau jangan salah paham saat melihatmu aku teringat adikku yang dulu hilang. Sekitar sebelas tahun lalu. Ya, kurang lebih" ucap sopir santai.


"kau pasti merindukannya?"


"tentu saja. Setiap sebulan sekali aku selalu menaiki pohon yang tertinggi dan memanjatkan do'a berharap dia baik-baik saja di manapun keberadaannya"


"apa kau sudah mencarinya?"


Suasana hening seketika. Dan hanya bunyi pisau cukur yang dipegang Ashana membersihkan rambyt-rambut di wajah sopir.


"aku sama halnya seperti anda, nona. Keterbatasan uang yang kumiliki menjadikanku seorang kakak yang lemah dan tidak berguna" ucap ketus sopir.


Pandangan Ashana tertuju ke arah poto di mana poto itu banyak sekali wanita dengan pakaian sama dan hanya ada satu wanita yang memakai pakaian berbeda dari yang lainnya. Ya, dia adalah ibu Yashbi yang terlihat cantik dan menawan dibanding yang lainnya. Seperti none Belanda.


"wanita yang ada di poto itu adalah ibu tuan Yashbi" celetuk sopir itu beranjak dari tempat duduk cukur karena rasa sudah selesai.


"jangan bergerak dulu aku belum membersihkannya" cegah Ashana.


"aku akan mencucinya sendiri. Ashana, kau cukup pandai mencukur rambut-rambut di wajahku yang sudah tua ini"


"dulu saat di kampung halamanku aku sering membantu tukang cukur yang tidak jauh dari rumah. Hanya sekedar menambah uang jajan" ucap Ashana terukir senyum tipis di wajahnya.


"kapan-kapan aku ingin mengunjunginya" ucap si sopir beranjak dari tempat duduk dan menuju kamar mandi.


Ashana menatap sekitar. Berpikir seberapa kaya laki-laki itu. Meraba tembok ruangan itu.


"tembok ini pasti sangat mahal. Lebih lembut dan halus daripada wajahku"Ashana memegang wajahnya sendiri.


" ah benar ternyata" Ashana tersenyum kecut.


Saat keluar dari kamar mandi ponsel milik sopir itu berdering menandakan Yashbi memanggilnya. Memerintahkannya untuk mendatangi ruangannya.


Terdengar suara sayup-sayup di telinga Ashana sebelum meninggalkan ruangan itu.


"datanglah, datanglah padaku gadis muda. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentangnya" seperti itu ucapan yang terdengar di telinga Ashana sontak menghentikan langkahnya. Tangan memegang engsel pintu sempat terjeda dan melihat kembali ruangan itu.


"nona kau tahu jalan menuju kamarmu, bukan?"


Ashana mengangguk pelan.

__ADS_1


Sopir melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. 14.00


"sial! aku hampir saja terlambat" ucap sopir bergegas meninggalkan Ashana sendirian.


Sopir masuk ke dalam ruang kerja Yashbi. Di sana Yashbi berdiri tegap menghadap jendela berukuran besar. Suara ketukkan pintu terdengar.


Tok


Tok


Tok


"masuk"


"tuan..."


Tatapan nyalang Yashbi terlihat jelas. Seketika tubuh sopir gemetar menyadari apa yang sudah dilakukan.


"apa aku memberimu ijin untuk berada dekat dengannya?" ucap Yashbi dingin wajah datar.


"apa uang yang kuberikan tidak cukup?" ucap Yashbi melempar gelas ke arah sopir.


Saat ini Yashbi sedang terbakar cemburu namun tidak menyadarinya yang bisa dilakukannya hanya melampiaskan amarahnya ketika melihat Ashana lebih dekat dengan sopir dibanding dirinya.


" apa tuan merasa cemburu? "celetuk sopir wajah tanpa dosa.


Yashbi segera meraih kerah si sopir dengan nafas terengah-engah.


" dengar, sampai kapanpun aku tidak akan memiliki perasaan seperti itu terhadap gadis muda dan bodoh itu. Paham! " ucap Yashbi dengan nada naik satu oktaf.


"jika begitu tidak masalah, bukan jika aku dekat dengannya. Mengingat umurku sudah tidak lagi muda"


Yashbi tidak habis pikir jika sopirnya ini sekaligus orang kepercayaannya semakin berani.


"tuan, sudah berapa lama aku bekerja dengan anda?"


Yashbi mendongakkan wajahnya.


"umur kita setara, bukan? saat itu anda membawa anak seumuran anda dipinggir jalan yang sedang menahan lapar berhari-hari. Hingga saat ini berdiri di sini, di hadapan anda. Aku sangat berterima kasih akan hal itu. Tapi..." ucap sopir yang tidak mau kalah menatap Yashbi dengan tajam.

__ADS_1


" tapi aku sangat tidak menyukai jika tuanku ini salah jalan apalagi bersikap seenaknya terhadap perempuan. Bukannya, nyonya mengajarkan hal itu sehingga sampai menjelang kematiannya beliau berselimutkan pengkhianatan yang dilakukan tuan besar, terlebih ayah anda sendiri "


Ibu Yashbi mengetahui jika ayah Yashbi sudah berpaling dan berkhianat. Namun, dia hanya diam saja bukan karena bodoh atau apa. Hanya saja, dia tidak ingin menyakiti wanita lain terlebih dia juga seorang wanita. Dia hanya memendam dalam hatinya. Merasakan sakit tentu saja sakit. Dia hanya wanita biasa. Setiap kepulangan suaminya dia menjalankan tugas istri dengan sangat baik. Ketika suaminya pergi bekerja yang kerap kali dia lakukan adalah berteriak di kamar seorang diri meluapkan emosinya dalam kesendirian.


__ADS_2