Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 91


__ADS_3

Sandi menatap layar tablet melanjutkan pekerjaannya.


"ke vila" titah singkat Sandi dengan nada datar.


"baik,tuan muda".


Sandi baru teringat jika dirinya harus menghubungi Ashana terlebih dulu.


"ah...kau masih saja bodoh Sandi" ucap Sandi merutuki dirinya sendiri.


Diwaktu yang sama, Yashbi menuju ruangan di mana Lani berada namun, langkah kakinya terhenti saat seorang pengawal (pengawal yang berjaya di rumah sakit)menghampirinya dari arah berlawanan.


"ada apa?" tanya Yashbi degan tatapan lurus dan nada datarnya.


"ini...tuan sepertinya nona Ashana melupakan barang miliknya" ucap pengawal tersebut menyerahkan paper bag yang berisikan barang-barang Ashana.


Ruangan Lani ruangan yang memiliki kaca besar hingga Yashbi bisa melihat apa yang sedang dilakukan Lani dari dalam. Yashbi menyediakan patung yang sama persis dengan Ashana layaknya manusia pada umumnya. Terlihat Lani mencabik-cabik patung itu seolah-olah Ashana sungguhan. Hingga darah buatan berceceran di mana-mana.


Dari luar ruangan Yashbi menyaksikan apa yang Lani lakukan.


"berapa banyak yang sudah digunakan?" tanya Yashbi dengan tatapan nanar sekaligus kesal.


"dia sudah menggunakan patung itu sebanyak enam buah ,tuan"


"dia akan terlihat tenang jika tidak melihat patung wanita itu"


"pertemanan berubah menjadi suka ,rasa suka berubah menjadi cinta lalu cinta berubah menjadi obsesi dan hilang lah kewarasan" gumam Yashbi memperhatikan Lani yang masih membagi buta menyerang patung yang mirip dengan Ashana.


Ahli pembuat patung seorang wanita menghampiri Yashbi.


"saya sudah membuat lebih dari dua puluh patung yang anda inginkan,tuan".


"euuumph...".


Ahli pembuat patung itu membuat patung yang mirip Ashana dengan jumlah tersebut.


"dan untuk patung yang berada di rumah saya sudah memperbaikinya seperti semula" ucapnya dengan bangga.


"ok. Berapa bayaran yang anda inginkan?aku sengaja menawarkan hal ini karena kinerjamu membuatku puas".


"a....aku tidak ingin sejumlah uang" tolaknya dengan menundukkan pandangan.


"lalu?". tanya Yashbi menaikkan satu alisnya.


"ijinkan aku membuat patung anda sendiri,tuan. Maksudnya...wujud anda sendiri".


"aku...aku sangat mengagumi anda. Jika diperbolehkan ijinkan saya..." ucapnya terhenti kala Yashbi menyelanya.


"baiklah. Aku akan mengirimkan potoku melalui sebuah file dengan begitu kau tidak mungkin bisa mengubahnya walau hanya seinci" ucap Yashbi yang lebih dingin dari sebelumnya.


Ahli pembuat patung hanya mengangguk pelan.


Drrrt

__ADS_1


Drrrt


Ponsel milik Ashana mendapat panggilan masuk dari Sandi.


Melihat layar ponsel Ashana membuat Yashbi geram saat melihat nama kontak Sandi dengan nama "Sandi Orang Terbaik".


Yashbi berusaha tenang menghela nafas berkali-kali dan memberanikan diri mengangkat panggilan tersebut.


"hai, Ashana. Kau lama sekali mengangkat telpon dariku. Kau baik-baik saja, kan?aku tahu kau baik-baik saja dan saat ini kau berada di rumah ibumu. Aku akan menyusulmu. Tunggu aku. Ok". cerocos Sandi dan mematikan sambungan sepihak. Ya, saat Sandi mengkhawatirkan seseorang yang penting baginya dia akan terlihat jelas salah tingkah bahkan lucu .


Di tempat Yashbi,Yashbi terlihat sangat marah memegang erat ponsel Ashana hingga terdengar suara retak.


Seketika pandangan Yashbi tertuju ke ruangan Lani di mana di sana ada wujud lain dari Yashbi dengan warna hitam yang semakin bertambah.


"kenapa akhir-akhir ini dia sering kali memperlihatkan wujudnya dihadapanku?" ucap kesal Yashbi beranjak melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu berniat menuju tempat Ashana.


Dengan langkah terburu-buru dan wajah yang kusut setelah mendengar seorang laki-laki menghubungi Ashana.


" Sandi... Sandi... apa mungkin Sandi yang memiliki perusahaan properti terbesar di kota III?kami sempat bertemu untuk pertama kalinya saat meeting waktu itu" gumam Yashbi masuk ke dalam mobil dan dari belakang beberapa pengawal mengikutinya dengan langkah tergesa-gesa.


"tuan, tuan..." panggil mereka.


Yashbi menoleh.


"biar kami mengantarkanmu" tawar pengawal itu.


"tidak perlu. Aku ingin pergi sendiri. Kalian jaga ketat wanita itu. Jangan lupa berikan makan yang teratur dan gantikan pakaiannya oleh Sinta" tita Sandi seraya masuk ke dalam mobil.


Wujud lain dari Yashbi warna hitam yang ada padanya berangsur sedikit berkurang. Hanya sedikit.


Sandi dengan senyuman menawan menatap tiga permen rambut nenek yang berbentuk babi. Sebelumnya, saat di lampu merah tidak sengaja dia melihat penjual permen rambut nenek dan teringat jika Ashana menyukai permen rambut nenek tersebut. Sandi membelinya sendiri sengaja turun dari mobil. Niat banget memang.


Jaka yang menyaksikan sikap tuan mudanya hanya menggelengkan kepalanya.


"nona Ashana memang cantik, tuan. Tapi, tuan harus tahu diri juga dia kan istri orang lain" gumam Jaka dengan helaan nafas kasar.


Sementara Yashbi mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dia sangat marah jika ada orang lain apalagi seorang laki-laki yang akan mendatangi Ashana.


"apa dia tidak tahu jika Ashana sudah menikah?" gumam Yashbi menginjak pedal gas.


Bagaimana orang lain bisa tahu. Pernikahannya saja sepertiitu. Benar ucapan Ashana jika pernikahan ini hanya mainan. Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini. Dan Ashana membentengi dirinya sendiri agar tidak jatuh cinta pada Yashbi.


...💝💝💝💝💝💝...


Di kediaman rumah ibu Ashana, Ashana tengah menemani ibunya yang terbaring lemah di atas kasur.


"ibu, apa ibu mau makan? Ashana suapin yah, bu" ucap Ashana penuh kelembutan.


Ibu hanya mendelik. Tidak suka jika ada Ashana didekatnya.


"aku tahu ibu masih tidak suka padaku. Karena aku bukan anak ibu dan ayah. Benar, kan bu?" ucap Ashana lirih.


Ibu tercengang mendengar ucapan Ashana.

__ADS_1


"dia sudah mengetahuinya? apa Doni yang memberitahukannya?" batin ibu.


"tapi, ibu tenang saja. Aku tidak akan melupakan ayah dan ibu bagaimana pun kalian sudah menjaga dan merawatku hingga sekarang ini"


"dan untuk hubungan kita belakangan ini maafkan aku, bu. Maafkan aku" ucap Ashana memeluk ibu dengan menangis sesegukan.


Melihat hal tersebut ibu merasa sedikit iba. Yang tadinya tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak namun, kali ini bisa bergerak. Ibu mengusap kepala Ashana pelan. Pelan sekali. Sehingga Ashana tidak menyadarinya.


"sekarang aku sudah menikah meskipun pernikahan ini bukan kemauanku tapi aku akan menjadi istri yang baik. Sebaik ibu pada ayah" lirih Ashana ditengah isakan tangisnya.


Deugh


Ibu pun ikut menangis tapi dia buru-buru mengusap air matanya.


"Ash...Ashana" panggil ibu lemah.


Ashana medongak menatap ibunya dengan mata merah dan sesegukan.


"kenapa aku merasa hampa. Seperti akan ada sesuatu hilang dari kehidupanku dalam waktu dekat ini. Lalu, kenapa aku menangis saat menatap ibu tadi " batin Ashana yang tidak mengerti yang terjadi dengan dirinya.


"ibu akan menceritakan kebenaran tentang ayahmu, Yashbi dan juga kamu. Dengarkan baik-baik"


Ibu menceritakan semua apa yang terjadi.


Awal mula ayah sakit melakukan pengobatan medis sudah dilakukan sehingga menjual beberapa jumlah tanah di desa itu untuk membayar pengobatan medis agar ayah dapat sembuh. Namun, tidak membuahkan hasil sama sekali.


Lalu, datanglah kekediaman mereka Doni yang baru pulang dari luar kota. Kota yang cukup jauh. Doni melihat hal janggal pada tubuh kakaknya, ayah Ashana.


Tubuh yang dililit tambang berwarna hitam.


Biasanya jika seseorang dililit tambang berwarna hitam seseorang itu telah melakukan kesalahan. Seperti memakan yang bukan haknya.


Ya, ayah Ashana menjual tanah yang bukan haknya melainkan hak adiknya yaitu Doni.


Doni mengetahui hal itu. Makanya dari itu ayah tidak bisa diobati oleh Doni (orang yang bersangkutan).


Akhirnya, Doni menghubungi temannya, Yashbi.


Yashbi yang kala itu sedang dalam keadaan terpuruk karena hilangnya Clara tanpa jejak membuatnya hilang akal.


Tanpa sepengatuan Ashana, Yashbi bisa mengobati ayah tapi dengan satu syarat mereka harus menyerahkan Ashana padanya. Agar ibu percaya Yashbi dan Doni bersekongkol mengatakan jika Yashbi dan Ashana harus menikah maka dari itu ayah bisa disembuhkan.


Karena kondisi ibu yang sudah putus harapan dia pun menyetujuinya.


Beberapa waktu berlalu. Doni pun tidak tahan dengan rahasia yang disimpannya. Akhirnya, dia buka suara pada ibu Ashana jika pernikahan yang terjadi antara Ashana dan Yashbi hanyalah akal-akalan Yashbi. Bukan semata syarat untuk penyembuhan ayah, kakaknya Doni.


Ibu Ashana syok. Bagaimana pun Ashana sudah menjadi penyemangat suaminya. Suaminya menjadi semakin bersikap hangat padanya semenjak keberadaan Ashana ditengah rumah tangga yang tidak dikaruniai anak hingga meninggalnya sang suami.


Mendengar penjelasan ibu, Ashana tidak terlalu kaget karena dia tahu alasan laki itu menikahinya. Karena agar wanita yang hilang itu muncul dari persembunyiannya.


"aku sudah tahu semuanya, bu. Sebelum ibu menceritakan hal ini aku sudah mengetahuinya" ucap Ashana menenangkan ibunya. Pura-pura sudah mengetahui semuanya padahal dia baru tahu dari ucapan ibunya kali ini terkecuali alasan Yashbi menikahinya.


"kalau kau tidak merasa bahagia maka bercerailah. Ibu tidak akan menjadi penghalang antara hubunganmu dengan laki-laki manapun"

__ADS_1


Ashana hanya tersenyum lebar.


"bagaimana dengan Indra? apa dia tahu kau sudah menikah?" celetuk ibu membuat Ashana terdiam dan teringat apa yang dia dan Indra lakukan pada saat itu.


__ADS_2