
Ashana yang tertidur disamping ibunya kusangking terlelap tidak menyadari kedatangan Yashbi. Ashana tertidur sembari ngiler membuat Yashbi menahan tawanya yang akan meledak. Tidak lupa Yashbi mengambil ponsel dari saku jasnya dan mengabadikan momen tersebut.
"kau konyol sekali, Ashana" batin Yashbi menatap Ashana tanpa berkedip. Namun, kedua matanya segera membulat sempurna kala seekor makhluk perlahan muncul diatas tubuh ibu Ashana. Makhluk dengan wujud kalajengking.
Makhluk kalajengking dilambangkan dengan sifat manusia pemarah dan serakah. Kemunculan kalajengking itu akan berpengaruh pada manusia itu sendiri. Seperti kurang nafsu makan dan berharap dirinya secepatnya mati karena tidak semangat lagi untuk menjalani hidup.
Yashbi mengedarkan pandangan berniat memindahkan Ashana ke kamar lain setelah itu akan mengobati ibu Ashana.
Tiba-tiba Anzel muncul dari arah belakang membuat Yashbi kaget hingga terperanjat. Dan reflek memukul kepala Anzel tidak terlalu keras namun masih tetap saja terasa sakit.
Mereka beradu pandangan. Yashbi dengan tatapan nyalangnya sementara Anzel dengan wajah tertunduk.
"ini masih siang untuk jam tidur? apa yang dia lakukan sedari tadi?" tanya Yashbi menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"seperti yang anda tahu, tuan. Nona merawat ibunya dengan telaten" ucap Anzel padahal yang dia tahu setelah pembicaraan tadi diteras Ashana terlihat tidak ingin bicara dengan siapapun. Lebih memilih menghabiskan waktunya bersama ibunya yang terbaring sakit.
"euuumphh... apa di rumah ini ada kamar lain?"
"ada tuan, tapi kondisinya sangat..." ucapan Anzel terhenti ketika pandangannya bertemu dengan mata tajam Yashbi.
Anzel mengetahui jika dirinya harus membersihkan kamar itu. Dan dia pun bergegas membersihkan kamar yang tidak jauh dari kamar ibu.
Mengambil peralatan kebersihan yang sedikit usang di dapur.
Langkahnya terhenti kala melihat gambar tiga orang anak kecil yang menatap bintang ditembok dapur. Gambar khas seorang anak kecil yang menggambarnya.
Anzel tersenyum dan segera pergi kedalam kamar yang akan dia bersihkan. Ya itu adalah kamar Ashana yang sudah cukup lama tidak terpakai. Sambil bersiul Anzel membersihkan kamar itu. Siulan dengan nada lagu yang hanya dia, Ashana dan Anuya ketahui.
Mendengar suara siulan itu Ashana, membuka matanya perlahan.
"kak... kakak" suara pelan Ashana namun bisa terdengar oleh Yashbi.
Yashbi menaikkan satu alisnya.
"kau tidur nyenyak sekali" suara bariton itu membuat Ashana segera bangun dari tidurnya dan menatap Yashbi.
"kenapa anda disini?" tanya ketus Ashana beranjak dari kasur perlahan agar tidak membangunkan ibunya. Berjalan keluar melalui Yashbi begitu saja.
"dia terlihat berbeda sekali. Apa perasaanku saja" batin Yashbi.
"aaargghh...sejak kapan aku memperdulikannya" Yashbi kembali membatin.
__ADS_1
Yashbi mengekori Ashana.
Sementara Doni dan Sandi tengah saling bicara diteras. Mereka teringat saat Doni masih sangat kecil sekarang jauh lebih besar dari Doni. Doni sedikit mengetahui tentang Doni yang selalu bermain bersama dengan Ashana saat kecil dulu.
"kau membawa permen itu pasti untuk kau berikan pada anak itu, ya kan?" ucap Doni menebak-nebak.
Sandi hanya tersenyum lebar.
Kembali ke dalam rumah dimana Yashbi mengekori Ashana.
"aku tidak akan menawarimu makanan ataupun minuman mengingat kondisi kita jauh berbeda" ucap sini Ashana.
Yashbi melihat sisi lain Ashana yang terlihat menggemaskan baginya dibandingkan sikap sebelumnya yang hangat dan ceria.
Yashbi lebih menyukai Ashana yang tampak ketus dan judes.
Siulan itu semakin terdengar jelas.
"siapa yang bersiul?" gumam Ashana.
Karena tidak memperhatikan langkah kaki. Yashbi tersandung dan menindih tubuh Ashana.
Braaakkk
Ashana berusaha berontak untuk lepas dari cengkraman Yashbi sambil membatin untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
"jangan, jangan sampai aku jatuh cinta pada laki-laki ini. Ingat Ashana dia bukan jodohku, bukan suamimu. Dia hanya mempermainkan pernikahan ini saja tidak lebih" batin Ashana.
Dengan lengan kemeja yang tergulung Anzel, menghampiri arah suara benda terjatuh (Yashbi yang tersandung) dan melihat pemandangan didepan matanya membuat Anzel semakin takut dengan tatapan Yashbi.
Begitu juga, Sandi dan Doni menghampiri arah suara benda terjatuh dan melihat pemandangan itu membuat Sandi sedikit kesal. Doni hanya tersenyum tipis.
Yashbi segera beranjak dan membantu Ashana terbangun.
"maaf, badanmu pasti sakit" ucap Yashbi memperhatikan Ashana dari ujung rambut dan kaki.
Ashana merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Malu ya, malu yang dirasakan Ashana namun dia berusaha menutupinya.
Pandangan Sandi dan Ashana bertemu.
"Sandi..." nada pelan Ashana.
__ADS_1
Sandi membalas dengan senyum hangatnya yang hanya ditujukan untuk Ashana.
"kenapa kau ada di sini? dan darimana kau mengetahuinya?" sederet pertanyaan keluar dari mulut Ashana terhadap Sandi. Berbeda sekali saat melihat Yashbi pertama kali mendatanginya tadi.
Ashana menghampiri Sandi.
"aku tahu apa yang terjadi dengan rumahmu saat menonton berita ditv dan bergegas untuk mengetahui keadaanmu" ucap Sandi yang tidak lepas menatap Ashana. Tatapan dengan tatapan penuh rasa sayang dan cinta.
"dan syukurlah kau baik-baik saja, Ash. Apa rencanamu selanjutnya? jika kau tidak keberatan aku memiliki apartemen yang sudah lama aku tinggalkan" ucap Sandi yang masih menyangkal jika Ashana sudah memiliki suami.
Yashbi yang melihat interaksi mereka membuatnya emosi dan mengepalkan tangannya.
"kau tidak perlu repot-repot mengurusi wanita yang suda bersuami" suara bariton menggema diruangan itu.
"suami? apa tidak salah dengar? aku tahu sekali kenapa anda menikahi Ashana. Hanya ada satu alasan agar kau bisa menemukan kekasihmu yang menghilang" ucap Sandi santai dengan senyum tipisnya.
"tapi apa gunanya, tuan jika pernikahan kalian dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa publik mengetahuinya. Ah...atau anda malu karena menikahi wanita yang bukan dari kalangan anda?" ucap sinis Sandi berhasil memantik emosi yang sedari tadi Yashbi pendam.
Bugh
Yashbi memukul wajah Sandi tanpa aba-aba hingga Sandi tersungkur. Sudut bibir berdarah. Sandi hanya tersenyum simpul.
" hentikan!!! "nada tinggi Ashana membuat ketiga laki-laki itu terdiam.
Ashana membantu Sandi berdiri.
Dan masih tetap tatapan Sandi tertuju pada Ashana.
" saat Anzel bersamamu dan menatapmu seperti itu aku tidak sekesal ini. Tapi, saat laki-laki ini berbuat hal sama kenapa aku sangat kesal dan marah sekali" batin Yashbi menatap ke arah Ashana yang membantu Sandi berdiri.
"kau tidak tahu apapun jadi jangan bicara sembarangan atau tidak aku akan merobek bibirmu" ucap Yashbi penuh penekanan.
"apa kau tahu tetangga yang ada disekitaran rumah istrimu ini? mereka setiap hari membicarakan kalian berdua. Harusnya kau sudah tahu apa yang mereka bicarakan. Jangan pura-pura sok bego. Jika mereka hanya membicarakanmu saja aku sama sekali tidak peduli tapi kali ini mereka kelewat batas. Dia membicarakan keburukan yang tidak pernah Ashana lakukan " ucap Sandi merangkul bahu Ashana.
Ashana melihat Yashbi yang emosinya sudah diubun-ubun.
" aku ingin kita bicara. Tidak disini. Ikuti aku" ucap Ashana.
Ashana beranjak meninggalkan Sandi, Doni dan Anzel.
Dari belakang Yashbi mengekori Ashana.
__ADS_1
Dan mereka tiba di halaman belakang rumah ibu Ashana. Terlihat sungai kecil dengan air jernih dan ada beberapa ekor ikan. Terlihat beberapa bukit disertai cahaya yang berasal dari rumah penduduk. Angin berhembus mengibaskan rambut Ashana.