Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Mengingat Kembali


__ADS_3

Yashbi berada dalam kamarnya yang terlihat mewah dan elegan. Dia membanting semua barang yang ada di sekitarnya. Sorot mata yang tajam, nafas tidak beraturan, dada bergemuruh dan pikiran campur aduk membuatnya hilang kendali.


"sial!!!"


Dia melihat sebuah layar di meja kerjanya. Berharap ada kabar baik tentang kekasihnya. Namun, terlihat di tampilan layar ada tulisan "Nothing".


Yashbi melonggarkan kerah bajunya dengan membuka tiga kancing atas. Orang-orang sekitar dua ratus lima puluh orang yang diperintahkan untuk mencari kekasihnya dan memberitahukan setiap hal melalui layar itu dan serempak melaporkan hal sama memberitahukan "Nothing".


Yashbi mengerutkan dahinya mengambil wine dari dalam lemari es di dekat meja kerja seketika langsung meneguknya. Dia melangkah menuju sebuah kotak berukuran besar di atas nakas dan duduk di pinggir ranjang. Membuka kotak ukuran sedang itu dan terlihat gaun pernikahan, seperangkat perhiasa, sepatu heels berwarna hitam, tuxedo dan sepatu pentopel laki-laki . Ya, itu adalah milik kekasihnya dan Yashbi mereka membeli dan memilih bersama saat itu.


Yashbi menatap dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar teringat kenangan bersamanya. Semakin berusaha melupakan semakin melekat erat dipikirannya dan hatinya.


Tok


Tok


Suara ketukan pintu kamar.


"masuk" ucap Yashbi


Seseorang melangkahkan kakinya dengan wajah kaget melihat kondisi kamar acak-acakan seperti tsunami.


"jangan bertanya. Seharusnya kau sudah tahu apa yang kulakukan" ucap ketus Yashbi


"katakan, ada apa?" tanya Yashbi


"tuan, sebaiknya anda ke kantor" ucap seseorang itu dengan nada serendah mungkin


"apa terjadi sesuatu?" tanya kembali Yashbi beranjak dari duduknya, menutup kembali kotak itu


"keluarga kekasih anda mendatangi ruangan kerja anda bukan hanya nona Merisa namun kali ini datang bersama kedua orang tuanya" ucap seseorang itu dengan menundukkan wajahnya


Yashbi menatap tajam dan menghabiskan minuman dalam botol dengan sekali teguk.


"kita pergi" ucap Yashbi dengan keadaan sedikit mabuk


"ta..tapi tuan, keadaan anda?" ucap seseorang itu dengan nada terbata-bata


Yashbi hanya menatap kearahnya dengan tatapan sangat tajam dan dingin.


"jangan membantah atau aku akan melampiaskannya padamu" ucap Yashbi


.


.

__ADS_1


.


.


.


Di dalam cafe Avril...


Morina dan laki-laki itu masih asik mengobrol sementara Avril takut disalahkan jika terjadi sesuatu dengan putri salah satu pelanggan tetapnya dia melakukan sesuatu.


Avril menghampiri meja mereka dan meminta nomor ponsel laki-laki itu.


"tuan, apa boleh saya meminta nomor ponsel anda?" ucap Avril dengan senyum ramah


"untuk apa?" jawabnya ketus


"untuk undian kebetulan cafe ini akan mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahun ke tiga. Siapa tahu anda mendapatkan hadiah dari kami. Tuan tenang saja hadiah yang kami adakan cukup menarik. Ada tiket liburan ke Hawaii, makan dan minum di cafe ini selama enam bulan penuh dan sebuah mobil keluaran terbaru"ucap Avril menyebutkan hal tersebut dengan berat hati


Laki-laki itu terlihat sangat tertarik dan segera menyerahkan nomor ponsel miliknya. Tanpa basa basi lagi Avril meninggalkan meja mereka sambil tersenyum lebar dan berterima kasih.


"polos dan lugu beda tipis dengan bodoh" ucap Avril


Di meja Morina...


"euumphh"


"kau mabuk. Sebaiknya kita pulang" ucap Morina beranjak dari kursi


"kau bisa antarkanku? aku tidak mungkin pulang sendirian dalam keadaan seperti ini" ucap laki-laki itu


"tentu saja. Aku juga tidak tega kau membawa mobilmu sendiri dalam keadaan seperti ini. Kalau terjadi sesuatu aku akan sedih. Aku tidak bisa terima dihari jadian pertama kita kau kecelakaan" ucap Morina


Laki-laki itu ternyata hanya pura-pura mabuk. Dia menggunakan kesempatan saat masih di dalam mobil sementara Morina yang tengah menyetir spontan mendorong tubuh laki-laki itu dan membanting stir saat mengendus curuk lehernya. Perlakukan dari laki-laki tersebut baru kali pertama untuknya.


"sial!!!" ucap laki-laki itu


Morina menyadari jika laki-laki itu hanya pura-pura mabuk firasatnya sudah tidak enak. Berusaha membuka pintu mobil tapi tidak bisa. Sementara di jok kursi sana laki-laki itu tersenyum licik.


"mau ke mana? kau tidak bisa membuka pintu mobil ini. Kau lupa mobil ini milik siapa? hah"


Morina terlihat panik dan cemas berkali-kali menekan tombol unlock namun tidak terbuka juga. Sekilas teringat ayahnya, Yashbi.


"papah" lirih Morina


Di cafe, Avril memberikan pesan berkali-kali untuk Yashbi tapi tidak ada satu pesan yang dibalas ditelpon pun tidak diangkat.

__ADS_1


.


.


.


Di ruangan Yashbi...


Terlihat Merisa dan kedua orang tuanya yang duduk di sofa panjang dan Yashbi duduk di sofa single.


"bukankah aku sudah katakan pada anakmu jika aku sudah melakukan segala cara untuk mencarinya"ucap Yashbi yang menahan rasa pusing berat dikepalanya akibat meminum wine sebotol tadi


" aku tahu kau sudah mengerahkan semua yang kau bisa lakukan, anak muda"ucap si ayah


" bisa saja kau menyembunyikan anak kami. Jadi cepat kembalikan dia padaku "ucap si ibu yang menatap judes ke arah Yashbi


Ibu dari kekasih Yashbi memang tidak menyukai Yashbi karena status Yashbi saat ini yaitu duda beranak satu.


Ibu berdecih meremehkan Yashbi.


" perjalanan kalian lumayan jauh jadi biarkan aku menjamu dengan baik" ucap Yashbi yang tersenyum tipis


Yashbi menghubungi seseorang memerintahkan membawa makanan ringan dan minuman ke ruangannya secepatnya.


"jika kau belum bisa menemukannya maka terpaksa kami akan melaporkanmu karena sudah menyembunyikan putri kami" ucap si ayah


"aku tidak akan melarang apa yang kalian lakukan. Karena menurutku itu hal yang wajar dilakukan oleh kedua orang tua yang menyayangi anaknya. Jika aku diposisi hal seperti ini bisa saja aku melakukan lebih dari ini" ucap Yashbi yang masih tersenyum tipis


"aku tahu perusahaanmu saat ini sedang kolaps jadi biarkan aku membantunya walaupun hanya sedikit" ucap Yashbi kembali dengan menyodorkan selembar cek kosong


Merisa dan kedua orang tuanya tertegun bergantian menatap cek kosong dan juga Yashbi.


"perusahaanku memang sedang diujung tanduk tapi aku tidak mungkin..." ucap si ayah melirik ke arah istrinya


"atau karena terlalu banyak angka yang dipikirkan" ucap Yashbi menyodorkan selembar cek kosong lagi


"jadi aku memberi satu lembar lagi" ucap Yashbi yang menopang kedua kakinya dan dagu dengan satu tangan yang bertumpu ke pinggiran kursi


Seketika mata mereka bertiga berbinar.


"k... kau tidak menipu kami? jika kau menipu kami, bukan hanya akan melaporkanmu atas penculikan tapi juga penipuan


Seketika Yashbi tertawa memegang dahinya.


" hati-hati, tuan dengan ucapanmu. Bisa saja aku yang menuntut balik kalian karena sudah mengancam dan mencemarkan nama baik" ucap Yashbi beranjak berdiri membelakangi mereka bertiga yang masih terduduk

__ADS_1


__ADS_2