Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 76


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, sekitar rumah Ashana yang sudah hancur di police line ada warga dan juga beberapa polisi untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Doni yang berniat berkunjung ke rumah Ashana namun, saat sampai di sana kondisi rumah hancur hanya puing-puing saja. Sangat syok dengan apa yang dia lihat saat ini. Setiap pandangan tidak luput untuk mencari keberadaan Ashana.


"Ashana.... di mana dia? apa dia baik-baik saja?" gumam Doni dengan wajah cemas.


Saat di tengah puing-puing bangunan dari dalam tanah muncullah seekor makhluk dengan wujud burung cendrawasih dengan ukuran besar hingga tanah bergetar.


Burung Cendrawasih menyebarkan bulu-bulunya. Mengenai beberapa warga dan polisi seketika meninggal di tempat. Selain mengenai mereka bulu cendrawasih itu mengenai bangunan rumah lain.


Di lorong rumah dengan posisi duduk Yashbi yang melihat dari layar tablet menyaksikan apa yang telah terjadi.


Yashbi beranjak dari duduknya.


"siapkan tiga buah helikopter"


"ba... baik" sahut Anzel yang segera merogoh ponselnya.


Yashbi mengetahui jika beberapa penunggu rumah atau Watcher akan terbangun akibat bulu cendrawasih itu.


Yashbi mendatangi Ashana.


"aku akan pergi. Kau jangan kemana-mana. Jika butuh sesuatu ada dua orang pengawal di depan kamarmu" ucap Yashbi pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Ashana.


Ashana hanya menghembuskan nafas kasar ya sembari memegangi dadanya.


"manusia aneh, laki-laki aneh dan makhluk hidup teraneh"


Setelah Yashbi keluar dari kamar Anzel, masuk dengan membawa sesuatu ditangannya. Tidak lupa Anzel memberikan senyuman hangatnya dan disambut senyum balik oleh Ashana.


"barusan di ruangan ini terasa dingin sekali"


Anzel mengerutkan dahinya.


"dan sekarang terasa hangat dan adem"


"kenapa? apa ac-nya rusak?" tanya Anzel mengambil remote ac.


"bukan. Sudah tidak perlu dibahas"


"apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Ashana dengan wajah cemberut, bibir mengerucut.


Anzel tersenyum lebar melihat sikap Ashana yang menggemaskan.


"aku ingin memberimu benda ini" ucap Anzel menyodorkan teleskop bintang berukuran telapak tangannya.


"apa ini?" tanya Ashana bingung.


"malam ini akan ada fenomena alam yang sangat indah. Karena terjadi setiap tiga bulan sekali. Anda bisa melihatnya dengan menggunakan alat itu"


"benarkah?" ucap Ashana menatap teleskop tersebut.


"euumph...saat pukul satu pagi anda berdirilah di jendela sana dan arahkan benda ini ke arah kanan. Dan anda akan melihatnya"

__ADS_1


Pandangan mereka saling bertemu. Anzel memberikan senyuman hangatnya.


"kalau begitu saya permisi" ucap Anzel menundukkan kepalanya.


Ashana hanya terdiam


Saat Anzel di ambang pintu. Ashana memanggil namanya.


"Anzel... apa aku boleh memanggil namamu?"


Anzel menoleh.


"tentu saja. Itu lebih baik" ucap Anzel yang berlalu keluar ruangan.


💫💫💫


Di parkiran khusus helikopter, terlihat ada lima belas helikopter milik Yashbi.


Anzel turun dari mobil sementara Yashbi sudah menunggu sedari tadi. Terlihat wajah kesalnya.


"kau membutuhkan waktu cukup lama untuk merayu seorang wanita yang tidak lain sudah memiliki suami"


Yashbi berjalan di depan diikuti Anzel.


"saya tidak mungkin merayu nona Ashana. Saya akan menunggu sampai dia membuka hati untukku dan meninggalkan anda"


Kesal dengan ucapan Anzel. Yashbi berjalan cepat hingga jarak mereka cukup berjauhan. Anzel mengetahuinya jika tuannya sedang menahan amarahnya lebih tepatnya rasa cemburunya.


........


Di tempat Doni, pundak Doni tertancap beberapa bulu makhluk berbentuk cendrawasih. Perlahan tangannya mati rasa dan membusuk hingga mengeluarkan belatung dan darah.


"sial!!!" ucap Doni dengan wajah menahan rasa sakit.


Di dalam helikopter, Yashbi memberikan perintah mencampurkan air dengan sesuatu yang akan disebar. Ya, Yashbi menjadi pilot dia akan menyiramkan air yang sudah dicampur dengan tiga ton garam di sekitar rumah Ashana.


Apa yang sedang terjadi di sekitar rumah Ashana telah diliput stasiun tv. Dan terdengar oleh Sandi yang sedang bersantai di ruangan tengah rumahnya.


"itu kan..." ucap Sandi berusaha meyakinkan.


"benar itu rumah Ashana" ucap Sandi beranjak dari duduknya.


Di dalam helikopter, Yashbi telah menyiramkan seluruh air yang dicampur garam. Dia pindah dari helikopter ke helikopter lainnya. Pekerjaan seperti ini memang harus dia sendiri yang turun tangan.


Di helikopter terakhir, Yashbi bertukar tempat dengan Anzel. Yashbi membuka pintu helikopter dan menurunkan tali tangga.


"Doni... apa kau sudah siap mati? jika memang iya aku akan segera pergi tanpa menunggumu"


Doni melihat sekitar yang masih ramai dengan warga dan polisi karena beberapa dari mereka mati secara mendadak. Ya, warga dan polisi tidak dapat melihat cendrawasih dan apa yang dilakukan cendrawasih itu. Mereka hanya bisa melihat rumah Ashana yang telah hancur akibat ledakan.


Doni menaiki tali tangga setelah menaiki helikopter. Yashbi turun ke daratan.

__ADS_1


"kalian pulanglah terlebih dahulu. Dan kau Doni... aku akan segera mengobati tanganmu. Itupun jika tidak terjadi hal lebih buruk lagi. Apa kau bisa bertahan?"


Di dalam helikopter tercium bau yang nyengat yang berasal dari tangan Doni.


"pakailah ini" ucap Yashbi menyodorkan masker yang harganya jutaan.


"jika terlalu lama menghirup baunya nafas kalian akan terputus" ucap Yashbi sambil mengisyaratkan kematian.


Doni dan Anzel terlihat cemas dan takut.


"bawa dia ke ruangan itu"


"baik" sahut Anzel.


Yashbi turun dari helikopter dan menghampiri cendrawasih yang berdiri mematung akibat air garam tadi.


Yashbi sengaja menyiramkan air garam itu ke tubuh Cendra dengan jumlah banyak.


Cendrawasih tidak menyadari keberadaan Yashbi karena Yashbi sebelumnya memakan coklat yang dicampur dengan ramuan yang dibuat olehnya.


Jika tidak memakan coklat itu cendrawasih sudah pasti akan menyerang helikopter.


Cendrawasih dan Yashbi saling berhadapan.


"selamat datang, makhluk indah" ucap Yashbi dengan senyum mengembang.


"tunggu jangan bergerak sedikitpun. Aku akan bicara dengan mereka terlebih dahulu"


Beberapa polisi berajalan ke arah Yashbi. Dan warga bisik-bisik membicarakan Yashbi.


"bagaimana kerja kalian? sudah membuahkan hasil?" tanya Yashbi.


"sudah, kami tidak mempekerjakan mereka lagi di tempat itu sesuai perintah anda"


Maksudnya tempat itu adalah wilayah yang dimiliki orang tua Lani. Sebagian besar wilayah dijadikan pembuatan bom.


"kalian tahu tugas kalian selanjutnya?" tanya Yashbi tegas dan menatap nyalang.


"ya, tuan"


"jawab! apa yang harus kalian lakukan?"


"kami harus membuat ledakan dalam skala besar seolah-olah ledakan itu adalah kecelakaan dalam bekerja"


"good job. Kalian tidak sia-sia naik jabatan secepat ini"


"ingat. Tempatnya saja yang kalian hancurkan. Jangan ada korban jiwa. Aku tidak menginginkan hal itu"


Di atas sana seseorang memperhatikan Yashbi.


"kau bukan hanya pintar tapi juga kejam, Yashbi. Aku semakin menyukaimu. Aku akan segera membawamu ke tempatku. Dengan begitu kita akan memiliki keturunan yang memiliki kekuatan jauh lebih kuat daripada makhluk lainnya. Dan tidak akan terkalahkan oleh siapapun "

__ADS_1


__ADS_2