Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 57


__ADS_3

Di dapur, Ashana membuka bungkus makanan itu dalam waktu bersamaan di kamar Morina, Morina yang kala itu masih menutup matanya mendengar bungkus makanan miliknya di buka seseorang dia segera membuka mata dan beranjak dari kasur melangkahkan kaki menuju arah suara itu. Langkah terburu-buru.


"siapa yang sudah berani membuka makananku?" ucap Morina sepanjang lorong menggerutu. Ya, Morina akan marah jika seseorang berani mengambil makanannya. Khususnya makanan yang sedang di makan Ashana. Karena itu makannya favorit Morina tapi Yashbi melarang keras memakannya dengan alasan tidak higienis. Hal sekecil apapun Yashbi selalu memperhatikan jika menyangkut tentang anaknya, Morina.


Dengan sigap tangan Morina mengambil bungkus makanan yang dipegang Ashana. Sontak Ashana kaget.


"apa yang kau lakukan? siapa yang mengijinkanmu memakan makanan ini?" ucap Morina kesal. Padahal kondisi Morina masih lemah.


"eng... itu... anu...aku"ucap Ashana terbata tidak mampu memandang ke arah Morina. Menurut Ashana Morina sama halnya dengan Yashbi. Memiliki aura menakutkan.


" ma... maaf aku tidak bermaksud... "


Morina menilik cara berpakaian Ashana.


" pantas saja. Kau pelayan baru di rumahku. Papah yang mengijinkanmu? sudah ratusan kali di tahun ini dia memecat pelayan di rumah ini. Sebenarnya apa yang dia inginkan"


"lain kali jangan seenaknya. Kau di sini hanya pelayan ingat itu" ucap Morina mendekatkan wajah pada Ashana.


Morina beranjak melangkah meninggalkan Ashana.


Ashana menghela nafasnya kasar.


"kelakuannya sama-sama menyebalkan dengan laki-laki itu" gumam Ashana.


"papah? siapa? Apa mereka ada hubungannya? Ah... aku tidak peduli" ucap Ashana mengedipkan bahunya.


"tidak peduli dengan siapa?" suara bariton terdengar jelas di belakang Ashana.


Ashana menoleh dan memasang senyum paksa.


"ikut denganku"


"a... apa?"


"kau mendadak tuli? cepat ikut denganku!" ucap Yashbi dengan penampilan berbeda memakai baju santai.


Yashbi membawa Ashana ke kamar Morina.


Morina masih terlihat tidur terlentang


Yashbi tersenyum hangat ke arahnya.


Ashana melihat Yashbi berbeda sekali dari sebelumnya.


" aku tahu kau hanya berpura-pura. Bangunlah" ucap Yashbi mengelus pipi Morina.


Morina menggeliatkan badannya.


"papah badanku lemas. Apa terjadi sesuatu denganku?" ucap Morina beranjak dan duduk di sandaran ranjang.


"kau hanya sedikit tidak enak badan. Hari ini kau tidak perlu berangkat sekolah" ucap Yashbi merapihkan rambut anaknya.


Terlihat jelas sekali sikap Yashbi yang sangat perhatian terhadap anaknya.


Morina menatap ke arah Ashana.


"oh ya. Papah kenalkan dia pelayan baru di rumah ini. Dia akan mengurus semua kebutuhanmu"


Yashbi menatap Ashana.


"selamat siang, nona. Perkenalkan nama saya Ashana. Mohon bantuannya untuk saat ini dan seterusnya" ucap Ashana sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


"pelayan baru atau pacarmu?"


Yashbi mengerutkan dahinya.


"papah, kenapa kau memilih pelayan yang masih berumur muda? apa kau tidak lihat dia memiliki umur dan ukuran badan tidak jauh beda denganku. Euumphh... kau tertarik padanya?" ucap Morina menatap ayahnya dengan intens.


Yashbi menghela nafas dengan kasar.


"dengar, mana mungkin aku tertarik dengan gadis muda dan terlihat ceroboh sepertinya. Kau tahu bukan bagaimana selera papahmu ini" ucap Yashbi mengangkat satu alisnya.


Deugh


"ya sejauh ini papah menepati janji. Tidak akan menikah lagi. Janji kita sepertinya masih terjaga dengan baik. Aku bangga denganmu, pah" ucap Morina terlihat senyum lebar dia berikan untuk Yashbi.


Ashana hanya terdiam mematunga memperhatikan keakraban mereka. Memberanikan diri untuk ijin keluar dari kamar itu yang menurutnya seharusnya dia tidak berada di sana. Ashana semakin sadar posisinya saat ini. Senyum getir terlihat di wajahnya yang sedari tadi menahan lapar.


Tangan Morina terulur memberikan makanan tdai yang sempat di buka Ashana.


"ambil lah. Kau terlihat lapar. Aku tidak mau di rumah ini ada yang mati karena kelaparan" ucap ketus Morina


Ashana meraih makanan dari tangan Morina.


"te... terima kasih" ucap Ashana terbata.


Yashbi menyaksikan interaksi mereka.


"kalian sudah bertemu?"


"ya, baru saja saat aku pergi ke dapur"


"euumphh jadi semakin yakin sedari tadi kau hanya pura-pura tidur dan aku akan memberi hukuman untukmu karena masih menyimpan makanan tidak sehat. Hukuman apa sebaiknya?" ucap Yashbi terlihat berpikir dan kemudian mencolek hidung mancung Morina.


Mereka pun saling bercanda satu sama lain tanpa memperdulikan keberadaan Ashana.


Ashana karena tidak mau menjadi penonton untuk mereka. Dia pun mendendap-endap keluar dari kamar itu. Dan langkahnya terhenti di lorong tepat di sebuah jendela besar yang menghadap ke sebuah danau buatan.


"indah sekali" ucap Ashana sembari memakan makanan yang diberikan Morina.


Hembusan angin yang berasal dari jendela yang terbuka membuat rambut Ashana terkibas ke belakang. Yashbi dari arah pintu kamar melihatnya dan terpukau. Sekilas Ashana terlihat sangat cantik di matanya.


"aku akan menunjukkan kamarmu" ucap Yashbi melintas di belakang Ashana.


Ashana mengekori Yashbi.


Mereka pun tiba di sebuah kamar yang lumayan luas. Tidak berhentinya Ashana memuji ruangan yang akan menjadi kamarnya sendiri.


"kau lakukan tugasmu dengan benar. Dan ingat kau di rumah ini hanya pelayan tidak lebih" ucap tegas Yashbi.


"ba... bagaimana perjanjian itu? apa kau sudah membacanya?" tanya Ashana dengan perasaan takut.


"perjanjian?"


"ya, aku sudah menulisnya dan berada di meja ruangan saat pertama kali aku masuk"


"itu ruang kerjaku. Baiklah aku akan membacanya dan pasti akan memenuhi semua yang sudah kau tulis di kertas itu"


Yashbi membalikkan badannya dan langkahnya terhenti kala itu Ashana memegang lengan kekarnya.


"tu... tunggu. Apa aku masih bisa sekolah, bukan?sayang sekali jika aku harus berhenti" ucap Ashana pandangan mereka bertemu. Mata Ashana mengisyaratkan penuh harap.


"kau sudah mendengarnya sopirku. Jadi tidak perlu aku mengulanginya"

__ADS_1


"ya aku tahu itu" ucap Ashana yang terlihat kikuk.


"lalu?"


"aku ingin minta sesuatu. Ini untuk terakhir kalinya"


Yashbi memijit pangkal hidungnya.


"aku tidak ingin di antar jemput sekolah dengan mobil mewahmu. Jadi apa ada kendaraan yang lebih sederhana dan tidak mencolok?" ucap Ashana menahan malunya. Karena baru kali ini dia meminta sesuatu terhadap orang lain.


"kendaraan apa yang kau inginkan, Ashana?" ucap Yashbi pandangan mereka saling bertemu.


Ashana menggigit bibir bawahnya.


"sepeda motor. Ya, sepeda motor lebih praktis dan saat macet akan teratasi jadi meminimalisir aku datang telat ke sekolah"


"baiklah akan aku turuti"


Ashana tanpa disadari memeluk Yashbi dan mengucapkan terima kasih.


"terima kasih, terima kasih banyak. Aku sangat khawatir sekolahku akan terhenti mengingat jarak dari rumahmu ini cukup jauh" ucap Ashana yang masih memeluk tubuh kekar Yashbi.


Beberapa saat kemudian...


"sampai kapan kau akan memelukku seperti ini?" tanya ketus Yashbi.


Ashana segera tersadar dan melerai pelukkanny.


"maaf, kusangking senang aku tidak menyadari apa yang kulakukan" ucap Ashana terbata. Takut Yashbi memarahinya.


Tok


Tok


Tok


Seseorang mengetuk pintu kamar.


"biar aku saja yang membukanya" ucap Ashana berjalan melewati Yashbi.


Yashbi baru menyadari jika rok yang dipakai Ashana terbilang pendek.


Yashbi secepat kilat membuka pintu itu dan berdiri di depan Ashana yang dikagetkan tiba-tiba kemunculan Yashbi.


Ternyata sopir yang mendatangi mereka.


"ada apa?" tanya ketus Yashbi.


"saya mau melaporkan barang-barang eloktronik di rumah ini secara keseluruhan sudah diganti"


"baguslah. Pembayarannya lakukan seperti biasa, pak tua. Kau tidak lupa, bukan?"


"tidak, tuan"


"apalagi? apa ada yang harus kau sampaikan lagi selain itu?"


"sekitar jam tiga sore anda harus melakukan meeting, tuan"


Yashbi menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak gatal.


"kau gantikan saja aku. Tidak mungkin berpenampilan seperti itu. Jadi sebaiknya kau membeli pakaian baru dan ubah penampilanmu. Bukan maksudku mengatakannya jika kau jelek tapi memang saat ini kau terlihat seperti itu. Sudahlah lakukan saja apa yang kukatakan barusan"ucap Yashbi menyilangkan kedua tangannya di dada bersandar ke kusen pintu.

__ADS_1


"apa aku terlihat setua itu, tuan?" ucap sopir merogoh cermin dari dalam saku celananya.


"ya kau tua sebelum umurnya" ucap Yashbi yang berjalan melangkah meninggalkan mereka.


__ADS_2