Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 74


__ADS_3

Ashana dan Anzel tiba di daun pintu kamar kondisi rusak.


Pandangan mereka saling beradu. Anzel tahu persis apa yang dipikirkan Ashana.


"tidak perlu khawatir. Sudah kukatakan jika itu hanya binatang buas"


Anzel berusaha meyakinkan Ashana.


"tunggu di sini. Aku akan mengambil alat untuk menghajarnya" ucap Ashana yang tampak kesal, menggerutu karena melihat kondisi rumahnya berantakan.


Anzel yang menyaksikan tingkah Ashana tertawa geli sembari melihat punggung Ashana yang semakin menjauh.


Anzel menggunakan kesempatan perginya Ashana dengan menghubungi bawahannya.


"kerja kalian memang payah. Kuberi tugas hal kecil saja kalian tidak mampu. Aku memecat kalian yang bertugas kemarin. Untuk uang kalian tidak perlu khawatir aku sudah mengirimnya. Aku tidak ingin merasa bersalah karena mendengar anak istri kalian menderita akibat kerja kalian yang tidak becus"ucap Anzel memutuskan panggilan secara sepihak.


Beberapa saat kemudian, Ashana datang menghampiri Anzel yang masih berdiri di daun pintu dengan membawa tongkat bisbol dan teplon.


Anzel menaikkan satu alisnya.


"apa yang akan kau lakukan?"


"tentu saja menghajarnya. Binatang buas itu pasti ada di dalam kamarku. Hanya halaman depan dan kamarku yang terlihat tidak baik-baik saja"


Mau tidak mau Anzel hanya menurut saja. Percuma berdebat dengan Ashana yang terlihat waspada dengan sekitar. Anzel teringat saat mereka masih kecil dulu.


"kau berada di belakangku saja. Bagaimana pun aku bertanggung jawab atas keselamatanmu" ucap Anzel yang mulai berjalan masuk ke dalam kamar diikuti Ashana dengan mengedarkan pandangannya.


Lani dan Morina berada di dalam Cafe Holly. Di layar cctv yang terhubung dengan ponselnya Lani, memperhatikan mereka. Sesekali terlihat Lani tersenyum licik.


"ada apa? kau sedang menonton acara?" tanya Morina heran.


"tidak. Kau tidak perlu tahu. Ini urusanku"


"baiklah" ucap Morina lesu.


"seharusnya kita jangan bertemu jika kau ingin menikmati waktumu sendirian" ucap Morina kesal karena Lani masih saja terpaku dengan layar ponselnya.


"ada apa denganmu? urusanku bukan hanya denganmu saja. Aku sudah dewasa dan memiliki duniaku sendiri" ucap ketus Lani dan membuat Morina tertegun.


Morina jika Lani terlihat berbeda. Jika sebelum bertemu lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol di sosial media Lani memiliki kesan ramah an baik berbanding terbalik dengan Lani yang ada di hadapannya saat ini. Morina merasa sedikit kecewa namun dia menepis rasa itu mungkin Lani belum terbiasa dan memakluminya ini pertemuan pertama mereka.


Morina melihat apa yang ditonton Lani dengan ekor matanya karena penasaran. Kedua mata Morina membuat sempurna kala melihat sekilas Ashana dan Anzel.


"apa yang mereka sedang lakukan?"gumam Morina yang terdengar jelas oleh pendengaran Lani.


Lani menoleh ke arah Morina.

__ADS_1


"kau mengintipnya. tidak sopan"ucap Lani menyadari tujuannya saat ini adalah melakukan pendekatan dengan Morina. Berharap Yashbi akan jatuh menjadi miliknya.


Sesaat Lani menyimpan ponselnya di dekatnya.


"apa kau ada masalah,gadis cantik?"tanya Lani merayu.


Mendengar kalimat pujian untuknya membuat Morina merasa senang. Lani hanya tersenyum simpul melihatnya.


"alur sedang tidak ingin berada di rumah dan bertemu dengan papahku"


Lani mendengarkan dengan pandangan pokus pada Morina.


"papahku membawa seorang pelayan,pelayan wanita dan sialnya dia sangat cantik. Membuatku iri dan takut. Takut jika suatu hari nanti papahku akan meninggalkanku demi untuk wanita lain"


mendengar ucapan Morina sedikit membuat Lani kesal.


"aku tidak mau hal itu terjadi. Bagaimanapun mamahku yang tidak akan pernah tergantikan"


Mendengar ucapan itu membuat Lani kesal sekaligus sebuah kesempatan untuk menyingkirkan Ashana. Lani berpikir apa Morina mengetahui status Ashana ?.


"kau tidak perlu khawatir dengan hal yang belum tentuterjadi. Papahmu,Yashbi pasti melakukan yang terbaik untukmu"


Morina hanya tersenyum tipis.


"sebenarnya untuk beberapa waktu aku merasa senang karena wanita itu menghilang hingga saat ini "


"wanita yang selalu menemaninya dua tahun ini. Entahlah berapa lama mereka bersama. Aku lupa karena tidak begitu memperdulikannya. kau tahu,hubungan mereka sangatlah dekat bahkan sebelum menghilang wanita itu mereka berencana menikah"ucap Morina dengan tangan memainkan gelas yang ada di atas meja.


Lani ketinggalan satu langkah dari Yashbi. Dia merasa besar kepala karena mengetahui tentang Yashbi hingga keseluruhan. Namun, kenyataannya tidak. Lani mengepalkan tangan. Dan juga selama komunikasi melalui jejaring sosial Morina sama sekali tidak pernah membahas wanita tersebut.


"berarti selama ini aku banyak bicara dengannya hanya membicarakan tentang dirinya sendiri"batin Lani menatap tajam Morina.


Morina mengetahui jika Lani menyukai papahnya,Yashbi dan menyetujuinya walau baru mengungkapkan dalam hati.


Mereka dihampiri tiga orang pemuda dan pemuda itu menganggunya. Lani tanpa disadari menyuruh pemuda itu untuk mendekati Morina adanya jang menganggur dirinya dengan alasan dia sudah memiliki kekasih dan kekasihnya itu kejam tidak mengenal ampun. Tanpa berpikir lagi seorang pemuda mendekati Morina dengan tatapan genit membuat Morina merinding.


"kenapa tante Lani menyuruh mereka datang padaku?"tanya Morina cemas.


Lani bergeming dia menatap Morina dengan tatapan datar. Sementara Morina menatapnya dengan tatapan memohon agar pemuda itu menjauh darinya karena sudah menyentuhnya.


"pergilah!"bentak Lani.


"aku bilang kalian pergi ya,pergi"ucap Lani beranjak dari duduknya.


Di sini Lani menahan amarahnya terhadap Morina perihal wanita yang tadi diceritakan. Wanita yang sama sekali dia ketahui.


"nona jangan seenaknya. Tadi kau mengatakan jika kami boleh mendekatinya. Jadi kami tidak bisa pergi begitu saja"ucap salah seorang pemuda

__ADS_1


"hah...apa yang kalian inginkan selain wanita yang menemani kalian tidur?laki-laki rendahan seperti kalian jangan berharap bisa mengenai wanita seperti kami apalagi menaikannya ke atas ranjang kotor kalian"ucap Lani dengan nada tinggi dan nafas tererngah-engah.


Dengan brutal Lani menghantam salah satu kepala mereka dengan botol minuman yang berada di atas meja.


"sudah kukatakan pergi ya,pergi"


Orang-orang menghampiri dan melerai mereka.


Lani sudah melampiaskan amarahnya yang memuncak terhadap Morina terhadap pemuda barusan.


Morina dengan posisi berada di belakang Lani dia,memegang kedua bahu Lani.


"sudah. Ayo kita pergi dari sini"ucap Morina yang polos dan bodoh padahal sebelumnya dia sempat dilecehkan karena ulah Lani tapi dia,tetap bersikap baik.


Lani menoleh dengan tatapan dingin ke arah Morina. Mereka pun pergi dari Cafe itu.


"aku ingin ke toilet"ucap Lani yang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Morina.


Di waktu yang bersamaan, Ashana berada dalam kamarnya yang kondisinya berantakan. Dia memasukkan beberapa pakaian danbuku-bukuke dalam tas pakaian.


"sudah aku katakan di tempat ini tidak ada binatang buas meskipun tempat ini terpencil jauh dari kota"


Anzel merasa jika Ashana terlihat lucu jika sedang mengomel.


Anzel mengedarkan pandangan ke setiap sudut dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Pandangannya tertuju ke sebuah benda kotak hitam berukuran speaker portable. Dia mendekati benda itu dan meraihnya.


Seketika Anzel membulatkan kedua matanya sempurna. Bergegas menarik lengan Ashana dan berlari. Karena pergerakan lambat Anzel menggendog Ashana ala bridal style dan melompat ke pintu keluar.


Dwaaarrrr


Sebuah bom meledak.


Anzel menutupi tubuh Ashana dibalik tubuhnya karena percikan api.


Uhuk


Uhuk


"kau tidak apa-apa?"


"aku...aku baik..."ucapan Ashana terhenti karena matanya mulai terpejam.


Ashana mengalami syok hingga hilang kesadaran.


Anzel terlihat jelas sekali panik dan khawatir dengan kondisi Ashana. Dia segera menghubungi anak buahnya dan Yashbi namun,tidak ada jawabn.


Perasan Anzel terhadap Yashbi semakin memuncak kesal. Mengingat sikapnya terhadap Ashana dan sekarang terlebih lagi kondisi Ashana saat ini.

__ADS_1


"saat tiba waktunya aku akan memberimu sedikit penyesalan"batin Anzel segera beranjak dan memasukkan Ashana ke dalam mobil yang saat ini sudah ada di dekatnya.


__ADS_2