
Anzel sudah bisa menebak reaksi yang diberikan Yashbi padanya. Dia hanya tersenyum tipis tapi tidak terlihat.
"dari awal pertemuan kita tempo lalu sebagian aku yang mengaturnya. Bisa dikatakan aku menipumu selama ini"
Deugh
"kau memang sudah seharusnya bukan lagi seorang Dewa" ketus Yashbi yang terlihat kilatan dimatanya.
"bagaimana kau bisa membunuh seorang manusia dengan mudah. Seharusnya sedari awal aku tidak melakukannya. Melakukan permohonan dan berharap pada Dewa sepertimu"
Yashbi beranjak menatap tajam Anzel.
Zeys yang memperhatikan mereka sudah tahu apa yang Anzel inginkan saat ini.
"apa kau benar-benar akan melakukannya?"
"jangan banyak bicara"
"ya lakukan saja sesukamu. Tapi kau harus ingat aku bisa saja..." ucapan Zeys terhenti.
"sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara jika masih belum menginginkan mereka tahu siapa kau sebenarnya"
Zeys tersenyum smirk.
Ashana mendekati Yashbi dia berusaha untuk menenangkannya. Terlihat jelas saat itu kacau. Bagaimana tidak Karmellita yang hilang dan Yashbi percaya jika istrinya itu masih hidup baru melihat beberapa detik saja harus mati didepan matanya. Mati oleh orang yang dekat dengannya selama ini.
Yashbi dengan kasar menepis tangan Ashana. Ashana hanya menatap nanar Yashbi ingin sekali mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Namun, jika dia mengatakan yang sebenarnya ada resiko yang harus dia tanggung yaitu menghilang seketika.
Ashana yang terikat janji dengan Zeys jika dia akan mengatakan siapa dirinya saat merasakan suasana keluarga kecil yang dia impikan saat masih hidup. Menjadi istri sekaligus ibu. Impian setiap perempuan di dunia manusia.
Zeys yang sangat menghargai keberadaan perempuan dia tanpa ragu mewujudkan keinginan Ashana yang tidak lain adalah Karmellita. Tapi dengan syarat jangan mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya jika sampai terjadi saat itu juga akan hilang seketika dan ketika kau mengingat siapa dirimu sebenarnya sudah pasti waktu yang diberikan akan segera habis. Yang dimaksudkan waktu adalah umur.
__ADS_1
Ashana saling beradu pandang dengan Zeys.
"kau bodoh Yashbi" gumam Anzel.
Yashbi yang memandangi wajah Karmellita yang berada dipangkuannya. Dia membelai rambut, wajah dan bibirnya.
Ashana hanya terdiam terpaku. Hatinya ingin sekali mengatakan jika Karmellita bukan dia tapi ini disini yang sedang berdiri terpaku layaknya orang bodoh.
Silfa menatap Ashana merasa ada yang aneh. Pandangan Ashana terlihat sangat sedih.
Silfa teringat saat bentuk lain Yashbi yang menyelamatkan Ashana di sekolah tempo lalu. Wujud yang akan dia tunjukkan pada orang yang dicintainya. Bahkan, saat Karmellita masih hidup Yashbi tidak menunjukkan wujudnya itu. Itu yang diketahui Silfa.
"bagaimana keadaanmu?" tanya Anuya dengan terbata. Mengejutkannya.
"aku sudah baik-baik saja" ucap Silfa tersenyum kaku
"bagaimana orang tuamu? sepertinya..." ucapan Anuya terhenti.
Saat Anuya menanyakan hal itu Silfa segera menarik lengan Anuya. Silfa lupa maksud tujuan awal berada di tempat itu.
"tenanglah. Aku akan membantumu"
Silfa terus menarik lengan Anuya.
"apa kau bisa berhenti menarik lenganku? hei"
Silfa pokus dengan pikirannya yang membayangkan hal buruk terjadi terhadap kedua orang tuanya.
Anuya membalikkan tubuh Silfa terlihat jelas wajah Silfa yang cemas dan mata yang berkaca-kaca.
"tenanglah. Aku pastikan kedua orang tuamu baik-baik saja"
__ADS_1
"benarkah?"
Jarak dari tempat mereka menuju rumah Silfa lumayan jauh. Jadi Anuya melakukan teleportasi. Beberapa saat mereka tiba di rumah Silfa tepat di kamar Silfa.
________
Baru kali ini Anuya memasuki kamar seorang perempuan.
Saat membuka pintu kamar....
Terlihat bercak cukup banyak di lantai.
Deugh
Silfa bergegas ke kamar dimana ibunya berada tapi tidak ada siapapun. Lalu, dia berlari ke kamar ayahnya sama pula tidak ada siapapun.
Anuya yang tahu keberadaan mereka. Anuya berada di dapur terlihat kedua orang tua Silfa bersimbah darah.
Tak lama kemudian Silfa berdiri disampingnya. Silfa menutup mulutnya dengan tangannya kusangking terlalu kaget melihat apa yang terjadi terhadap kedua orang tuanya.
Anuya mendekati kedua mayat kedua orang tua yang tergeletak diatas lantai.
Silfa terduduk lemas diatas permukaan lantai.
"ini... pembunuhan" celetuk Anuya dan menyadari jika kedua orang Silfa belum benar-benar mati.
Anuya mengedarkan pandangannya. Tangannya meraih pisau yang berada didekat kompor. Anuya merapalkan mantra lalu melemparkan pisau itu kearah tembok.
Jleb
Perlahan terlihat seseorang yang bersembunyi ditembok itu.
__ADS_1
Dia adalah Avril.
Apa hubungannya Avril dengan keluarga Silfa?.