
Ashana berjalan sambil sesekali meniup permen gulali yang dibelikan Sandi tadi. Tidak luput wajahnya selalu tersenyum lebar menandakan senang. Dia tidak berniat untuk kembali pulang ke rumah karena menurutnya itu bukanlah rumah melainkan sebuah neraka setiap waktu harus selalu patuh dengan ucapan ibunya tanpa memperdulikan pendapatnya.
"aku tidak ingin pulang dulu" Ashana menghitung uang yang tersisa
"ck! semiskin ini. Uangku hanya sisa empat puluh tiga ribu" kesal Ashana
Ashana berpikir kerasa sambil berjalan cukup jauh dari kerumunan langkah kakinya tanpa sadar menuntun ke tempat sepi dan tenang. Melihat sebuah bangku panjang kosong menghadap ke arah pemandangan kota. Dia bergegas duduk merebahkan badannya ke bangku menghela nafas kasar.
Drrttt
Drrttt
Notifikasi ponsel Ashana
Sandi: Ash, aku harap kamu baik-baik saja selama aku pergi. Jangan lupa ucapanku yang terakhir tadi. Jangan makanan pedas saat ada masalah lebih baik selesaikan. 🐣
"hah, kenapa anak itik?" tanya dalam hati Ashana
Ashana hanya membaca pesan yang dikirim Sandi
"tempat ini aku sangat menyukainya baru tahu jika ada tempat seperti ini" Ashana celingak celinguk memastikan saat ini dia berada di mana
Pandangan matanya menikmati kota malam sambil memakan gulali sesekali tersenyum tipis. Ashana merasa pupus harapan saat mengingat harus menikah dengan seorang duda beranak satu dia berpikir jika dirinya wanita tidak laku. Miris. Merelakan masa depannya untuk ibunya sendiri yang akan menikahi pria jauh lebih muda.
Tepat di belakang Ashana berdiri seorang laki-laki menjulang memasukkan kedua tangan ke dalam kantong saku celananya.
"apa kau menikmatinya?" ucapnya
Ashana segera menoleh dan benar saja ada seseorang yang tidak lain adalah Yashbi
"kau... kau tahu aku ada di sini?" tanya Ashana bingung bagaimana bisa Yashbi posisinya
__ADS_1
Seketika tubuh Ashana sama seperti sebelumnya layaknya robot dalam tubuh Ashana berusaha berontak namun seperti ada cengkraman yang begitu kuat. Dahinya yang sedikit berkeringat menandakan dia sedang melawan sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Yashbi hanya tersenyum dan duduk di samping Ashana.
"apa laki-laki tadi pacarmu?" tanya Yashbi
"bukan urusanmu" jawab Ashana dengan nada pelan seperti ketakutan
"euumphh... sebaiknya kau jangan berurusan lagi dengannya dia bukan jodohmu" ucap Yashbi memandang ke arah kota malam
"hah, jodoh? katakan saja apa yang kau inginkan" Ashana memberikan diri untuk bertanya
"kalau begitu aku ingin pernikahan kita dipercepat" ucap Yashbi santai
"besok?" kaget Ashana
"ya besok aku tidak suka menunda waktu" ucap Yashbi sambil menoleh ke arah Ashana yang jelas tidak menerima keputusan secara tiba-tiba
"aku tidak perlu bertanya pendapatmu karena akhirnya aku yang memutuskan" ucap Yashbi angkuh dan sombong
"lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan melawanpun percuma" ucap Ashana pasrah, pandangan mengadah ke atas langit
"di dalam hidupku tidak ada yang namanya kebebasan bahkan jika bisa mereka ingin sekali mengatur nafasku" ucap Ashana
"besok kita menikah aku hanya ingin tahu alasanmu kenapa setuju menikahiku?" tanya Ashana
"aku laki-laki dan aku normal membutuhkan kebutuhan biologis. Dan menginginkan seorang anak itu saja alasanku" ucap Yashbi
Tubuh Ashana kembali kaku setiap kalimat yang keluar dari mulut Yashbi seperti mantra hipnotis.
"kenapa kau bercerai dengan istrimu? Kenapa mimilihku padahal di luar sana pasti banyak yang menyukaimu?" tanya kembali Ashana
Mobil patroli terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
"sebaiknya kita pergi ke tempat lain jika mereka menemukan kita pasti ditangkap dan dituduh pasangan mesum berduaan di tempat sepi seperti ini" usul Yashbi
Ashana beranjak berdiri menandakan menyetujui ke mana tempat yang akan didatangi.
Mereka berjalan bersisian. Ashana masih meniup sesekali gulali yang masih dipegangnya.
Sebuah kedai sate tidak jauh dari tempat sebelumnya dan mereka akhirnya melanjutkan obrolan tadi di kedai sate itu. Mereka mendudukkan pantatnya di kursi yang sudah disediakan.
"aku akan sedikit menceritakan kenapa aku bercerai dengan istriku karena dia berkhianat. Aku tidak akan memaafkan pasangan yang sudah berkhianat di dalam rumah tanggaku. Sebesar apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya dan tergantung bagaimana cara kita mneyikapinya" Yashbi menunjuk ke arah otaknya sendiri
"di sini, organ dalam kepala ini sangat berperan besar saat akan berucap ataupun bersikap" ucap Yashbi
"aku memilihmu karena aku sedang mengalami masalah dengan pacarku yang tadinya akan aku nikahi namun dia pergi menghilang begitu saja" ucap Yashbi tanpa ada merasa bersalah sedikitpun saat menceritakan hal tersebut
Ashana yang tadinya merasa terpukau mendengar alasan berpisah dengan istrinya namun wajahnya datar ketika mendengar alasan menikahinya. Bagaimana tidak, jadi Ashana dijadikan pelampiasan oleh duda anak satu yang ada dihadapannya ini.
Ashana kembali merasakan gejolak dalam dirinya mengingat dan berpikir keras tentang kehidupannya.
"apa kau sudah mencarinya?" tanya Ashana
"sudah. Aku bahkan menginterogasi teman-temannya tapi tidak ada jawaban yang aku inginkan" jawab Yashbi enteng
"lalu kau menikah denganku hanya untuk mendapatkan seorang anak saja?" tanya kembali Ashana
"ya setelah itu lakukan saja apa yang kau inginkan" jelas Yashbi
"bagaimana jika aku tidak kunjung hamil?" tanya Ashana dengan mengenal nafas
"kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Sebelumnya sudah aku katakan jalani saja sesuatu yang ada di depan mata jangan berpikir terlalu jauh" ucap Yashbi dengan senyum tipisnya
Lagi, lagi Ashana tidak bisa membantah setiap ucapan yang keluar dari mulut Yashbi.
__ADS_1
Pengunjung mulai berdatangan. Suasana kedai itu mulai sedikit ramai.