
Di rumah Yashbi...
Morina yang seorang diri hanya ditemani beberapa pengawal tiga orang berada dalam rumah, tiga orang lagi berada dihalaman depan rumah.
Para pengawal yang dalam kondisi pingsan karena perbuatan seseorang yang tidak lain adalah Clara.
Saat ini, Clara dan Morina berada di dalam kamar Morina.
"kau... kau..." ucap Morina dengan wajah cemas. Karena seluruh tubuh Morina merasa merinding dan dingin.
Clara tersenyum simpul.
"kau sudah tahu aku, kan. Jadi tidak perlu aku mengenalkan diri lagi"
"sepertinya kau pandai menjaga rahasia nona kecil"
"rahasia? apa maksudmu?" ucap Morina heran.
Tatapan mereka saling beradu dan seketika Morina teringat dimana kejadian dia bertemu Clara yang sedang digerayangi oleh investor-investor perusahaan Yashbi.
Bukan investor ecek-ecek. Laki-laki yang bersama Clara saat itu adalah investor yang kaya bahkan bisa dikatakan sama kayanya dengan Yashbi.
Clara dapat mengetahui bau tubuh manusia yang memiliki banyak uang. Hanya dari mencium baunya saja. Oleh karena itu dia memperalat Anuya untuk melakukan persembahan dan pemujaan dengan menggunakan manusia yang memiliki banyak uang.
"saat aku melakukannya dengan mereka. Aku merasa sekali tidak nyaman. Tapi manusia terutama perempuan sangat menyukai diperlakukan seperti itu oleh manusia yang bernama laki-laki. Menj*j*kan" ucap Clara.
"tapi... bagaimana jika aku melakukannya dengan Yashbi, ayahmu? Pasti rasanya beda sekali dengan mereka" ucap jelas Clara membuat Morina bingung.
"kau akan segera memiliki seorang adik. Adik dengan jumlah banyak mengalahkan jumlah penduduk dikota ini"
Morina membalikkan badan dan naik keatas kasur. Karena dia memang tidak mengerti apa yang diucapkan Clara. Dan untuk kejadian menemukan Clara bersama beberapa laki-laki lain Morina tidak ingin ikut campur karena Yashbi tidak mungkin mendengarkannya sama seperti waktu itu. Dan juga Morina tidak memiliki bukti untuk diperlihatkan pada Yashbi.
Setelah kejadian bertemu Clara saat itu, Morina mendatangi tempat itu kembali menanyakan pada pelayan dan tidak ada yang tahu siapa Clara. Bahkan Morina memperlihatkan poto Clara namun, mereka tidak ingat semalam ada tamu yang memiliki beberapa wajah seperti Clara.
Clara merasa dongkol dengan sikap Morina. Berani sekali anak kecil mengabaikannya. Clara sangat tidak menyukai manusia bodoh. Makannya dia melakukan persembahan dan pemujaan hanya untuk manusia beruang, kaya dan pintar. Seperti tubuh wanita yang dia gunakan hingga saat ini.
Seorang wanita kaya raya yang tempo hari meninggal karena keracunan makanan disebuah Cafe ternama pusat kota. Kematiannya yang tidak dipublikasikan dan tidak ada yang tahu hingga sekarang ini. Orang mengira jika wanita tersebut masih hidup dan pergi kesuatu tempat.
"bagaimana jika aku membunuhmu? apa reaksi laki-laki itu?"
Deugh
Morina menoleh, Clara semakin mendekatinya dengan tatapan penuh arti.
Clara naik keatas kasur dengan posisi berdiri sementara Morina terduduk.
"meski tubuhmu masih muda tapi kau bisa saja berguna untukku"
Ya, Clara memasukkan jiwa makhluk penunggu rumah ayah dan ibu Ashana kedalam tubuh Morina. Lalu, dia keluar kamar.
.
.
.
.
.
.
.
Clara berjalan menyusuri lorong rumah Yashbi. Langkahnya terhenti didepan ruangan kerja Yashbi.
__ADS_1
"sedari tadi aku merasakan adanya energi besar didalam sini"
Clara memasuki ruangan kerja Yashbi tanpa membuka pintu alias menembusnya.
Morina merasakan keanehan dalam tubuhnya. Setelah Clara pergi meninggalkannya dan tiba-tiba saja dirinya tidak bisa bicara untuk mencegah Clara. Dia tidak bisa mengendalikan seperti ingin memandang lurus namun, matanya menoleh kekiri, ingin mengambil gelas yang berada diatas nakas namun, tangannya malah memecahkannya, mata tidak berkedip, beranjak dari kasur menuju meja rias bercermin namun kali ini tangannya meraih gunting dengan secepat kilat memotong rambut Morina. Morina berusaha untuk mencegah tapi sia sia saja. Akhirnya rambutnya berantakkan tapi tumbuh kembali panjang secepat kilat.
Deugh
"a... ayah" ucap terbata Morina.
Deugh
Didalam mobil Yashbi teringat Morina.
"bagaimana anak itu? apa dia baik-baik saja?"
"baik-baik saja, tuan. Terakhir aku melihatnya nona sedang berada didalam kamarnya. Tenang saja, beberapa pengawal sedang bersamanya" ucap jelas Anzel.
Tapi, Yashbi bukannya merasa tenang dengan ucapan Anzel dia terlihat sangat gelisah.
"percepat" ucap singkat Yashbi.
Anzel menginjak pedal gas.
"kau gila!!!" ucap Doni.
"apa kau ingin melenyapkan kami?"
"kau tenang saja. Ini hanya kecepatan biasa" ucap Anzel.
Anzel mengerti jika Yashbi memberi perintah hanya dengan ucapan singkat berarti ada sesuatu yang terjadi.
Ashana memegang erat pada jok dengan mata merem melek.
"maaf Ashana" batin Anzel.
"hentikan tatapan menj*j*kan itu" celetuk Yashbi.
Mereka pun sampai didepan gerbang pintu rumah Yashbi.
Yashbi segera turun dari mobil menghampiri mobil Sandi.
Sandi pun turun dan menghampiri Yashbi.
"sebaiknya kau pulang saja. Aku tidak mengijinkan siapapun yang masuk sembarangan kedalam rumahku"
"baiklah, tuan Yashbi Dzon. Tapi kau harus ingat janjimu untuk mendatangi rumahku. Aku sudah mengirimkan photo kedua orang tuaku"
Sandi mengirimkan photo kedua orang tuanya keponsel Yashbi.
"bagaimana kau mengetahuinya?aku tidak merasa jika sudah memberikan nomor ponselku padamu" ucap kesal Yashbi.
"itu hal mudah untukku, tuan. Bahkan aku mengetahui berapa jumlah helai rambutmu. Jika hanya nomor ponsel saja itu mudah untukku"
Sandi membalikkan tubuhnya membelakangi Yashbi.
"kau harus menjaga dan melindungi wanita itu sebaik mungkin jika tidak bisa kau bisa menyerahkannya padaku"
Sandi masuk kedalam mobil dan mendudukan bokongnya.
Terlihat Ashana mendekati kearah mobilnya.
"tunggu" ucap Sandi singkat membukakan jendela kaca mobil.
Benar saja Ashana menghampirinya.
__ADS_1
"ada apa, Ash?" ucap lembut Sandi.
Ashana mengeluarkan makanan yang dia buat dari rempah-rempah, makanan dalam toples kecil dengan bentuk bintang.
"ini... makanlah. Aku sendiri yang membuatnya"
"benarkah?"
"ya... sudah lama aku tidak membuatnya. Kebetulan dirumah ini banyak sekali bahan yang bisa kugunakan untuk membuat kue ini"
Dari kejauhan Yashbi melihat interaksi mereka dan melihat kue bintang itu juga.
"kenapa kue yang kumakan tempo hari berbeda? bentuknya hanya bulat-bulat saja" batin Yashbi.
Yashbi kembali merasa gerah seluruh tubuhnya.
Ashana dan Sandi saling melemparkan senyuman.
"Ashana..." panggil Yashbi dengan nada cukup tinggi.
.
.
.
.
.
.
Mereka (Yashbi, Ashana, Anzel, Robin dan Doni) masuk kedalam tapi langkah mereka terhenti kala melihat Clara berdiri didekat tangga.
"Clara..."
Deugh
Clara tersenyum lebar dan segera memeluk Yashbi.
Ashana yang melihat itu hanya bisa melangkah mundur.
Pandangan Robin dan Clara saling bertemu. Clara menatap tajam membuat jantung Robin berhenti berdetak.
"dia... tidak mungkin... kenapa belum mati?" batin Clara.
"heh... ternyata ada yang ingin bermain denganku. Baiklah akan aku layani dengan senang hati" batin kembali Clara.
Plak
Tiba-tiba saja Clara menampar pipi Ashana.
"kenapa kau masuk kedalam rumah ini?"
"kau sudah berani tidur dengannya dan sekarang berani masuk kedalam rumah ini"
Clara hanya pura-pura dia sedang menjalankan peran layaknya manusia. Manusia yang memiliki perasaan pada umumnya.
"hentikan, hentikan... Clara" ucap lembut Yashbi.
Anzel memapah Ashana untuk segera pergi.
"sebaiknya kita pergi" bisik Anzel.
Doni dan Robin mengikuti Ashana dan Anzel.
__ADS_1