Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 35


__ADS_3

Yashbi melangkah mendekati mereka dan menumpahkan wine ke daerah lutut ayah Robin. Robin melihat hal itu wajahnya berubah merah padam sangat, sangat marah.


"apa yang kau lakukan. Sialan!!!" teriak Robin, marah


Yashbi hanya tersenyum simpul.


"berisik" ucap Yashbi yang menggaruk telinganya yang tidak gatal


Mata Robin seketika melotot sempurna melihat lutut hingga kaki ayahnya bisa bergerak.


"i... ini" ucap Robin terbata kusangking perasaannya senang bercampur heran


"bagaimana bisa?" ucap kembali Robin menatap Yashbi


"jika melakukan hal seperti ini saja tidak mau maka aku saja yang melakukannya tapi ada konsekuensi yang harus kalian terima. Ah...sebelum itu aku ingin kalian khususnya ayahmu ini untuk melepaskan karyawan yang bekerja bagai kuda" ucap Yashbi menatap ayah Robin tajam


Ayah Robin yang tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya karena seekor makhluk berbentuk laba-laba memeluk erat tubuhnya. Munculnya makhluk itu akibat dari perbuatan dia sendiri yang memperbudak karyawan. Saat Yashbi menyiramkan wine ke kaki ayah Robin sebagian dari tubuh laba-laba itu menghilang bersamaan dengan itu kaki ayah Robin dapat digerakkan.


"kau... kau mengetahuinya?" ucap Robin heran dan cemas


"tentu saja. Saat pertama kali melihat ayahmu yang tersayang ini aku langsung tahu betul apa yang sudah dia lakukan hingga membuatnya menjadi kondisi seperti ini" ucap Yashbi datar


Yashbi mengetahuinya apa yang sudah dilakukan saat pertama kali melihat makhluk yang berada atau menempel dipasien tersebut.


Singkat cerita Robin pun menyetujuinya karena jika tidak Yashbi akan melaporkan pada pihak berwenang. Dan ayah Robin sembuh seperti sedia kala untuk dalam waktu tiga tahun.


Kembali saat ini...


Para preman berlutut di hadapan Yashbi yang mengarahkan pistol ke salah satu kepala preman itu.


"kalian tahu siapa anak ini?" tanya Yashbi tegas


Para preman hanya menggelengkan kepalanya.


"berapa yang kalian terima dari laki-laki sialan itu?" ucap Yashbi dengan kemarahan memuncak


"katakan!!!" bentak Yashbi

__ADS_1


"ma... maafkan kami, tuan. Kami benar-benar tidak tahu jika wanita itu kenalan anda. Kami sungguh-sungguh minta maaf" ucap preman sembari menyembah layaknya Tuhan terhadap Yashbi


"kenalan? hah... apa kalian tahu gadis kecil itu adalah anakku, darah dagingku" ucap tegas Yashbi


Deugh


Si sopir menghampiri Yashbi yang tengah menarik pelatuk pistol ke salah satu kepala preman.


"tu... tuan sebaiknya kita segera memberikan pertolongan untuknya" ucap si sopir yang membuat Yashbi menghentikan aksinya


Yashbi berjalan beberapa langkah dan menoleh ke arah preman yang tertunduk lesu.


"aku ingin sekali membunuh kalian saat ini juga. Tapi sebaiknya aku melihat kalian menderita karena hukuman dariku. Kalian aku berikan hukuman untuk menjaga ular milikku yang berada di kebun sawit blok Utara" ucap enteng Yashbi masuk ke dalam mobilnya


Yashbi memiliki tiga ular yang sangat besar seukuran pohon kelapa. Memberi pakannya saja bisa menghabiskan tiga ton daging dalam dua minggu.


Di dalam perjalanan,


"tuan, kita sebaiknya membawa segera ke rumah sakit" ucap sopir


"kau baru bekerja denganku? kau tahu, aku tidak menyukai namanya tempat yang kau sebutkan itu" ucap Yashbi ketus


"ke rumah dan panggil saja dokter yang biasanya"


"baik"


Sesampainya di rumah, Yashbi duduk di pinggir kasur menatap lekat anaknya itu yang terbaring di kasur dengan nuansa biru. Morina yang masih terlihat lemah. Menunggu kedatangan dokter yang biasa dipanggil dari turun temurun keluarga Yashbi.


"pah...papah. Aku ada di mana? tubuhku sakit semua, tenggorokanku sangat kering dan perutku terasa perih"lirih Morina


Mendengar hal itu dari mulut anak semata wayang ya Yashbi, tidak menyadari telah meneteskan air matanya.


" ini di rumah, sayang. Tunggulah sebentar keadaanmu akan diperiksa oleh dokter" ucap Yashbi mengusap pucuk kepala Morina


"di rumah? tapi kenapa sangat dingin sekali"ucap Morina yang memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya


" kau kedinginan aku akan menyimutimu"ucap Yashbi

__ADS_1


"ibu, ibu ada di sini" ucap Morina yang membuat Yashbi sontak kaget membulatkan kedua matanya


"ibu pasti menemaniku. Di saat aku sakit dia yang selalu menemaniku. Ibu jangan pergi tinggalin Morina lagi" ucap Morina yang menangis


Yashbi merasa anaknya bersikap aneh dia segera mengambil ponsel dan menghubungi sopirnya. Tidak lama kemudian si sopir datang bersama seorang dokter dengan wajah tampan, putih, tinggi dan bermata hijau.


"aku akan memeriksa anakmu. Minggir" ucap si dokter yang bernama Zeno


"periksa dengan benar jangan terlewat satu titik pun kalau tidak aku akan memecatmu" ucap Yashbi menatap cemas anaknya


Zeno sekilas menoleh temannya itu namun kembali pokus memeriksa Morina.


"apa yang sudah terjadi?" tanya Zeno


Yashbi menjelaskan apa sudah terjadi pada temannya itu.


"euumphh...kejiwaan Morina sedikit terguncang jadi untuk beberapa saat dia akan seperti berhalusinasi. Dalam dirinya saat ini adalah kehadirannya yaitu ibu kandungnya" jelas Zeno


"tapi berapa lama akan seperti ini? apa tidak ada pengobatan lain yang dapat membuatnya langsung pulih" tanya Yashbi dengan mata penuh harap


"kau yakin? aku tidak yakin karena kau tidak mempercayai dokter ataupun medis. Satu-satunya cara yah kau harus membawanya ke psikiater. Untuk berapa lamanya itu tergantung anakmu sendiri. Sebaiknya aku memasang alat infus untuk menjamin asupan gizi untuknya " ucap Zeno memberi isyarat sopir untuk mengambil perlengkapan medis di mobil miliknya


Ya, Yashbi pada dasarnya memang orang yang tidak percaya siapapun. Yang dia percayai dalam hidupnya saat ini hanya keluarga, mendiang istri dan Clara.


Zeno memasangkan alat infus untuk Morina.


"pikirkan kembali kesehatan anakmu, Yash. Aku tidak ingin kau menyesal. Atau sebaiknya kau menyewa seseorang yang mampu merawat anakmu ini. Morina seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Saat ini yang dia terima hal itu hanya darimu saja, Yash"


Yashbi teringat pertemuan Morina dengan laki-laki di cafe Avril saat itu.


Awal menikah hingga saat ini Yashbi tidak pernah menyewa asisten rumah tangga karena dia ingin membina rumah tangga, keluarga kecilnya hanya dengan istrinya.


"kau jangan egois. Perhatikan apa yang dibutuhkan anakmu saat ini. Kau tidak merasakan apa yang dia rasakan meskipun anak kandung sendiri karena posisi kalian berbeda. Kau dilahirkan dari keluarga yang komplit sedangkan anakmu harus tumbuh hanya dengan tanganmu sendiri "


" kau cerewet sekali, Zen"ucap Yashbi mengambil minuman dari lemari es berukuran sedang yang berada di kamar itu


Selintas teringat Ashana. Dia ingin menghubunginya namun tidak memiliki kontaknya.

__ADS_1


"kau kenapa memandangi layar ponsel seperti itu? menunggu kabar Clara?" tanya Zeno penasaran


"aku akan membawanya ke rumah ini jadi tidak perlu membawa anakku ke tempat psikiater. Ya, itu benar aku akan membawanya" gumam Yashbi yang memegangi ponsel menatap lurus ke depan


__ADS_2