
Di tempat Merisa, Merisa yang berada dalam mobil tepat di depan kaca mobil berdiri lah Tuti dengan tatapan yang tidak dari biasanya dan kuku-kuku tangan memanjang tajam.
"apa aku akan mati saat ini juga?" ucap Merisa menghela nafasnya panjang mengambil alat kejut listrik dari dalam dashboard.
Merisa keluar dari dalam mobil mau tidak mau harus melawan Tuti.
"dia mengejarku. Tidak tahu kekuatan apa yang dia miliki saat ini. Mengejutkan sekali. Apa dia sedang melakukan sebuah ritual atau semacamnya sehingga berniat membunuhku? hah" gumam Merisa.
Tuti turun dari mobil dengan cara melompat ke hadapan Merisa.
Tuti berteriak. Di dalam kepalanya seperti ada seseorang, seorang wanita yang mengatakan "bunuh Merisa, bunuh wanita yang ada dihadapanmu. Bunuh sekarang juga. Ada imbalan yang menantimu. Kau sangat menginginkannya agar kekasihmu kembali. Ya, bunuh wanita yang ada dihadapanmu sekarang juga"
Suara itu terus berputar di dalam kepal Tuti dan membuatnya hilang kendali.
Merisa dan Tuti terlibat perkelahian. Merisa yang terus berusaha menghindar dari serang Tuti dengan kuku-kuku tajamnya.
Merisa menunggu kesempatan agar serangannya dapat mengenai Tuti.
Tuti mengejar Merisa. Saat tangan Tuti akan meraih kerah baju Merisa. Merisa terjatuh ke jurang tapi dia berpegangan ke akar pohon.
Tepat di atas kepala Merisa Tuti bersiap menghancurkan wajah Merisa yang mengadah dengan satu tangannya. Ya, tangan Tuti tiba-tiba membesar seukuran wajah Merisa.
Tuti meremas wajah Merisa dengan kuku-kukunya hingga hancur. Seketika Merisa teriakan pecah dan jatuh ke dasar jurang.
Tawa Tuti pecah.
Di atas sana, Zeys menghela nafas kasar.
"sudah cukup nona-nona bermain-mainnya"
Zeys menghampiri Tuti. Tubuh Tuti akan lenyap namun, Zeys merapalkan sebuah mantra dan tubuh Tuti kembali kesemula.
"aku tidak mengijinkanmu untuk menghilang begitu saja. Terlalu menyenangkan jika kau menghilang sedangkan ada nyawa harus dipertaruhkan" ucap Zeys dengan senyum simpul.
Tuti kembali kesemula dan sadar namun, tidak ingat apa yang terjadi. Tubuhnya gemetar.
"si... siapa kau?"
Zeys menaruh telunjuk di mulutnya sendiri.
"ssssttttt"
"kau tidak perlu tahu siapa aku. Sekarang ini yang hanya kau perlu lakukan melakukan penebusan"
"penebusan? apa maksudmu? " tanya Tuti heran dan bingung.
Seketika tempat itu berubah menjadi sebuah gurun pasir namun, terasa sejuk meski cahaya matahari terik.
Kedua mata Tuti membulat sempurna.
"tempat...tempat apa ini?" tanya Tuti yang masih dilanda kebingungan.
Zeys memperlihatkan kejadian sebelumnya antar Tuti dan Merisa di hamparan gurun.
"lihatlah. Apa yang sudah kau lakukan terhadap wanita itu. Wanita itu merupakan anak pemilik perusahaan yang selama lima belas tahun ini memberikanmu untuk kelangsungan hidupmu" jelas Zeys dengan wajah santai.
"tidak, tidak mungkin aku melakukan itu" ucap Tuti dengan wajah penuh cemas dan takut.
Di hamparan gurun itu juga memperlihatkan saat Tuti terperdaya oleh suara seseorang, seorang wanita.
"suara ini? aku kerap kali mendengarnya setiap kali memasuki ruangan kerja milikku" jelas Tuti menoleh ke arah Zeys.
__ADS_1
"kau memberitahuku untuk menebus. Apa maksudmu menebus apa yang telah kulakukan terhadap nona Merisa?" tanya Tuti dengan wajah berharap meminta penjelasan agar tidak menerka-nerka.
"ya, tentu. Kau cukup pintar"
"apa yang harus kulakukan? katakan. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini" ucap Tuti mengedarkan pandangannya.
Terlihat senyum lebar di wajah Zeys.
"sebelum kau melakukannya aku ingin memberitahumu satu hal. Ini menyangkut tentang dirimu sendiri"
Tuti menatap Zeys dengan menelan salivanya.
"saat kejadian terakhir tadi sebenarnya kau sudah mati jadi aku akan memberimu energi kehidupan untuk sementara waktu"
Deugh
Tuti mengepalkan tangannya.
"akan aku lakukan. Berikan energi kehidupan yang kau maksud itu"
"tenanglah. Kau jangan terburu-buru. Aku tidak sekejam itu. Kau harus melakukan apa yang sebelumnya kau belum lakukan"
Hamparan gurun itu memperlihatkan kekasihnya yang sebenarnya. Ya, kekasih itu hanya menginginkan uang dari Tuti dan dia memiliki wanita lain bahkan sudah memiliki dua orang anak.
"kau masih ingin memperjuangkan laki-laki macam ini?" tanya Zeys dengan wajah seriusnya.
Tuti menghela nafas kasar.
"kau tidak perlu memberitahuku. Aku sudah tahu sebelum kau memberitahuku" ucap Tuti dengan wajah sendu.
Zeys cukup kaget mendengar pernyataan Tuti. Jadi semenjak tadi dia secara tidak langsung dibohongi. Tuti yang merupakan seorang manusia biasa.
Tuti tersenyum lebar.
"kau tidak akan mengetahui apa yang dipikirkan seorang wanita meskipun menghabiskan waktu sepanjang hidupmu untuk selalu bersamanya"
"sudah, sudah. Tidak perlu lagi membahas wanita. Mereka tidak akan ada habisnya. Kau tahu buku tentang wanita dan halaman buku itu hanya berisikan halaman kosong? di dunia ini tidak ada satupun manusia yang mampu mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh wanita "
" menarik sekali. Aku tidak salah mendirikan duniaku yang dikhususkan untuk wanita "
Terlihat ada mata air.
" minumlah air mata air itu. Jika kau kembali ke dunia itu maka tubuhmu akan lenyap begitu saja. Mengingat perjanjian yang kau lakukan dengan makhluk itu "
Tuti teringat perjanjian dengan seorang wanita yang tidak menampakkan dirinya hanya mendengar suaranya. Dengan spontan tubuh Tuti dikendalikan oleh wanita itu.
Tuti tertawa kecil mengingat betapa bodohnya dirinya.
Tanpa ragu Tuti meminum mata air itu. Menahan rasa pahit setelah meminumnya.
"rasanya pahit sekali"
"mata air ini memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung siapa yang meminumnya"
"jika orang yang meminumnya merasakan pahit itu dapat diartikan perjalanan kehidupan selama di dunia sana kerap kali menemukan batu kerikil yang orang lain belum tentu mampu menyingkirnya"
Kehidupan seorang Tuti memang sangat pahit semenjak menginjak sekolah menengah di mana kedua orang tuanya meninggalkannya sehingga harus banting tulang untuk menghidupi diri sendiri, mendapati perbuatan tidak senonoh dari rekan kerja, pembulian di sekolah, tidak mengikuti ujian sekolah karena pembayaran sekolah tidak terpenuhi dan mencintai laki-laki yang salah di mana laki-laki itu sudah memiliki istri dan dua orang anak.
"sebenarnya aku bisa mengembalikanmu ke dunia sana. Tapi selama kau hidup di dunia sana akan banyak kejadian lebih besar lagi yang menimpamu"
"tidak. Aku tidak menginginkannya. Katakan saja apa yang harus kulakukan untuk nona Merisa"
__ADS_1
"euumphh... baiklah. Akan aku katakan. Kau hanya perlu mengarahkannya saja. Buatlah dia menjadi wanita baik. Lebih baik dari saat ini"
"hanya itu?"
"euumphh..."
"kenapa kau mempercayakannya padaku? lalu, kenapa kau berbuat sejauh ini hanya untuk seorang wanita?" tanya Tuti penuh selidik.
Seketika tawa Zeys pecah.
"apa harus ada alasan untuk menolong dan membantu seseorang? aku ingin menyombongkan diriku sendiri. Dengar, diantara kalian para manusia aku, adalah manusia yang paling tulus dalam hal melakukan apapun"
Tuti terlihat berpikir keras.
"daritadi yang kau bicarakan mengharuskanku berpikir sangat keras"
Zeys menaikkan satu alisnya.
"dunia khusus wanita, apa itu? lalu, kau menyatakan dirimu manusia paling tulus?"
"kau benar-benar wanita ribet yang pernah kutemui" ucap Zeys mengenal nafas kasar.
🥰🥰🥰
Yashbi yang masih berada di ruangan khusus miliknya. Memegang pistol berukuran panjang.
Seorang yang ada di dalam jeruji besi dengan tubuh dipenuhi darah akibat tembakan Yashbi tanpa peluru.
"aku belum menembak dititik-titik tertentu. Jadi kau tidak akan mati secepat ini. Bangunlah" ucap Yashbi beranjak dari ruangan itu diikuti beberapa pengikutnya.
Tangan yang mengadah salah seorang pengikut memberikan bungkus rokok dan pemantik apinya. Yashbi menyalakan dan menghisap rokok itu.
"bagaimana apa kalian sudah menemukan wanita itu? dan juga investor-investor di perusahaanku?" tanya Yashbi yang melangkahkan kaki ke sebuah halaman yang luas dengan rumput-rumput hijau. Angin sepoi-sepoi. Ada sungai kecil yang mengalir dengan air jernihnya.
" untuk nona Clara kami belum menemukan petunjuk apapun, tuan"
Yashbi mengerutkan dahinya.
"dan untuk investor perusahaan ada sedikit petunjuk" ucap seseorang dengan perawakan tinggi besar dan tampan memberikan sebuah laptop pada Yashbi.
Terlihat di layar laptop beberapa investor masuk ke dalam rumahnya dan keluar lagi dengan tergesa-gesa. Lalu, memasuki mobil miliknya menuju suatu tempat. Lajunya mobil mengarah ke arah kota sebelah.
"untuk apa mereka mengarah ke kota yang sudah tidak memiliki penduduk?"
"maaf, tuan. Menurut informasi yang didapat di kota itu ada harta karun yang berukuran besar"
"harta karun? sedari kecil hingga saat ini aku tidak pernah melewatkan informasi apapun terlebih kota yang kehilangan penduduknya akibat jatuhnya sebuah bintang. Seharusnya jika bintang jatuh akan terlihat semacam bangkainya tapi kejadian itu..." ucap Yashbi terhenti mengingat kejadian saat bintang jatuh di kota sebelah.
" carikan informasi tentang kejadian itu. Beritahukan juga Anzel untuk mendatangi rumah Robin memastikan keberadaan wanita itu karena aku menemukan sedikit petunjuk "
"baik, tuan"
"satu hal lagi. Mayat kedua wanitaku... ibuku dan istriku?"
Suasana hening seketika.
"pergilah" ucap Yashbi menatap lurus ke depan dan menghisap rokok itu.
"****!"
"ibu, istriku dan juga Clara.... mereka menghilang tepat ditanganku. Takdir macam apa yang sedang mempermainkanku?" gumam Yashbi tersenyum simpul.
__ADS_1