
Di tempat Anzel...
Anzel tersenyum tipis dengan darah mengucur diarea wajahnya.
"ah menarik sekali"
Anzel memang menyukai jika kondisi dirinya babak belur.
Tubuh Anzel terlihat sedang pemulihan secara perlahan.
"sudah lama sekali aku tidak merasakan sakit seperti ini setelah kejadian itu..."
Tekanan kekuatan yang berasal Anzel semakin terasa kuat.
"apa ini?" ucap Floir terlihat cemas.
Floir merasakan seluruh tubuhnya merinding dan gemetar. Tapi karena apa?.
Dia melihat intens kearah Anzel.
Anzel terlihat pulih kembali meskipun kondisi bajunya sudah tidak layak pakai.
Sreek
Sreek
Anzel melepaskan bajunya hingga bertelanjang dada. Terlihat tubuhnya lebih segar dari sebelumnya.
"apa yang terjadi? seharusnya kau sudah tidak dapat bergerak lagi karena setiap pukulan dari tongkat makhluk itu langsung menuju ketitik inti tubuhmu" ucap Floir heran sekaligus cemas.
"apa yang terjadi... entahlah... hanya saja... kuberitahu kau satu hal tubuhku ini sangat menyukai jika ada seseorang yang menyakitinya secara fisik dan menjadikannya lebih kuat daripada sebelumnya"
Secepat kilat Anzel berada dihadapan Floir.
Anzel tanpa aba-aba langsung membalas pukulan yang tadi dia terima dari makhluk itu pada Floir.
Bag
Bug
Bag
Bug
Anzel memukul tanpa henti.
Saat makhluk yang dikendalikan Floir akan menyerang Anzel tiba-tiba dia terhenti kala Anzel merentangkan satu tangan kearahnya seketika makhluk itu hilang karena akar pohon (serat) inti bumi. Floir melihat hal tersebut.
"kau... jadi kau ini..."
"kau baru menyadarinya? hah"
"sedari tadi apa yang kau pikirkan? apa otak kecil dan tumpulmu ini masih memikirkan tentang soal" uang, kekayaan dan kekuasaan bahkan kekuatan "
" jawab!!! " bentak Anzel.
" sudah saatnya bukan aku menghentikanmu, Floir " UCAP Anzel dengan smirk.
Floir dengan posisi berlutut kondisi tubuh yang sangat memprihatinkan. Anzel mensejajarkan posisi dengannya.
" kau sudah mengambil begitu banyak anak-anak yang kukasihi selama ini "
Tiba-tiba segerombolan anak laki-laki dengan memakai pakaian sama berada diantara mereka.
"apa kau ingat wajah mereka?"
Floir mendongakkan wajahnya.
__ADS_1
Deugh
"tentu saja kau mengingatnya. Anak yang kau jadikan wadah untuk ruh/jiwamu yang kotor dan menjijikan ini" ucap Anzel menatap jijik Floir.
"mereka...ini...apa maksudmu? jangan-jangan kau... Menjadikanku..." ucap Floir terbata.
"euuumphh... mereka hasil karyaku" ucap Anzel dengan senyum tipis.
Sebelumnya, saat masih kecil Anzel kerap melihat teman sebayanya dibawa oleh Floir dengan paksa. Anzel yang masih kecil belum bisa melakukan apapun dia hanya menatap kepergian teman-temannya satu per satu dan terakhir adalah Anuya. Anzel kecil hanya bisa melihat makhluk yang dikendalikan Floir untuk memata-matai kota sebelah lebih tepatnya anak laki-laki yang memiliki potensi untuk dijadikan wadah.
Kembali saat ini...
"ba.. bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya kembali Floir.
Anzel tersenyum tipis.
"sebenarnya aku memiliki bakat seperti ini sedari dulu. Hanya saja aku belum mengetahui pasti. Tapi, saat aku bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Yashbi aku tahu apa yang ada dalam diriku selama ini. Akupun tidak menunjukan padanya karena tidak menginginkannya "
" kau bisa mengendalikan makhluk tadi akupun bisa mengendalikan anak-anak ini" ucap Anzel beranjak berdiri merapalkan mantra.
Segerombolan anak laki-laki itu mendekati Floir dan mengelilinginya dengan senyum mengembang diwajahnya.
"jangan, jangan lakukan. Aku mohon..." lirih Floir yang takut kematian. Makanya dari itu dia memakai segala cara agar tidak mati hingga tega menjadikan anak kecil sebagai pemuas keinginannya.
Akar pohon (serat) inti bumi keluar dari setiap laki-laki tersebut dan mengikat tubuh Floir hingga menghilang begitu juga anak laki-laki itu ikut menghilang.
"terima kasih banyak kau sudah menolong kami" ucap segerombolan anak laki-laki itu.
Lalu, salah satu pohon besar yang berada dihalaman belakang rumah Yashbi ikut menghilang juga.
Yashbi yang saat itu berada diruang kerjanya tidak sengaja melihatnya.
"Anzel... apa kau yang melakukannya?" ucap Yashbi yang terdengar Ashana.
"apa maksudmu?
________
Kembali ke tempat Anzel. Dia berjalan tertatih-tatih menuju tempat Anuya dan Silfa.
" jika sudah berakhir maka aku akan... "
" setidaknya mereka (anak laki-laki yang menjadi korban Floir) berada ditempat yang seharusnya "
Beberapa saat kemudian...
Anzel berada ditempat Anuya dan Silfa.
Anuya yang terdiam tidak tahu harus melakukan apa menyadari kedatangan Anzel.
" Anzel... "
Anzel menatap kearah suara yang memanggil namanya.
" kau sudah baik-baik saja? " tanya Anzel.
"ya seperti yang kau lihat"
"apa kau sadar bagaimana wujudmu rupamu sekarang ini?"
Ya, wujud Anuya masih sama seperti sebelumnya. Belum kembali keawal. Seperti dibawah ini.
"tidak, sudahlah tidak perlu membahas itu dulu" ucap Anuya menatap kearah Silfa yang berdiri kaku.
Mereka berdua mendekatinya. Anzel memegang tangan Silfa namun terasa seperti batu sangat keras.
__ADS_1
Deugh
"ini..."
"ada apa?" tanya Anuya yang terlihat sangat khawatir.
Anzel memegang seluruh bagian tubuh Silfa.
Melihat hal itu membuat Anuya kesal.
"hentikan apa yang kau lakukan"
Anuya menepis tangan Anzel dari tubuh Silfa.
"aku bertanya apa yang kau lakukan?"
"dia sebentar lagi akan mati" ucap Anzel menatap Silfa dengan nanar.
"apa maksudmu?"
"sebagian besar tubuhnya sudah mengeras layaknya batu"
Deugh
Anuya terlihat panik dan khawatir.
Anzel terlihat berpikir keras.
"aku akan melakukan sesuatu. Jadi berhentilah mondar mandir"
Anuya seketika terdiam.
Akar pohon (serat) inti bumi masuk kedalam tubuh Silfa.
Akar pohon itu menjalar kesetiap aliran darah Silfa.
Akar pohon mencari keberadaan Floir (kekuatan) yang masih berada dalam tubuh Silfa.
Akar pohon menghisap habis kekuatan Floir dan ini membutuhkan fisik yang kuat bagi si pengendalinya.
Waktu bersamaan Yashbi mendatangi tempat Anzel bersama Ashana.
_________
Sebelumnya, di ruang kerja Yashbi...
Yashbi menceritakan kenapa dia mengatakan satu kata itu. Kata yang hanya diucapkan saat dirinya benar-benar merasa sangat marah.
Ashana menanggapinya dengan sangat santai.
"peganglah tanganku" ucap Ashana dan Yashbi meraih tangan Ashana yang terulur padanya.
Yashbi lagi, lagi merasa de javu. Dia pernah posisi seperti itu dimana dirinya bersama Karmellita.
Ya, saat itu Yashbi sedang terpuruk kala ibunya menghilang dan satu-satunya orang yang dia miliki hanya Karmellita yang sedang hamil besar. Karmellita mengulurkan tangannya pada Yashbi yang termenung disisi ranjang ibunya dengan kondisi kamar gelap namun, senyuman Karmellita terlihat jelas kala langit malam terlihat cerah karena dihiasi ribuan bintang dan bulan.
Kembali ke tempat Anzel, Anuya dan Silfa.
Yashbi dan Ashana mendatangi tempat mereka dengan tangan yang masih saling bertautan.
*Ashana menyuruh Yashbi untuk membayangkan tempat apa yang ingin dia kunjungi dan memegang tangan dirinya. Tanpa ada penolakan Yashbi melakukannya*
"apa yang kau lakukan, Anzel?"
Terdengar suara yang begitu menganggu konsentrasinya Anzel, segera menghentikan aktifitasnya.
"kenapa bisa disini?" ucap Anzel menatap kearah Yashbi dengan menaikkan satu alisnya.
__ADS_1