
Tanpa ada yang mengetahui, Lani keluar dari rumah Yashbi. Dia berencana mendatangi Ashana. Tersembunyi sesuatu di balik punggungnya.
"kali ini kau tidak akan lolos begitu saja, gadis kecil" gumam Lani dengan senyuman liciknya.
Lani melangkahkan kakinya mengendap-endap.
"untung saja penjagaan rumah ini minim sekali"
Lani berhasil keluar melalui semak-semak.
Dia mencari taksi dan segera menuju rumah sakit.
"aku akan membereskan mereka satu per satu" ucap Lani dengan senyuman mengerikan terlihat di spion depan membuat si sopir merinding.
Kembali ke ruangan kerja Yashbi yang masih bersama Doni.
Doni menatap burung cendrawasih yang berada di dalam bola kristal.
"kenapa kau menyimpannya? jangan katakan kau berniat untuk memberikan padanya?" tanya Doni bertubi-tubi.
Yashbi mengedikan bahunya.
"aku ingin menemuinya. Apa kau bisa menyiapkan sopir untuk mengantarkanku?" ucap Doni beranjak dari duduknya.
"kau pergi saja sendiri menggunakan kendaraan umum" ucap Yashbi memberikan selembar uang pada Doni.
"kau tega sekali terhadap temanmu sendiri" Doni menggelar nafas lemah.
"luka lenganmu akan pulih dalam waktu sebulan" ucap Yashbi melemparkan botol berukuran sedang.
"oleskan saja setiap kau merasakan kesakitan. Ada satu waktu luka dilenganmu akan terasa sakit luar biasa dari sebelumnya. Kau tidak perlu khawatir. Berarti itu menunjukkan tanda-tanda pulih kembali. Berungtulah lenganmu tidak aku potong"
Doni tidak menjawabnya dia membalikkan badannya meninggalkan Yashbi yang menatap lurus keluar jendela.
Doni menyimpan sebuah kertas di atas meja yang bergambarkan sebuah pesan dan hanya Yashbi yang bisa mengerti dan mengetahuinya.
"aku akan melakukannya disaat yang tepat" gumam Yashbi melihat perginya Lani dari rumahnya dan tahu kemana tujuannya pergi.
Yashbi smirk.
Di depan halaman depan rumah, sebuah mobil beserta sopir sudah menunggu Doni.
"dia benar-benar..." ucap Doni tersenyum lebar memikirkan sikap Yashbi.
.....
Di dalam taksi, Lani mengeluarkan benda yang berada di balik punggungnya dan si sopir melongo melihatnya dari spion depan.
"apa yang akan dia lakukan?" batin sopir.
__ADS_1
Ternyata mengeluarkan seperangkat pisau kecil komplit.
"aku akan menggunakannya satu per satu tanpa ada yang terlewatkan" gumam Lani yang masih terdengar oleh si sopir.
Kondisi jalanan yang sepi. Terlintas dipikiran Lani untuk mencoba pisau itu pada si sopir.
Lani menatap sopir dengan intens.
Dengan gerakan cepat Lani memotong urat leher si sopir mati di tempat dengan darah bercucuran, laju mobil oleng namun, Lani dapat segera mengatasinya dia mengambil alih kemudian. Menyingkirkan mayat sopir dengan kasar.
Lani memberhentikan mobil di sebuah gang yang minim pencahayaan.
Dia melancarkan aksinya. Mencoba satu persatu pisau itu ke mayat si sopir dengan menyayat-nyayatnya tanpa ada perasaan hanya ukiran senyuman yang terlihat di wajah cantiknya nan menyeramkan.
"dengan begini aku sudah menguji kemampuan alat yang sudah kubeli. Jadi, aku tidak perlu meragukannya lagi dengan ketajamannya. Setidaknya dia, tidak merasakan sakit berlebihan"
Di ruang kerja, Yashbi menatap layar laptopnya dan mengetahui keberadaan Lani saat ini.
"apa yang sedang kau lakukan, Lani?" ucap Yashbi merogoh ponselnya menghubungi Anzel.
"lakukan sesuai rencana. Dia akan tiba beberapa saat lagi" ucap tegas Yashbi.
Yashbi melihat patung yang sama persis dengan Clara dan menyamakan dengan kertas yang ditinggalkan Doni.
Puzzle-puzzle yang terhubung satu sama lain. Membentuk gambar ke sebuah gambar yang terjadi di dunia manusia.
Kejadian bintang jatuh di kota sebelah dan menghilangnya penduduk kota, bangunan Yaebud, hancurnya panti asuhan terbesar di pusat kota dan hilangnya penghuni panti kecuali satu anak perempuan, rumah kediaman Robin dan rumah kedua orang tua Yashbi.
"bangunan Yaebud? bangunan yang muncul saat bintang itu terjatuh"
"panti asuhan yang hancur dan menyisakan satu anak perempuan? siapa anak perempuan itu? "
"lalu, rumah Robin? aku semakin yakin jika Clara berada di sana"
Deugh
"apa ini semua ada sangkut pautnya dengan Clara?"
"tidak, tidak. Dia manusia biasa pada umumnya. Tidak mungkin terlibat dalam kejadian besar ini"
"lalu, rumah kedua orang tuaku?"
Yashbi mengadahkan kepalanya ke atas langit-langit.
Terlintas jika dulu dia pernah mengalami kejadian aneh di rumah kedua orang tuanya bertemu seekor makhluk yang tidak memiliki bentuk hanya bayangan hitam menjulang tinggi setinggi langit-langit rumah itu.
Makhluk itu berkata jika dirinya tidak akan lama lagi di tempat ini setelah munculnya seseorang dari dunia sana (Satan's World).
Yashbi yang mengetahui tentang penyakit yang diderita Lani dia, menyuruh Anzel menyembunyikan Ashana dan mengganti Ashana dengan orang kepercayaannya tapi harus mirip dengan Ashana untuk mengelabui Lani.
__ADS_1
Lani sampai di rumah sakit dia segera mencari keberadaan Ashana. Dengan penampilan yang acak-acakan serta banyak noda bercak darah dibajunya. Untung saja saat itu kondisi rumah sakit sepi karena sudah pagi hari.
Di ruangan lain, Ashana bersama Anzel.
"padahal ruangannya sebelumnya aku sangat menyukainya" ucap Ashana.
"apa kau berniat lama-lama di rumah sakit ini?" goda Anzel.
"bukan begitu. Mana ada orang yang menginginkan hal itu" ucap Ashana sedikit murung.
"kau besok sudah dijinkan untuk pulang. Bertahanlah beberapa jam lagi" ucap Anzel yang tidak lepas mengamati sekitar. Takut jika Lani tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
Hal itu disadari Ashana.
"ada apa? kau seperti mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Ashana heran dengan gerak gerik Anzel sedari tadi yang mencurigakan.
"tidak apa-apa. Dengar, Ashana... untuk beberapa saat ke depan kau jangan menjauh sejengkalpun dariku. Mengerti?" ucap tegas Anzel membuat Ashana bingung.
Ashana hanya mengangguk pelan.
Dalam hati Anzel sangat marah dengan sikap Yashbi yang terbilang lambat. Biasanya dia tidak seperti ini. Apa ini karena Ashana bukan prioritasnya?.
Semakin memikirkannya Anzel semakin memuncak kebenciannya terhadap Yashbi. Karena mengabaikan keberadaan Ashana.
"apa tuanmu akan datang?"
"maksudmu tuan Yashbi?"
"ya, siapa lagi. Memangnya kau memiliki berapa tuan?" tanya kesal Ashana.
Ashana menyadari jika bersama Anzel dia berubah seperti anak kecil yang meminta perlindungan seorang kakak.
"tidak.... dia tidak akan datang. Ada urusan yang harus segera diselesaikan" ucap jelas Anzel yang tidak tega berbohong terhadap Ashana.
"saat kau pulang aku yang ditugaskan mengantarkanmu"
"ya, aku sudah menduganya" ucap Ashana kecewa.
"jangan bersedih. Aku ada di sini. Apa kau tidak menganggapku?" tanya Anzel menyentil kening Ashana.
"kau pasti memiliki pekerjaan lainnya selain menemani dan menjagaku. Aku merasa seperti penghalang seseorang untuk kemajuan hidupnya"
"kenapa otakmu kecil sekali? jangan berpikir negatif tentangku. Aku saingan senang saat bersamamu seperti ini daripada harus mengerjakan pekerjaan lainnya yang tiada hentinya. Menguras otak dan tenagaku"
Kedekatan mereka terlihat begitu hangat. Seseorang yang berjaga di depan pintu merekam mereka tanpa disadari Anzel dan Ashana.
"aku harus mengirimkannya pada tuan" ucap seorang penjaga 1.
"sebaiknya jangan melakukannya. Kau tahu Anzel itu sama kejamnya dengan tuan Yashbi" ucap penjaga 2.
__ADS_1
"apa kau lupa? si Anzel tidak ada apa-apanya dibanding tuan Yashbi. Dia tidak memiliki kekuasaan yang berupa materi. Berbeda dengan tuan Yashbi beliau memiliki segalanya" ucap memuja penjaga 1.