
Yashbi yang mengacak-acak rambutnya menandakan pekerjaannya sudah akan selesai.
"ayahmu sudah mengeluarkan darahnya untuk membayar sedikit karena tindakannya padaku. Mengingat kau dan juga ayahmu hanya menginginkan hartaku saja" ucap Yashbi mengarahkan pistol ke paha mulus Merisa dan menembaknya.
Merisa spontan berteriak. Yashbi tersenyum tipis.
"ah aku belum memberitahukan kalian. Tembakkan ini tidak akan membuat kalian mati. Akan bereaksi menyakitkan jika membantah apalagi berbohong padaku"
Deugh
"a... apa maksudmu, Yash?" ucap Merisa menatap ke arah Yashbi yang berdiri di hadapannya.
"mari kita mencobanya" ucap Yashbi tersenyum licik terlihat jelas di wajahnya. Yashbi mensejajarkan posisi dengan Robin dan Merisa yang terduduk di lantai.
"katakan di mana Clara, adikmu tersayang, Merisa?"
"a... aku tidak tahu" ucap Merisa bersamaan dengan teriakannya.
aaaaaaaaaa
Teriak Merisa merasakan sakit luar biasa di paha yang ditembaki Yashbi tadi. Lelehan air keluar dari kedua mata cantik Merisa kusangking sakit yang tiada tara.
"katakan sekali lagi. Apa kau mencintaiku hanya karena hartaku saja?" tanya Yashbi kembali dengan senyum puas terukir di wajah tampannya.
"a... aku sungguh mencintaimu. Itu benar adanya" jawab Merisa bersamaan dengan teriakannya yang keluar dari mulut kecilnya itu.
aaaaaaaa
Semakin terasa sakit dari sebelumnya. Itulah yang dirasakan Merisa.
"Merisa, Merisa... kau memang wanita bodoh. Kau tidak belajar dari kejadian sebelumnya" ucap Yashbi beranjak dari posisinya dan menglap pistol dengan tisu yang berada di atas meja.
"kalian tidak perlu khawatir. Luka itu akan kembali pulih sekitar..." Yashbi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"sekitar dua jam terhitung dari sekarang" Yahsbi pergi meninggalkan mereka.
Sementara Merisa terlihat panik dengan kondisi Robin yang daritadi hanya diam saja. Merisa tidak memperdulikan rasa sakitnya lagi.
"yah, ayah sebaiknya kita segera pergi dari rumah ini" ucap Merisa bersusah membopong tubuh ayahnya yang jauh lebih besar darinya.
Anuya menyeka mulutnya yang sedari tadi mengeluarkan darah.
"sial!" Anuya beranjak dari posisinya dan membantu Merisa. Mereka meninggalkan rumah Yashbi.
Yashbi menyaksikan kepergian mereka dari atas tangga dengan tatapan tajam.
"aku akan mengetahuinya siapa berani mengusikku setelah kejadian itu. Tidak akan aku biarkan lagi orang yang berada di sampingku hilang satu persatu" ucap Yashbi memijit pangkal hidungnya.
__ADS_1
Mengingat hilangnya jasad istri pertamanya dan juga ibu tersayang. Membuat Yashbi merasa sedikit gila saat Clara wanita yang mampu mengisi kesepian setelah kepergian ikut menghilang juga. Dalam hati dan pikirannya selalu berperang dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Yashbi melangkahkan kaki menuju ruangan di mana seperangkat baju milik Clara yang berada di sebuah patung wanita. Ya, patung itu berbentuk persis dengan Clara. Yashbi membuatnya khusus dari seorang kenalannya. Dari ujung ke ujung tidak ada yang terlewatkan sangat persis seratus persen dengan wujud Clara. Setiap kali perasaan rindu melanda Yashbi akan mendatangi ruangan itu dan memeluk patung itu erat.
Di dapur, Ashana yang sudah memakai pakaian yang disediakan untuknya dan di dampingi sopir sekaligus orang kepercayaan Yashbi.
"apa yang harus kulakukan sekarang ini?" ucap Ashana yang membenarkan tiap sudut baju yang dikenakan saat ini karena membuatnya tidak nyaman. Baju kekurangan bahan itulah pendapat Ashana.
"tuan, apa aku boleh mengganti pakaianku? ini sama sekali tidak nyaman. Bagaimana aku bisa bekerja dengan baik pakaian yang ku pakai saja seperti ini? hah" ucap Ashana mengerutkan dahinya.
"soal itu aku tidak bisa membantu anda. Sebaiknya anda bicarakan langsung dengan tuan Yashbi. Sekarang ini kau harus melakukan pekerjaan yang sudah dijadwalkan tuan Yashbi" ucap sopir menyodorkan gulungan kertas pada Ashana dan Ashana meraihnya.
"apa ini?" tanya Ashana heran.
"anda baca saja. Semua tertulis di situ tentang apa yang harus anda lakukan dan tidak"ucap sopir yang merasa tidak tega dengan posisi Ashana saat ini. Gadis muda yang dinikahi tuannya hanya untuk memancing keluar kekasihnya dari persembunyiannya. Dan tentu sopir itu tahu alasan lain Yashbi menikahi Ashana. Tahu lebih jelas.
Ashana membaca setiap tulisan di kertas gulung itu sesekali mengerutkan dahinya dan terpancar amarah.
"sekalian saja dia mengatur setiap nafas yang kukeluarkan dari mulut dan hidungku" ucap Ashana melempar gulungan kertas itu.
Ashana mengambil bahan-bahan untuk membuat cemilan untuk tuan rumah, Yashbi dan Morina. Dia menggerutu memasukkan setiap bahan ke mangkuk besar. Seketika pikirannya terlintas untuk menjahili mereka khususnya Yashbi.
"kita lihat saja. Kau akan kapok dan tidak akan pernah menyuruhku lagi untuk membuat makanan untukmu"
Sopir memperhatikan setiap gerakan Ashana dan seketika terukurir senyuman tipis di bibirnya. Pertama kali bekerja dengan Yashbi sopir itu tidak pernah tersenyum sama sekali walau hanya sedikit. Mengingat tuannya yang kaku, kasar dan galak.
Dwaaaarr
Oven listrik meledak. Dengan sigap sopir menarik tubuh Ashana dan melindunginya.
Ledakkan itu terdengar hingga ruangan di mana Yashbi tengah memeluk patung yang sama persis dengan Clara dengan posisi tidur di sebuah kasur besar yang ada di ruangan itu.
"apa yang terjadi?" gumam Yashbi beranjak menuju ledakan itu berasal.
.
.
.
.
Yashbi yang berada tidak jauh dari mereka melihat sopir memeluk tubuh Ashana. Seketika wajah Yashbi merah padam tangan mengepal.
"kau... pak tua cepat ke ruanganku!" ucap Yashbi bergegas meninggalkan mereka.
"maaf, maafkan saya. Saya tidak bermaksud..." ucap sopir perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Ashana.
__ADS_1
"tidak perlu minta maaf. Aku tidak hati-hati"ucap Ashana menggaruk belakang kepala yang sebenarnya tidak gatal.
" aku ingin memberitahumu sebenarnya... aku tidak bisa menggunakan peralatan yang ada di dapur ini. Mengingat aku hanya wanita yang berasal dari desa" ucap Ashana yang mampu membuat hati si sopir terenyuh.
"saya akan bicarakan dengan tuan perihal hal itu. Anda tidak perlu khawatir"
Sopir pun meninggalkan Ashana dan segera menuju ruangan Yashbi.
Ashana merasakan perih di lengan dan kakinya akibat serpihan oven listrik itu. Benar saja ada serpihan Oven listrik menancap di punggung kaki dan lengannya. Dengan menahan sakit dia mencabutnya satu persatu.
"kenapa tubuhku sering sekali terluka?" ucap Ashana mengeja nafas.
Jam 13.00
Kruuuuk
Perut Ashana merasakan lapar. Dia mencari setiap lemari yang ada di dapur berharap menemukan makanan yang bisa di makan untuk mengganjal perutnya.
"apa di sini sama sekali tidak ada makanan. Tempat semewah ini tidak ada bedanya dengan ruamh kecil itu (maksud Ashana rumah yang di tempatinya sebelumnya)" gumam Ashana dan matanya berbinar seketika menemukan bungkus makanan ringan yang cukup familiar.
"ini... siapa yang memakan ini? tidak mungkin si tuan songong itu" ucap Ashana mengambil salah satu bungkus makanan yang berada di lemari kecil.
Ashana dengan perasaan tidak sabar segera membuka bungkus makanan itu dan memakannya dengan lahap.
Di ruangan kerja Yashbi yang tengah melakukan pembicaraan dengan sopir.
"apa yang kau lakukan pak tua?" ucap Yashbi dengan suara baritonnya sembari duduk di kursi miliknya.
Sopir hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap tuannya.
"biar aku menebaknya?"
Sejenak suasana hening.
"kau menyukai gadis muda atau selama ini kau tidak memiliki kekasih karena kau lebih menyukai daun muda? dan posisimu saat ini ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan. Mengingat kau mengetahui bagaimana hubunganku dengan gadis muda itu" ucap Yashbi menatap tajam ke arah sopir.
"jawab!!!" bentak Yashbi
Sopir terperanjat kusangking kaget suara yang menggelegar yang keluar dari mulut tuannya.
"apa yang anda pikirkan salah, tuan. Mana mungkin aku berani hal itu. Biar aku jelaskan lebih dulu. Aku mohon. Dengan begitu anda akan menyingkirkan buruk tentang kami"
"kau membelanya? sejak kapan kalian berhubungan sedekat ini?"
Ucapan Yashbi semakin memojokkan sopir itu dan juga Ashana.
Sopir memberanikan diri mendekati Yashbi dengan memajukan langkahnya.
__ADS_1
"dengar tuanku yang terhormat. Kejadian tadi hanya kebetulan dan aku hanya berniat menolongnya. Kau tahu mengapa karena barang elektronik di rumah anda ini sudah lama terpakai. Anda tahu bukan jika peralatan yang jarang dipakai akan berakibat seperti apa? lalu jika wanita itu mati dengan cara seperti itu maka anda pun akan mati juga. Jadi aku mohon dengarkan apa yang kukatakan sekarang ini saja"ucapan sopir yang penuh tekanan. Hingga mampu membuat Yashbi terdiam. Pandangan mereka saling beradu. Tidak kalah tajam pandangan sopir dibandingkan Yashbi,tuannya.