Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 55


__ADS_3

Sebelumnya, Yashbi menghempaskan tubuh Ashana secara kasar hingga tersungkur ke lantai dingin dan berdebu.


Braaag


"awww"


Ashana meringis kesakitan. Memberanikan menatap wajah Yashbi yang sedang diliputi amarah mengingat Ashana memasuki ruangan yang tidak pernah disentuh orang lain selain Yashbi, si pemilik.


"kau berani sekali memasukinya. Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuamu. Hah!" teriak Yashbi dengan nafas terengah-engah. Dada bergemuruh.


"dengar. Kali ini aku maafkan kelakuanmu yang seperti ini. Tapi jika terulang jangan salahkan aku" ucap Yashbi memegang rahang Ashana dengan erat. Menatap Ashana yang belum memakai pakaian pelayan yang sudah disediakan.


"cepat pakai baju yang sudah diberikan tadi" ucap Yashbi dengan tatapan nyalang melepaskan kasar tangan yang memegang rahang Ashana. Beranjak berdiri.


"aku sudah membantumu untuk menikah. Ya pernikahan bodoh ini. Lalu sekarang, kau ingin aku menjadi pelayan di rumah ini? jangan bercanda, tuan Yashbi"ucap Ashana beranjak dari lantai.


" dengan terjebak dipernikahan yang kalian rencanakan apa kalian memikirkan sedikit saja kehidupanku selanjutnya? ah... tidak mungkin manusia seperti kalian memikirkan orang lain"ucap Ashana meledek.


" yang kutahu saat ini laki-laki yang berada di hadapanku bukanlah manusia melainkan mayat hidup. Ya mayat hidup yang sam sekali tidak memiliki hati nurani dan..." ucapan Ashana terhenti kala bibir Yashbi ******* bibirnya. Ashana berusaha melepaskan. Namun, kekuatan mereka jauh berbeda.


Yashbi melepaskan tautan bibir mereka dengan senyuman liciknya. Ashana tampak berantakkan nafas memburu menandakan sangat marah.


"bicara satu kata lagi akan kupastikan aku pasti meminta hakku padamu sebagai seorang suami terhadap istrinya"ucap Yashbi yang merasa moodnya mulai kembali normal setelah ciuman barusan.


Ashana diam mematung menatap ke arah Yashbi dengan tatapan benci.


"murahan. Kau laki-laki murahan. Sangat murahan" ucap Ashana melangkahkan kaki berniat meninggalkan ruangan itu tapi Yashbi menahannya dengan memegang lengannya berbisik di telinga Ashana. Posisi Yashbi berada di belakang Ashana.


"lakukan apa yang kuperintahkan. Kau tidak menginginkannya, bukan jika terjadi sesuatu terhadap ibumu" ucap Yashbi penuh tekanan.


Yashbi meninggalkan Ashana. Langkahnya terhenti di lorong dengan lampu temaram.


"tuan.." sapa sopir.


"apa? katakan yang kau ketahui"


Sopir menjelaskan tentang Anuya dan Clara.


Yashbi tersenyum simpul. Sebenarnya dia sudah mengetahuinya hanya saja ingin lebih pasti dan yakin.


"dan tentang orang suruhan tuan Robin sedang dalam perjalanan menuju tempat ini"


Yashbi membalikkan badan menghadap si sopir dengan tatapan tajam.


"aku ingin mendengar pendapatmu kali ini. Kau sudah cukup lama bekerja denganku jadi tidak masalah bukan jika aku ingin mendengarkan pendapatmu" ucap Yashbi

__ADS_1


"silahkan, tuan. Katakan saja. Aku pasti mengeluarkan pendapatku meski saya sadar diri mungkin saja pendapat saya tidak cukup baik"


"aku yang akan memutuskannya itu baik atau tidak. Dengar, aku ingin sekali mempermalukan mereka sekaligus. Seorang yang sudah menyentuh anakku bahkan lebih tepatnya ingin melenyapkan anakku,Morina. Aku ingin menghukum mereka tapi secara perlahan. Apa aku harus melakukannya di rumah ini atau di tempat yang istimewa? "


" anda harus melakukan di kedua tempat itu, tuan. Karena sudah mengikutsertakan seorang yang tidak tahu apapun terlebih lagi itu anak anda sendiri"


Yashbi tersenyum puas dengan jawaban sopir ya sekaligus orang kepercayaannya.


************


Kembali ke saat ini...


Di ruangan keberadaan Yashbi, Merisa, Robin dan Anuya. Mereka dikagetkan kedatangan beberapa orang suruhan Robin. Seorang pemuda yang mendekati Morina dan beberapa orang yang menculik Morina. Mereka dalam keadaan babak belur mungkin karena berusaha kabur. Terutama seorang pemuda yang berbuat tidak senonoh. Yashbi menghampiri mereka satu per satu.


"apa yang harus aku lakukan agar hati dan otakku merasa puas? hah. Setelah apa yang kalian lakukan terhadap anakku" bentak Yashbi dia, mengeluarkan sebuah pistol di balik bajunya.


"meski pistol ini tidak memiliki peluru akan kupastikan sekali tembak kalian akan mati di tempat" ucap Yashbi dengan tatapan nyalang.


"heh, benda mainan yang kau miliki lumayan unik juga" celetuk Anuya yang berdiri tidak jauh dari Yashbi.


"sejak awal aku perhatikan kondisi saat ini membuatku mengerti. Aku akan mendukung apa yang kau lakukan"


"diam! atau aku akan menembak mulutmu" ucap Yashbi menodongkan pistol ke mulut Anuya.


Anuya mengangkat kedua tangannya.


Doooor


Yashbi menarik pelatuk dan menembak mulut Anuya. Semua orang yang ada di tempat berteriak.


"aku sudah memperingatimu tapi kau..."


Anuya memuncratkan darah dari dalam mulutnya.


"aku hanya menembaknya agar kau berhenti bicara"


Anuya mulai berkeringat dingin dengan kedua lutut menyentuh lantai. Telapak tangan yang dipenuhi darah.


"sial! dia tidak main-main dengan ucapannya. Untung saja dia tidak memakai peluru bisa-bisa kau mati saat ini juga" batin Anuya


Ya, Yashbi tidak menggunakan peluru dia menggunakan tekanan dari tubuhnya lalu menyalurkannya ke pistol itu.


Yashbi melepaskan beberapa tembakkan melukai orang-orang yang sudah berniat jahat terhadap anaknya yang tidak lain suruhan Robin.


"kali ini giliran kalian berdua" ucap Yashbi menghela nafas kasar.

__ADS_1


"siapa yang akan aku tembakki lebih dulu?" ucap Yashbi menatap Robin dan Merisa secara bergantian.


"semakin aku membiarkan sikap kalian terhadapku semakin aku melihat jelas betapa busuknya kalian"


"tuan, Robin..."


Saat namanya di sebut Robin sudah berkeringat dingin semenjak tadi.


"kau membutuhkan ini, kan?" ucap Yashbi melemparkan sejumlah uang dan beberapa cek kosong ke wajah Robin.


"apa ini cukup untuk membawa putri bungsumu?"


Deugh


Seketika pacuan jantung Robin tidak beraturan.


"Clara saat ini berada denganmu, bukan?"


"jika sampai tiga hari kau tidak membawanya padaku kau tahu sendiri akibatnya"


"a... aku tidak tahu di mana anak itu" ucap Robin terbata berusaha mengelak.


"jadi jangan sembarangan menuduh yang sama sekali tidak aku lakukan" ucap kembali Robin. Pandangan mereka saling bertemu.


Yashbi menyugar rambut dengan satu tangannya. Dan tawanya pecah.


"baiklah. Apa yang harus kulukai lebih dulu?" ucap Yashbi menatap Robin dari ujung kaki hingga kepala.


"ketika orang tua kehilangan anaknya mereka akan berusaha sampai mati untuk menemukannya. Namun, apa yang kalian lakukan? kau dan juga kau hanya mementingkan keinginan masing-masing"


"itulah kesalahan terbesar kalian!!!" teriak Yashbi menggelegar di ruangan itu.


"dan tanpa bantuan peralatan jaman sekarang aku sudah menemukannya, Tuan Robin. Dia saat ini berada di rumahmu"


Saat Yashbi mencari keberadaan Ashana dan malah memergoki Ashana berada di ruangan itu. Mata Yashbi melihat separangkat pakaian Clara yang di patung wanita dan melihat puzzle secara acak matanya seketika menatap pokus salah satu puzzle yang merupakan ciri-ciri rumah Robin.


Doooor


Yashbi menembak ke arah Robin beberapa kali.


Darah keluar dari tubuh Robin. Merisa berteriak.


"hentikan!" ucap Merisa menghampiri Robin dan menangkap tubuhnya yang akan ambruk.


Tubuh Merisa gemetar dan menatap Yashbi.

__ADS_1


"kenapa kau melakukan ini, Yashbi?"


"hah, kau jangan pura-pura bodoh. Apa tidak cukup jelas apa yang terjadi di tempat ini" ucap Yashbi menatap Merisa dan Robin.


__ADS_2