
Sementara, Sandi memberanikan diri menghampiri Yashbi yang tengah bersandar di kamar yang telah dibersihkan Anzel.
Pintu terbuka. Yashbi mengira yang datang adalah Anzel dan Ashana. Nafas Yashbi yang lemah dan keringat membanjiri tubuhnya terlihat jelas.
"ada apa?" tanya ketus Yashbi. Tanpa melihat siapa yang mendatanginya.
Sandi mengedarkan pandangan.
"pasti ini kamar yang ditempati Ashana" ucap Sandi santai. Leher Sandi masih terlihat membekas cekikkan dari ibu Ashana.
"ck!"
"dia sangat menyukai bintang. Dan ini..." ucap Sandi sembari melangkahkan kaki ke arah sudut tembok yang terlihat ada sebuah gambar bintang dengan warna kuning yang berbeda. Dibagian sebelah bintang warna kuning tua dan bagian sebelah bintang lagi warna kuning muda. Yang mewarnai bintang itu adalah Ashana dan Sandi saat mereka masih kecil.
Terlihat Sandi tersenyum sembari menatap fokus kearah gambar bintang itu membuat Yashbi kesal.
"kau sangat dekat dengannya. Mendengar hal itu membuatku tidak heran"
Sandi menoleh kearah Yashbi.
"ya hubungan kami memang sangat dekat bahkan lebih dekat dari ini, tuan Yashbi" ucap jelas Sandi semakin memancing rasa kesal yang ada pada Yashbi.
"aku sangat menyukai dan menyayanginya sejak awal pertemuan kita. Dimataku dia seperti seorang dewi yang diturunkan untuk seorang laki-laki yang menyedihkan sepertiku"
"ya kau memang menyedihkan dan menyebalkan. Aku tahu itu"
Lagi, lagi Sandi hanya tersenyum.
"dan juga memuakkan. Apalagi jika kau terlihat tersenyum menjijikan seperti itu"
"oh ya. Tapi sepertinya kau mengatakan hal sebaliknya, tuan Yashbi"
"apa maksudmu? jangan mengatakan hal yang sulit dimengerti kita tidak sedang dalam sebuah pekerjaan yang penting jadi bicara saja dengan jelas"
"kau sensitif sekali. Ah... aku cukup paham. Jika seorang laki-laki menjadi lebih sensitif dari sebelumnya itu karena barang miliknya terancam akan direbut orang lain" ucap Sandi dengan berdiri tidak jauh dari Yashbi yang masih terduduk dikasur lipat.
Yashbi yang hanya pokus pandangan lurus kedepan.
__ADS_1
"apa kau saat ini sedang merasa iri karena barang yang kau maksud sudah menjadi milikku? ah... atau sebaliknya kau sedang berusaha keras menahan perasaan lain didalam sini" ucap Yashbi seraya beranjak mensejajarkan posisi dengan Sandi meskipun satu tengannya bertumpu ketembok dan tatapan dingin sedingin Antartika.
Yashbi menunjuk bagian dada Sandi.
"hei, anak kecil kemarin sore. Jangan pernah mengatakan suatu hal pada seseorang padahal kau sendirilah yang sedang mengalaminya. Apalagi jika terlihat menyedihkan. Itu sangat memalukan" ucap pedas Yashbi.
Sandi melangkah satu langkah lebih dekat dengan Yashbi.
"tuan Yashbi. Dengar, baik-baik. Suatu saat aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sedari dulu"
Tawa Yashbi pecah seketika.
Ha ha ha
"ya, lakukanlah. Aku dengan senang hati dan merasa terhormat jika kau bisa melakukannya tapi..."
"tapi jika kau tidak bisa sampai saat itu tiba. Maka aku akan sedikit melakukan pembelajaran untukmu karena telah mengusik sesuatu yang telah menjadi milikku" ucap Yashbi penuh penekanan.
Sandi dengan susah payah menelan salivanya. Dia tahu diri jika melawan Yashbi bukanlah hal mudah mengingat Yashbi lebih berpengalaman darinya dan bukan orang sembarangan.
"ah... baiklah, baiklah. Aku mengerti apa maksudmu"
Deugh
"lebih tepatnya orang tuamu sedang membutuhkanku saat ini. Tapi..." ucapan Yashbi terjeda.
"dia mengetahuinya? bagaimana bisa? padahal aku belum memenritahukannya" batin Sandi heran.
"tapi aku tidak ingin melakukannya. Jika kau tidak ingin melakukannya maka jangan harap orang tuamu akan pulih kembali. Itu percuma saja. Sama halnya aku ini tidak berguna untuk mereka"
Yashbi mengetahui kondisi orang tua Sandi. Karena saat pertemuan Sandi dan Ashana dia mencari tahu tentang Sandi dan keluarganya. Saat memandangi sebuah poto Sandi beserta kedua orang tuanya Yashbi langsung mengetahui apa yang sedang dialami kedua orang tuanya.
"jadi sebaiknya kau cari saja orang lain"
Karena kondisi Yashbi yang lemah dia oleng dan akan terjatuh dengan sigap Sandi menangkap tubuhnya diwaktu yang sama Ashana, Anzel dan Jaka melihat pemandangan itu diambang pintu yang sedari tadi terbuka. Mereka salah paham. Menyangka jika tuan mereka memiliki hubungan. Begitu juga dengan sopir sekaligus orang kepercayaan mereka memiliki hubungan yang sama. Itu yang ada dalam benak Ashana.
"apa kalian memiliki hubungan yang selama ini kalian tutup?" celetuk Ashana dengan wajah dan nada datar.
__ADS_1
Yashbi, Sandi, Anzel dan Jaka dibuat melongo dengan pertanyaan Ashana.
"tenang saja. Jika memang iya aku tidak akan menyebar luaskannya. Percayalah"
"lepaskan!" bentak Yashbi menepis kasar tangan Sandi.
"jangan bicara omong kosong" ucap Yashbi kesal.
"aku akan mengakuinya sesuai dengan apa yang dipikirkan Ashana. Dengan begitu dia akan ragu melakukan bulan madu denganmu. Bagaimana? Apa anda masih keukeuh tidak mau untuk mengobati kedua orang tuaku? " ucap Sandi pelan yang hanya terdengar oleh Yashbi. Sandi mengangkat satu alisnya.
Yashbi mengeraskan rahangnya dia sangat kesal dengan tingkah laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
" bocah d*ngu ini berani sekali mengancamku" batin kesal Yashbi.
Suasana hening sesaat.
"saat ini aku sudah tidak memiliki kedua orang tua. Mereka sudah pergi ke tempat yang sangat indah. Untuk melepas kerinduan aku hanya bisa mendoakannya karena itu yang mereka butuhkan sekarang ini hingga seterusnya" lirih Ashana dengan mata berkaca-kaca.
Satu tangan Ashana ada yang memegangnya begitu juga untuk satu tangannya lagi. Ya, siapa lagi kalau bukan Yashbi dan Sandi.
"kau tidak sendiri. Masih ada aku yang selalu ada untukmu" ucap serempaj kedua laki-laki itu.
Yashbi dan Sandi saling menoleh. Dan pandangan mereka bertemu. Jika difilm anime mungkin ditengah-tengah mereka ada semacam kilat atau sengatan listrik.
Begitu juga dengan kedua orang kepercayaan mereka.
Melihat tingkah mereka membuat Ashana terkekeh geli. Melupakan sejenak kesedihannya.
"mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi aku ingin sekali mengetahui lebih jelas tentang pekerjaanmu. Bisa kau jelaskan?" ucap Ashana lembut pada Yashbi.
Yashbi sejenak berpikir dan pikirannya terlintas tentang Ashana yang selalu bicara dengan tenang.
Terlihat senyum hangat Yashbi ditujukan untuk Ashana.
Karena momen langka Anzel beberapa kali mengabadikannya dengan ponsel miliknya.
Yashbi dengan nafas berat menjelaskan apa pekerjaannya sebenarnya.
__ADS_1
Kala Yashbi masih kecil dia selalu bermimpi seluruh tubuhnya diselimuti asap putih dan sebuah tangan selalu menolongnya. Ternyata mimpi itu ada arti dan maknanya. Asap putih adalah sesuatu bentuk kekuatan yang mencari tuannya. Setiap tuan yang memilikinya akan berbeda pula kekuatan yang akan terbentuk seperti Yashbi saat ini. Dan asap putih itu sebagian kecil dari kekuatan alam semesta.