Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 136


__ADS_3

Sandi, Jaka dan anak buah lainnya mengangkut jasad orang tua Sandi. Mereka keluar dari ruangan bawah tanah.


Dengan langkah berat Sandi berjalan paling depan. Wajah tertunduk sedih. Pesawat pribadi sudah menunggu tidak jauh dari mereka. Beberapa pengawal menyambut mereka.


Sandi dan yang lainnya menuju tempat pemakaman.


Beberapa saat kemudian, mereka berada di taman yang luas.


"tuan.... ?" tanya Jaka memberanikan diri.


Sandi membalikkan badannya. Melihat Jaka beserta anak buah lainnya.


"apa kalian masih ingin tetap mengikutiku? aku memiliki sesuatu untuk dikatakan pada kalian" ucap Sandi menghela nafas kasar. Sandi memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan sebelumnya dan berniat menjalani hidup sederhana.


Jaka dan anak buah lainnya tetap akan mengikuti Sandi.


_________


Kembali ke tempat Yashbi.


Yashbi yang sedari menahan amarahnya karena melihat dengan mata kepala sendiri Karmellita (tubuh palsu yang dibuat Zeys) yang tidak lain adalah Clara dibunuh oleh Anzel. Orang yang hidup bersama dan dipercayanya.


Yashbi dan Anzel terlibat perkelahian. Yashbi yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang jauh berbeda dari Anzel (sebelumnya Dewa) membuat dirinya terpojok.


Yashbi mendapat pukulan telak disekitar wajah dan tubuhnya terdorong hingga beberapa meter.


"kita jauh berbeda, Yashbi" ucap Anzel meremehkan. Anzel tahu betul jika Yashbi sangat tidak menyukai jika dirinya diremehkan termasuk orng terdekatnya.


Anzel terus mengatakan hal yang memicu kemarahan Yashbi semakin memuncak dan meledak.


Zeys yang menyaksikan aksi mereka terlihat menikmatinya.


"apa kau benar-benar akan melakukannya? setelah menjadi manusia kau terlihat menyedihkan sekali" gumam Zeys.


Ashana khawatir dengan kondisi Yashbi yang terlihat sudah babak belur.

__ADS_1


"apa kau menikmatinya?" celetuk Ashana. Pertanyaan yang ditujukan untuk Zeys.


Zeys menoleh dengan kedua tangan terlipat didadanya.


"itu urusan mereka. Yang satu manusia bodoh mudah sekali ditipu dan yang satu dewa yang menjadi manusia bodoh karena..." ucapan Zeys terhenti.


"intinya aku tidak ingin campur kedalam urusan mereka dan aku lebih menyukai mengurus seorang perempuan dibanding laki-laki"


Ashana menghela nafas kasar.


"aku akan memberitahunya jika perempuan itu bukanlah istrinya melainkan..." ucap Ashana terhenti Zeys memotong ucapannya.


"dan setelah itu kau akan memberitahu siapa dirimu sebenarnya? hah" ucap Zeys mendekatkan wajah pada Ashana mecondongkan tubuhnya.


"ingat. Jika kau memberitahu siapa dirimu sebenarnya kau akan lenyap, hilang saat itu juga. Apa kau lupa jika tujuanmu kuhidupkan kembali untuk apa?" ucap Zeys dengan nada pelan tapi membuat Ashana tertekan.


Tujuan Zeys menghidupkan kembali Karmellita agar kekuatan alam semesta atau bintang Canis Major tidak sepenuhnya dimiliki Clara. Jika itu terjadi Clara akan dengan mudah menghancurkan dunia miliknya dan dunia manusia bahkan sebagian Dunia Atas pun akan terkena imbasnya.


"lalu, apa kau akan membiarkan salah satu dari mereka mati lalu, baru menghentikannya?" tanya Ashana semakin khawatir dengan kondisi Yashbi.


"kau tidak pernah bertanya padaku secara langsung tentang siapa diriku dan kau memendam semua tentang yang kau ketahui baik tentangku ataupun perempuan itu"


"aku hanya ingin tahu apa kau akan bicara terus terang padaku atau tidak. Mengingat kita sudah hidup bersama. Dan untuk masalah Clara sejak awal bertemu aku sudah tahu siapa dirinya. Hanya aku diam saja entah apa yang kurasa an saat itu yang pasti setiap bertemu dengannya aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri tapi alam bawah sadarku tahu betul siapa yang melakukannya"


"lalu, apa kau masih mengingat kejadian dimana dirimu menabrak istrimu sendiri? ya, kau sendiri yang menabrak ya hingga kehilangan nyawa"


Yashbi tidak menjawab dia hanya membisu lidahnya terasa kelu.


"apa kau percaya aku yang melakukannya?" celetuk Yashbi.


"apa maksudmu?"


"aku tidak mungkin melakukan itu padanya" ucap Yashbi dengan nada melemah.


Perkelahian adu kekuatan manusia yang pada umumnya kekuatan fisik. Anzel yang sama sekali tidak memakai kekuatan akar pohon (serat) inti bumi. Dan Yashbi yang memiliki fisik kuat mereka berkelahi dalam waktu cukup lama hingga matahari terbit.

__ADS_1


"sudah saatnya" ucap Zeys menghampiri mereka diikuti Ashana.


Yashbi dan Anzel tergeletak diatas permukaan tanah nafas terengah-engah.


"apa kalian menikmatinya?" tanya Zeys mengangkat satu alisnya.


Tidak ada yang menjawabnya.


"sepertinya kalian tidak mungkin bicara disaat seperti ini" ucap Zeys berdiri diantara keduanya.


"apa kau sudah akan mati?" tanya Zeys pada Anzel.


Yashbi yang berada disamping Anzel menoleh kearahnya. Terlihat Anzel tersenyum lebar.


"aku... aku sangat menikmatinya disaat-saat terakhirku" ucap Anzel yang membuat Ashana dan Yashbi bingung apa yang mereka bicarakan.


"aku memanggilmu dengan sebutan tuan" ucap Anzel yang dibarengi tawa.


"awalnya aku sangat merasa jijik memanggilmu dengan sebutan itu"


"tapi, aku teringat lagi saat kau dan ibumu menemukanku dicuaca yang sangat dingin. Kalian memberikanku kehangatan dimana saat itu aku melepaskan sebagian besar kekuatanku ke tempat asalnya. Itu adalah hukuman mutlak untukku yang memilih menjadi manusia"


"satu per satu manusia meninggalkanku ketika mereka sudah mulai merasa cukup, merasa keinginannya sudah terpenuhi. Dan aku merasa dengan kekuatan sebesar itu tidak akan berguna jika untukku sendiri"


"tapi, aku harus memberikan kekuatan yang tersisa dalam diriku untukmu"


Deugh


Yashbi beranjak dia terduduk diatas permukaan tanah.


"apa maksudmu?"


Anzel hanya tersenyum tipis.


"seperti yang kukatakan sebelumnya. Kau (Yashbi) harus melenyapkan makhluk terdahulu. Setelah itu kau akan tahu apa yang terjadi pada tempat ini"

__ADS_1


__ADS_2