
Yashbi melakukan pengobatan dengan mengeluarkan tenaga extra karena makhluk yang dihadapinya cukup kuat. Salfa dengan wajah cemas segera bergegas keluar memikirkan di mana dia mendapatkan daun sirih hitam itu.
Salfa melajukan mobilnya berpikir keras berkali-kali menghela nafas. Dia melihat wajah Yashbi tidak pernah seserius itu.
"baru kali ini aku melihat wajahnya seserius dan sepanik itu. Apa ayah akan baik-baik saja?biasanya dia saat mengobati selalu terlihat santai dan mudah " batin Salfa
Kembali ke tempat Yashbi.
"apa yang sudah kau lakukan, pak Danu? hingga seperti ini. Aku harap setelah ini kau bicara jujur. Ternyata dunia sempit sekali anakmu adalah temanku" ucap Yashbi
Meskipun Danu memejamkan matanya dia masih bisa mendengar setiap orang yang bicara dengannya.
Yashbi sekilas teringat Ashana.
Ashana yang masih berada di dalam kelas. Langit gelap tidak ada setitik pun cahaya. Di perjalanan dalam pencarian daun sirih hitam itu Salfa teringat ada di satu sekolah yang tidak lain adalah sekolah di mana Ashana berada. Salfa menancapkan gas untuk segera sampai di sekolah Ashana.
Drrttt
Drrttt
Ponsel miliknya mendapatkan panggilan masuk dari ibunya.
"halo, ma"
"bagaimana keadaan ayahmu? ada kemajuan?"
"aku sedang mengobatinya, dia pasti pulih seperti sebelumnya. Ma, jangan khawatir"
"ayahmu sakit seperti ini sudah dua bulan. Tidak bisa melakukan apapun. Seperti bayi. Jika seperti itu terus aku akan menggugat cerai"
Deugh
"ce...cerai?apa yang kau katakan? harusnya kau menemaninya dan merawatnya" ucap Salfa kesal
"aku tidak menginginkan hal itu. Merepotkan saja. Kau tinggal pilih mau ikut denganku atau ayahmu yang cacat itu" ucap seorang wanita paruh baya di seberang sana
"hah...lakukan saja apa yang mama inginkan. Satu hal perlu aku ingatkan jika ayah sudah pulih aku tidak ingin kalian bersatu" ucap Salfa yang menutup sambungan telponnya secara sepihak
"apa-apaan sudah tua harusnya sadar dan semakin bijak bukannya seperti anak umur belasan tahun. Labil" ucap Salfa yang melajukan mobilnya semakin kencang
.
.
.
__ADS_1
Di dalam kelas, Ashana dihampiri Indra yang menyodorkan minum dan makanan.
"sampai kapan kau akan di ruang kelas?" tanya Indra
Ashana mendongakkan kepalanya.
"kau belum pulang?" tanya Ashana balik
"aku masih di sini berarti aku belum pulang, kan" ucap Indra
Yashbi yang teringat Ashana.
"di mana dia sekarang? apa sudah pulang dari sekolah?" batin Yashbi sambil tertawa kecil mengingat dirinya bisa sedikit melupakan Clara yang selalu bersarang dihati dan pikirannya
.
.
.
"biarkan aku membantumu" ucap Indra menawarkan diri
"tidak perlu aku bisa menyelesaikannya" ucap Ashana menolak
"kalau begitu makan dan minumlah dulu" ucap Indra yang menatap lekat Ashana yang sedang pokus menulis
Sementara, Salfa tiba di depan pintu gerbang sekolah Ashana dan melihat belum terkunci. Dia segera bergegas masuk seperti maling celingak celinguk. Sudah hampir lima belas menit tapi belum menemukannya.
"aish... aku lupa di mana sirih hitam itu aku melihatnya?" ucap Salfa memegang kedua belah pinggang tidak mau menyerah dia mencari kembali keberadaan sirih hitam itu
"Ash, apa kau menyukainya?" tanya Indra tentang pernikahannya dengan orang asing itu
Uhuk
Uhuk
Ashana tersedak saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Indra dengan sigap menyodorkan air minum dalam botol.
"entahlah, dra. Pernikahan ini aku berharap hubungan dengan ibuku bisa membaik" ucap Ashana yang sedikit menundukkan kepalanya
"lalu?" tanya kembali Indra
"aku akan mencoba untuk bersikap layaknya seorang istri" ucap Ashana yang terpaksa tersenyum di depan mantannya itu
"semua ini terjadi karena kesalahanku. Andai waktu aku tidak melakukan hal itu padamu mungkin hubungan kita berlanjut dan baik-baik saja. Harapan terbesarku meskipun tidak akan terwujud" lirih Indra mata yang berkaca-kaca
__ADS_1
"awalnya aku memang menyalahkanmu tapi sekarang tidak lagi. Ini sebagian perjalanan kita. Meski kita sudah tidak berhubungan lagi tapi aku ingin kita menjadi teman" ucap Ashana dengan pipi gembul karena mengunyah makanan yang diberikan Indra
Indra tersenyum sambil mengeluarkan air matanya.
"baiklah. Aku yakin ini pasti yang terbaik" ucap Indra
.
.
.
.
.
.
Di rumah Lani,
Doni dan Lani duduk di gazebo halaman belakang rumah. Mereka saling bicara satu sama lain.
"ada apa kau mendatangiku?" ucap ketus Lani
"tadi kau bilang kau teman masa kecilnya Yashbi?" tanya Doni
"euumphh" jawab singkat Lani
"kau menyukainya, benar?"
Lani menoleh ke arah Doni.
"aku tahu saat pertama kali tadi melihatmu. Kau tersenyum tulus untuknya. Ya, itu gambaran seseorang yang sedang merasa senang melihat orang yang disukai lebih tepatnya dicintai" ucap Doni
"aku berteman dengannya sejak kami kecil. Kita berjanji akan menikah kelak sudah cukup umur. Namun, langit berkata lain saat itu, aku mengidap penyakit yang harus melakukan pengobatan di luar negri. Karena penyakit itu mempengaruhi kondisi mentalku aku tidak ada keberanian untuk menghubunginya. Padahal mudah jaman sekarang untuk sekedar bicara dengan seseorang yang berjauhan dengan kita namun, tidak berlaku untukku saat mental dan fisikku tidak memungkinkan"ucap Lani memperlihatkan benda saat mereka kecil benda patung kecil sepasang kekasih yang berada di pelaminan. Dia juga menunjukan luka-luka bekas sayatan didekat nadi
"kau ingin bunuh diri?" tanya Doni kaget
"ya, sekitar sembilan kali aku mencoba mengakhiri hidupku. Saat bersamaan aku pun mengurungkan niatku saat mengingat laki-laki itu, menatap potonya" ucap Lani yang memeluk kedua lututnya
Doni merasa iba dengan ucapan dan ungkapan terus terang Lani terhadap orang yang baru pertama kali ditemui.
"kenapa kau menceritakannya padaku?" tanya Donu
"saat kondisi terpurukku saat itu juga aku tidak memiliki teman. Ya, aku menarik diriku keramaian" ucap Lani
__ADS_1
"oh begitu. Teman. Kita berteman mulai saat ini" ucap Doni mengulurkan tangannya
Lani menyambut uluran tangan Doni sambil tersenyum tipis.