Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Kebersamaan


__ADS_3

Di musium...


Ashana dan Sandi terlihat menikmati waktu kebersamaan mereka. Pertama kali masuk Ashana tertuju ke salah satu buku yang berjudul "Love is Painful and also makes lost direction".


"siapa yang menulis buku ini" tanya Ashana


"setahuku si penulis tidak menginginkan namanya dipublikasikan jadi dibuku itu hanya tertulis tanda underscore tiga kali" jawab Sandi sambil mengedarkan pandangannya


"oh.."


"sampai kapan kita berdiri di sini terus?" Sandi mengulurkan tangan dan disambut tangan Ashana


Selain buku tadi yang mereka lihat ada lukisan-lukisan abstrak, pemandangan, manusia dan artefak jaman dulu. Mata mereka tertuju ke salah satu fosil dinosaurus dan manusia purba.


" kita harus memberi hormat untuk mereka" Sandi sedikit menundukkan kepalanya


"kenapa harus melakukan itu?" tanya Ashana


"sebagai penghormatan saja karena mereka lebih lama hidup di bumi ini dan dengan adanya dunia saat ini awal muasal dari mereka. Kehidupan yang kita alami lebih maju dan modern" ucap Sandi


Ashana hanya tersenyum hangat mendengar ucapan Sandi. Tidak menyangka temannya satu ini berubah drastis dan menjadi pribadi lebih baik. Mengingat dulu Sandi tidak akan segan beradu jotos jika ada orang yang menganggu Ashana. Fisik yang kuat dari yang lainnya membuatnya banyak disegani teman sebayanya.


Grap


Salah satu tangan memeluk lengan Sandi


"pantas saja kau tidak ada di ruangan ternyata di sini" ucap Nina dengan senyum sumiringahnya


"kau selalu saja mengikutiku. Ada apa sih, Nin?" Sandi kesal


"aku hanya ingin dekat denganmu. Apa tidak boleh?" rengek Nina


"kau bukan anak kecil lagi. Jadi stop mengikutiku. Aku memiliki privasi harusnya kau ngerti itu" tegas Sandi


"apa kau lupa janjimu pada orangtuaku, San?" tanya Nina yang merasa puas karena Nina tahu betul jika Sandi mendengar kata orang tua dia tidak akan bisa berulah


"dengar, betul aku akan menjagamu selama studytour ini tapi tidak perlu sampai kau mengikutiku setiap detik" Sandi menjawab berusaha tenang di depan Ashana


Ya, Sandi ingin terlihat berubah disaat pertemuannya dengan Ashana berubah menjadi lebih santai dan kalem. Setidaknya Ashana memberi poin plus untuknya.


"San, apa kalian pergi berdua?" Nina mengalihkan topik


"kau lihat sendiri" ketus jawab Sandi


"kalau begitu aku ikut saja dengan kalian. Bagaimana?" tanya Nina


"ayo ikut saja dengan kami dengan banyak orang pasti lebih seru" jawab Ashana

__ADS_1


"bolehkan, San?" Nina mengabaikan Ashana


"kau tidak dengar apa yang barusan diucapkan, Ashana" Sandi kembali menjawab ketus


Mereka akhirnya pergi bersama.


Melihat seisi musium itu tanpa ada yang terlewatkan. Sesekali Sandi dan Ashana berpoto tidak ketinggalan Nina berpoto bersama Sandi. Nina selalu menjauhkan kedekatan Sandi dan Ashana tapi Sandi mengetahui apa maksud kedatangan Nina jadi dia bisa menghadapinya.


"Ash, setelah ini kita pergi ke mana?" tanya Sandi yang berjalan di samping Ashana


Tatapan hangat Sandi tidak pernah lepas saat melihat Ashana. Keadaan ini disaksikan Nina yang selalu berada di belakang mereka.


"sial!. Kau lihat saja wanita jelek. Saat pulang nanti aku tidak akan melepaskan Sandi begitu saja" batin Nina


Tempat tinggal dan sekolah Sandi saat ini berada di Semarang. Sejak awal kepindahannya sudah menjadi populer karena selain tampan tapi juga baik dan ramah. Nina yang terpesona saat pertama pertemuan mereka dan kebetulan orang tuanya mengenal baik membuat Nina leluasa untuk selalu dekat dengannya. Bahkan satu sekolah menyebarkan gosip jika mereka memiliki hubungan layaknya pasangan dan lebih parahnya mereka akan melaksanakan pernikahan setelah memasuki kuliah.


Sandi dan Ashana istirahat sejenak di sebuah warung kecil dan membeli minuman.


Gluk


Gluk


Gluk


"kau seperti kecebong, Ash" ledek Sandi


"arrrrgghh kau ini apa-apaan sih. Menjijikan sekali" Nina sangat marah


Ashana mengambil sapu tangan dari sakunya untuk membersihkan baju Nina namun Nina menolaknya dengan kasar hingga Ashana terdorong ke belakang.


"hentikan. Aku tidak butuh bantuanmu dan jangan pernah menyentuhku dengan tanganmu" ucap Nina, galak


Sandi mengambil sapu tangan dari tangan Ashana.


"kau tidak perlu semarah ini. Dia sama sekali tidak sengaja. Dan yang salah aku"ucap Sandi sambil membersihkan baju Nina. Nina menatap Sandi dengan tatapan berbinar, senang.


" a... aku minta maaf. Aku tidak sengaja, Nina"ucap Ashana nada lembut


Nina mengabaikannya dan hanya menatap jelas tidak menyukai kehadiran Ashana.


Ashana melihat jam tangan yang melingkar di tangannya menunjukan pukul 18.30


" San, sebaiknya aku pulang hari sudah malam. Ibuku pasti mencariku" Ashana membalikkan badannya


"t... tunggu dulu" Sandi memegang lengan Ashana


"ikut denganku sebentar" Sandi terlihat memohon

__ADS_1


Ashana hanya mengangguk pelan dan menoleh ke arah Nina yang tertinggal di belakang.


Nina sangat kesal dan semakin membenci Ashana.


.


.


.


.


.


"kau akan membawaku ke mana, San?" tanya Ashana, heran


"jangan banyak bicara. Kau pasti akan menyukainya" jawab Sandi


"kau ini aneh sekali dari awal pertemuan kita hingga sekarang ini" ucap Ashana dengan pandangan tangan Sandi yang masih memegang erat lengannya


"bukan aneh lebih tepatnya aku sudah berubah. Berubah menjadi laki-laki lebih baik" ucap Sandi


"euumphh aku juga merasa seperti itu kau jauh lebih hangat dan sedikit lebih manis" ucap Ashana


Mendengar ucapan Ashana membuat Sandi tersipu dan melayang. Siapa yang tidak merasa seperti itu jika mendengar pujian dari seseorang yang kita sukai dibeberapa tahun lalu.


"saat aku pindah aku berpikir perpisahan itu menyakitkan tapi ternyata tidak. Setidaknya memberiku ruang untuk menjadi lebih baik lagi" ucap Sandi


"ya perpisahan mengajarkan kita menghargai orang yang sudah ada di sekeliling kita" ucap Ashana


Ashana celingak celinguk mencari keberadaan Nina namun tidak ada sama sekali batang hidungnya.


"San, Nina tidak ikut bersama kita? kita harus mencarinya aku takut dia tersesat dan dijahati. Kau tahu kan orang-orang di sini" tanya Ashana dengan wajah penuh kekhawatiran


"biarkan saja. Lagipula dia akan kembali pulang karena di jemput orang suruhan orang tuanya" jawab Sandi


"waaahh berarti dia anak orang kaya pantas saja kulitnya mulus sekali dan wangi. Berbeda denganku..." Ashana mengendus-endus badannya sendiri untuk memastikan tidak bau badan


Sandi tertawa melihat kelakuan Ashana yang masih polos dan lugu.


"kau bukan bau atau wangi tapi tubuhmu itu tidak memiliki aroma sama sekali, Ash" ucap Sandi


Ashana memukul lengan Sandi


"kau ini selalu saja menghina tadi bilang aku kecebong sekarang hantu" ucap Ashana, kesal


Sandi menggaruk belakang kepala yang sbee2tidka gatal.

__ADS_1


"bu...bukan begitu maksudku. Mana mungkin aku menghinamu. Aku tidak mungkin mengeluarkan kata-kata yang membuatmu merasa terhina karena aku..." ucap Sandi dan mata mereka saling bertemu


__ADS_2