Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Bertemu kembali


__ADS_3

Esok harinya di tempat menunggu si mang cincau, Sandi sudah berpakaian seragam rapi dan wangi dia sedang menunggu seorang wanita yang sudah menarik perhatiannya sejak sekolah menengah pertama dulu.


"apa aku harus mengatakannya? urusan ditolak atau tidak aku pasti bisa menerima. Melihat dan bertemu dengannya kemarin saja membuatku semangat kembali. Sepertinya aku memang terkena penyakit akut bucin" Sandi yang sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya


Orang-orang yang melihat ke arahnya membuat terkagum-kagum bagaimana tidak Sandi memiliki wajah tampan dan postur tubuh tinggi bak seorang model. Dia merupakan keturunan Jerman dari ibunya dan ayahnya dari Kanada.


"dia masih belum juga datang padahal ini sudah telat lima belas menit. Apa terjadi sesuatu?. Tidak mungkin dia tidak seceroboh itu" gumam Sandi


.


.


.


Sementara di toko perhiasan Ashana dan ibunya sedang memilih emas yang cocok digunakan untuk pernikahan nanti.


"kau tidak perlu memilihnya biar aku saja yang memilihkannya untukmu" ucap ibu


Ashana menurut saja tidak mungkin beradu mulut dengan ibunya di tempat terbuka seperti ini lagipula dia tidak terlalu menginginkan atau menggunakan uang dari laki-laki itu yang di mana nanti akan menjadi suami untuknya.


"aku akan membeli yang ini saja"ucap ibu kepada seorang penjaga toko perhiasan

__ADS_1


Ya, emas yang dipilih ibu berukuran kecil dibanding dengan uang yang diberikan Yashbi. Jelas saja sisa uang pembelian emas itu akan dia pakai untuk keperluan pribadi.


"kau tidak perlu memakai emas dengan harga yang mahal. Ukuran ini cocok untukmu jadi jangan protes" ucap ibu


Ashana melihat jam di dalam toko perhiasan itu menunjukan pukul 14.00 sudah telat satu jam untuk menemui Sandi.


"bu, aku ingin pergi ke toilet tiba-tiba perutku sakit" ucap Ashana sembari memegang perutnya


"ya sudah pergi sana aku menunggumu di sini" ucap ibu


Ashana segera melangkah pergi sesekali memandangi ke arah ibunya yang sedang duduk di dekat toko perhiasan itu. Dia naik angkutan umum menuju ke tempat Sandi.


"apa dia baik-baik saja?" Ashana teringat jika Sandi takut sekali dengan petir


"tidak mungkin dia masih menungguku secara aku sudah telat satu jam" batin Ashana dengan wajah ketara cemas


Saat sampai di tempat tujuan Ashana mengedarkan pandangannya benar saja Sandi masih di tempat menunggu si mang cincau dengan memeluk kedua lututnya wajah pucat ketakutan. Ashana segera berlari mendekatinya.


Pandangan mereka bertemu Sandi tersenyum menyembunyikan rasa takutnya saat beranjak tiba-tiba saja tubuh Sandi akan terjatuh namun Ashana dengan sigap menahannya.


"kau baik-baik saja?" tanya Ashana khawatir

__ADS_1


"ya aku pasti baik-baik saja" jawab Sandi


"kenapa kau tidak pergi saja ini kan sudah telat satu jam" ucap Ashana


Mereka duduk di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari tempat sebelumnya.


"jangan pura-pura kuat kau kan takut dengan petir" Ashana memukul lengan Sandi


"aku memiliki keyakinan, Ashana" ucap Sandi yang memandangi wajah Ashana yang terlihat lucu saat sedang mengkhawatirkan dirinya


"keyakinan? jangan bilang kau mau membuat puisi anehmu lagi dan aku harus mendengarkannya" ucap Ashana


"atau jangan-jangan kau mau pindah agama pakai bilang segala keyakinan" Ashana seperti biasa bicara tanpa titik koma


"aku yakin kau pasti datang"ucap Sandi


Seketika wajah Ashana memerah.


" ya kau pasti datang kita sudah cukup lama tidak bertemu bagaimana jika pergi ke musium"ajak Sandi


Sandi masih ingat janji yang dibuat oleh dirinya sendiri saat lulus sekolah menengah pertama nanti dia akan mengajak Ashana ke sebuah musium namun keadaan tidak mendukungnya di mana Sandi harus berpindah sekolah karena orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2