
Sandi terlihat sangat kesal menyaksikan interaksi Ashana dan Yashbi. Dia kemudian menatap tajam orang kepercayaannya yang tidak lain Jaka yang duduk berada tidak jauh darinya.
Jaka mengeluarkan keringat dingin. Dia tahu betul apa yang akan dilakukan tuannya padanya.
Sandi mengeluarkan sebuah buku gambar yang ditemukan dirumah Lani (buku gambar milik Ashana) dan gantungan fosil dinosaurus.
"Ashana... aku yakin ini milikmu" ucap Yashbi menyodorkan benda itu diatas permukaan lantai.
Ashana meraihnya. Pertama membuka buku gambar.
"ini..."
"syukurlah. Aku mengiranya sudah tidak bisa diselamatkan karena kejadian ledakan itu" ucap Ashana lirih.
"dan juga... ini..." ucap Ashana menatap gantungan fosil dinosaurus yang berada ditelapak tangannya.
"aku menemukan buku itu dirumah tetanggamu yang rumahnya berada diseberang rumahmu" ucap Sandi yang pura-pura tidak tahu siapa Lani.
"benarkah? terima kasih, Sandi" ucap Ashana sambil tersenyum membuat Sandi tersipu.
Dan Yashbi pun kesal melihat interaksi mereka.
Yashbi terdiam kala melihat wujud lain dari dirinya menampakkan dirinya dan terlihat warna hitam semakin berkurang.
Yashbi teringat ucapan Zeys jika warna hitam itu memenuhi tubuh wujud lain dari dirinya maka Yashbi sendiri akan lenyap tanpa sisa sedikit pun.
Yashbi mencerna ucapan Zeys. Apa ini ada hubungannya dengan memperlakukan wanita yang tidak lain adalah Ashana?.
Yashbi menatap Ashana dan tanpa disadari memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ashana lalu memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya dibahu Ashana.
Anzel berdehem berulang kali.
"sebaiknya kita keluar. Tuan Yashbi dan nyonya Ashana akan istirahat karena ini sudah melebihi jam tidur" ucap Anzel beranjak dari duduk dan melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
Yashbi tersenyum kemenangan yang ditujukan pada Sandi.
Sandi sangat teramat kesal begitu juga terbakar cemburu. Dia beranjak dari duduk. Dan menghentakkan kakinya pergi dari kamar diikuti oleh Jaka.
Jaka memiliki firasat buruk tentang dirinya sendiri. Kala melihat kilatan cahaya dimata Sandi, tuannya.
"ternyata tubuhmu lumayan wangi" celetuk Yashbi membuat Ashana merasa gerah, kepanasan.
"kau pandai sekali berbohong. Aku belum melakukan mandi sore mana mungkin tubuhku wangi"
Yashbi tersenyum tipis.
Yashbi memeluk Ashana semakin erat.
__ADS_1
Dan wujud lain dari Yashbi tepat berada didepan mereka namun, kali ini Ashana tidak bisa melihatnya hanya Yashbi yang dapat melihatnya.
Yashbi tersadar jika kurang warna hitam dari wujud lainnya dirinya berkurang saat bersikap manis terhadap Ashana.
Ya, wujud lain dari Yashbi terlihat jelas warna hitam yang ada pada dirinya berangsur berkurang.
"oh...jadi begitu" gumam Yashbi yang terdengar oleh telinga Ashana.
"apa yang kau katakan? aku tidak mendengarnya"
"tidak, tidak. Aku tidak mengatakan apapun. Kau salah mendengarnya"
Ashana merasa kepanasan dan berkeringat.
"kau berkeringat, Ashana" ucap Yashbi. Terlintas otak usil.
"apa kau tidak kepanasan? disini tidak ada acce jadi aku akan membuka jendela kamarnya"
Ashana berusaha mencari alasan agar Yashbi melepaskan pelukkannya. Dan juga Yashbi tidak berhenti terus menerus mengendus aroma belakang telinga Ashana. Membuat Ashana semakin terbakar.
"diamlah, Ashana" ucap Yashbi.
Sedari tadi Ashana tidak mau diam.
Yashbi tersenyum simpul.
Deugh
"melakukan apa?" tanya Ashana menolehkan kepalanya namun, Yashbi segera menyambar bibir Ashana. Dan tidak sempat menjawabnya.
Dalam beberapa detik mereka berci*man.
Ashana baru pertama kali melakukan hal ini tanpa keterpakasaan.
Bruug
Yashbi mengukung tubuh Ashana masih dalam mode berci*man.
beberapa detik berikutnya, Yashbi melepaskan bibirnya karena Ashana berusaha berontak kehabisan nafas.
Nafas mereka saling beradu.
"aku tahu kau melakukan hal ini untuk kedua kalinya. Pertama kau melakukannya bersama mantan pacarmu yang masih ingusan itu hingga kalian melakukan hubungan layaknya suami istri" ucap Yashbi yang terus menatap Ashana.
Deugh
Ashana memalingkan wajahnya. Merasa malu apa yang diucapkan Yashbi barusan.
__ADS_1
"ya, kau benar. Aku melakukan hal itu tanpa ada ikatan pernikahan. Bukankah wanita sepertiku sangatlah hina? melakukan hal itu tanpa ada ikatan pernikahan" ucap Ashana terbata.
"aku tidak mempermasalahkannya. Itu bagian masalalumu"
"tapi jika kau melakukannya saat bersamaku yang saat ini adalah berstatus sebagai suamimu. Aku layak memberimu hukuman. Ya, karena aku suamimu"
Deugh
Ashana menatap kembali Yashbi. Pandangan mereka saling beradu.
"inipun kedua kalinya untukku. Pertama aku melakukannya bersama istriku"
"kau masih mencintai istriku dan juga kekasihmu. Aku tahu itu. Lalu, kenapa kau menyeretku kekehidupanmu lebih dalam lagi?" ucap Ashana berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dadanya.
Yashbi tersenyum tipis.
"aku kehilangan mereka begitu saja. Tanpa ada aba-aba. Yang kau lihat bukan rasa cinta melainkan rasa kehilangan. Kau harus mengetahuinya rasa cinta dan sayangku saat ini hanya ada dianakku, Morina" ucap jelas Yashbi.
Ashana berusaha tersenyum.
"beruntung sekali. Anakmu mendapatkan cinta dan kasih sayang yang besar dan tulus dari seorang ayah sepertimu. Jika mengetahuinya dia pasti akan senang. Dan menjadi anak yang paling beruntung didunia ini mendapatkan perasaan seperti itu dari orang yang menjadi cinta pertamanya "
" anak perempuan memiliki cinta pertama sejak terlahir kedunia ini yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri "
" pantas saja "
" aku ingin ketoilet. Apa kau bisa menyingkirkan tubuhmu? "
Tanpa banyak bicara Yashbi segera memindahkan tubuhnya.
Ashana dengan gerakan cepat meninggalkan Yashbi keluar kamar.
Di dalam kamar, Yashbi terlihat kesal. Memarahi wujud lain dirinya.
" kau memang tidak ada kerjaan. Menjadi penonton waktu kami berdua" ucap Yashbi menghampiri wujud lain dirinya.
Mereka saling berhadapan.
"kau sengaja? iya"
"padahal semasa hidupku aku tidak pernah melakukan dan melihat hal me*um seperti yang kau lakukan saat ini"
"aku jadi curiga apa kau benar-benar wujud lain dari diriku sendiri atau hanya buatan orang itu (Zeys)?" ucap Yashbi mengitari wujud lain dari dirinya.
Ashana menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah. Karena itu kamar mandi satu-satunya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Doni berdiri tidak jauh darinya.
" paman, apa yang kau lakukan disini? "tanya Ashana.
__ADS_1
Doni tersenyum hangat.