
"hubunganku dengannya sudah berakhir jadi ibu tidak perlu khawatir" ucap Ashana berusaha menenangkan ibunya yang semakin lemah.
"tunggu sebentar, bu. Aku akan membuatkan makanan dan minuman untuk mereka" ucap Ashana beranjak dari sisi tempat tidur.
Ibu hanya mengangguk pelan.
Ashana pergi menuju dapur menata makanan yang tadi dia beli dan membuatkan dua cangkir kopi kemasan untuk Doni dan Anzel yang sedang duduk di teras rumah.
Ashana menyuguhkan pada mereka dan duduk bersama mereka.
Sesaat suasana hening.
"paman, apa paman tahu tentang hal Yashbi mengobati ayah hanya sebuah alasan saja?" tanya monohok Ashana pada Doni memecah keheningan.
"a....apa maksudmu?" ucap terbata Doni.
"paman, aku sudah tahu semuanya. Dimulai jika aku bukan kandung mereka, alasan Yashbi menikahiku dan Yashbi yang membohongi kedua orang tuaku meskipun mereka bukan orang tua kandungku tapi aku merasakan sakit hati saat mengetahui jika mereka dibohongi. Apalagi saat itu posisi ayah sedang dalam keadaan sakit dan ibu yang putus asa dengan melihat kondisi ayah" ucap Ashana panjang lebar mata yang berkaca-kaca membuat dua laki-laki yang ada dihadapannya terdiam.
Deugh
"kau sudah mengetahui semuanya" ucap Doni tanpa melihat wajah Ashana. Ya, Doni tidak akan sanggup melihat wajah Ashana yang terlihat sedih seperti ini.
"kenapa paman melakukannya? apa paman diancam olehnya?".
"paman, apa paman mengerti persis kondisi kami?".
"dengar dulu, Ashana. Aku akan menjelaskannya. Tentu saja paman sangat mengerti kondisi bibi dan paman (ayah Ashana)"
Ashana menggelengkan kepalanya.
"tidak, paman. Paman sama sekali tidak mengerti"
"paman membohongi kami seolah-olah kami orang yang sangat bodoh, benar kan?" lirih Ashana.
"saat terakhir pun paman membohongi ayah dengan cara menikahkanku dengannya bisa membuat sembuh?" ucap Ashana tersenyum simpul.
__ADS_1
"tapi kenyataannya? paman lihat sendiri, kan." ucap Ashana sedikit menaikkan nada bicaranya.
Laki-laki yang ada dihadapannya hanya terdiam mematung sekaligus kaget.
"ayah tetap saja meninggal setelah beberapa bulan melakukan pengobatan oleh orang itu" ucap Ashana menundukkan wajahnya menyembunyikan tangisnya.
"pertama membohongi kami dengan alasan menikahi anak perempuannya akan bisa sembuh total. Kedua setelah perjalanan menikah baru saja beberapa hari berlalu terkuak kebenaran jika pernikahan itu hanya untuk memancing kekasih dari suami agar keluar dari persembunyiannya" ucap lirih Ashana menahan rasa sesak didadanya.
"parahnya lagi, wanita yang dinikahi seperti mayat hidup apapun yang diperintahkannya selalu dia turuti"
"sebaiknya kalian pulang. Aku masih ingin disini. Aku akan pulang sendiri jika menginginkannya" ucap Ashana beranjak dari duduk menatap kearah dua laki-laki yang terdiam mematung dikursinya masing-masing.
Ashana kembali menuju kamar ibunya dan ibu sedang terlelap tidur.
Ashana menaiki ranjang ibunya, terlentang dipinggirnya menatap langit-langit kamar. Baru menyadari jika rumahnya terlihat lebih bagus dari sebelumnya.
"apa ibu memperbaikinya? tapi dapat uang dari mana?" gumam Ashana melihat kearah ibunya.
"ibu, apa ibu sakit memikirkan ayah? ayah sudah tiada, bu. Dia sudah tenang dan damai di alam sana. Atau ibu memikirkanku karena merasa bersalah telah menikahkanku dengan laki-laki itu?ibu tidak perlu khawatir meski pernikahan ini awalnya cukup buruk aku yakin kedepannya akan baik-baik saja "ucap Ashana seraya memeluk ibunya dari pinggir.
Sedari tadi ibu belum tidur. Dia mendengarkan apa yang diucapkan Ashana dan tanpa disadari meneteskan air mata. Teringat ucapan mendiang suaminya jika Ashana adalah anak perempuan yang sangat baik. Bagaimana pun kita memperlakukannya dia pasti akan memaafkannya dan akan memeluk kembali kita ketika kita menjauhinya.
"maaf, maafkanku..." lirih ibu menatap kepala Ashana yang bersandar didadanya.
Terdengar deru dua mobil datang bersamaan. Dari perempatan jalan saat memasuki kawasan rumah ibu Ashana, dua mobil itu sudah terlibat saling kejar-kejaran.
Anzel sudah mengetahui siapa yang datang beranjak dari duduknya.
"sebaiknya kita bicara berdua tanpa ada orang yang mengetahuinya" ucap Anzel seraya melangkahkan kaki menjauh dari Doni yang masih terduduk dengan tatapan bingung. Dia sadar betul sudah menyakiti kakaknya dengan membohonginya begitu juga menyakiti Ashana yang sangat disayangi kakaknya. Doni pun menyayangi Ashana seperti anaknya sendiri.
Doni tersadar terbawa pengaruh mantra Yashbi dimana mantra itu berfungsi untuk mengikuti semua keinginan si pembaca atau penghafal mantra. Tersadar saat dirinya kembali ke rumah miliknya sendiri (kejadian saat pertama kali mendatangi rumah Ashana yang sudah hancur akibat ledakkan itu) dari situ Yashbi hanya fokus agar Ashana mau menikah dengannya tanpa ada perlawanan sedikit pun dan melupakan selain mempengaruhi Ashana, Yashbi juga harus mempengaruhi Doni yang dari awal menentang keputusan Yashbi untuk menikahi keponakannya dan hanya dijadikan alat.
Doni merutuki dirinya sendiri menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan lagi kedatangan teman dekatnya yaitu Yashbi.
Secara bersamaan Yashbi dan Sandi dari mobilnya masing-masing. Yashbi terlihat kesal melihat Sandi membawa permen rambut nenek berbentuk babi.
__ADS_1
Yashbi menaikkan satu alisnya. Melangkahkan kaki menjauhi mobilnya dengan langkah buru-buru ingin segera bertemu Ashana dan tidak memperdulikan Anzel yang dari tadi menyambutnya menundukkan kepalanya.
"dimana dia?" tanya Yashbi terus melangkahkan kakinya.
"dia ada di kamar ibunya, tuan" jawab Anzel.
Sandi yang tidak jauh dari Yashbi mengikuti langkah Yashbi.
"hentikan dia" titah pada Anzel yang mengerti maksud ucapan Yashbi adalah untuk mencegah Sandi ikut kedalam bersamanya.
"maaf, tuan. Anda dilarang untuk mengikuti tuan Yashbi apalagi sampai ikut kedalam" ucap Anzel hormat.
Langkah kaki Sandi terhenti yang tadi sumiringah tiba-tiba raut wajahnya berubah dingin tidak kalah dingin dengan Yashbi.
"ah.... kau menyebalkan juga. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan memberikan ini (menunjuk permen rambut nenek)" ucap Sandi menatap Anzel dengan tajam.
Anzel menatap permen rambut nenek itu. Dan teringat sebelum kejadian bintang jatuh itu, Anzel, Ashana dan Anuya berencana ingin membeli permen rambut nenek yang hanya ada di kota saat ini mereka tinggal.
" anda mau memberikan ini?" tanya Anzel memastikannya.
"ya. Karena aku tahu dia sangat menyukai permen ini. Setelah pulang dari pameran dan museum yang kita kunjungi pasti kami membeli permen ini" ucap Sandi dengan wajah sumiringah dan senyum lebarnya.
Jaka tidak lupa memotret momen langka sang tuan muda. Diponsel milik Jaka ada beberapa pose Sandi yang sama ketika membicarakan seorang wanita yang dia cintai dalam diam yaitu Ashana.
Melihat reaksi Sandi membuat Anzel berpendapat sendiri jika laki-laki yang ada dihadapannya ini menyukai adiknya dengan tulus.
"sejak kapan anda mengenalnya?" celetuk Anzel yang berbuah mode menjadi seorang teman bukan lagi seorang bawahan,sopir ataupun orang kepercayaan.
"sejak wanita itu pertama kali datang ke rumah itu" ucap Sandi menatap rumah ibu Ashana.
"kebetulan aku memiliki vila keluarga disekitar sini. Saat itu aku dan keluargaku sedang berlibur di vila. Karena masih anak-anak wajarlah ya, jika aku tersesat di dalam hutan itu kecil itu" cerita Sandi dengan sesekali tersenyum lebar mengingat masa itu. Masa di mana bertemu pertama kali dengan Ashana.
"hari mulai gelap. Hujan turun disertai suara petir membuatku semakin ketakutan. Kau bayangkan anak laki-laki berumur delapan tahum yang tidak pernah pergi kemanapun selain keperpustakaan dan museum tiba-tiba tersesat dihutan. Saat itu aku membayangkan kematianku. Dimakan ular, singa dan binatang buas lain. Tapi, wanita itu datang dengan menghampiriku yang gemetar seluruh. Lucunya dia memakai memakai kostum bintang yang sudah usang. Tepat berdiri dihadapanku"
"dan mengatakan kau akan baik-baik saja karena meski langit gelap dan hujan turun pasti akan ada cahaya bintang yang menerangimu" lagi, lagi Sandi tersenyum lebar mengingat kenangan masa kecil dengan Ashana.
__ADS_1
Deugh
Anzel teringat jika kalimat yang diucapkan Ashana adalah kalimat yang sering kali dia ucapkan untuk menenangkan Ashana saat cengeng atau takut sesuatu.