
Ashana terus berlari agar tidak terkena oleh Yashbi dan sopirnya. Tertatih-tatih karena tidak memakai alas kaki. Batu kerikil menancap di telapak kaki dia tidak merasakan hanya pokus berlari menjauh dari kehidupan yang diatur oleh Yashbi. Ya, itu pendapat pikirannya sendiri.
"aku tidak akan menyerahkan hidupku begitu saja. Sampai kapanpun tidak akan pernah aku lakukan" gumam Ashana
Langit mulai turun hujan...
"tuan, kita harus berteduh. Hujan semakin lebat" ucap si sopir
"tidak. Teruskan saja. Bagaimana aku bisa diam begitu saja sedangkan kehidupan seseorang tergantung pada tanganku" ucap Yashbi badan yang basah kuyup dan kedinginan
Mereka terus mencari keberadaan Ashana.
Yashbi menelpon seseorang untuk membantu mencarinya. Sekitar tiga puluh orang membantu mencari Ashana.
Petir disertai guntur membuat Yashbi berhenti mencarinya dan berteduh di bangunan kosong yang terbengkalai. Mengusap - usap kedua tangannya guna untuk menghangatkan.
"sial. Ke mana dia pergi? larinya cepat sekali seperti anak macan" ucap Yashbi
Ashana yang sedang bersembunyi sama di antara bangunan terbengkalai itu mendengar ucapan Yashbi. Nafas yang terengah-engah darah memenuhi perban. Sakit dan perih yang Ashana saat ini rasakan. Wajah pucat pasi.
"aku harus bertahan. Tidak boleh lemah. Terluka seperti ini sudah biasa untukku dari kecil sering sekali aku mendapati luka lebih dari ini" gumam Ashana memperhatikan kakinya yang mengeluarkan darah akibat menginjak pecahan beling dan serpihan kayu saat memasuki bangunan itu
Ashana menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya.
"aku sudah tidak punya siapapun. Ibu... apa ibu selalu ingat denganku?" lirih Ashana
Hiks
Hiks
Telinga Yashbi yang sangat tajam dapat mendengar suara tangis Ashana di tengah hujan lebat yang disertai petir dan suara guntur.
Tangan besar Yashbi memegang kepala Ashana.
" kau baik-baik saja? aku ada di sini. Jangan khawatir" ucap Yashbi
Ashana mendongakkan kepalanya wajah yang basah oleh air mata.
"aku menemukanmu, Ashana. Mau di sembunyi di manapun aku pasti akan menemukanmu" ucap Yashbi
"pergi, jangan dekati aku. Pergi!" ucap Ashana nada tinggi
"bagaimana jika kita melakukan perjanjian. Perjanjian di pernikahan ini. Tapi ada syaratnya waktunya ditentukan olehku" ucap Yashbi yang sangat lelah dan matanya sudah berat menahan kantuk
Bruuk
Yashbi tergeletak ke atas permukaan lantai berdebu. Ashana panik dan berteriak minta tolong. Beberapa orang suruhan mendatanginya.
.
.
.
__ADS_1
Di kamar Ashana...
Ashana merawat Yashbi yang saat itu demam, menggigil. Di luar sana hujan masih lebat.
Ashana berniat membeli obat namun si sopir keburu datang dan memberikan seplastik obat.
"ini obat yang selalu digunakan oleh tuan" ucap si sopir
"b... baik"
"dan ini obat untuk anda" ucap kembali si sopir
"terima kasih" ucap Ashana sambil tersenyum
Ashana meminumkan obat untuk Yashbi. Dia duduk di kursi menemani Yashbi.
"kau terlihat damai dan tenang saat tidur seperti ini tapi saat bangun wajahmu berubah menyeramkan" ucap Ashana menatap lekat wajah Yashbi
"mungkin aku sudah tidak peduli pernikahan ini. Ketika hubungan dengan ibuku kurang baik aku mulai mengerti artinya kesepian saat itupun ayahku meninggalkanku selama-lamanya. Sekarang kita terikat dipernikahan konyol ini dan aku merasa sesuatu yang aneh dalam diriku mungkin sama halnya saat aku bersama Indra sebelumnya. Ah tidak perasaan ini terlalu rumit. Aku akan mengubur dalam-dalam sebelum perasaan ini semakin muncul ke permukaan"ucap Ashana beranjak dari kursi mengambil plastik obat miliknya. Mengganti perban sambil mengernyitkan dahi karena rasa sakit dan perih
Tiba-tiba di sampingnya muncul Yashbi dalam wujud lain. Dia menggantikan perban untuk Ashana tapi dengan sebuah tali putih miliknya yang dikeluarkan dari dalam bajunya.
"tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri" ucap Ashana, menolak halus
Dia hanya tersenyum hangat pada Ashana. Mata mereka saling menatap.
Tangan Ashana menyentuh wajahnya yang menghitam.
"sakit? kau pasti baik-baik saja. Ya, pasti begitu. Kenapa wajahmu seperti ini? seseorang yang melakukannya padamu? katakan. Aku akan menghukumnya memberi sedikit pelajaran" ucap Ashana
Ashana tertidur di kursi sesaat kemudian terbangun mendengar seseorang memanggil namanya. Melihat Yashbi membuka matanya terlentang di kasur menatap ke arahnya.
"ada apa? kau perlu sesuatu?" ucap Ashana beranjak mendekati Yashbi
"kemarilah" ucap Yashbi menepuk kasur agar Ashana berada di sebelahnya
"tidurlah denganku. Tidur di kursi kau akan bertambah sakit"
"jika kau sudah baikan aku akan tidur di kamar ibu" ucap Ashana
Yashbi melihat perban baru ditangan Ashana.
"siapa yang mengganti perbanmu?"
Yashbi menarik lengan Ashana hingga mereka posisi tidur bersisian. Mata mereka saling menatap.
"harusnya aku yang mengobatimu. Luka ini tidak akan sembuh jika diobati oleh medis" ucap Yashbi mencium tangan Ashana yang terbalut perban
Ashana merasa jantungnya berpacu hebat. Saat bersamaan Yashbi dalam wujud lain hitam diwajahnya berkurang perlahan.
"hentikan" ucap Ashana menarik tangannya
"dia sudah mengobatiku jadi kau tidak perlu melakukannya"
__ADS_1
Ashana berusaha keras agar perasaan itu tidak muncul ke permukaan.
"baiklah. Sekarang kita tidur" ucap Yashbi memeluk tubuh Ashana dari belakang
Ashana menjatuhkan air matanya yang sudah tidak kuasa dia bendung lagi. Di hadapan Ashana dengan posisi berjongkok sejajar wujud lain dari Yashbi tersenyum ke arahnya. Mengusap pucuk rambut Ashana seketika dia tertidur.
Esok harinya...
Terdengar orang-orang berteriak di depan rumah Ashana. Ashana dan Yashbi segera bangun dan melangkah mengarah arah suara teriakan itu. Saat membuka pintu terlihat petugas rt dan rw beserta warga lain.
"anak ini kumpul kebo bersama paman ini"
"berarti yang dikatakan ibunya hanya kebohongan"
"ya, benar mana mungkin mereka sudah menikah"
"atau jangan-jangan si Ashana ini hamil duluan"
"sudah lumrah sih anak jaman sekarang hamil duluan dan berakhir si anak tumbuh tanpa seorang ayah"
Banyak sekali omongan yang tidak enak didengar oleh warga terutama di telinga Ashana.
Ashana berusaha menanggapinya dengan santai sesekali menghela nafas kasar.
"sudah, sudah jangan main hakim sendiri. Kita dengarkan penjelasan mereka lebih dulu" ucap pak rt, rw
"akan aku jelaskan. Kami sudah menikah beberapa hari lalu. Karena mendadak jadi kami belum melaporkannya" ucap Yashbi
"tolong, berikan buktinya terhadap kami terutama untukku selaku wakil warga di sini" ucap pak rw
"baik. Saya akan menghubungi orang saya dulu" ucap Yashbi menghubungi si sopir
Beberapa saat kemudian, sopir mengirimkan file bukti pernikahan mereka beserta buku nikah. Yashbi memperlihatkan pada mereka namun, sebagian warga ada yang tidak mempercayainya.
"ini jaman sudah canggih, alat memadai bisa saja itu hanya editan. Kalian jangan percaya begitu saja" celetuk seorang warga
Yashbi dan Ashana saling menatap.
"aku akan menyuruh orangku untuk membawakan berkas fisiknya"
Lalu, si sopir datang dengan membawa berkas pernikahan dan memperlihatkan pada mereka.
"Ashana, ibumu tidak berniat untuk mengadakan pesta untukmu?" tanya seorang warga
"ah... eng... itu" Ashana mendadak gagap, tidak bisa bicara
"kau kan anak satu-satunya. Perempuan lagi. Jika aku diposisi ibumu aku pasti akan mengadakan pesta untuk putriku satu-satunya. Itung-itung menyenangkannya untuk terakhir kali sebelum di bawa pergi suaminya"
Deugh
Tempat yang tidak jauh dari mereka, Lani menyaksikan dan mendengar jelas apa yang sudah dia rencanakan. Ya, sebelumnya Lani menghasut warga memfitnah Ashana dan Yashbi.
"jadi memang benar memang sudah menikah"ucap Lani memegang dadanya
__ADS_1
" kukira mana mungkin dia mau dengan wanita yang masih anak-anak sepertinya ternyata seleramu turun drastis, Yash"