Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 78


__ADS_3

Malam hari di rumah sakit di kamar Ashana di rawat. Ashana ditemani Anzel.


"kau belum makan apapun? apa ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Anzel dengan penuh kelembutan dan tidak lupa senyuman hangatnya yang selalu diberikan pada Ashana.


"kau datang ke sini dengan keadaan kacau. Benar-benar tidak tahu malu" ucap Ashana tanpa melihat ke arah Anzel yang berdiri di sampingnya.


Anzel mengerutkan dahinya.


"sebaiknya kau lihat keadaanmu baik-baik di cermin" ucap kembali Ashana mengibas-ngibaskan tangan mengisyaratkan Anzel untuk segera pergi ke dalam kamar mandi.


Anzel bergegas ke kamar mandi dan melihat keadaan dirinya sendiri. Benar saja, saat ini dia memakai celana boxer sedikit diatas lutut dengan gambar sapi dan sandal jepit.


Anzel kembali menuju keberadaan Ashana dan melihat Ashana terkekeh geli melihat penampilan Anzel barusan.


"ini trend jaman sekarang" ucap Anzel menggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak gatal.


Anzel merasa lega melihat Ashana tertawa.


Sebelumnya, Anzel mengetahui Ashana menangis melalui layar cctv yang terhubung ke ponselnya dia, bergegas untuk menghampiri Ashana. Tapi di tengah jalan panggilan alam sama sekali tidak bisa ditolaknya. Dia segera memarkirkan mobilnya di sebuah pom bensin untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah berada di ujung tanduk. Karena takut terjadi apa-apa Anzel lupa memakai celana panjang dan sepatu.


Saat sampai di pelataran parkir rumah sakit dia baru tersadar dengan panampilannya. Untung saja ada sebuah sandal jepit namun tidak dengan celana panjang. Anzel berpikir jika dengan penampilan seperti ini setidaknya Ashana bisa sedikit tertawa.


Dan benar saja apa yang dilakukan Anzel tidaklah sia-sia. Ashana tertawa hingga mengeluarkan air mata terlihat di sudut matanya.


Anzel membuka bungkus makanan di hadapan Ashana. Wangi makanan yang tercium sangat enak.


"makanlah. Jika tidak ada yang kau inginkan. Aku akan membelikan yang lain" ucap Anzel.


"tidak, aku akan memakan ini saja" ucap Ashana mengambil bungkus makanan lumpia basah yang masih hangat.


Anzel mendudukan bokongnya di kursi di pinggir brankar.


"aku tahu kau pasti memilih makanan itu"


Ashana yang masih mengunyah langsung menoleh ke arah Anzel.


"sepertinya kau cukup banyak tentangku" ucap Ashana.


"selesaikan makanmu dulu. Lalu setelah itu kau boleh bicara" ucap Anzel membersihkan sudut bibir Ashana yang belepotan.


Ashana tersipu. Suhu badannya mendadak panas.


"makanan ini terlalu banyak. Sebaiknya berikan saja untuk mereka (dua orang yang berjaga di depan pintu)"


"benar. Kau memang anak baik"ucap Anzel mengusap pucuk kepala Ashana.


" aku akan memberikannya dan menyisakan beberapa untukmu "

__ADS_1


" Anzel, kau juga harus memakannya. Biar kutebak makanan yang kau sukai"ucap Ashana dengan mulut penuh makanan terlihat sangat lucu.


" coba kau tebak makanan apa yang kusuka"ucap Anzel menyilangkan kedua tangannya di dada.


Ashana terlihat berpikir memperhatikan satu per satu makanan yang ada dihadapannya. Ada martabak manis, martabak telur, nasi goreng kambing, mie goreng seafood, dan mie ayam bakso komplit.


Ashana menunjuk mie ayam bakso komplit.


"ini... kau pasti menyukai mie ayam bakso komplit ini" ucap Ashana pandangan mereka beradu.


"ya, kau benar sekali. Sepertinya aku harus memberimu sebuah hadiah karena sudah benar menebak makanan yang aku sukai"


Ashana tersenyum.


"hadiah? tidak perlu berlebihan aku hanya asal menebaknya"


"asal menebak?" tanya Anzel dengan sedikit rasa kecewa dengan pernyataan Ashana.


"ya, kau lihat. Hanya bungkus mie ayam ini yang tidak kau perlihatkan padaku"


...Di jendela ruangan kamar, Anzel menemani Ashana untuk melihat bintang yang dimaksud Anzel beberapa saat lalu. ...


Anzel menyodorkan paper bag.


"apa ini?"


Ashana membuka paper bag itu seketika matang berkaca-kaca melihat poto kedua orang tuanya bersama dirinya dan beberapa buku serta alat tulis lainnya.


"bagaimana bisa kau melakukannya?" celetuk Ashana.


"bu... bukan aku meremehkanmu hanya saja yang kuingat saat itu rumahku hancur"


Anzel hanya tersenyum lebar.


Tentu saja Anzel menyuruh anak buahnya untuk mencari barang-barang milik Ashana setelah perginya Yashbi, Morina dan Lani.


.........


Ashana menopang wajahnya di etalase jendela.


"apa masih lama, Anzel?" tanya Ashana yang sudah mulai mengantuk.


Anzel melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"sebentar lagi. Kurang lebih enam menit"


Ashana terlihat sangat senang melihat bintang itu berkali-kali wajahnya menggambarkan ketakjuban. Namun, di dalam ingatannya terlintas seorang anak laki-laki.

__ADS_1


"Anzel..."


"ada apa?"


"kepalaku sedikit sakit. Kau melihatnya sendiri tidak apa-apa?"


"tidak perlu khawatir karena bintang itu hanya akan menampakkan dirinya tidak lebih dari delapan belas detik" ucap jelas Anzel memapah Ashana menuju brankar.


"apa ada yang sakit lagi selain kepalamu? aku akan memanggilkan dokter"


Anzel yang terlihat cemas sementara Ashana terbaring di brankar dengan wajah pucat pasi.


Anzel berkali-kali menghubungi Yashbi namun, seperti biasa tidak ada jawaban.


"kau menghubungi siapa?"


Anzel tidak menjawab dia pokus ke layar ponselnya dengan wajah yang sulit diartikan.


💫💫💫💫💫💫


Di rumah Yashbi, tepatnya di ruang kerja Yashbi Morina memohon pada Yashbi untuk memberikan ijin Lani tinggal bersama mereka.


Yashbi yang awalnya berpura-pura menolak akhirnya setuju.


"lakukan saja apa yang kau inginkan, Morina"


Morina terlihat senang dengan mata berbinar.


"dia kan temanmu masa kecil. Aku tahu papah tidak mungkin tega membiarkannya hidup di jalanan"


Morina dibohongi Lani. Lani berpura-pura tidak memiliki tempat tinggal dengan alasan orang tuanya tidak memberikan uang sepeserpun karena kepergiannya dilarang keras oleh kedua orang tuanya.


Morina percaya begitu saja.


"hidup di jalanan? ya, aku tidak mungkin setega itu, Morina. Kau tahu betul seperti apa papahmu ini" ucap Yashbi dengan senyumannya.


"karena aku sudah memenuhi salah satu keinginanmu jadi mau tidak mau kau harus menceritakan apa yang sudah terjadi denganmu" ucap Yashbi berubah nada suaranya menjadi sangat datar.


Yashbi mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Morina. Hanya saja dia ingin tahu anaknya akan berkata kebohongan atau tidak.


"aku tidak apa-apa, pah. Aku baik-baik saja. Tadi hanya terjadi kesalah pahaman. Dan tante Lani yang menolongku untuk menyelesaikannya" ucap Morina dengan wajah jelas terlihat cemas.


"baiklah. Kau boleh pergi. Sebelum tidur kau mandilah dahulu"


Morina beranjak keluar dari ruang kerja Yashbi. Dengan perasaan senang karena Lani akan tinggal bersamanya. Walau sebenarnya Morina tidak menyukai jika ada wanita lain selain dirinya yang berada di rumah itu. Tapi demi kelancaran aksi untuk mengusir pelayan baru yang tidak lain adalah Ashana.


Yashbi memperhatikan cendrawasih yang berada dalam bola kristal.

__ADS_1


"Clara pasti menyukainya. Besok aku akan pergi langsung ke rumahnya" ucap Yashbi beranjak dari kursi miliknya dan menuju ruangan rahasia di mana Doni yang dalam keadaan tidak sadarkan diri sudah menunggunya.


__ADS_2