Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 105


__ADS_3

Yashbi memberi isyarat pada Ashana agar memancing pergerakan makhluk itu.


Ashana menyadari apa yang Yashbi isyaratkan. Karena melihat kearah mata makhluk itu dia hanya mengikuti pergerakkan Ashana. Padahal sebelumnya makhluk itu hanya mengikuti Yashbi.


Ashana memang lincah dan gesit dibidang olahraga berlari jadi membuatnya tidak kesulitan.


Kemana Ashana bergerak rambut makhluk itu selalu mengikutinya.


Diarah lain Yashbi sedang mengambil ancang-ancang untuk menembak ke arah belakang kepala makhluk itu.


Yashbi tahu emas yang berada dibelakang kepala makhluk itu adalah sumber pergerakkan makhluk itu. Karena emas termasuk benda yang diinginkan manusia selain uang.


Gundukkan rambut makhluk itu terlihat semakin menggunung. Karena Ashana mengarahkan arah berlari pada satu titik. Sehingga makhluk itu ada ditengah-tengah Gundukkan rambut miliknya sendiri.


Sebelumnya, saat Yashbi menembakan tembakan miliknya pada rambut makhluk itu terjadi ledakkan lebih besar. Berpendapat jika rambut makhluk itu memicu tembakan Yashbi lebih besar dari tembakan biasanya.


Dengan tenaga yang tersisa Yashbi akan membuat tembakan lebih besar dari sebelumnya.


Beberapa saat berlalu....


Ashana merasakan nafasnya sudah mulai sesak. Langkah kakinya terhenti.


Rambut makhluk itu akan mengenai punggung Ashana namun, tidak berhasil mengenainya karena rambut makhluk itu ditembak Yashbi yang sedari tadi mengawasi.

__ADS_1


Dwaarrr


Dengan gerakan cepat Yashbi menembak belakang kepala makhluk itu dan berhasil. Seperangkat emas yang berada dibelakang kepala makhluk terjatuh kearah gundukkan rambut dan akan makhluk itu akan kembali ke wujud asal tapi dengan sigap Yashbi menembaki gundukkan rambut hingga terjadi ledakkan cukup besar.


Yashbi berlari kearah Ashana yang sedang memegangi kedua lututnya karena kelelahan. Dan menarik lengannya agar segera menjauh dari makhluk itu.


Dwarrr


Tubuh Yashbi dan Ashana terhempas. Yashbi memeluk tubuh Ashana.


Dari kejauhan Clara melihat kearah mereka.


"Yashbi..." gumam Clara dengan posisi mengapung dan sebagian tubuhnya melepuh karena tubuh yang dimasuki Clara sudah tidak mampu lagi menampung kekuatan Clara. Padahal kekuatan Clara hanya sebagian kecilnya saja.


Penghalang yang dibuat makhluk itu perlahan hilang. Anzel dan Doni bergegas masuk. Tapi...


Penghalang itu kembali tertutup seperti sebelumnya kebentuk semula. Mereka sontak kaget tercengang.


Saat ini yang berada dalam penghalang Yashbi, Ashana, Doni dan Anzel.


Clara hanya menyaksikan dengan senyuman liciknya.


"aku ingin lihat apa yang akan kalian lakukan?" ucap Clara seketika makhluk itu muncul dihadapannya dalam ukuran lebih kecil seperti manusia pada umumnya.

__ADS_1


"siapa kau? kau bisa memindahkanku dengan mudah" ucap makhluk itu.


Clara dan makhluk itu menatap kearah keberadaan Yashbi dan yang lainnya.


"lepaskanku. Aku belum selesai dengan mereka" ucap makhluk itu seraya meronta karena seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak sebebas sebelumnya.


"heh... aku tidak tahu apa urusanmu dengan mereka tapi mulai sekarang karena kau sudah ada berada dihadapanku sebaiknya kau mematuhiku. Karena setiap ucapanku yang mengandung perintah adalah mutlak"


Seketika tubuh makhluk itu membeku.


"kau... anda... tuan kami" ucap terbata makhluk itu.


Clara tersenyum simpul.


Gerakkkan makhluk yang berada dihadapan Yashbi dan lainnya bergerak semakin gesit dan lincah.


Yashbi dan lainnya tidak bisa bersembunyi rata oleh tanah karena ledakkan tadi.


"aku akan memanipulasi pandangan kedua mata makhluk itu" ucap Anzel mengambil beberapa kertas dari dalam saku ya yang berukuran memo dan dilumuri darah olehnya.


"apa yang akan kau lakukan?" tanya ketus Yashbi.


"nanti akan aku jelaskan sebaiknya kita segera lenyapkan makhluk yang saat ini berada didepan kita, tuan" ucap Anzel berlari kearah makhluk itu.

__ADS_1


__ADS_2