
Jam sepuluh pagi...
Ashana menggeliatkan badannya merasakan hawa panas dari sang matahari.
Bruuugh
Badannya terjatuh tepat di atas tubuh Yashbi yang posisinya terlentang. Tanpa sengaja bibir mereka berciuman. Kedua pandangan saling beradu. Satu, dua, tiga dan keempat Ashana berusaha beranjak namun, tangan Yashbi melingkar di pinggang ramping Ashana.
"a... apa yang kau lakukan?" tanya Ashana terbata.
"kenapa? kita diposisi seperti ini itu hal wajar" ucap Yashbi yang masih terdengar dingin dihiasi suara baritonnya.
"wajar? apa maksudmu? jangan mengada-ngada, tuan Yashbi yang terhormat. Apa kau lupa aku di sini sebagai apa? hah" ucap Ashana yang tidak suka dengan posisinya saat ini sebagai pelayan di rumah suaminya sendiri.
Ashana beranjak dan melihat bekas makanan dan minuman yang dia buat.
"dia memakannya" batin Ashana.
Ashana membereskan selimut dan juga cangkir, piring serta napan.
"apa kau sudah menulisnya?" tanya Yashbi yang merasakan tubuhnya jauh lebih enak dan rileks. Setelah tidur hampir sepuluh jam meski harus terjeda beberapa waktu.
Yashbi berjalan mengekori Ashana. Ashana menoleh.
"biar kupikirkan lagi, tuan. Saat ini aku tidak tahu aku menginginkan apa dari pernikahan konyol ini" ucap Ashana yang langsung segera membalikkan badannya.
Yashbi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"jam sepuluh lebih tujuh menit"
Seketika mata Ashana membulat dan segera berlari menuju ke dalam rumah dan kamar miliknya.
"sial. Aku terlambat sekolah" gumam Ashana masuk ke dalam kamar mandi dan saat akan memakai pakaian seragam dia teringat jika seragamnya masih berada di rumah yang lama.
Mau tidak mau Ashana memaki pakaian yang ada dalam lemari. Pakaian yang feminin sekali membuatnya berkali-kali mematut di cermin.
"ini terlihat aneh. Baru kali ini aku memakai pakaian seperti ini"
Di celah pintu, Yashbi menyaksikan apa yang dilakukan Ashana dan tersungging senyuman di kedua sudut bibirnya.
Saat Ashana membuka pintu bersamaan dengan itu Yashbi berada di depan pintu dan terjadi tabrakan. Ashana menabrak dada bidang Yashbi.
Bruuggh
"awww..."
"mau pergi ke mana?" tanya Yashbi masih dengan nada dinginnya.
"aku harus pergi sekolah" ucap Ashana mengatupkan kedua tangannya dan terlihat jelas tatapan memohon.
Interaksi mereka di lihat oleh Morina yang berada di sudut lorong. Dengan perasaan iri dan sangat kesal jika ada seorang wanita mendekati Yashbi.
"kau pergi bersama..." ucap Yashbi terpotong kala ada tangan kecil yang melingkar di lengannya ya, tangan Morina.
"pah, ayo ikut denganku. Ada hal yang ingin aku bicarakan" ucap Morina menarik lengan Yashbi.
Yashbi tidak bisa menolak permintaan sang anak. Di pergi begitu saja bersama Morina tanpa memperdulikan lagi Ashana.
Ashana pun segera pergi menuju sekolah meski hari sudah semakin siang. Di halaman depan rumah sudah ada malaikat penolong yang sedang menunggunya yaitu Anzel berdiri di dekat mobil dengan menghisap sebatang rokok.
__ADS_1
"ternyata kau laki-laki perokok" celetuk Ashana mengagetkan Anzel.
Ashana tergelak melihat reaksi Anzel.
"aku akan mengantarmu. Jangan katakan kau lupa apa yang kukatakan kemarin" ucap Anzel membukakan pintu mobil untuk Ashana.
Ashana duduk di kursi penumpang dan Anzel mengemudi.
Di jendela kamar Morina, Yashbi melihat mereka dengan perasaan yang terbakar cemburu. Tapi tidak mau mengakuinya karena masih gengsi dan belum menyadari.
Morina pun menyadari perubahan sikap Yashbi. Dia terlihat kesal dan membantingkan boneka hingga membuat Yashbi terperanjat.
"ada apa? kenapa denganmu? jika ada yang kau inginkan katakan saja. Aku pasti memenuhinya. Jangan bersikap seperti ini. Kau bukan anak-anak lagi, Morina"
Morina terlihat senang sekaligus kesal mendengar ucapan Yashbi barusan. Dia merasa senang karena Yashbi mengatakan jika kau menginginkan sesuatu katakan saja aku akan memenuhinya.
"apa kau akan memenuhi keinginanku?" rajuk Morina bergelayut manja di lengan kekar Yashbi.
"ya, katakan saja"
"jika rumah ini terjadi gempa atau kebakaran siapa yang lebih dulu kau selamatkan? sedangkan di rumah ini ada aku, papah, sopir dan pelayan wanita itu"
Yashbi sudah tahu jelas jika anaknya tidak menyukai Ashana.
"semuanya akan aku selamatkan"
Mendengar jawaban Yashbi Morina melonggarkan tangan yang memegang erat lengan Yashbi.
"mereka semua berhak hidup. Mereka sama seperti kita manusia biasa. Jika aku mampu menyelamatkannya pasti akan aku selamatkan. Semuanya tanpa terkecuali"
Posisi Yashbi dengan kedua lutut di atas lantai dan kedua tangan memegang kedua tangan Morina.
" apa papah tahu? "
Yashbi menggelengkan kepalanya.
" apa? "
" adanya wanita lain didekatmu itu sama saja menyakitiku. Jadi kau harus menjauhkan mereka terkecuali... "
Yashbi mengerutkan dahinya. Tahu apa kelanjutan yang diucapkan Morina.
"terkecuali pelayan wanita itu"
"kau membencinya?" tanya Yashbi beranjak berdiri.
Morina hanya memalingkan wajahnya.
"aku akan ceritakan padamu tentangnya. Mungkin kau akan berubah pikiran setelah mendengarnya"
Morina duduk di atas kasur dengan wajah cemberut tatapan yang tertuju pada Yashbi.
"ok, akan aku ceritakan. Dengar baik-baik"
Yashbi menceritakan kebohongan tentang Ashana dan membuat Morina merasa tersentuh mendengarnya.
"jadi dia kabur saat ketahuan mencuri uangmu?"
Yashbi menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"dan alasannya untuk membayar uang sekolah. Karena sudah tidak mempunyai kedua orang tua dan sanak saudara. Mendengar hal itu aku merasa iba dan memperkerjakannya di rumah ini" ucap Yashbi yang terlihat meyakinkan agar Morina mau menerima Ashana.
Morina beranjak dari kasur dan mengambil ponsel di atas nakas yang sedari tadi berdering menandakan pesan masuk.
"jika kau tidak menginginkannya aku akan memperkerjakannya di kantorku tapi masih tinggal di rumah ini"
"lakukan saja yang menurutmu baik. Mendengar hal tentangnya darimu aku semakin yakin jika pelayan baru itu bukan orang baik" ucap Morina menoleh ke arah Yashbi yang berdiri di belakang tidak jauh darinya.
Yashbi menghela nafas kasar. Berpikir setidaknya Morina tidak akan menganggu Ashana untuk beberapa saat.
"aku harus pergi"
"pergi?"
"ya, papah. Sudah aku katakan sebelumnya jika aku akan bertemu tante Lani"
Yashbi teringat jika harus mengurus Lani dan dia serahkan terhadap anak buahnya.
"baiklah. Kau hati-hati. Oh ya, temui Avril di cafenya. Kau harus meminta maaf atas kejadian tempo lalu"
Morina tidak menjawabnya dia segera keluar dari kamarnya meninggalkan Yashbi begitu saja.
Yashbi menyugarkan rambutnya segera melangkahkan kaki menuju kamar untuk melakukan ritual mandinya yang sudah terlewat beberapa jam karena tidur di halaman belakang bersama Ashana.
Yashbi berangkat pergi ke suatu tempat bersama sopir lainnya. Dia pergi ke suatu tempat yang hanya dirinya dan anak buahnya yang mengetahuinya. Di dalam mobil Yashbi menatap keluar jendela dengan tatapan penuh arti.
"tadinya aku ingin dia keluar dari persembunyiannya tapi malah jadi diriku sendiri yang terjebak dalam keadaan yang tidak seharusnya ada" gumam Yashbi tersenyum tipis.
Yashbi sampai di tempat khusus yang dia miliki. Bergegas keluar dari mobil dan melangkahkan kaki ke suatu ruangan gelap dan bau amis.
Sebelumnya, Yashbi sudah pernah melakukan hal sama terhadap tiga orang yang menganggu istrinya sekaligus ibu Morina. Mereka disiksa secara brutal oleh Yashbi dan tanpa ampun. Ya, Yashbi memiliki sisi gelap di mana dia akan lepas kendali saat ada orang yang berani mengusiknya termasuk mengusik orang terkasih baginya.
"siapkan air dingin dan siramkan. Enak sekali dijamin segini dia masih tertidur" ucap Yashbi.
Yashbi menghampiri satu petak tanah yang dikelilingi jeruji besi mirip sel tahanan. Dan seseorang segera menyiramkan air dingin ke tubuh seseorang yang berada di dalam jeruji besi itu.
"selamat siang, anak muda" ucap dingin Yashbi.
"kau tahu kenapa kau bisa berada di tempat ini?"
Anak muda itu bernama Beni. Beni adalah laki-laki yang berencana berbuat tidak senonoh terhadap Morina di dalam mobil.
"kau tidak perlu menjawabnya. Aku tidak ingin mendengar kalimat dari mulut busukmu"
Yashbi mengeluarkan pistol berukuran panjang. Mengambil kuda-kuda satu kaki menahan ke jeruji besi.
"ini tidak akan sakit. Hanya mengeluarkan cukup banyak darah. Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja"
Dor
Dor
Dor
Yashbi melepaskan tembakan tanpa peluru tapi mampu membuat lawan terluka dan mengeluarkan darah segar setiap mengenainya.
Tanpa henti Yashbi menembaki Beni.
"kau berani menyentuhnya. Seujung jari kau menyentuhnya maka sepuluh tembakan yang kau dapat"
__ADS_1
Mood Yashbi sedang buruk karena melihat kedekatan Ashana dan Anzel.