Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 25


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju sekolah orang-orang yang berpapasan dengan Ashana selalu menutup hidungnya karena bau amis yang berasal dari baju seragam milik Ashana.


Di taman, Ashana menghentikan langkahnya tepat di kran air dia membasuh seragam yang terkena air ikan laut yang sengaja ditumpahkan Lani.


"wanita itu menyebalkan sekali. Ambil saja laki-laki itu aku sama sekali tidak membutuhkannya"ucap Ashana kesal


" ck!!! suami? suami apanya tidak mungkin aku ceritakan pada setiap orang tentang pernikahan sialan yang kualami "ucap Ashana yang terus ngedumel


Seekor anjing putih menghampirinya Ashana tidak ragu mengelus kepala anjing itu dengan senyuman hangat diwajahnya.


" di mana pemilikmu? apa kau sendirian? euumphh... Jika begitu kau sama halnya denganku. Dunia ini teras tidak adil disaat keinginan tidak terpenuhi, bukan? kau pasti lapar" ucap Ashana sembari mengambil makanan anjing dari dalam tasnya


Ashana sangat menyukai binatang terutama anjing dan kucing.


"makanlah yang banyak" ucap Ashana menuangkan makanan itu ke atas kertas yang berbentuk mangkuk


Ashana kembali mengelus kepala anjing saat sedang memakan yang diberikannya.


"anjing pintar"


Ashana beranjak dan melangkahkan kaki tergesa-gesa karena sudah jam 13.00. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang berada dalam mobil merekam kegiatan bersama anjing tadi. Dan ada seseorang lagi yang tidak lain orang kepercayaan Yashbi melaporkan apa yang terjadi.


"pak, ada seseorang yang mengikuti dan merekamnya dari seberang sana" ucap seseorang


"siapa? kau cari tahu secepatnya. Apa kau sudah memberikan seragam itu" ucap Yashbi disambungin telpon


"b... belum, pak. Saya akan segera memberikannya" ucap kembali seseorang


Yashbi menutup sambungan telpon secara sepihak.


Isi kepalanya berkelana siapa laki-laki yang mengikuti Ashana.


Saat, bertemu di pasar ikan Yashbi menyadari jika baju seragam Ashana basah dan mengeluarkan bau amis. Ketika sampai rumah dia segera membuka lemari baju Ashana untuk menemukan seragam ganti tentu saja ada dan menyuruh sopir memberikan seragam itu pada Ashana.


Ashana yang sampai gerbang sekolah yang tertutup meminta ijin pada penjaga untuk membukanya namun tidak diijinkan karena sudah peraturannya. Sekitar lima belas menit berdiri di depan gerbang berharap gerbang dibukakan untuk dirinya, sopir Yashbi datang menghampiri memberikan seragam dan memperlihatkan kartu nama ke penjaga gerbang tersebut. Dan dengan sigap pintu gerbang sekolah terbuka. Ashana merasa heran siapa orang ini. Sejauh ini Ashana tidak tahu jika Yashbi memiliki seorang sopir.


"m... maaf, pak baju ini dari siapa?" tanya Ashana heran


"saya tidak menjawabnya. Permisi" jawab si sopir dan segera bergegas meninggalkan Ashana agar tidak banyak pertanyaan


Ashana tidak mau pusing dia segera menuju kamar mandi wanita dan mengganti baju seragamnya.


Saat keluar dari toilet dia bertemu Indra. Indra tidak bisa menyembunyikan wajah gembiranya.


"Ashana" ucap Indra sumiringah

__ADS_1


Ashana hanya tersenyum tipis dan tidak mengatakan apapun.


Teman wanita yang sekelas dengan Indra menyadari keberadaan Ashana dan dia merasa cemburu.


"Dra, siapa yang kau panggil? Ashana tidak mungkin datang ke sekolah lagi. Dia kan sudah menikah dan menjadi simpanan om-om dan hamil duluan" ucap teman wanita itu dengan perasaan yang terbakar cemburu


Ya, teman wanita ini yang tempo hari bertemu dengan Ashana di rumah Indra. Statusnya saat ini sedang menjalin hubungan dengan Indra. Dia bernama Deris.


"kita kembali ke kelas aja, yuk" ajak Deris, menggandeng lengan Indra


.


.


.


Di ruang guru, Ashana berkali-kali membungkukan badannya dihadapan bapak sekolah guna meminta maaf karena tidak masuk sekolah beberapa hari ini.


"sudah sudah jangan seperti ini, Ash. Bapak sudah katakan kau bisa masuk kelas lagi tapi ini kesempatan terakhirmu jika tidak kembali masuk sekolah lagi terpaksa beasiswamu akan dicabut" ucap tegas guru


"b... baik terima kasih banyak, pak" ucap Ashana yang kembali membungkukan badannya dan pergi dari ruangan guru dengan wajah gembira


Ashana berjalan sepanjang lorong kelas dan merasa heran karena ada orang aneh yang menolongnya. Perihal baju seragam dan bolos sekolah selama dua hari padahal jika murid beasiswa bolos sekolah tanpa keterangan akan langsung dicabut beasiswa tersebut.


Ashana sampai di depan pintu kelas dengan perasaan was-was menyelimuti pasti teman sekelasnya akan mencemooh padanya.


Ashana membuka pintu kelas. Seorang guru yang berdiri di dekat papan tulis mempersilahkan Ashana untuk segera masuk dan mengikuti kelas. Saat duduk di bangku miliknya seorang murid memberikan setumpuk buku, buku pelajaran yang dua hari kemarin. Dengan canggung Ashana melebarkan senyum dan mengucapkan terima kasih.


Lagi, lagi isi otak dan hati Ashana merasa heran.


Ternyata Yashbi memberikan sejumlah uang jajan tambahan untuk semua teman sekelas Ashana dan juga termasuk guru. Namun, ada hal yang terlewatkan oleh Yashbi yaitu membungkam satu sekolah tentang pernikahannya dengan Ashana. Yahsbi belum bertindak karena belum mendapat kabar hingga ketelinganya.


Ashana menyelesaikan soal yang berada di papan tulis dan menjelaskan bagaimana cara menyelesaikannya. Tentu saja karena pintar dan cerdas penjelasan Ashana mudah sekali dimengerti.


Di seberang sana Yashbi melihat apa yang dilakukan Ashana dari layar tabletnya dan juga seseorang yang diam-diam mengambil video Ashana.


Yashbi tersenyum tipis.


"gadis kecil yang pintar" ucap Yashbi yang duduk di ruang tv, selonjoran


Di jalan dekat rumah Ashana, terlihat ada Doni dan Lani. Mereka saling terdiam, berjalan bersampingan. Saat memasuki halaman rumah Ashana mereka saling menatap dan seketika tawa mereka pecah.


"ternyata tujuan kita sama" ucap Lani yang menahan tawanya dengan satu tangannya dan tangannya satu lagi membawa makanan untuk Yashbi.


"apa kau ingin mengunjungi pemilik rumah ini?" tanya Doni

__ADS_1


"ya. Pemilik rumah ini adalah temanku dari kecil jadi aku membawakan makanan kesukaannya" jawab Lani dengan senyum yang mengembang menunjukan isi kantong yang dibawanya


"wah kau pengertian sekali. Pasti dia akan menyukainya" ucap Doni yang menekan tombol bel rumah Ashana


"siapa wanita ini? apa dia teman Ashana? baru kali ini aku melihatnya" batin Doni


Tidak lama, Yashbi membukakan pintu dan tersenyum ke arah Doni namun seketika berubah menjadi wajah dingin datar melihat Lani yang mengembangkan senyuman ke arahnya.


"apa kau berniat membiarkan kami berdiri di sini?" ucap Doni


Yashbi mengabaikan ucapan Doni, dia melangkah masuk tanpa mempersilahkan mereka dan kembali ke ruang tv menatap layar tablet. Dari belakangan Doni mengekorinya.


"kau tidak bekerja? apa karena pengantin baru kau jadi malas bekerja" ucap Doni meledek temannya itu


"aku tidak mungkin malas untuk bekerja. Kata malas tidak ada dalam kamus kehidupanku" ucap ketus Yashbi


"kau benar selagi kita bisa bekerja lakukanlah jangan menyesal dikemudian hari" sela Lani


Lani membuka makanan yang dia bawa menata di meja ruang tv bukan hanya membawa tapi cemilan dan mangga tentu saja kesukaan Yashbi.


"kalian saling mengenal?" tanya Doni


Mereka menjawab serempak.


"tentu saja. Kami teman masa kecil" ucap Lani yang masih menata makanan


"tidak" ucap Yashbi dingin


Doni duduk di samping Yashbi dan merangkul pundak temannya itu.


"jangan begitu. Kau sangat kejam tidak menganggap teman masa kecilmu ini. Namamu siapa?" ucap Doni


"Lani, namaku Lani. Salam kenal" ucap Lani mengulurkan tangan untuk berkenalan


"Doni. Aku juga teman laki-laki yang berada di sampingku ini sejak sepuluh tahun lalu" ucap Doni


Lani hanya tersenyum tanda merespon ucapan Doni.


"sial. Kenapa ada pengganggu lagi harusnya aku bisa berduaan dengan Yahsbi" batin Lani


Lani duduk di seberang dan menatap ke arah mereka berdua.


Doni sibuk dengan makanan yang dibuatkan Lani sementara Yashbi hanya menatap layar tabletnya. Pemandangan itu semakin membuat Lani kesal dan wajahnya merah padam. Tidak ada yang mengajaknya bicara baik Doni ataupun Yashbi.


"kalian terlihat sibuk. Sebaiknya aku pergi dan pulang" ucap Lani yang beranjak dari kursi dengan wajah menahan emosi

__ADS_1


"baguslah. Lebih baik kau pulang daripada di sini nanti akan ada masalah berada di rumah pasangan suami istri sementara di rumah itu hanya ada suaminya saja dan seorang laki-laki lain. Aku ingatkan Lani, saat ini kita hidup bertetangga dan bermasyarakat alangkah baiknya kau tidak menimbulkan masalah"ucap Yashbi tanpa melihat ke arah Lani


Lani bergegas keluar rumah dengan perasaan dongkol. Dia melancarkan suatu rencana untuk mengerjai Ashana.


__ADS_2