Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 43


__ADS_3

Di rumah Robin, diributkan kedatangan istri Robin yang baru datang dengan keadaan cukup kotor dan lusuh. Robin yang menuruni anak tangga dengan wajah muram.


"bagaimana apa kau menemukannya?" ucap Robin menghampiri istrinya yang bernama Nelly itu


Memperhatikan dari ujung rambut hingga kepala baru menyadari jika keadaan istri dan anaknya yang berantakan dan kotor sekali.


"ada apa dengan kalian?" tanya Robin heran


Sebelumnya, Nelly disuruh oleh suaminya, Robin mencarikan cenayang yang berada di pelosokan. Karena tempatnya yang cukup jauh Nelly pergi Merisa. Sesampainya di sana, terlihat seseorang yang masih muda dan cukup rupawan seketika membuat Merisa gagal pokus.


Cenayang atau dukun itu bernama Anuya. Namanya mulai harum dan tidak asing di beberapa tempat hingga terdengar ke telinga Robin karena pekerjaannya sama halnya dengan Yashbi. Menyembuhkan orang-orang yang tidak membutuhkan pengobatan medis. Robin berpikir bisa menjatuhkan Yashbi dengan mendapatkan bantuan darinya.


Nelly dan Merisa yang dalam keadaan berantakan dan kotor akibat perbuatannya sendiri. Saat lampu padam seluruh kota dengan datangnya anak kecil di kamar hotel yang disewa Yashbi mempengaruhi sebagian kejiwaan manusia. Salah satu diantaranya Nelly dan Merisa mereka bertindak seperti orang gila berguling di atas tanah basah, bersenang-senang. Untung saja Anuya menolongnya dan mereka kembali kekeadaan semula.


"itu pengaruh dari listrik padam yang terjadi beberapa saat lalu" ucap seseorang yang muncul dari pintu yaitu Anuya


Anuya melangkahkan kaki santai.


"ada apa tuan memanggilku? hingga membuat dua wanita cantik ini datang ke tempat kumuhku" tanya Robin


"kau masih sangat muda bahkan lebih muda dari anakku"


"langsung saja. Tidak perlu banyak basa basi"


"sebaiknya duduk terlebih dahulu. Tempatmu menuju ke tempat ini lumayan cukup jauh. Jadi, sebaiknya istirahat dulu untuk sementara waktu" tawar Robin tersenyum simpul sambil memegang pundak Anuya


Anuya seketika berubah raut wajahnya. Merasakan sesuatu yang lain saat Robin menyentuhnya.


"mengerikan. Sungguh mengerikan. Sifat manusia seperti ini lebih mengerikan daripada hantu sekalipun" batin Anuya


Di samping itu Anuya, cukup tertarik dengan aura yang keluar dari tubuh Robin. Anuya tersenyum simpul saat Robin melangkahkan kaki menjauh darinya.


"manusia sepertinya yang selama ini aku cari. Aku tidak perlu mencari susah payah" batin Anuya


Anuya di bawa ke dalam ruangan rahasia milik Robin oleh Robin sendiri.


"ini ruangan tertutup yang siapapun tidak diperbolehkan untuk masuk. Termasuk anak dan istriku" ucap Robin

__ADS_1


"aura yang sangat kuat" ucap Anuya dengan pandangan berbinar


"aura kuat? apa maksudmu anak muda?" tanya Robin heran


"ah... tidak. Aku hanya sedikit terkesan dengan ruangan yang anda miliki" jawab Anuya santai


Anuya melihat poto Morina yang berada di atas kaca dan di bawahnya bekas perapian. Dengan melihat hal seperti itu saja dia sudah mangetahui apa yang dilakukan oleh Robin.


"anda melakukan yang cukup baik dan tersusun tapi..." kalimat Anuya terhenti


"tapi apa?" tanya Robin


"tapi ada yang kurang. Jika diperbolehkan aku yang akan melakukannya atau anda lakukan saja saran yang diberikan olehku?" ucap Anuya sembari duduk di sebuah kursi sofa berwarna hitam


"untuk mencapai tujuanku aku akan melakukan yang terbaik. Katakan apa saranmu?"


"tunggu sebentar. Aku tidak bermaksud lancang. Apa tujuan dan maksud anda melakukan hal ini? jika dilihat gadis polos ini tidak memiliki niatan buruk terhadap anda" tanya Anuya


"kau benar. Gadis di poto itu seperti yang kau katakan. Hanya saja aku sangat membenci ayah dari gadis itu. Benci, dendam dan iri sudah mendarah daging bertahun-tahun di tubuhku. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang kurasakan"


"ayah?" gumam Anuya memejamkan matanya sesaat


" ya kau benar. Maka dari itu aku ingin sekali melihat laki-laki itu menderita. Jika mati cepat tidak akan menarik. Jadi akan aku buat dia sedikit demi sedikit merasakan penderitaan"ucap Robin mengeraskan rahangnya


" lalu, siapa yang akan anda bunuh etrelebih dahulu secara perlahan?"


"dalam hal ini kau bisa membunuh keduanya. Anakmu sendiri dan juga gadis di poto itu" ucap Anuya


Deugh


"a... apa maksudmu?" tanya Robin yang membulatkan kedua matanya sempurna


"dilihat dari reaksimu sepertinya anda tidak tahu apapun. Setiap yang anda lakukan untuk melukai gadis di poto itu dan berakhir gagal maka anak anda akan hilang kendali. Bisa disebut gila" ucap Anuya menyilangkan kedua kakinya


Deugh


"itu... itu bagaimana bisa? aku sudah memasang penghalang di tubuh anakku. Bagaimana bisa itu terjadi?" gumam Robin yang terlihat berpikir keras

__ADS_1


Teringat, saat Robin membubuhkan sebuah simbol di punggung Clara. Beberapa kali simbol itu hilang dengan sendiri dan mengharuskan menggambar ulang. Simbol dengan bentuk segiempat dan di dalamnya ada enam kepala banteng bermata satu. Simbol ini digunakan oleh dunia manusia untuk persembahan. Setiap persembahan akan menambah kekuatan untuk penguasa dunia Satan's World. Dia bernama Birsha dan hanya akan menampakkan dirinya saat Parade nanti.


Dengan di bangunnya dunia Mamuju Berezia kekuatan yang didapatkan Birsha tidak sebanyak dahulu. Birsha akan menampakkan diri jika kekuatannya sudah terpenuhi. Setiap manusia yang memiliki sifat negatif yang dominan maka Satan akan mengambil alih sifat negatif itu dan terwujudnya wujud lain dari manusia.


"yang anda hadapi saat ini bukanlah anak kecil jadi anda harus mempersiapkan dengan matang untuk menghadapinya. Tapi suatu saat dia akan terjatuh dengan sendirinya bukan karenamu melainkan oleh sifatnya sendiri. Sembari bermain dengannya sebaiknya kita bermain sedikit dengannya "ucap Anuya mengambil tiga buah poto Morina dari tumpukkan poto Morina sendiri yang dicetak Robin dengan jumlah cukup banyak dengan berbagai pose dan tempat yang berbeda


Di waktu yang bersamaan, Lani berhasil keluar dari kamar Ashana. Langkah kakinya terhenti secara tidak sengaja dia menginjak pecahan botol yang berserakan di halaman depan rumah.


"issshhh.... sial!" ucap Lani mencabut pecahan beling dari telapak kakinya


Karena pengaruh dari padamnya lampu dis seluruh kota akibat munculnya salah satu penghuni Mamuju Berezia yaitu anak kecil yang menampakkan diri di kolam renang di mana kamar hotel yang di sewa Yashbi. Seketika Lani berubah menjadi tidak terkendali mengamuk merusak benda sekitar bahkan tembok halaman dia pukul hingga roboh, vas bunga berserakan pecah. Terdengar suara ribut, dua suruhan Yashbi menghampiri arah suara tersebut dan melihat apa yang dilakukan Lani. Mereka berusaha untuk menghentikannya namun kekuatan Lani yang di luar batas membuat dua orang itu tidak sadarkan diri akibat di lempar dengan tangan kosong oleh Lani.


Aksi Lani terhenti saat buku milik Ashana terjatuh dan tidak sengaja terbuka di halaman di mana adanya gambar wujud lain dari Yashbi yang di kelilingi binatang.


"siapa laki-laki ini?" lirih Lani memungut buku itu


"terlihat tidak asing" mengusap dengan tangannya yang banyak goresan luka


Kejadian yang sudah dilalui tidak akan teringat diingatan Lani.


Sementara Nelly dan Merisa tengah membersihkan badannya yang sangat kotor akibat berguling-guling di tanah basah seperti orang gila.


"kenapa kita jadi seperti ini, mah?"


"mana mamah tahu. Tadi mamah tanya si anak kampung itu hanya diam saja"


"aneh. Saat di dalam mobil dengan kita laki-laki itu sama sekali tidak bersuara tapi saat bertemu ayah dia bicara panjang lebar dan mengumbar senyum segala" ucap Merisa kesal yang merasa diabaikan Anuya dari awal kedatangan mereka ke tempat Anuya hingga saat ini


"sudah biarkan saja. Tidak penting untuk kita. Yang terpenting saat ini perusahaan akan bangkit lagi karena pencairan uang dari si Yashbi itu" ucap Nelly berada di bawah guyuran air yang keluar dari showerr


"bukannya dananya masih kurang?" tanya Merisa heran


"kurang. Apa maksudmu?" ucap Nelly kesal


"sebelum kita pergi aku mendengar pembicaraan ayah melalui telpon dan mengatakan jika bagaimana bisa aku membayar kalian sedangkan aku tidak mendapatkan uang sepeserpun" ucap Merisa


"itu yang ayah katakan"

__ADS_1


"dia merencanakan apalagi?" gumam Nelly


__ADS_2