Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 106


__ADS_3

Anzel berlari dengan sekuat tenaga agar bisa menempelkan beberapa kertas yang telah dilumuri darah miliknya sendiri.


Namun, gagal karena makhluk itu bergerak lebih gesit dan lincah dari pada sebelumnya.


Tubuh Anzel terpental dari atas kebawah satu tangannya menahan beban tubuhnya yang berada diatas permukaan tanah.


"aku saja yang melakukannya. Bantu saja aku agar pergerakkan rambut dia tidak mengikutiku" ucap Doni.


Saat mendengar ucapan Doni mereka menyadari jika penglihatan makhluk itu dari rambut miliknya.


"padahal aku bisa melakukannya sendiri" ucap ketus Yashbi.


"kau jangan sombong, Yashbi. Jika kau bisa melakukannya sedari tadi seharusnya kau bisa menyelesaikannya" ucap Doni yang tak kalah ketus.


Anzel memberikan beberapa lembar kertas yang dilumuri darah miliknya pada Doni.


Yashbi bersiap menembak. Tapi, tembakannya terasa lemah.


Deugh


"tubuhku sudah..." batin Yashbi.


Yashbi menembak beberapa kali ke arah rambut makhluk ith tapi rambut makhluk itu semakin panjang dan lebat memenuhi setengah ruangan penghalang.


Doni menaiki tubuh makhluk itu dengan perlahan. Salah satu kelebihan Doni adalah menghilangkan hawa keberadaan seperti saat kakinya menapaki makhluk itu, makhluk itu tidak akan merasakan kehadiran manusia.


Doni hampir sedikit lagi sampai diwajah makhluk itu. Namun seketika pandangan mereka bertemu. Terlihat jelas tatapan makhluk itu sangat lah sedih seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.


Doni berpikir jika makhluk itu tercampur dengan jiwa kakak ipar Doni yang tidak lain adalah istri kakaknya Doni, ibu angkat Ashana.


Jiwa manusia yang meninggal tidak akan bebas atau menjadi murni jika si pemilik jiwa masih memiliki keinginan terbesar didunia ini. Salah satunya ibu angkat Ashana.


Doni dengan sigap menempelkan beberapa kertas yang dilumuri darah Anzel itu dikedua mata makhluk itu.


Rambut makhluk yang memenuhi ruangan penghalang tiba-tiba berhenti.


Doni menaiki bagian kepala belakang makhluk itu untuk mengambil seperangkat emas yang ditinggalkan kakak iparnya untuk Ashana tapi tidak ditemukan keberadaan emas itu.


Clara yang tengah bersama makhluk itu dengan ukuran manusia pada umumnya. Clara menyatukan tubuhnya dengan makhluk itu.

__ADS_1


"setidaknya aku bisa bertahan walau hanya sementara" ucap Clara.


Padahal sedari tadi seorang laki-laki tengah memperhatikan Clara yang tidak lain adalah Robin.


"Clara... kau bukan manusia. Aku sudah curiga sedari awal hanya saja aku tidak begitu mempercayainya jika kau muncul didunia manusia" batin Robin.


Yashbi menembak satu kali lagi tepat dikepala makhluk itu dan makhluk itu hilang dalam sekejap.


Doni yang masih berada disekitar kepala makhluk itu dia mendarat menjatuhkan tubuhnya kepermukaan tanah.


"sialan kau..." ucap kesal Doni.


"aku lelah ingin sekali segera membereskannya"


Penghalang pun hilang.


Dari arah lain, Sandi dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Ashana dan tanpa sadar karena rasa khawatir yang besar Sandi memeluk Ashana tanpa memperdulikan adanya Yashbi.


"syukurlah, syukurlah kau baik-baik saja" ucap Sandi seraya memeluk Ashana erat. Dan berhasil membuat Yashbi marah.


Yashbi mendorong tubuh Sandi dengan kasar dan berkata kasar pula.


"sialan. Baj*ngan kau!!!"


Dalam pikiran Anzel dan Doni berpendapat jika Yashbi sudah memiliki perasaan yang jauh terhadap Ashana.


"Ashana..." lirih Sandi.


"berhenti memanggil namanya" bentak Yashbi.


"kenapa? apa ada aturan atau hukuman jika aku memanggil namanya?" ucap Sandi.


Yashbi yang merasa sangat lelah belum lagi ditambah situasi seperti ini membuatnya hilang kendali.


"berhenti" ucap Ashana sedikit berteriak.


"kau berani sekali memeluk istri dari laki-laki lain" ucap Yashbi yang saat akan melayangkan pukulan tiba-tiba terhenti kala mendengar ucapan seseorang memanggil namanya.


"Yashbi..." ucap Robin.

__ADS_1


Mereka serempak menoleh kearah sumber suara.


Karena tubuh begitu juga wajah Robin yang menghitam. Yashbi mengerutkan alisnya.


"ini aku... Robin" jelas Robin menyadari jika Yashbi tidak mengenalinya.


"ada apa denganmu? apa kau lupa menghapus riasan wajahmu saat mengikuti suatu perlombaan"


"jika aku jelaskan sangat panjang. Aku hanya ingin menemui dan bicara denganmu"


💫💫💫


Di dalam mobil Yashbi duduk dibangku kedua bersama Ashana. Doni dan Anzel duduk dibangku depan bersampingan.


Sementara, Sandi berada di mobil miliknya jauh lebih mewah dibandingkan mobil milik Yashbi. Sandi duduk bersampingan dengan Robin dan Jaka menyetir.


Sandi menekuk wajahnya.


"anak muda... apa kau menyukai wanita itu?" celetuk Robin yang sedari tadi memperhatikan Sandi.


"ya..." jawab singkat Sandi.


"menyukai dan mencintai itu dua hal berbeda. Menyukai ibarat kita ingin memiliki sebuah barang jika barang itu masih berguna maka kita akan menjaga dengan baik tapi jika tidak benda itu akan segera kita buang. Mencintai adalah perasaan yang tidak akan kita sangka datang begitu saja tapi sulit sekali untuk perasaan itu bahkan seumur hidup kita bisa melupakan perasaan itu dan juga mencintai bisa datang diwaktu yang salah " ucap Robin menatap lurus kedepan dengan mata berkaca-kaca.


" apa anda sedang mencintai seseorang? atau mungkin anda mencintai wanita yang sudah memiliki kekasih bahkan bersuami? "celetuk Sandi menoleh kearah Robin.


" posisiku saat ini ada dikeduanya. Aku menyukai dan mencintai benda yang sudah menjadi milik orang lain. Aku sangat jahat dan tidak bermoral menyamakan istri sendiri dengan suatu benda "ucap Robin tersenyum simpul.


Robin dan Nelly menjalin hubungan dibelakang kekasih mereka masing-masing hingga sampai jenjang pernikahan. Waktu berjalan cepat mereka dikaruniai seorang anak wanita dan diberi nama Merisa namun, saat melahirkan Merisa rahim Nelly harus diangkat karena mengalami robekan sangat besar dan dalam hingga tidak bisa diperbaiki ataupun dioperasi. Dari kejadian ini Robin bersikap sedikit berbeda terhadap Nelly dan memutuskan untuk mengadopsi satu anak dari sebuah panti. Sikap Robin yang tadinya hangat penuh perhatian jadi agak cuek. Tapi, jika sesuatu terjadi terhadap Nelly Robin selalu mengutamakannya. Hanya dalam hatinya terselip sedikit kekecewaan terhadap kondisi dirinya bersama Nelly.


"ketika sudah tiada bahkan aku tidak mungkin memakamkannya secara layak karena kondisi itu memang tidak mungkin terjadi" lirih Robin yang menyeka air matanya. Menahan agar air matanya tidak jatuh lagi.


Sebelumnya, Anuya memberikan petunjuk pada Robin saat mereka berada di Yaebud. Anuya memberikan tahukah jika ada seorang wanita yang berbahaya yaitu Clara. Clara yang datang dari dunia lain menginginkan persembahan dan pemujaan untuk dirinya agar segera bangkit sepenuhnya. Kala itu Robin tidak mempercayainya dan ingin membuktikannya sendiri.


Anuya paham posisi Robin yang sudah menganggap Clara seperti anaknya sendiri. Bahkan, Anuya memberitahukan jika beberapa manusia yang memiliki kekuasaan berapa harta yang tadinya berada di Yaebud bersama Floir mereka terkena jebakan oleh Floir dan melakukan persembahan dan pemujaan. Mengorbankan dirinya sendiri bahkan keluarga.


Anuya memberitahu pula jika Robin beserta keluarga menjadi target selanjutnya tapi akan ditangani oleh Clara sendiri. Karena tidak percaya Robin meminta bantuan Anuya dan Anuya menyetujuinya.


Kala Clara berhadapan dengan Robin disebuah ruangan itu dan Clara tanpa segan melenyapkan Nelly tanpa menyisakan sedikit pun saat itu pun Anuya merapalkan sebuah mantra dimana yang ditujukan pada Robin agar Robin berpindah kesuatu tempat.

__ADS_1


Anuya merapalkan mantra panjang dengan fungsi yang cukup berat memindahkan benda hidup ketempat lain. Karena benda hidup (makhluk hidup) Anuya harus mengorbankan salah satu benda paling berharga dalam dirinya, dalam kehidupannya. Dan benda itu adalah teleskop yang sama persis dengan milik Anzel.


Anuya memberitahukan tentang Clara pada Robin karena Anuya merasa jika Clara akan berbuat lebih jauh lagi yaitu melenyapkan semua manusia termasuk dirinya. Berharap Robin membantunya atau bisa meminta bantuan seseorang yang memiliki kemampuan melebihi manusia lain. Itu yang Anuya pikirkan saat ini. Setiap bersama Clara dia selalu merapalkan mantra agar Clara tidak dapat menembus pikirannya.


__ADS_2