Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 66


__ADS_3

Clara selama di dunia manusia kerap kali membuat mental seseorang rusak terlebih orang-orang yang memiliki kepintaran di atas rata-rata alias menjadi gila karena kecantikkanya .Ya, Clara bisa merubah wajahnya sesuai keinginannya.Kabar ini sudah tersebar luas bahkan terdengar hingga telinga Yashbi. Setiap orang yang sudah menjadi karenanya secara sembunyi-sembunyi Anuya menyembuhkan mereka. Apa Anuya salah satu korban Clara?.


Floir tengah menatap layar cctv yang terhubung ke tv yang ada di ruangannya. Dia memperhatikan setiap kegiatan istri, anak dan cucu menantunya di rumah masing-masing. Ketukkan tongkat yang di pegangnya bergema di ruangan yang kosong melompong itu.


"sialan kau, Robin" ucap kesal Floir yang masih terngiang-ngilang ucapan Robin hingga membuat dirinya ragu untuk mengorbankan keluarganya demi sejumlah uang.


"apa kau tidak ingin memilikinya dalam jumlah yang sangat banyak? bukankah itu impianmu. Kau sudah tua. Apa kau yakin suatu saat dapat memperolehnya? bagaimana jika kau mati sebelum mendapatkannya? apa kau akan menyesal dalam kematianmu? kau menginginkannya? lakukan saja. Keinginanmu akan segera terpenuhi "bisik seseorang tepat di telinga Foir sehingga Floir menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dan posisinya kedua lututnya menyentuh permukaan lantai.


Beberapa saat telinga Floir mengeluarkan darah segar dan tergeletak tidak sadarkan diri.


Sementara, Merisa memasuki lobi perusahaan milik Robin ya, meski tidak sebesar perusahaan milik Yashbi. Dengan penampilan dan wajah kusut Merisa memasuki ruangan Hrd. Hrd seorang wanita paruh baya umur sekitaran empat puluh sembilan tahun. Dia bernama Tuti. Tuti duduk di kursi miliknya.


"kau berikan ini pada mereka" ucap Merisa duduk di kursi sopa dengan wajah lelah dan kusut.


Tuti hanya diam dan memandangi Merisa dengan tatapan intens. Dan Merisa pun menyadarinya.


"kenapa kau memandangiku seperti itu?" ucap Merisa.


"cepat lakukan. Sebelum mereka melakukan hal lebih gila lagi" ucap kembali Merisa dengan wajah herannya.


Tuti beranjak dari kursinya dan menghampiri Merisa dengan tatapan yang tidak biasanya. Merisa sedari tadi memegang ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Merisa mengerutkan dahinya dan menatap Tuti yang berjalan ke arahnya. Tatapan Tuti yang tidak biasa dari biasanya membuat Merisa bulu kuduknya merinding.


Sebelumnya, Clara mendatangi Tuti dan menghasutnya untuk melakukan hal jahat Merisa dengan kekuatan yang dimiliki Clara membuat Tuti menurutinya begitu saja. Saat ini di isi kepala Tuti hanya untuk menghabisi Merisa segera.


Kembali ke saat ini, di ruangan Tuti...


Langkah Tuti semakin mendekat. Merisa yang segera beranjak dari duduknya merasa aneh dengan sikap Tuti dia, melangkah mundur perlahan.


Kuku jari-jari Tuti memanjang tajam dan diarahkan ke Merisa. Merisa segera menghindar. Tuti mengejar Merisa yang menghindari serangannya darinya. Keadaan ruangan berantakan.


"ada apa denganmu? apa kau lupa siapa aku? hah" teriak Merisa dengan wajah takut berusaha mengajak bicara Tuti sang Hrd namun tidak ada tanggapan.


Serangan Tuti kali ini mengenai wajah Merisa seketika tawa Tuti pecah.

__ADS_1


"sial! lukaku yang malam itu saja belum sembuh ini di tambah lagi di wajahku. Sialan kau!!" geram Merisa mengambil pisau kecil atau cutter dari meja Tuti. Dan mengarahkan pada Tuti.


"jangan mendekat. Aku akan melakukan hal lebih padamu" ucap Merisa dengan nafas terengah-engah dan wajah pucat menahan rasa takutnya terhadap Tuti yang berbeda.


"aku tidak akan membuat wajahmu terlihat lelah. Hanya saja aku akan membunuhmu dengan begitu kau tidak akan terlihat lelah, Merisa" ucap Tuti dengan nada suara yang berbeda pula saat mengucapkan nama "Merisa".


Deugh


"jangan takut. Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan lakukan selama ini padaku" ucap kembali Tuti.


Posisi mereka yang terhalang meja kerja Tuti.


"sebelum kau membunuhku. Akan aku pastikan kau yang mati lebih dulu" gertak Merisa.


Seketika tawa Tuti pecah.


Merisa membulatkan kedua matanya sempurna.


Tuti melompat ke atas meja. Posisi Merisa berada di bawah Tuti.


Tok


Tok


Tok


Seseorang mengetuk pintu dan memberitahukan jika karyawan sudah merusak sebagian fasilitas kantor. Merisa menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari ruangan itu dan Tuti kembali menjadi Tuti yang biasanya.


"baik aku akan segera mengurusnya" ucap Tuti dengan senyum mengembang.


Seseorang itu menatap heran ruangan Tuti yang terlihat berantakan.


***


Merisa bergegas meninggalkan kantor melalui tangga darurat. Langkah kaki yang diikuti darah yang menetes.

__ADS_1


"gila. Dia benar-benar sudah gila. Aku akan memecatnya. Lihat saja" ucap geram Merisa yang memegangi lengannya tanpa henti mengeluarkan darah segar.


Langkah Merisa terhenti karena merasa lemas. Dia merogoh ponselnya tapi tidak ada panggilan yang di terima oleh Yashbi padahal dia sudah menghubunginya berkali-kali. Merisa meremas ponselnya dengan perasaan gelisah. Saat empat langkah menuruni anak tangga langkahnya terhenti dengan wajah kagetnya.


"kau... kau... Kenapa ada di sini?" tanya Merisa heran melihat orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Clara dengan senyum tipisnya.


"apa aku tidak oleh keluar sekalipun? tenang saja Robin si tua bangka itu tidak akan mengetahuinya. Ooopss... (menutup mulutnya dengan tangannya). Maksudku papah yah, papah kita saat ini tidak ada di rumah jadi tidak perlu khawatir jika aku berada di luar rumah sekarang ini"ucap Clara menatap dingin Merisa.


Clara melangkahkan kaki mendekati Merisa.


"kau terlihat ketakutan. Lalu, lukamu... bagaimana bisa kau terluka seperti ini? bukannya kau selalu menjaga kulit mulusmu ini?" ucap Clara dengan sorot mata tajam. Pandangan mereka saling beradu. Pandangan Merisa masih sama yang terlihat heran.


"oh ya... wanita di dunia ini yang menghabiskan banyak uang hanya untuk kulit yang lambat laun akan membusuk. Sangat membanggakan dirinya ketika dapat menarik laki-laki. Ya, sama halnya sepertimu, Merisa" ucap Clara dengan penuh penekanan.


Saat Clara mengucapkan namanya "Merisa" Merisa tersadar dan teringat saat Tuti mengucapkan namanya di ruangan tadi dengan nada yang sama.


Deugh


"minggir!" ucap Merisa menyingkirkan Clara dengan tangannya namun di sana tidak ada siapapun.


Merisa dengan nafas terengah-engah bergegas kembali meninggalkan kantor dan berniat menuju rumah Yashbi. Dalam benaknya dia harus meminta tolong pada Yashbi.


***


Di dalam mobil milik Merisa dia, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"aku harus memberitahunya apa yang telah terjadi. Tapi... apa dia akan percaya padaku begitu saja?" batin Merisa dan berperang dengan pikirannya sendiri antara menemui Yashbi atau tidak.


Sementara di kamar Clara, Clara sedang memang bantal guling dan duduk di kasurnya.


" kau sudah berbuat jahat padaku, Merisa. Setidaknya aku memberimu sedikit perhitungan dan juga kejutan. Pertama kau ingin sekali jatahku (Yashbi) kedua kau selalu berbuat jahat padaku saat pertama kali aku tinggal di bangunan ini"


"kau memang pintar, Merisa bahkan termasuk tipe kepintaran yang kusukai hanya saja kau wanita. Aku tidak menyukai wanita. Jadi sebaiknya aku melakukannya perlahan saja padamu. Itung-itung kau sudah mau menemaniku belakangan ini" ucap Clara memainkan gulingnya.


"ah... aku juga akan memberikan kejutan untuk wanita tua itu. Ah... tidak dia tetap mamahku. Tunggu..." ucap Clara berpikir.

__ADS_1


"ah... aku tahu. Dia pasti menyukainya" ucap Clara beranjak dari kasurnya menuju tempat keberadaan Nelly.


__ADS_2