
"ada apa?" tanya Yashbi dengan wajah datar.
Anzel dan Doni tahu jika kedatangannya mengganggu waktu kebersamaan Yashbi dan Ashana.
Anzel dan Doni hanya mematung.
Yashbi menghela nafas kasar.
"hari ini aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian berdua jadi sebaiknya kalian pergi" ucap tegas Yashbi satu tangan ancang - ancang akan mengambil sesuatu dari balik jasnya.
"tunggu, tunggu dulu. Kau jangan mengahalangiku untuk bertemu dengannya" ucap Doni yang berdiri di belakang Anzel.
"aku tidak akan membiarkanmu membawanya lagi ke tempat itu" Anzel menoleh ke arah Doni dengan tatapan tajam.
"biarkan saja. Aku sudah mengijinkannya" celetuk Yashbi.
Sebelumnya, Doni saat berada di koridor rumah sakit bertemu dengan Anzel. Anzel langsung menghadangnya karena tahu maksud kedatangan Doni untuk bertemu Ashana. Mereka sempat adu mulut dan saling kejar namun, karena Anzel lebih handal daripada Doni dia, berhasil menangkap Doni yang sempat berkali-kali bersembunyi.
Anzel menelan salivanya.
Doni tahu kekhawatiran Anzel yang terlihat jelas di wajahnya.
"aku akan bicara di sini saja. Kalian aku ijinkan untuk mendengarkannya"
Ashana beranjak dari sofa dan melangkah menghampiri Doni.
"ada apa, paman?" tanya Ashana dengan senyuman khasnya.
"ibumu sedang sakit" jawab Doni. Pandangan mereka saling bertemu.
Ashana hanya diam mematung.
"aku tahu. Kau pasti saat ini sedang membenci ibumu. Hubungan kalian tidak baik sejak ayahmu meninggal lalu ditambah kau berhubungan dengan laki-laki yang bernama Indra itu dan terakhir pernikahan yang sedang kau jalani saat ini. Kau pasti sangat..." ucapan Doni terhenti kala melihat Ashana menangis.
Mereka bertiga kaget melihat Ashana yang tiba-tiba menangis.
Yashbi beranjak dari duduknya saat akan menghampiri Ashana langkahnya terhenti melihat dua laki-laki itu menatap Ashana dengan tatapan sangat lembut dan hangat. Ada perasaan lain didada Yashbi.
"ada apa? kau jangan menangis. Ibumu baru sakit dua hari ini. Jadi, kau tidak..."
Ashana menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"tidak, aku hanya sangat merasa bersalah padanya. Belakangan ini aku mengabaikannya, tidak memikirkannya. Karena sesuatu terjadi dalam hidupku menguras seluruh waktu, tenaga dan pikiranku. Maaf, maafkanku"
"tidak, tidak. Kau tidak perlu meminta maaf" ucap Doni mengusap puncak kepala Ashana dengan perasaan salut dengan Ashana masih saja bersikap baik terhadap ibunya yang sudah menelantarkannya semenjak kepergian suaminya.
"kau ini...benar-benar anak yang sangat baik"
"apa aku boleh menemuinya?" tanya Ashana.
"aku akan mengantarkanmu" celetuk Anzel.
__ADS_1
"kau harus meminta ijin padanya" bisik Doni.
"ah, ya kau benar, paman" ucap Ashana dengan senyum tipis menoleh ke arah Yashbi.
Yashbi terlihat kaku karena melihat Ashana saat ini berbeda dari sebelumnya. Terlebih lagi memakai pakaian dengan midi dress biru dengan lengan indis kulit putih yang terpampang membuat Yashbi berkali-kali harus mengalihkan pandangannya.
"pergilah dengannya. Aku terlalu sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan" ucap Yashbi melangkahkan kaki menuju keluar, melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun.
Anzel dan Doni saling menatap. Hening seketika.
"apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Ashana memecahkan keheningan.
"ah...iya kita pergi sekarang juga"
Mereka segera menuju mobil dan pergi menuju tempat kediaman kedua orang tua Ashana.
Anzel berpura-pura tidak mengetahuinya. Sempat nyasar terlebih dahulu membuat Doni kesal namun, Ashana hanya tertawa melihat hubungan mereka yang akur seperti Tom dan Jerry.
"aku ingin membeli beberapa makanan. Apa boleh mampir di toko di dekat sini?"
"tentu saja"
Anzel segera memberhentikan mobilnya. Hanya Ashana yang turun dari mobil dan masuk ke dalam toko itu.
Anzel dan Doni di dalam mobil suasana hening hanya terdengar helaan nafas.
"apa yang ingin kau tanyakan padaku? katakan saja. Jika bisa dan perlu kujawab pasti aku akan melakukannya" celetuk Doni yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Anzel. Dan bisa membaca pikiran Anzel walaupun tidak selihai semahir Yashbi.
"Ashana, dia bukan anak dari kakakmu yang sudah meninggal itu, benar kan?"
"kau sudah memperlakukannya dengan sangat baik dibandingkan kakak iparmu. Sebenarnya tadi aku ingin mengatakan sebaiknya jangan lagi menemui wanita itu lagi"
"tapi, dia... Ashana aku tidak bisa mencegahnya berbuat hal yang selalu diikuti dengan kata hatinya. Setiap apa yang dia dilakukan sesuai kata hatinya pasti ada sesuatu lagi dibalik itu" ucap Anzel dengan senyum tipis manatap lurus ke kaca mobil depan.
"euuumphh...begitu. Apa kau menyukainya? jika begitu kau akan bersaing dengan bosmu sendiri" celetuk Doni tanpa merasa bersalah.
Anzel menoleh menatap tajam Doni.
"aku sudah mengatakan pada temanmu jika aku akan merebutnya jika dia terus menerus bersikap seperti ini. Apa kau puas? hah" ucap Anzel yang kesal.
"benarkah?" tanya Doni untuk meyakinkan sambil memegang sebelah pundak Anzel.
"ada apa denganmu? bukankah seharusnya kau marah mendengar ucapanku barusan?" tanya Anzel heran.
"aku tidak akan pernah marah jika ada laki-laki lain yang ingin merebutnya dari laki-laki berdarah es kutub Utara itu" ucap Doni menyeringai.
"aku tahu dia memperlakukan keponakkanku dengan baik dan layak. Jadi aku akan mendukungmu sepenuhnya"
"akhirnya aku sedikit lega. Masih ada orang lain disekitarnya yang peduli terhadapnya" ucap Doni yang tidak berhenti tersenyum lebar.
"kau kan teman dekatnya. Kenapa bisa menjadi orang yang memiliki dendam padanya?" ucap Anzel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"aku memang teman dekat dengannya hanya saja jika dia bersikap seenaknya terhadap seorang wanita aku akan tinggal diam begitu saja. Bagiku wanita adalah kebutuhan pokok untuk laki-laki begitu juga sebaliknya" ucap Doni menyatakan dengan penuh percaya diri.
"kau menyamakan manusia dengan makanan? aneh sekali"
"dengar, aku percaya padamu, tuan sopir"
Ucapan Doni membuat Anzel mengerutkan dahinya dan berpikir keras.
"aku akan bercerita padamu kenapa keponakkanku menikah dengan tuanmu"
"aku sudah tahu" ucap Anzel dengan nada datar.
"kau mengetahuinya?"
Anzel hanya mengangguk pelan.
"aku berusaha mencari cara agar terlepas darinya. Namun, aku tidak memiliki koneksi semacam hal itu"
"sebenarnya selama ini aku pun mencari tahu agar mereka bisa terlepas. Dan hanya ada satu cara pergi menemui orang itu. Tapi berkali-kali aku pergi menemuinya dia tidak pernah ada"
"siapa maksudmu?" tanya Anzel antusias.
"jika kau tidak bisa maka aku akan pergi menemuinya. Katakan saja dia berada di mana"
"dia seorang laki-laki yang selalu berada di tengah hutan kota ini. Yang aku tahu dia tidak pernah pergi ke kota atau keluar hutan itu sekalipun"
"dia sama seperti tuanmu. Bisa mengobati manusia yang diganggu makhluk lain. Namun, bedanya dia mengobati orang-orang yang gangguan jiwa"
"gangguan jiwa?"
"ya, dengan kata lain dia bisa menyembuhkan orang gila hanya dengan mengajaknya bicara secara pribadi"
"tapi ada kejanggalan yang kutemukan. Setiap orang gila yang disembuhkan dan memiliki kekayaan, orang gila itu akan menghilang tanpa jejak"
"ini... lihatlah. Aku mengumpulkan data-data orang yang memiliki kekayaan yang berhasil dia sembuhkan"
Anzel membulatkan matanya sempurna.
"ini kan..."
"ya, sebagian besar dari data itu adalah kolega, investor perusahaan tuanmu sekaligus temanku yang sialan itu"
"apa kau menceritakan ini semua padanya?"
"tidak, aku tidak menceritakannya. Melihatnya kondisi saat ini membuatku malas untuk menceritakan hal ini. Dia menjadi agak gila setelah hilangnya wanita itu"
Anzel dan Doni saling menatap seolah tahu isi pikiran masing-masing.
Mereka menduga jika Clara ada dibalik semua ini.
Ashana kembali ke dalam mobil dengan membawa beberapa kantong makanan.
__ADS_1
"kau pasti membeli makanan kesukaan ibumu"
Ashana hanya tersenyum dan terlihat di spion depan.